
"Mar."
Seseorang menyapa di depan pintu masuk, ketika jam istirahat sudah tiba. Mario menoleh, begitupula dengan Cavin dan juga Brian.
Namun ternyata suara itu berasal dari salah satu anggota F4 yang menyapa Martin. Hampir saja Mario menjawab panggilan tersebut.
"Yaelah ini mah kecil."
Salah seorang anggota f4 lainnya, melihat hasil jawaban Mario yang masih terpampang di papan tulis. Mereka bertiga kini mendekat ke arah Martin.
"Yoi, ini mah belum seujung kuku kita. Makanya tadi gue nggak ditunjuk. Karena guru tau, kalau soal beginian bukan level gue."
Martin berujar dengan sombongnya. Mario, Brian, dan Cavin kompak mencibirkan bibir mereka.
"Yuk ah, kantin yuk!" ajak Martin kemudian.
Ia dan teman-teman gengnya itu pun keluar untuk menuju ke kantin. Di luar kelas seperti biasa, mereka langsung dikerubuti para siswi yang ingin meminta tanda tangan.
"Sombong amat sih tuh kecoa baghdad." gerutu Mario kesal.
"Tau, baru pinter fisika doang udah sombong. Gimana pinter segalanya, gue rasa langsung ngaku jadi profesor tuh orang." timpal Brian.
"Udah nggak usah di dengerin, anak kayak gitu tuh caper." ujar Cavin kemudian.
"Makin diliatin, makin ngelunjak." lanjutnya lagi.
"Gaes, basecamp."
Adril berjalan diikuti Heru, detik berikutnya Mario dan yang lain pun mengikuti Adril.
Setibanya di basecamp, seusai mengantri panjang dalam memesan makanan. Tiba-tiba Mario terpaku, matanya tertuju pada suatu meja dimana kini Martin dan teman satu gengnya tengah duduk. Ternyata mereka juga pergi ke basecamp tersebut.
"Kenapa, bro?" tanya Cavin sambil mengikuti arah pandangan Mario. Hal tersebut pun terjadi pada Brian.
"Tuh si kutu beras lagi bacot." ujar Mario.
Cavin dan Brian memperhatikan secara seksama. Ke tempat dimana Martin sedang sok membahas soal bersama ketiga temannya.
"Ini kan begini. Nih yang tiga ini di tarik ke sini, yang ini kesini. Seratusnya berarti kesini, ini kesini. Tuh kan, dapet hasilnya."
"Yoi." ujar teman-temannya memberikan tepuk tangan.
"Gampang kan?" tanya Martin lagi.
"Sip." ujar teman-temannya serentak.
"Lo emang the best, man."
"Siapa dulu dong, Martin."
__ADS_1
Martin berkata dengan nada congkak sambil menaikkan kerah bajunya. Mata remaja itu melirik sekilas ke arah Mario, Brian, dan juga Cavin.
"Gue nggak yakin mereka beneran bahas soal." ujar Cavin berspekulasi.
"Paling cuma gaya-gayaan doang biar dibilang pinter." tambah Brian.
"Kalau di jaman kita, setara bocil FF." lanjutnya lagi, mereka bertiga pun tertawa.
"Udah ah, duduk yuk!"
Cavin melangkah ke arah Adril dan juga Heru yang sudah duduk duluan. Brian dan Mario berjalan dibelakangnya.
Baru saja Mario hendak meletakkan makanan ke atas meja, tiba-tiba matanya menangkap sosok Marcell yang tengah duduk sendirian di pojokan. Ia menikmati makanannya sambil membaca buku.
"Kenapa lo?" tanya Cavin lalu mengikuti arah pandangan Mario.
"Gue kesana ya." ujar Mario. Ia pun melangkah tanpa mendengar persetujuan dari temannya.
"Hai." ujar Mario pada kakak pertamanya itu tanpa ragu.
Marcell yang tengah fokus membaca itu pun lalu menandai dan menutup bukunya. Ia mempersilahkan Mario untuk duduk.
"Lo masih mau membicarakan soal khayalan lo, yang datang dari masa depan itu?"
Marcell bertanya pada Mario dan kini ia sedang menanti jawabannya. Mario terdiam sejenak, rasanya tidak mungkin untuk mengungkit hal itu lagi. Karena respon Marcell sudah pasti akan sama, ia pasti akan menganggap Mario aneh karena kebanyakan menonton film.
