Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Sebuah Lagu Penghubung


__ADS_3

"Have I told you lately, that I love you."


Lagu itu terus mengalun, bahkan terdengar hingga ke dalam mobil. Dimana Mario dan Deddy bersiap untuk pulang.


Deddy menyetel radio di dalam mobil tersebut dan entah kebetulan atau apa. Lagu yang diputar di radio tersebut, sama dengan lagu yang di dengar oleh Mario di dalam tadi.


"Dad."


"Hmm?"


"Ini tuh lagu siapa sih?" tanya Mario.


"Rod Stewart." jawab Deddy.


"Siapa tuh?" tanya Mario.


Sebab di era-nya ia hanya pernah mendengar Justin Bieber, Ardhito Pramono, dan lain-lain. Itupun tak terlalu ia gubris, sebab ia kurang menyukai musik.


"Masa nggak tau, segitu terkenalnya loh." ujar Deddy.


Mario rasanya ingin membuka google dan langsung melihat penampakan dari orang yang disebutkan ayah lintas jamannya itu. Sebab di masa depan sangat mudah mencari informasi perihal tokoh atau artis yang belum kita ketahui. Tinggal klik langsung ketemu.


Meski ada juga yang masih tidak bisa menggunakan google dengan baik. Masih suka bertanya di kolom komentar postingan orang. Padahal mau mencari tentang dedemit dan makhluk terkecil di dunia sekalipun, semua ada di google.


"Ya, Mario emang nggak tau sama sekali." jawab Mario jujur. Deddy pun kini tertawa.


"Dia penyanyi asal Inggris, salah satu lagunya ya ini. Kamu pasti cuma taunya penyanyi lokal kan." ujar Deddy lagi.


"Tau koq BTS." jawab Mario tanpa sengaja. Seketika Deddy mengerutkan dahi.


"BTS?" tanya nya kemudian.


"Ah." Mario memutar otak dan mencoba melarikan diri dari pertanyaan ini.


"Eee, nggak dad. Mario lagi mikirin hal lain." dustanya kemudian. Deddy kembali tertawa, sambil terus mengemudikan mobil.


"Judul lagunya apa, dad?" Mario bertanya setelah selang beberapa saat berlalu.


"Have I told you lately." jawab Deddy.


"Oh." Mario manggut-manggut. Tak lama ia pun mengantuk, lalu tertidur disisi ayahnya itu.


***

__ADS_1


"Nggak kemana-mana lagi kan?"


Sang ayah bertanya pada Brian, ketika mereka telah selesai makan dan membayar. Tadi ayahnya yang membayar makanan mereka semua.


Meski dia adalah ayah kandung Brian, namun statusnya disini adalah sebagai tetangga. Brian agak tak enak hati ketika makanannya di bayari oleh pria itu. Ia berusaha menolak namun sang ayah tetap memaksa.


"Nggak, aku nggak kemana-mana koq." ucap Brian.


"Ya udah pulang bareng yuk."


Sang ibu yang sejak tadi diam, kini ikutan berujar. Brian mengangguk, kemudian mereka berjalan bertiga dan menyeberang.


Ketika mereka nyaris mencapai bibir jalanan seberang. Tiba-tiba sebuah mobil melintas dengan sangat kencang, dan posisi Brian ada di paling depan.


"Brian, awas!"


Sang ayah menangkap tubuhnya dan menarik Brian ke sisi yang berlawanan, hingga mereka jatuh terjerembab. Saat itu pula waktu seakan terhenti. Brian memperhatikan sang ayah dan merasakan pelukannya yang hangat serta penuh kekhawatiran terhadap dirinya.


Setelah sepanjang hidup ia tak pernah merasakan semua itu. Sebab sang ayah seperti dengan musuh bila bertemu dengannya di masa depan.


"Kamu nggak apa-apa?"


Sang ibu menghampiri dan tampak begitu khawatir. Air mata Brian pun seketika mengalir. Sang ayah dan ibunya mengira Brian ketakutan, sebab ia masih remaja dan wajar saja jika merasa seperti itu.


Sebuah hal yang selalu ia khayalkan dan impikan selama ini. Hal yang ia ketahui tak akan pernah terjadi, mengingat ibu dan ayahnya telah terpisah sejak lama.


