
Team Mario berhasil menyabet medali emas. Tentu saja ini menjadi berita yang sangat menggembirakan pihak sekolah.
Akhirnya setelah berjuang selama beberapa bulan terakhir. Mario membuat dirinya mampu membuktikan pada Michael di masa depan, jika ia bukanlah seorang anak yang bodoh.
Meski Michael di masa depan tak mengetahui akan hal ini. Namun Mario merasa bangga di dalam hatinya.
"Gue bisa dan gue nggak bodoh, Mike." Ia mengirim SMS pada Michael.
"Di masa depan lo selalu bilang gue ini bodoh. Tapi gue nggak seperti yang lo kira, gue udah buktiin semuanya." lanjutnya kemudian.
Michael ingin membalas dan menyinggung soal khayalan Mario yang menurutnya aneh. Namun ia menurunkan egonya dan tak jadi mengetik balasan.
Ia tidak tau apa yang terjadi pada Mario, sehingga remaja itu selalu mengatakan jika ia adalah adik Michael yang datang dari masa depan.
Michael pikir Mario hanya seorang anak yang bermasalah dengan kesehatan mentalnya. Ia hanya membiarkan saja remaja itu terus mengirim pesan.
Sementara di sisi lain ia bangga akhirnya ada yang bisa melampaui Martin dalam meraih juara olimpiade.
"Akhirnya Mario, hebat juga tuh anak." ucap Cavin pada Brian di waktu yang bersamaan, namun ia berada di tempat yang berbeda dengan Michael.
"Iya, bangga gue." tukas Brian.
"Ini membuktikan bahwa sebenarnya dia tuh bisa. Cuma di masa depan keadaan nggak pernah mendukung dia." lanjutnya lagi.
"Iya, dia terlalu banyak sakit hati. Sama kayak lo dan gue. Kita terlalu banyak di kecewakan sama hidup." ujar Cavin.
Brian mengangguk.
"Jujur gue semakin males untuk balik ke masa depan." ujarnya
"Sama, gue juga males. Takut kecewa lagi." ucap Cavin.
"Kita udah pernah bahas hal ini kan waktu itu." imbuhnya.
Brian mengangguk.
"Lagian disini kita kaya." tukasnya kemudian
"Kita punya segala apa yang kita mau." lanjutnya lagi.
"Iya, dimasa depan juga lo sama Mario nggak punya ayang yang menanti kepulangan lo." seloroh Cavin.
"Hahaha." Brian tertawa.
"Eh, emang lo nggak kangen sama cewek lo?" tanya nya penasaran.
Seperti diketahui bahwa Cavin mempunyai kekasih di masa depan.
__ADS_1
"Tau ah, bodo amat gue." jawab Cavin.
"Setelah gue pikir-pikir, selama ini gue diatur sama dia terlalu banyak. Mentang-mentang sering ngasih gue duit." lanjut remaja itu.
"Kan gue sama Mario juga udah bilang sama lo berkali-kali. Jangan mau di biayain sama cewek, harga diri lo ntar di beli." ujar Brian.
"Iya, sekarang gue udah sadar koq." ucap Cavin.
"Lagian di tahun ini gue nggak butuh bantuan duit dari dia. Bapak emak gue tajir melintir." tambahnya.
"Hhhhh."
Brian menghela nafas panjang.
"Kalau abis ini ada portal yang terbuka, gue mau milih rebahan aja." tukas remaja itu.
"Sama, gue juga." Cavin menimpali.
***
Tiga hari kemudian Mario dan team kembali. Tentu saja ia disambut dengan penuh kegembiraan oleh Deddy, Brian, dan juga Cavin.
Dan ketika esok harinya ia ke sekolah, seisi seolah mengelu-elukan namanya dan team. Kini ia merasakan bagaimana posisi Martin saat dulu di puja-puja bak berhala oleh satu sekolah.
Mario melangkah bersama teamnya, di antara angin yang berhembus sepoi-sepoi. Langkah yang tadinya biasa mendadak terasa seperti slow motion.
"Anjay, vibes-nya Mario udah kayak pulang dari menyelamatkan dunia." tukas Cavin dari suatu sudut.
"Inget nggak, kayak jaman-jaman si Martin baru balik olimpiade waktu itu." ujar Brian.