"Nggak, gue nggak lagi mau ngebahas itu. Gue kesini, karena meja gue penuh."
"Ok."
Marcell kembali memakan makanannya dan begitupun dengan Mario.
"Lo sendirian?" tanya Mario kemudian.
"Ya, anak-anak lagi pada di perpustakaan. Lo sendiri?"
"Ada temen-temen gue, tapi mejanya sempit.”
"Oh."
"Bokap-nyokap lo baik-baik aja kan?"
Tiba-tiba Mario mengeluarkan pertanyaan yang tak biasa, Marcell sendiri kemudian mengerutkan keningnya. Karena bahkan ia tidak mengenal betul siapa anak yang kini duduk di hadapannya itu, mereka baru bertemu dua kali.
"Lo, nanyain mereka karena pengen denger mereka berantem?"
Marcell mengeluarkan pertanyaan bernada aneh pada Mario.
"Maksudnya?" tanya Mario heran.
__ADS_1
Marcell mereguk air minum lalu menghela nafas dan menatap ke mata Mario.
"Gue masih curiga kalau bokap gue itu selingkuh dan punya anak, anaknya itu elo. Lo nanyain mereka baik-baik aja atau nggak, karena disuruh nyokap lo kan?. Nyokap lo pengen tau apa bokap-nyokap gue hubungannya baik-baik aja atau nggak, udah cerai apa belum. Biar dia bisa nikah sama bokap gue dan mensahkan elo sebagai anaknya, kalau seandainya bokap emang menceraikan nyokap gue. iya kan?"
Mario yang menarik nafas kali ini, remaja itu pun lalu tertawa.
"Pikiran lo terlalu jauh, Cell. Gue biasa nanyain keadaan orang tua temen-temen gue."
"Tapi kan, lo bukan temen gue."
"Bisa kita mulai dari sekarang kalau lo mau."
Mario melanjutkan makannya. Saat ini ia memang sangat ingin tau wajah dari kedua orang tuanya secara langsung. Sebab selama ini ia hanya melihat mereka lewat foto.
"Lo itu lucu." ujar Marcell kemudian.
"Gue nggak pernah nemu anak SMP yang berani dateng ke meja gue dan ngomongin hal yang aneh." lanjutnya lagi.
"Dan lo sekarang ketemu sama gue."ujar Mario.
"Ok, gue mungkin bakalan suka." ujar Marcell.
"So, lo tinggal dimana?" Mario kembali melontarkan pertanyaan.
"Dua puluh menit dari sini, kalau lo naik motor."
"Oh, lumayan jauh dong." ujar Mario.
"Ya." jawab Marcell.
Mereka berdua pun melanjutkan makan dan perbincangan, hal tersebut membuat heran Adril dan juga Heru. Cavin dan Brian sendiri sudah tau siapa yang diajak bicara oleh Mario dan mereka tak terlalu ambil pusing.
"Mario koq kesana sih?" tanya Adril heran.
Ia melirik sekilas ke arah Mario lalu kembali menatap Brian dan juga Cavin. Agaknya ia membutuhkan jawaban atas rasa penasarannya.
"Oh itu, kenalannya Mario."
Cavin berkilah agar Adril tak banyak bertanya, ia juga bingung harus menjelaskan siapa Marcell. Tidak mungkin ia mengatakan jika Marcell itu adalah kakak kandung Mario. Sebab bisa jadi hal tersebut akan memunculkan pertanyaan berikutnya, jika ia mengatakan seperti itu.
"Oh gitu."
Agaknya Adril menerima jawaban Cavin, mereka pun melanjutkan makan.
Usai makan seperti biasa, mereka berniat kembali ke sekolah. Namun yang membuat sebal kali ini adalah, geng F4 yang juga ingin kembali ke tempat itu di waktu yang sama. Membuat akhirnya mereka saling sinis dan dulu-duluan.
"Kenapa sih tuh si bunga ****** ngikut aja kita jalan." gerutu Mario.
"Tau, males banget gue deket mereka." timpal Cavin.
__ADS_1
"Pengen banget gue sleding palanya." ujar Brian.
Sementara Adril dan Heru hanya diam, para personel F4 menatap sinis ke arah mereka semua.