Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Rumit


__ADS_3

Disebuah rumah, Martin tampak tengah bermain basket. Berkali-kali ia memasukkan bola kedalam ring, hingga akhirnya satu tembakan terakhir gagal. Bola tersebut hanya mengenai bibir ring, kemudian memantul dan kembali jatuh ke lapangan.


"Aarrgghh." Martin kesal, ia lalu menendang bola basket tersebut.


"Buuuk."


Ia kini terduduk lesu di lapangan. Terpikir akan ucapan kedua orang tuanya yang sangat menyakitkan hati.


"Posisi bisa tergeser sama orang lain, makanya belajar yang lebih keras."


"Lemah tau nggak kamu, masih pelajaran SMP aja udah lemah. Gimana SMA nanti, kuliah?. Awas aja, sampai kamu nggak bisa masuk perguruan tinggi yang bagus. Papa sama mama nggak akan mau mengakui kamu."


Martin membenamkan kepalanya diantara kedua kaki. Tak lama kemudian, Jimmy datang menghampiri.


"Mar." ujarnya kemudian.


Martin mengangkat wajah dan memperhatikan temannya itu.


"Gue denger, gengnya Mario lagi lemah sekarang. Semua gara-gara Adril yang juga pengen ikut olimpiade."


"Maksud lo, mereka lagi clash gitu?" tanya Martin.


"Ya, bisa dibilang begitu. Walaupun nggak musuhan-musuhan amat. Mereka masih tegur sapa, tapi gue liat si Adril udah nggak seramah dulu sama Mario. Dia kayaknya kecewa karena nggak bisa menyabet juara umum dan jadi kandidat untuk olimpiade. Karena nilainya jauh dibawah."


Martin terdiam dan memperhatikan Jimmy. Ia kini tiba-tiba memiliki rencana di benaknya.


"Lo serius kan soal ini?" tanya Martin sekali lagi.


"Yaelah, kapan sih pengamatan gue keliru atas sesuatu?"


Martin tersenyum, tak lama Jimmy pun demikian.


***


Deddy tengah sibuk-sibuknya hari ini, ada beberapa persoalan yang harus ia selesaikan. Maka ia pun bekerja dengan maksimal, ia bahkan tak mengetahui jika sebuah email kembali masuk ke laman surelnya. Bahkan kini email tersebut muncul di setiap unit komputer yang ada di kantor.


"Mana Deddy."


"Mana Deddy."


"Kembalikan Deddy."


"Kembalikan Deddy."


"Kami butuh Deddy."


"Podcast menunggu Deddy."


Pesan itu terus berkedip-kedip di laman depan komputer semua orang, bahkan lebih mirip virus trojan.


"Ded."


Rekan kerjanya memanggil Deddy, yang masih sibuk kesana kemari mengurus file.


"Apaan?" tanya Deddy.


Para karyawan bergeser dari tempat duduk dan menunjukkan pesan itu pada Deddy. Deddy pun kini terdiam, segera saja ia pergi ke komputernya dan mencoba mengutak-atik perangkat tersebut.


"Kapan ini kayak gini?"


"Udah dari tadi, pak." Salah satu karyawan wanita berujar padanya.


"Deddy pun kini menjadi cemas, karena banyak file yang berada di komputer tersebut. Sedangkan kini komputer tak bisa digerakkan sama sekali kursornya.

__ADS_1


Deddy panik, begitupun dengan seisi kantor. Mereka lalu menelpon teknisi yang biasa membenarkan perangkat tersebut. Cukup lama mereka menunggu, akhirnya sang teknisi pun datang.


Masalah terselesaikan, tak ada file yang hilang satupun. Deddy menghela nafas panjang, ia kini menduga jika hal ini ada campur tangan orang dalam kantor.


Deddy pun menjadi begitu marah, ia berjanji untuk menemukan orang tersebut dan akan bertanya apa maksud serta tujuannya. Karena sepertinya, orang tersebut memiliki dendam terhadap Deddy.


***


"Gue punya misi, buat bikin supaya bokap nyokap gue ganti pekerjaan. Jangan jadi cleaning service lagi."


Cavin berujar di sore hari, ketika mereka bertiga sudah dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Davin dijaga oleh ayah dan juga ibunya.


"Gimana caranya, bro?" tanya Mario kemudian.


"Ya gimana aja, apapun caranya akan gue pikirkan mulai malam ini. Gue kasih flyer lowongan pekerjaan kek ke mereka atau apapun itu. Yang jelas, gue mau mereka ganti pekerjaan. Kalau hidup mereka disini berubah, gue yakin masa depan gue pun akan berubah. Plus sekalian gue mau cari tau, kenapa mereka sampe pisah dan kenapa nyokap gue seakan mengaburkan bokap dari ingatan gue."


