Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Ekskul


__ADS_3

"Mario."


Terdengar suara Deddy memanggil, tatkala Mario masih berada di dalam kamarnya dengan keadaan tertidur lelap.


Suara itu tentu mengagetkan Mario dan memaksanya untuk bangun. Padahal ia ingin sekali tidur panjang seharian, mengingat ini adalah hari minggu.


"Ada apa, dad?" tanyanya dengan suara malas. Tubuh remaja itu tak beranjak sedikitpun, ia masih setia pada tempat tidur dan bantal serta selimutnya.


"Ada Ratna tuh, di depan."


Tiba-tiba Mario terperanjat dan langsung bangun.


"Ratna?" gumamnya kemudian.


"Ngapain dia disini?" lanjutnya lagi.


Buru-buru Mario berlari ke depan, dan mendapati Ratna disana yang tengah duduk sambil meminum segelas susu. Agaknya Deddy membuatkan untuk gadis itu.


"Rat?" Mario mengerutkan kening.


"Kita ada janji?" tanyanya kemudian.


"Ini kan minggu, Mario. Kita ikut ekskul."


"Kita?. Ekskul?"


Mario tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Iya, ekstrakurikuler. Kan kamu ikut, tiap minggu kita pergi bareng."


"What?" Mario terperangah tak percaya.


Pasalnya di masa depan, kegiatan ekstrakurikuler adalah salah satu kegiatan yang paling tidak diminati. Sebab bermain game online jauh lebih menggoda daripada berkumpul di sekolah pada jadwal libur.


"Kamu lupa?" tanya Ratna heran.


"Kenapa Mario, kamu lupa soal apa?" teriak Deddy dari dalam.


"Penyakitnya Mario, om." ujar Ratna.


"Sssttt."


Secara serta merta Mario menempelkan jari telunjuk di bibir Ratna dan menyuruh gadis itu untuk diam. Ia tidak ingin melihat Deddy khawatir dan mengira dirinya akan hilang ingatan, lalu memberinya obat-obatan lagi.


"Ok, gue mandi dulu." ujar Mario kemudian. Ia pun lalu masuk ke dalam dan Ratna kembali duduk.


Sepanjang menuju kamar mandi, Mario bertanya-tanya dalam hati. Sejak kapan ia mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan untuk apa dia ikut.


Ataukah ini semua kebalikan dari apa yang tak pernah ia lakukan di era-nya. Ia tak pernah sekalipun ikut kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.


Baginya hari libur adalah hak segala siswa untuk beristirahat, dari semua hiruk-pikuk urusan sekolah. Hari libur adalah hak seluruh siswa untuk hibernasi dan membuat konten untuk sosial media.


"Tapi disini?"


"Ah, apaan lagi sih ini?" gerutunya sambil menyalakan shower. Ia pun lalu membersihkan badan.


Beberapa menit kemudian ia keluar dari dalam kamar. Remaja itu telah berpakaian dan membawa tas sekolahnya yang hanya berisi Handphone. Ia bahkan tidak tau kegiatan ekstrakurikuler apa yang ia ikuti di jaman ini.


"Nih minum dulu."


Deddy menghampiri dan memberikan segelas susu hangat padanya. Mario meminum susu tersebut sampai habis, lalu mengembalikan gelas itu pada Deddy dan bergerak ke depan.


Namun tiba-tiba langkahnya terhenti, ia merasa ada sesuatu yang harus ia lakukan. Ya, seumur hidup ia bahkan belum pernah mengenal ayahnya. Lalu di jaman ini, semua terasa begitu hangat dan mudah. Kasih sayang mengalir begitu saja tanpa ada sekat.


Ah betapa beruntungnya ia saat ini, begitu Mario berpikir. Andaipun ini semua adalah mimpi, ia tak akan pernah menyesal pernah masuk ke dalam mimpi yang begitu diinginkannya.


"Kenapa Mario?" tanya Deddy heran, ketika melihat anak itu berhenti dan terpaku di dekat pintu. Seketika Mario pun lalu menoleh, ia kembali mendekat ke arah Deddy dan memeluk pria itu secara serta-merta.


"Makasih ya, dad." ujar Mario penuh haru.


Deddy membalas pelukan itu dan menepuk pundak Mario beberapa kali. Remaja itu memang begitu menginginkan saat-saat seperti ini bersama ayah kandungnya.


"Mario pergi dulu, dad."


"Iya hati-hati."


Deddy melepaskan pelukannya dan membiarkan anak itu menuju ke luar menemui Ratna.


"Ayo, Rat." ujar Mario kemudian.

__ADS_1


"Om, pergi ya." Ratna berujar dengan nada setengah berteriak.


"Iya, hati-hati." teriak Deddy dari dalam.


Mario segera menaiki sepeda Ratna, detik berikutnya Ratna pun naik ke boncengan. Ketika sudah keluar dari pagar, ia berpapasan dengan Adril, Cavin, Heru, dan juga Brian.


