
"Bro."
Mario berlarian kerumah Cavin, kebetulan Cavin pun sebenarnya hendak menuju ke rumah Mario. Namun Karena Mario sudah datang, akhirnya mereka bertemu di halaman depan. Tak lama kemudian, Brian tiba dengan tergopoh-gopoh.
"Bro." teriak Brian lalu sampai dihadapan keduanya.
"Minta aer dong." ujar Brian.
"Ya udah, ayok masuk. Kita ke atas aja, ada yang mau gue omongin ke kalian." ujar Cavin.
Ketiganya pun lalu masuk, Cavin mengambil air dingin dan cemilan lalu membawanya ke atas. Seperti biasa mereka nongkrong diatas genteng.
"Nih minumnya." ujar Cavin.
"Thank you, bro." Brian lalu meminum air tersebut.
"Lo mau cerita apaan si?" tanya Mario.
"Nah lo teriak-teriak manggil gue ngapain?" Cavin balik bertanya.
"Gue mau cerita." ujar Mario.
"Tapi, lo dulu deh." lanjutnya kemudian.
"Gue di kasih buku sama emak-bapak gue, namanya ensiklopedia." ujar Cavin.
"Lah koq sama?" Mario terheran-heran.
"Iya, gue juga dikasih." tukas Brian.
"Gue pikir itu semacem toko online kayak di masa depan. Pas bokap bilang mau kasih ensiklopedia." lanjutnya lagi.
"Kata daddy gue sih, itu cikal bakalnya Wikipedia."
"Oh ya?. Koq daddy lo tau-tauan Wikipedia?" tanya Brian.
"Iya, bro. Apa dia udah inget kalau dia berasal dari masa depan?" Cavin juga ikut-ikutan bertanya.
"Kagak, ege. Orang katanya internet dan Wikipedia itu udah ada di jaman ini."
"Oh ya?"
Cavin dan Brian tak percaya. Mario lalu menceritakan semua hal yang diketahuinya dari Deddy.
"Gila ya, di masa depan kita ngapain aja. Sampe hal penting kayak gini nggak tau." ujar Cavin.
"Gue pikir internet itu adanya mulai-mulai 2010an loh." timpal Brian.
"Ternyata dari tahun 1960an kalau di luar negri." lanjutnya lagi.
"Ntar kapan-kapan kita ke warnet deh. Penasaran gue, warnet di jaman ini bisa ngapain aja." ujar Mario.
"Gue rasa sih, nggak seasik di jaman kita, bro." Cavin berspekulasi.
"Maybe, tapi ya kita coba aja dulu. Kali aja ada situs yang di jaman kita udah diblokir." ujar Mario.
"Situs apaan tuh?" goda Cavin dan Brian bersamaan.
Mereka bertiga pun lalu nyengir bajing. Tampaknya mereka saling memahami isi kepala masing-masing.
"Eh, cari mie ayam yuk."
Cavin mencetuskan sebuah ide yang cemerlang.
"Ide bagus tuh?" timpal Mario.
"Iya, iya. Yuk, yuk." Brian antusias.
__ADS_1
"Ke depan sono noh, ada yang enak." ujar Cavin.
"Gue pernah makan disana." lanjutnya lagi."
"Ya udah ayok, naik apaan tapi." tanya Mario.
"Naik motor gue aja, cengtri." jawab Cavin seraya melebarkan senyuman.
"Gas lah." tukas Mario.
Tak lama kemudian, ketiganya terlihat naik motor dengan berbonceng tiga. Mereka berjalan bahkan melewati Davin yang baru tiba dari kantor.
"Mau kemanaaa?" teriak Davin.
"Mau jadi terong-terongaaan." Cavin balas berteriak. Sementara Davin hanya terlolong bengong.
"Terong-terongan?" gumamnya kemudian.
***
Dirumah Ratna.
Gadis itu tengah menonton sinetron, ketika ia mendengar keributan besar di rumah Heru. Ia mengintip dari balik gorden ruang tamu, ayah Heru tampak memarahi puteranya itu dengan sangat. Heru sampai terdiam dibuatnya.
Entah apa kesalahan yang telah temannya itu lakukan. Tak lama kemudian, Ratna pun mendengar hal yang sama di rumah Adril. Ia kini memejamkan matanya, ia tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong kedua temannya itu.
Sementara Mario, Brian, dan Cavin kini sedang tertawa-tawa. Menikmati makan malam mereka tanpa beban. Sesekali ketiganya bercanda, atau saling meledek satu sama lain.
Sebuah kesenjangan yang timpang di hari itu. Bukti jika kebahagiaan dan kesedihan bisa terjadi secara bersamaan, meski menimpa orang-orang yang berbeda.
"Eh, Cav. Enak ya ternyata." ujar Mario seraya menikmati mie ayamnya.
"Apa gue bilang, gimana menurut lo Bri." Cavin melemparkan pertanyaan pada Brian.
"Enak, gue suka." jawabnya kemudian.
***
"Kumon sama les primigimi hari ini." ujar Mario.
"Kagak ah, lu aja." ujar Cavin seraya menarik selimut. Ia memang tengah malas bergerak siang ini dan berniat tidur siang.
"Oh, gue laporin Davin lu yak." ancam Mario.
"Dih ngancem. Lagian ngapain sih Kumon segala?. Lu aja males kan?"
"Gue udah nggak males, karena gue akan berkompetisi bentar lagi."