Mario dan Brian menghela nafas.


"Ya udah, bro. Apapun yang akan lo perbuat, gue sama Mario bakalan dukung lo sepenuhnya." Brian berujar diikuti anggukan Mario.


Selepas pembicaraan hari itu, Cavin mulai berfikir keras.


"Gimana ya caranya bisa dapat banyak lowongan pekerjaan?"


Ia bergumam ketika malam mulai menyapa.


"Jaman ini kan belum ada aplikasi kayak di masa depan. Di sana ada jobstreet dan lain sebagainya, gampang liat lowongan." lanjutnya lagi.


Cavin pun menghela nafas, namun kemudian ia mengambil handphone dan menelpon Brian.


"Bri."


"Apaan?" tanya Brian yang saat ini terdengar tengah mengunyah makanan.


"Lo makan ya?" Cavin balik bertanya.


"Serius, haji Malih."


Brian tertawa.


"Iye, kenapa Cav?"


"Mm, bokap lo yang disini punya perusahaan kan?"


"Iya." jawab Brian.


"Tanyain dong, ada nggak lowongan kerjaan buat nyokap dan bokap gue."


"Ntar gue tanyain deh, kalau ada gue info ya."


"Thank you ya, bro." ujar Cavin kemudian.


"Santai, ntar gue kabarin."


"Ok, bye."


"Lo cuma mau ngomong itu doang?" tanya Brian.


"Lu ngarep apa, Bambang?"


"Ya ngarep lebih lah. Tanyain ke gue sama seharian ngapain kek, dimana, sama siapa. Tanyain gue cinta apa nggak sama lo."


"Bangsat." Cavin terkekeh, begitupula dengan Brian.

__ADS_1


"Geli gue anjay." ujar Brian lagi, padahal sejatinya ialah yang memulai.


"Apalagi gue." tukas Cavin.


Keduanya masih tertawa-tawa, sampai kemudian Cavin menyudahi percakapan tersebut. Usai menelpon Brian, Cavin beralih pada Mario.


"Komar."


"Apaan?" jawab Mario.


"Tanyain ke om Deddy dong, ada lowongan pekerjaan nggak di kantornya dia?"


"Lu mau kerja?" tanya Mario seraya mengerutkan kening.


"Bukan gue, Bambang. Tapi buat nyokap dan bokap gue. Supaya mereka nggak jadi office boy lagi."


"Oh ya udah, ntar gue tanyain ke bokap ya."


"Thank you ya, Mario."


"Sip, sip, sip." jawab Mario.


Cavin pun menyudahi percakapan tersebut.


"Gue cari lowongan dari mana lagi ya?" Ia kembali bergumam.


Tiba-tiba tenggorokannya mendadak terasa kering dan panas. Cavin pun turun ke bawah untuk mengambil air minum.


"Hai Cav."


Suara ayah lintas jamannya mengejutkan Cavin.


"Eh papa, belum tidur?"


Cavin bertanya seraya mengambil segelas air putih dan meminumnya. Kebetulan sang ayah sedang duduk di meja makan, jadi jarak mereka cukup dekat.


"Belum, papa belum baca koran hari ini soalnya. Mau tau dulu ada kejadian apa, nanti baru tidur."


"Oh."


Cavin meletakkan gelasnya ke atas meja makan dan hendak berlalu. Namun kemudian ia terpikir akan sesuatu.


"Oh ya pa, papa ada lowongan kerjaan nggak di kantor?"


Cavin duduk di sisi ayahnya.


"Buat apaan kamu, kan masih sekolah." tukas ayahnya kemudian.


"Bukan buat Cav, pa. Tapi buat temen Cav."


Ayahnya melipat koran dan meletakkannya di meja, lalu ia beralih menatap Cavin.


"Teman kamu kan juga pastinya masih sekolah." ujar ayahnya lagi.


Cavin diam, karena kini ia seolah terjebak ucapannya sendiri.


"Mm maksud Cav, saudaranya teman Cav pa. Ada yang baru lulus SMA." Cavin berkilah.


"Oh, kalau lulus SMA paling lowongan office boy dan office girl. Itu pun kalau saudara teman kamu mau." jawab ayahnya.


"Selain itu nggak ada, pa?" tanya Cavin lagi.


"Ada, tapi minimal lulusan D3."

__ADS_1


"Oh." Cavin terdiam.


Ibu dan ayah kandungnya kini bekerja di perusahaan ayah lintas jamannya tersebut. Bisa jadi mereka berdua cuma lulusan SMA, maka dari itu yang mereka dapat hanyalah posisi sebagai OB.


__ADS_2