Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Seleksi Pertama


__ADS_3

Bulan belajar di rumah Mario. Sesuai apa yang ia telah sepakati dengan remaja tampan itu. Sedang Mario sendiri terus belajar untuk olimpiade.


"Nih, minum dulu."


Cavin tiba-tiba datang membawakan satu teko jus jeruk yang ditambah es batu.


"Wah jadi enak nih."


Mario berseloroh. Sebelumnya ia membuatkan teh hangat serta memberi makanan ringan pada Bulan. Bulan sendiri juga banyak membawa cemilan dari rumah.


"Iya dong, gue kan tetangga yang baik." ucap Cavin.


"Wah Cavin nggak sekalian bawa sertifikat rumah kesini. Biar kita makin enak." ucap Bulan.


"Ya jangan dong, nanti Cav yang di goreng sama mami-papi."


Mereka tertawa-tawa. Ratna tak sengaja melintas di depan rumah Mario, kebetulan jendela rumah itu ada yang terbuka dan memperlihatkan siapa saja yang tengah duduk di ruang tamu.


"Degh."


Batin Ratna bergemuruh melihat Bulan ada disana. Bahkan gadis itu terlihat akrab dengan Mario dan juga Cavin. Belakangan ini Ratna memang agak sedikit menjauh, lantaran ia membela Adril dan tidak mendukung Mario dalam olimpiade yang akan segera di selenggarakan.


Meski tidak berkata secara gamblang pada Mario, namun nyatanya hubungan pertemanan mereka memang agak renggang.


"Rat, koq nggak masuk?"


Brian tiba-tiba muncul dan mengagetkan Ratna. Hingga gadis itu pun menjadi salah tingkah serta gelagapan.


"Mmm, gue. Gue mau ke warung." dusta Ratna, padahal ia baru saja kembali dari tempat itu.


"Oh, oke deh." jawab Brian.


Tak lama Ratna berbalik menuju ke arah warung yang berada di luar gerbang. Brian masuk ke dalam rumah Mario, sementara Ratna terus menoleh ke belakang.


Ketika mendapati Brian sudah tidak ada, ia kembali berbalik arah dan buru-buru menuju rumah. Tanpa ia sadari bahwa Brian melihat semua itu.


***


Hari demi hari pun berlalu. Tibalah pada proses seleksi pertama dari lomba yang diadakan pihak sekolah. Para peserta begitu antusias demi membuktikan kualitas diri mereka.


Dari sebuah sudut Adril menyaksikan seleksi tersebut. Mereka semua menjalani tes tertulis dan juga dibagi menjadi kelompok beranggotakan tiga orang. Untuk kemudian ditandingkan dan menjawab pertanyaan secara cepat. Seperti pertandingan cerdas-cermat. Bulan sendiri ikut dalam seleksi pertama ini.


"Lo masih keras hati juga?"


Cavin muncul dan berbicara pada Adril, namun matanya tertuju ke tempat dimana seleksi tengah berlangsung. Adril diam, tak menjawab meski hanya sepatah kata.


"Ad, tahun depan belum tentu sekolah mengadakan lagi hal semacam ini. Dan kalaupun iya, saat itu kita udah kelas tiga. Udah banyak yang mau kita urusin, termasuk ujian kelulusan."


Cavin kini menoleh pada Adril. Sementara Adril masih tetap diam, dan hanya berbalik kemudian meninggalkan tempat itu.


***


Tiga hari berikutnya, pengumuman siapa saja yang lolos di umumkan pada sebuah kertas di papan Mading. Nama Bulan ada di urutan paling atas. Remaja perempuan itu meloncat kegirangan bersama beberapa siswa lainnya, yang juga dinyatakan berhasil.

__ADS_1


Ratna melihat semua itu dari jarak yang cukup dekat. Sejatinya ia juga bisa seperti Bulan, namun saat ini dirinya masih mendukung Adril dan tak mau menerima apapun yang telah dibuat oleh Mario.


"Mario."


Bulan berlarian ke arah Mario yang kebetulan melintas, dan Ratna masih menyaksikan semua itu.


"Bulan."


"Mario, Bulan lolos seleksi gelombang pertama." ucap Bulan antusias.


Mario tersenyum.


"Wah nggak sia-sia dong gue ajarin." Mario berujar dengan nada yang minta di jitak.


Bulan tertawa.


"Nanti Bulan mau belajar sama Mario lagi ya. Boleh kan?" tanya gadis itu.


"Boleh dong." jawab Mario.


"Makasih, Mario baik deh."


Bulan terlihat sangat bahagia, sementara Mario masih tersenyum.


"Kantin yuk, Bulan yang traktir." ajak Bulan kemudian.


