Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Studi Tour


__ADS_3

Hari itu, seluruh siswa kelas satu telah berada di dalam bus-bus yang disewa oleh pihak sekolah. Dalam beberapa hari kedepan, mereka akan mengadakan study tour ke beberapa kota.


Mario, Brian, dan Cavin tentu saja tidak bisa tinggal. Karena mereka juga merupakan siswa kelas satu. Pagi-pagi sekali Deddy dan orang tua lintas jaman Brian serta Cavin, mengantar anak-anak mereka ke sekolah.


Mario diberi uang, perbekalan selama perjalanan, kamera, serta obat-obatan yang dianggap bisa meredakan penyakit mental yang konon dideritanya.


Adril duduk dengan Heru, Cavin duduk bersama Brian. Sedangkan Mario duduk sendiri, belum tahu siapa yang akan menempati kursi kosong yang ada disebelahnya.


Jauh di depan sisi kanan dirinya, Ratna tampak duduk bersama Galih. Ratna terlihat sangat berusaha mengajak Galih berbicara, suasana diantara keduanya begitu canggung.


Mario tersenyum tipis melihat hal tersebut, namun entah mengapa hatinya tak begitu enak terasa. Seperti ada sesuatu yang mengganjal, namun ia sendiri tak mengerti itu apa. Apa mungkin ia menyukai Ratna, gumamnya.


"Ah."


Mario berusaha menepis pikirannya, ia lalu membuang pandangan ke arah kaca. Namun tawa Ratna dan Galih membuat ia penasaran dan menoleh.


Belum pernah ia melihat Ratna tertawa selepas itu, tampaknya percakapan diantara keduanya mulai mencair. Sampai akhirnya,


"Galih."


Lia tiba-tiba masuk ke dalam bus yang mereka tumpangi, lalu mendekat ke arah Galih. Ratna terkejut dan langsung menjadi canggung.


"Lia?"


"Bus aku disebelah ada yang kosong, kamu ikut aja."


Lia menatap sinis ke arah Ratna, sementara gadis itu kini menunduk. Mario memperhatikannya dari belakang.


Galih tak punya pilihan, selain menuruti permintaan pacarnya. Lia dan perangkat OSIS juga kebetulan disuruh ikut, untuk mengkoordinir adik-adik kelasnya.


"Nggak usah kegatelan lo."


Lia berkata pada Ratna dengan volume yang didengar seisi bus, tepat pada saat Galih telah keluar.


Ratna hanya diam menahan malu, bahkan air matanya merebak di pelupuk mata. Nyaris saja ia menangis. Mario ingin beranjak dan menemani gadis itu, namun ia di dahului oleh Cavin yang duduk dibelakangnya. Cavin tak tau jika Mario berniat mendekat pada Ratna.


Cavin duduk di sisi Ratna dan memulai percakapan dengan gadis itu. Hingga ia pun tak menjadi objek gosip dari siswa-siswi lainnya. Cavin mengajaknya membahas hal di luar masalah tadi.


Melihat Cavin telah disana, Mario hanya bisa menahan diri dan membuang tatapan ke luar kaca. Bahkan ia pindah duduk di pinggir dekat dengan kaca tersebut.


Mesin bus kemudian l dinyalakan. Tak lama setelah itu seseorang masuk terburu-buru dan langsung duduk disisi Mario, Mario pun terkejut. Dan yang lebih membuatnya tercengang adalah, anak itu ternyata Michael.


"Mike?" ujarnya tak percaya.


"Biasa aja kali reaksinya, lagian kursi lain penuh."


Seperti biasa Michael berkata dengan nada yang dingin. Mario hanya tertawa, karena ia benar-benar tak menyangka bisa duduk bersama kakaknya itu. Ia jadi penasaran bagaimana Michael jika sedang berpergian, apa yang akan ia lakukan selama perjalanan.

__ADS_1


Seumur hidup ia belum pernah pergi bersama kakaknya itu. Jika Michael melakukan perjalanan, ia lebih suka mengajak temannya ketimbang Mario. Pernah sekali mereka pergi bertiga, namun dengan perjalanan yang berbeda-beda. Saat itu Marcell yang mati-matian mengajak keduanya, mereka pun memilih berangkat dengan pesawat berbeda.


Di sepanjang perjalanan, seisi bus bernyanyi. Awalnya Mario, Brian, dan Cavin merasa aneh. Karena di era-nya, ketika mengadakan study tour, tak ada siswa yang saling berinteraksi atau melakukan sebuah hal bersama.


Kebanyakan dari mereka bermain handphone. Mario sendiri sangat suka membuat vlog, dengan menggunakan kamera handphone. Beberapa diantara yang lain melakukan live Instagram.


Banyak juga yang berlomba mengeluarkan kamera mahal mereka, untuk merekam sepanjang jalan yang mereka lalui. Tak banyak yang bercakap-cakap, semua sibuk dengan gadget masing-masing. Tapi dijaman ini, semua kebersamaan begitu terasa, mereka bernyanyi bersahut-sahutan.


Mario, Brian, dan Cavin yang sejatinya tak hafal bahkan tak tau lagu apa yang dinyanyikan teman-temannya itu pun, akhirnya ikut bernyanyi. Mereka bertiga bahkan terlihat begitu bahagia satu sama lain.


Perjalanan baru saja dimulai, dan hari perlahan senja. Mereka berhenti di sebuah tempat perhentian untuk makan. Saat itu...,


"Iya ma, nggak usah khawatir. Mike baik-baik aja."