"Udah jangan nangis, semua akan baik-baik aja."


Sang ayah kandung memeluk Brian dan Brian tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia balas memeluk pria itu sambil terisak.


Ayah dan ibunya tidaklah merasa aneh. Karena anak SMP bagi mereka tak lebih dewasa dari seorang anak SD. Usianya belum begitu matang, sangat lumrah jika seumuran dirinya masih cengeng.


"Ya udah kita pulang sekarang ya." ujar sang ayah lagi.


Brian pun mengangguk, maka mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan.


***


Pada saat yang bersamaan Davin mulai memetik gitar, dengan tubuh yang kini duduk dan menghadap ke jalan raya. Sedang Cavin duduk dengan posisi membelakangi. Sambil bagian belakang tubuhnya bersandar pada bagian belakang tubuh sang kakak. Mereka sesekali masih menikmati roti bakar yang mereka buat tadi.


"Have I told you lately, that I love you."


Davin mulai bernyanyi, dan entah mengapa tiba-tiba saja batin Cavin menjadi tersentak. Seolah dirinya terhubung pada sesuatu, yang ia sendiri tak mengerti itu apa.

__ADS_1


"Have I told you there's no one else above you."


Davin melanjutkan lagunya, dan semakin pria itu terus bernyanyi, semakin batin Cavin seperti di aduk-aduk rasanya. Ia tak tau lagu siapa itu, tapi entah mengapa pesan yang tersampaikan seolah mengenai sesuatu dalam relung jiwanya.


"You fill my heart with gladness, Take away all my sadness. Ease my troubles, that's what you do."


Davin berhenti sejenak lalu meminum kopi yang ada di dalam gelas.


"Dave."


"Hmm?"


"Jangan berhenti." ujar Cavin.


Davin tersenyum tipis dan kembali mereguk kopinya.


"Kamu suka lagu ini?" tanya nya kemudian.


"Ya." jawab Cavin sambil menatap ke langit luas. Tampak ada beberapa bintang disana.


Davin lanjut bernyanyi. Dan pada saat yang bersamaan Brian serta kedua orang tuanya melintas. Lalu mobil yang membawa Deddy serta Mario pun tiba.


Deddy membuka kaca dan membiarkan Mario tetap tertidur di sisinya. Cukup lama ia memandangi puteranya itu, sementara lagu yang dinyanyikan Davin terus menggema.


Selang beberapa saat berlalu, Brian berpamitan dengan kedua orang tuanya. Sebab mereka telah tiba di muka rumah masing-masing


Mario terbangun, lalu ia masuk kedalam rumah bersama Deddy. Lagu selesai dan gantian Cavin kini yang tertidur, dengan tubuh masih bersandar pada sang kakak.


Davin membawa tubuh Cavin ke dalam dan menidurkannya di kamar. Tak lama ia membereskan dak atas hingga bersih. Kemudian tiba-tiba turun hujan.


Brian terpaku di dalam kamar, sambil mengingat kejadian tadi bersama kedua orang tuanya. Dikala hujan yang awalnya gerimis itu, mendadak menjadi kian deras.


Mario sendiri membiarkan pintu jendela kamarnya terbuka. Angin dan terpaan hujan sedikit masuk ke sana. Membuat kamar yang air conditionernya sengaja dimatikan itu, kini terasa dingin.


Namun meskipun dingin, ia mengingat sikap Deddy saat mereka tengah makan bersama tadi. Juga ketika ayah lintas jamannya itu ternyata membiarkan ia terus tertidur, di saat mereka bahkan telah sampai di teras rumah.


"Udah sampai dari tadi ya, dad?" tanya Mario kala itu.


"Iya, daddy mau angkat kamu ke dalam. Tapi takut kamu malah kebangun. Makanya daddy tungguin disini sampai kamu bangun sendiri."


Mario mengingat percakapannya tersebut dengan Deddy di mobil tadi. Dan entah mengapa hatinya kini menjadi semakin hangat.


Seakan bahagia itu begitu sederhana. Sebatas ketika kita diperhatikan dan disayangi dengan tulus oleh orang terdekat kita.

__ADS_1


__ADS_2