"Hmmm, boleh."


Mario menyetujui, Bulan makin senang. Tak lama mereka pun bergerak ke arah kantin. Sementara Ratna makin di kuasai rasa cemburu.


***


Anindya berujar pada teman-temannya yang sesama cleaning service. Mereka saat ini tengah makan di sebuah tempat yang berlokasi di pasar.


Jam kerja telah usai dan saatnya kini mengisi perut. Namun bedanya kali ini mereka makan di traktir oleh Anindya.


"Kenceng nih duit dari pak Davin." celetuk salah seorang dari mereka seraya menatap Anindya.


"Kenceng banget sih nggak, adalah lumayan. Karena dia suka masakan gue, jadi dia pesen ke gue sekitar 500 box untuk acara dia sama klien dan keluarga kliennya."


"Mereka ada acara apa sih tempo hari." tanya yang lainnya lagi.


"Nggak tau, gathering katanya. Nggak tau gathering itu apa. Gue mah terima aja orderannya, mana di lebihin lagi bayarannya sama dia." ujar Anindya.


"Kayaknya pak Davin beneran kepincut nih sama lo, nin."


Teman yang pertama berujar tadi, kembali mengeluarkan pernyataan.


"Iya tuh, keliatan. Kalau nggak suka, kenapa mesti bela-belain ambil cathering dari masakan lo segala. Kan bisa beli di tempat lain, iya nggak?" timpal yang lainnya lagi.


Anindya tersenyum, dengan pipi yang bersemu merah.


"Ah kalian bisa aja." ujar perempuan itu kemudian.

__ADS_1


"Udah, udah, ayo pesen." tukasnya lagi.


Para teman-teman Anindya mulai memesan makanan yang mereka inginkan.


***


Mario, Brian, dan Cavin pulang sore hari ini. Mereka sudah meminta izin pada orang tua lintas jaman mereka. Sebab mereka ingin makan fast food dan juga bermain Dingdong. Mereka juga menemani Brian belanja keperluan warung emperannya yang sampai saat ini masih berjalan.


"Huh, sampe juga." ujar Mario ketika mereka semua sudah sedikit lagi tiba di muka rumah masing-masing.


"Aku bilang stop!"


Ayah kandung Brian berteriak kepada ibu kandungnya yang tampak hendak keluar pintu pagar.


"Aku bilang ceraikan aku, aku nggak cinta sama kamu. Pernikahan ini di atas kepentingan orang tua kita." Ibu kandung Brian berteriak.


Sontak Mario, Brian, dan Cavin menghentikan langkah dan menyaksikan semua itu.


"Perjodohan?" gumam Brian ketika mendengar apa yang di ucapkan oleh ibunya.


"Aku nggak peduli soal perjodohan yang terjadi diantara kita, kamu istri aku." teriak ayahnya lagi.


"Kamu nggak boleh pergi dengan siapapun, kecuali aku mengizinkan."


"Kamu nggak berhak atas hidup aku." teriak sang ibu.


"Aku suami kamu."


"Aku nggak cinta."


"Aku cinta."


Tegas suara laki-laki itu terdengar, membuat darah Brian seakan membeku. Ia yang selama ini mengira jika sang ayah tidak mencintai ibunya, kini mendengar langsung apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah peristiwa perselingkuhan ibunya waktu itu. Kini Brian melihat dengan jelas siapa yang berjuang mati-matian disini.


"Aku cinta sama kamu, sekalipun kamu nggak mencintai aku. Apapun yang kamu lakukan di luar sana, aku nggak peduli. Di rumah ini kamu istri aku, dan kamu nggak bisa pergi seenaknya."


"Aku tetap mau pergi." Ibu Brian memaksa.


Namun sang suami menyeret paksa istrinya kemudian mereka masuk ke dalam dan,


"Braaak."


Terdengar suara pintu dibanting kemudian di kunci. Ibu Brian menangis dengan suara kencang.


"Aku cinta sama dia, aku nggak cinta sama kamu. Lepasin aku!. Percuma kamu kurung aku disini, sementara hati aku untuk orang lain."


Hati Brian benar-benar pilu. Di satu sisi ia kasihan pada ayahnya, namun juga kini ia kasihan pada ibunya. Cinta bukan sesuatu yang bisa dipaksakan.


Ibu Brian terus mengoceh sambil menangis histeris. Brian ingin mendekat namun ditahan oleh Mario dan juga Cavin.


"Disini kita orang lain, bro. Kita nggak bisa ikut campur urusan mereka." ucap Mario.

__ADS_1


Maka dengan berat hati Brian pun berbalik arah, dan masuk ke dalam pintu pagar rumahnya.


__ADS_2