"Ya itu kan elo, Mario. Gue mah nggak ada sangkut pautnya."
"Oh, jadi lo gitu sama temen. Mau ngebiarin aja si Martin dan temen-temen geng bebungaannya itu berjaya?. Ya udah, cukup tau gue sama lo."
"Koq lo ngambek gitu sih?" Cavin sewot.
Ingin rasanya ia memukul kepala Mario dengan gas 25kg. Karena di jaman itu belum ada gas 3kg.
"Ya elo, temen mau maju bukannya didukung. Kita nih, kalau bisa meruntuhkan kesombongan si Martin sekali lagi. Kita tuh bakalan menyelamatkan hidup anak-anak sekolah kita di jaman ini. Biar pada saat kita nanti pulang ke masa depan, mereka udah nggak merasa terintimidasi lagi oleh Martin dan geng flower-flowernya itu."
"Ya udah deh, iya-iya. Gue ambil tas gue dulu."
Cavin mengalah, ia beranjak lalu mengambil buku serta tasnya. Mario pun akhirnya sumringah.
Sesaat kemudian.
"Apaan sih, koq jadi gue." Brian sama menggerutunya seperti Cavin tadi. Saat Mario dan Cavin datang menjemputnya.
"Udah ikut aja." paksa Cavin kemudian.
__ADS_1
"Dari pada si Bambang ngamuk." lanjutnya lagi.
Brian pun akhirnya pasrah, meskipun dongkol setengah mati. Mereka pergi les Kumon mengikuti keinginan Mario.
Di sepanjang les berlangsung, berkali-kali Cavin dan Brian menguap, saking bosannya mereka dengan semua itu. Apa yang diajarkan tutor semuanya masuk kuping kanan, keluar lagi dari kuping yang sama karena tidak masuk sama sekali.
"Hoahm, haaaah."
Cavin dan Brian meniupkan nafas naga. Sementara Mario tampak fokus, seperti anak pintar yang benar-benar pintar.
"Mario."
"Hmm?" jawab Mario sambil masih memperhatikan ke depan.
"Koq lo bisa konsentrasi gitu sih?" tanya Brian heran.
"Diem ah, berisik." ujar Mario menggerutu.
Brian pun kembali menguap.
"Hoahm, haaaah."
Ia melihat pengajar yang bercuap-cuap, seperti melihat ikan mas koki yang tengang memakan pelet.
"Cav, pengen rebahan gue." bisik Brian pada Cavin.
"Sama, gue juga udah pengen rebahan banget ini. Mana laper lagi gue pengen seblak."
"Emang seblak udah ada ya di jaman ini?" tanya Brian.
"Kagak tau gue, belum pernah baca sejarah soal seblak." jawab Cavin.
"Lo berdua berisik banget, ngomongin apaan sih?" gerutu Mario kemudian.
Cavin dan Brian melebarkan bibir sampai kuping seraya menghela nafas panjang.
"Hhhhh."
Waktu berjalan, usai les Kumon mereka makan sejenak disuatu tempat. Cavin dan Brian langsung segar bugar, layaknya korban penyekapan yang baru saja terbebas dari penculikan.
"Buruan, primigimi udah mau masuk nih bentar lagi."
Mario sewot, melihat kedua temannya yang makan dengan begitu lambat. Keduanya sengaja agar Mario tak mengajak mereka. Sudah cukup Kumon tadi membuat mereka pusing tujuh keliling. Jika ditambah lagi, alamat mereka akan segera vertigo.
Mujur tak dapat diraih, malang tak bisa dihindari. Pepatah itu memang pas untuk menggambarkan nasib Cavin dan Brian siang itu. Ketika akhirnya, Mario menyeret mereka untuk segera melanjutkan les ke lembaga primigimi.
Mereka terpaksa mengikuti pelajaran yang tak mereka senangi tersebut, semata demi Mario. Agar si anak egois itu tak sewot dan ngoceh panjang lebar kali tinggi.
"Hadeh, capek banget gue ngeladenin Mario seharian ini." ujar Cavin pada Brian, seraya menyedot es limun yang ia beli beberapa saat yang lalu.
Keduanya kini nongkrong didepan abang-abang penjual telur gulung yang nongrong di emperan toko. Sedang Mario tengah mencari buku pada toko buku yang tak jauh dari sana. Drama Primigimi telah selesai sejak tadi.
"Liat aja tuh, masih semangat 45 begitu. Di jaman kita mana pernah dia nyari buku. Boro-boro buku, disuruh nyari artikel di google aja kagak mau, kalau nggak kepepet." ujar Brian seraya melirik ke arah Mario.
"Biarin aja, mending kita makan." ujar Cavin kemudian.
Telur gulung yang mereka pesan pun jadi. Mereka lalu makan sambil masih meminum es limun.
"Duh enak banget." ujar Cavin kemudian.
"Iye, untung telur gulung udah ada di jaman ini. Jadi lumayanlah buat menenangkan hati dan jiwa, ditengah tingkah Mario yang bikin ngelus dada itu." ujar Brian panjang lebar.
"Coba di masa depan, dia gitu yak. Gue yakin prestasinya pasti udah segudang." ujar Cavin lagi.
"Dia males ngikutin elu." ujar Brian dengan setengah tertawa.
"Lu juga pemalas, Bambang." Cavin tak mau kalah.
__ADS_1
Keduanya kini sama-sama tertawa.