"Iya bener-bener." Cavin tertawa.
"Akhirnya Mario ada di posisi orang yang pernah dia ledekin." tukasnya lagi.
"Lah iya, ya?" Brian baru menyadari. Namun kedua sahabat itu kembali tertawa-tawa.
"Kalo Mario bisa dimaklumi lah. Dia orangnya nggak sengak kayak Martin." ujar Brian.
"Yoi, juara tiga aja sombong." Cavin menimpali sambil melirik ke arah Martin yang tengah melintas. Martin hanya memberikan tatapan sinis lalu berlalu bersama teman-temannya.
Mario hendak masuk ke kelas, namun kemudian ia di serbu oleh banyak siswi. Baik itu yang seangkatan maupun adik dan kakak kelas.
"Mario, bagi tanda tangannya dong!" pinta mereka.
Mario bingung. Namun kemudian ia memberikan saja tanda tangannya di kertas atau buku yang masing-masing mereka bawa.
Brian dan Cavin tertawa melihat Mario kepayahan, namun mereka senang. Hal yang berbeda justru dihadapi oleh Bulan. Ia agak tak suka melihat Mario di dekati oleh para siswi. Semacam ada rasa cemburu dalam hati gadis itu.
__ADS_1
Sementara Ratna terus memperhatikan pergerakan Bulan, yang tak henti-hentinya melihat ke arah Mario.
Adril sendiri memilih untuk tidak bertemu muka dan memutar arah jalannya. Sebelum itu ia mengarah ke tempat dimana Mario berada.
Mario melihat ke arah Brian dan Cavin, raut wajahnya seperti minta diselamatkan. Namun yang cepat datang justru Michael. Ia menarik adiknya itu untuk menjauh dari kerumunan para siswi.
Tak lama bel tanda masuk berbunyi. Mario dan teman-temannya masuk ke dalam kelas dan memulai pelajaran.
***
"Lo ngerasa ada portal yang kebuka nggak?"
Brian melontarkan pertanyaan pada Mario ketika jam istirahat tiba. Saat ini mereka tampak tengah berjalan menuju kantin.
"Nggak ada." jawab Mario.
Sebab memang ia tak merasakan tanda-tanda apapun.
"Mungkin tugas kita disini belum selesai, Bri. Bukan cuma sekedar menyelesaikan olimpiade doang." ujar Cavin.
"Lagipula kan kita udah memutuskan untuk nggak bakal balik kesana." lanjutnya kemudian.
Mario mengerutkan kening.
"Nggak, gue mah nanya doang." ujar Brian.
"Kali aja portalnya otomatis narik dan kita bisa ngumpet biar nggak balik." tambahnya.
"Emangnya lo pada nggak mau balik ke masa depan?" tanya Mario.
"Pada nggak kangen YouTube, game online, order makanan via ojek online gitu?" tukasnya lagi.
"Emang lo sebegitu kangennya sama masa depan?" Cavin balik melontarkan pertanyaan pada Mario.
"Mmm, nggak juga sih. Biasa aja." jawab Mario.
"Nah makanya. Kita juga ngerasanya biasa aja. Sementara disini kita bahagia." timpal Brian.
Mario diam dan berpikir. Di dimensi ini ia memiliki segalanya. Ayah, teman, prestasi, cinta, dan juga perhatian. Ia bisa melihat ibu dan ayahnya setiap hari, meski mereka tak mengenali dirinya sebagai anak.
Setidaknya ini semua cukup. Daripada harus hidup dalam kebencian Michael yang tak beralasan di masa depan.
Segala fasilitas dan teknologi di era tersebut hanyalah semacam penghibur atau pelarian. Dari segala kehancuran yang ia alami dan pura-pura tidak pernah ia rasakan.
"Gue juga kayaknya ragu untuk balik." ucap Mario kemudian.
"Setelah gue pikir-pikir emang nggak ada hal penting, yang bisa menarik gue untuk kembali ke masa itu." lanjutnya lagi.
__ADS_1
Ketiga sahabat itu diam. Kemudian mereka sama-sama menatap meja dan bangku yang kosong di pojok kantin. Mereka duduk disana. Tak lama setelah itu Bulan datang menghampiri.