Mario, Cavin, dan Brian saling bersitatap dan memberi kode. Agaknya mereka semua terkejut ketika menghadapi kenyataan, bahwa mereka kini terlibat kegiatan ekstrakurikuler.


Namun mereka bertiga sengaja tak membahas hal tersebut. Terlebih ada Ratna, Adril, dan juga Heru disitu. Mereka hanya melaju saja sambil menebak-nebak, apalagi yang akan dilakukan oleh jaman ini kepada mereka.


"Eh, kita ikut ekskul apaan?" tanya Cavin ketika mereka telah sampai di sekolah. Sementara Adril, Heru, dan Ratna tengah mengantri untuk memarkir sepeda.


"Mana gue tau." ujar Mario sambil sesekali celingukan. Ia memperhatikan para siswa yang lalu lalang dengan penuh senyum serta semangat.


"Gue ngerinya kita ikut seni tari, bro."


Brian mengeluarkan pernyataan, yang membuat Mario dan Cavin menjadi khawatir.


"Koq gue jadi horor ya, walaupun banyak juga laki-laki yang masuk di seni tari." ujar Mario sambil membayangkan.


"Sama gue juga." timpal Cavin.


"Masa iya kita bergerak lemah gemulai. Mending gue kabur dah, bro." lanjutnya lagi.


"Brian, ayo!"


Heru tiba-tiba mengajak Brian, Brian menoleh pada Cavin dan juga Mario.


"Gue doang nih?" tanya Brian kemudian. Nada suaranya setengah berbisik agar tak kedengaran oleh Heru.


"Orang yang diajak lo doang." ujar Mario.


"Ntar kita nyusul kalau diajak juga." sambung Cavin.


Brian pun berjalan mendekati Heru, lalu keduanya mulai menjauh. Heru sendiri tak menunjukkan tanda-tanda akan mengajak, meski ia melihat Mario dan Cavin tetap berdiri di tempatnya. Itu artinya, jenis kegiatan ekstrakurikuler yang dipilih oleh Heru dan Brian memang berbeda dari mereka.


"Cav."


Kali ini Adril memanggil Cavin, pemuda itupun melihat ke arah Mario. Membuat Mario kini menjadi makin khawatir.


"Cav, jangan-jangan gue sama Ratna nih?" ujarnya panik. Kali ini Cavin tertawa.


"Ye, siapa tau bukan." ujar Mario makin panik.


"Ekstrakurikuler apa lagi yang banyak di gandrungi cewek, selain tari?"


"Ye, siapa tau teater. Tata boga atau apa?"


Kali ini Cavin melambai-lambaikan tangannya membentuk gerakan tari. Tentu saja hal tersebut membuat Mario dongkol setengah mati. Cavin pun akhirnya berlalu meninggalkan Mario, ia pergi bersama Adril.


Tak lama kemudian, Ratna tiba. Namun ia tampak membawa dua buah tas serut besar dan memberikan salah satunya pada Mario.


"Apaan ini?" tanya Mario heran. Matanya kini tertuju pada Ratna guna menanti jawaban.


"Itu peralatan Kendo lo, yang lo suruh gue titip minggu lalu di ruang osis."


"Hah, Kendo?" tanya Mario tak percaya.


"Iya, masa lo lupa sih?. Wah bener-bener nih, penyakit lo nih. Gue kasih tau bapak lo nanti."


"Eh, jangan-jangan. Jangan Rat, gue nggak mau daddy sedih."


Ratna terpaku menatap Mario. Jujur ia kasihan pada remaja itu, karena sudah sangat sering kehilangan ingatannya akhir-akhir ini. Ia ingin memberitahu Deddy agar Deddy dapat memberikan tindakan yang semestinya pada Mario.


Namun Mario sendiri yang memang tidak sakit dan hanya mengikuti skenario jaman itu pun, tak ingin jika Deddy menjadi sedih karenanya.


Sebab ia memang bukan tidak ingat apapun, ia sedang berada di jaman berbeda. Segala tindak-tanduk yang ada kini diluar skenarionya sendiri.


"Ya udah ayok, koq malah bengong." ujar Mario memecah keheningan.


Ratna pun lalu berbalik arah dan berjalan menuju ke suatu tempat, sementara kini Mario mengikutinya dari belakang.


"Ternyata gue ikut Kendo."


Mario mengetik pesan tersebut dan mengirimkannya pada Cavin dan juga Brian melalui sms. Tak lama kemudian, kedua temannya itu pun sama-sama menjawab.


"Gue ikut karate, masa." balas Cavin.


"Gue baseball." jawab Brian.

__ADS_1


Mario bernafas lega, begitupula dengan Cavin dan juga Brian. Tak ada satupun diantara mereka yang ikut kelas tari seperti dugaan mereka sebelumnya.