Michael menjawab telpon seraya melintas di dekat Mario, yang baru saja selesai makan bersama teman-temannya. Michael sendiri memisahkan diri pada saat makan, ia memilih duduk di sebuah sudut tanpa ditemani siapapun.


"Ma, dengerin Mike, Mike baik-baik aja. Mama nggak usah khawatir berlebihan kayak gitu, ok."


Seketika hati Mario terpukul, betapa beruntungnya Michael masih memiliki ibu yang memperhatikannya. Sedangkan Mario tak bisa lagi mendengar suara ibunya ketika ia besar.


Mario terdiam. Brian dan Cavin yang ada disana langsung menariknya, agar mereka segera kembali ke dalam bus. Karena sebentar lagi bus mereka akan segera berangkat.


Saat di dalam bus pun, ibu mereka masih menelpon Michael. Mario diam saja sambil membuang tatapan ke arah kaca. Namun telinganya tetap bisa mendengar suara Michael, yang menjawab segala pertanyaan ibunya.


Michael lalu mematikan handphone. Ia tampak sedikit kesal, karena sang ibu terlalu mengkhawatirkannya.


Michael melirik ke arah Mario dengan wajah dinginnya. Lalu ia pun kembali menghidupkan handphone dan pergi tidur. Mario sendiri hanya bisa bersandar dan mencoba menenangkan diri.


Ketika malam tiba, banyak diantara mereka yang tertidur. Begitu juga dengan Mario yang tertidur di bahu Michael, Michael menyadari hal tersebut. Ia tak menunjukkan wajah senang, namun tak juga menepis kepala Mario. Ia hanya diam saja, membiarkan anak itu tertidur di bahunya.


Entah mengapa, ia pun merasa tak ingin mengganggu istirahat anak itu. Ia hanya mengambil buku lalu membaca di tengah cahaya remang bus. Kebetulan tak semua lampu di matikan.


Mobil terus berjalan. Mario terbangun dan menyadari jika ia menempel pada Michael, yang tengah membaca.


"Eh sorry, sorry." ujarnya kemudian.


Michael hanya melirik dan diam saja, lalu kembali memperhatikan bukunya. Ia menggerakkan tangannya beberapa kali. Membuat Mario yang sejatinya hendak tidur lagi, kini malah memperhatikan kakak keduanya itu.


"Pegel banget emang?. Perasaan gue baru ketiduran di pundak lo."


"Lo tidur udah dari 3 jam yang lalu dan nggak gerak sama sekali."


Mario terkejut, namun ia menyadari satu hal. Jika ia telah tertidur selama itu di bahu Michael, kenapa Michael tidak memindahkan saja posisi kepalanya untuk bersandar pada kaca.


"Lo, biarin gue tidur di bahu lo selama itu?"


Michael tak menjawab dan masih fokus terhadap bukunya.

__ADS_1


"Di masa depan, lo suka sama cewek koq gue liat. Berapa kali lo bawa cewek kerumah walaupun bubar mulu."


Kali ini Michael terlihat kesal, ia menutup bukunya dan menoleh pada Mario.


"Masa depan lagi?. Gue ini kakak lo dan lo adik gue di masa depan?. Dan sekarang lo pikir gue suka sama lo?. Suka sama laki-laki gitu?. Masih untung tadi pas tidur pala lo nggak gue puterin 180 derajat."


"Burung hantu dong gue." ujar Mario nyengir.


Michael berlalu, pergi ke toilet bus. Sementara Mario kini hanya tertawa. Ia bisa melihat ada kelembutan di dalam hati Michael, dibalik sikapnya yang menyebalkan sejak lahir.


Sementara di belakang, Brian sejak tadi lebih banyak diam dan terlihat gusar. Pasalnya sejak Cavin pindah duduk di sebelah Ratna, salah satu personel F4 yakni Christoper tiba-tiba duduk di sampingnya.


Brian yang memang sudah sinis sejak awal kedatangan kelompok aneh itu pun, jadi merasa risih dan ingin rasanya mengusir Christoper.


"Awas lo nyenggol gue." ujar Christoper mengancam.


"Dih?" Brian memiringkan bibirnya.


"Siapa juga yang mau senggolan sama lo, lo kira gue penyuka sesama jenis." ujar Brian ketus.


"Lo tadi sebelum kita istirahat, nyenggol gue."


"Namanya juga nggak sengaja, Bambang. Kan goncangan bus."


"Enak aja, nama gue Christoper. Bukan Bambang."


"Brian, tolong tenang."


Seorang guru yang duduk di belakang memperingatkan Brian.


"Kan yang berisik dua orang, bu. Kenapa nggak dia juga yang ditegur."


"Kamu nggak usah protes. Saya bilang diam, ya diam."


"Akang gendang, kalau saya bilang pilih kasih, pilih kasih ya."


Kali ini seisi bus tertawa, Mario menoleh lalu mengeplak kepala Brian seraya tertawa.


"Di jaman ini belum ada akang gendang, bro."


Mereka tertawa cekikikan.


"Sudah, sudah. Tenang semuanya."


Guru tersebut kembali mengingatkan, para siswa pun mulai diam.


"Dari dulu ternyata sudah banyak ketidakadilan." gerutu Brian seraya melirik sinis ke arah Christopher, ia pun lalu pergi tidur.

__ADS_1


__ADS_2