Meskipun ia tidak tahu mampukah ia, Cavin, dan Brian menghadapi skenario jaman ini. Karena di era mereka pun, mereka tak pernah ikut kegiatan apa-apa. Termasuk Baseball, Karate, dan Kendo itu sendiri. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk bermain game online dan membuat video tiktok.


"Mario buruan!" ujar Ratna pada Mario yang masih sibuk mengetik sms.


"Iya."


Mario segera memasukkan handphone ke dalam sakunya, lalu berlari menyusul Ratna.


Ia dan gadis itu menuju ke sebuah bangunan yang berada di pojok sekolah.


Dilihat dari luar, bangunan tersebut tampak biasa saja. Namun ketika telah masuk ke dalam, interior ruangan tersebut di desain khusus menyerupai rumah orang Jepang.


Ada sebuah ruangan besar ditengah-tengah seperti aula tempat bertemu. Mario pun menatap ruangan itu cukup lama saking terkesimanya.


"Mario, ganti baju dulu sana!" ujar Ratna seraya melirik sekilas ke arah tas serut yang ada di tangan Mario. Gadis itu kemudian masuk ke sebuah ruangan.


Mario lalu celingukan, ada kode male dan female di depan ruang ganti tersebut. Ia pun lalu masuk ke ruangan ganti laki-laki.


Ia membuka tas serutnya yang besar itu, ternyata isinya begitu banyak. Ada Shinai, Gi, Hakama. Namun belum ada Bogu.


"Yes." Mario berjingkrak dalam hati.


"Belum ada bogu, berarti gue masih level pemula" gumamnya antusias.


Meskipun ia sendiri tidak tahu gerakan kendo, namun setidaknya ia bukan berada di level yang tinggi. Lagipula pernah beberapa kali ia menonton kendo di YouTube.


Tak masalah baginya untuk sedikit mengingat gerakan demi gerakan. Meskipun jujur, itu akan terasa sangat sulit.


***


"Buuuk."


"Aaaaw."


Cavin terpukul di bagian tangan saat berusaha menangkis lawannya, ia sendiri tak tahu menahu mengenai karate. Walau saat ini dirinya memakai sabuk hijau, yang artinya dia sudah memasuki fase latihan lanjut dan telah menyelesaikan basic atau dasar dari karate tersebut.


Namun ia tak bisa sama sekali, sedari tadi ia hanya membabi buta saja. Berusaha menghindar dan menangkis sebisanya.


"Brengsek ini jaman, gue dikerjain." gerutu Cavin dalam hati.


"Mana ini lawan sakti banget lagi kayak Mahesa Birawa." gumamnya lanjut.


Sementara disisi lain, Brian yang tengah bermain baseball tampak berdiri tegak sambil memegang tongkat pemukul. Matanya tertuju ke arah seseorang yang siap melemparkan bolanya.


"Elah, gini doang mah gampang. Gue sering liat Giant sama Suneo mukul bola ginian di YouTube." gumamnya penuh percaya diri.


Namun ketika bola tersebut dilayangkan ke arahnya, Brian malah kebingungan dan panik setengah mati. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan, hingga ketika bola tersebut sudah sangat dekat ke muka.


"Buuuk."


Bola tersebut tak terpukul sama sekali, malah jatuh menghantam got pinggir lapangan.


"Yah, gimana sih?" Teman satu teamnya menggerutu. Sementara disisi lain tampak salah seorang dari personel F4, yakni Christopher tengah memperhatikannya.


"Ngapain sih, tuh anak pake acara ngeliatin gue segala." gerutu Brian dalam hati.


"Dikira gue ngelenong kali ya." lanjutnya kemudian.


Christopher memperhatikannya seraya tersenyum seperti mengejek. Membuat Brian rasanya ingin sekali mengajak anak itu berkelahi.


***


Di sisi yang lainnya lagi.


"Mario, posisi siap."


Ratna memerintahkan Mario yang masih celingukan menatap sekitar. Pasalnya ia berdiri dibarisan paling depan, satu baris dengan Ratna. Namun ia sendiri bingung harus bersikap seperti apa.


Pertandingan Kendo yang sering ia lihat di YouTube, adalah pertandingan antar kendoka tingkat lanjut yang langsung berhadapan dengan lawan. Sedangkan kini dirinya tengah berada dalam latihan.


Bahkan sejak awal tadi ia sempat kagok dalam mengucapkan salam, saat sensei sudah ada di depan matanya. Kini ia pun sama bingungnya, tak tau harus bersikap apa.


"Posisi."


Ratna mencontohkan posisi berdirinya yang langsung diikuti oleh Mario. Tak lama kemudian sang pelatih mulai melakukan gerakan.


Semua yang ada disana menuruti gerakannya, Mario dengan bersusah payah akhirnya bisa mengikuti walaupun hanya sedikit. Gerakan tersebut mereka ulang-ulang di sepanjang waktu latihan.

__ADS_1


__ADS_2