
Tubuh Mario kian menggigil, suhunya pun meningkat secara drastis. Padahal ia baru mendapatkan ibuprofen beberapa saat yang lalu.
"Ma, mama."
Lirih suara yang keluar dari bibir Mario, namun itulah yang kini terdengar di telinga Deddy.
"Mama."
Kata-kata itu terdengar sekali lagi, membuat hati Deddy seperti ditusuk ribuan pisau. Baru kali ini ia mendengar Mario menyebutkan nama ibunya.
"Ma."
Deddy meraih sapu tangan yang ada di kening Mario, kemudian membasahinya kembali dengan air dingin. Ia mengompres di sekitaran kening serta leher anak itu.
"Mama."
Deddy memeluk Mario, dan membiarkan anak itu merasa lebih hangat. Lambat laun, Mario pun mulai tenang dan tertidur lelap.
Malam itu Deddy tak dapat memejamkan mata. Ia membuka sebuah ruangan yang telah lama terkunci. Debu mengebul dari sana. Ruangan itu dulunya adalah kamar, yang ia gunakan dengan ibu Mario sebelum mereka bercerai.
Hati Deddy remuk redam penuh kesakitan, menatap sebuah foto yang masih terpajang di dinding. Itu adalah ibu Mario, dan entah dimana wanita itu kini berada.
Agaknya ia memang tak memiliki hati. Karena sebagaimana pun beratnya sebuah perpisahan, harusnya ia mengunjungi Mario sesekali.
Mario hanyalah korban, dari permasalahan yang terjadi diantara kedua orang tuanya. Ia tidak tau dan tidak salah apa-apa.
***
Minggu pagi.
"Tok, tok, tok."
Terdengar suara ketukan pintu.
"Braaak."
Deddy membuka pintu, tampak Michael dan ibunya sudah ada di muka.
"Selamat pagi pak." ujar Maya dengan ramah.
"Pagi bu Maya" jawab Deddy kemudian.
"Ini pak, Michael katanya mau lihat Mario. Tapi dia nggak berani sendirian, makanya ngajak saya."
"Oh ya, silahkan bu. Naik saja ke atas, mari saya antar."
Deddy masuk terlebih dahulu, kemudian diikuti Maya dan juga putera keduanya Michael. Mereka langsung menuju ke kamar Mario.
"Braaak."
Pintu terbuka, Mario menoleh. Anak itu sudah bangun sejak tadi. Ia tampak terkejut dengan kehadiran Michael serta ibunya, namun ia bahagia dan tersenyum pada kedua orang tersebut.
"Mario, bagaimana keadaan kamu?" tanya ibunya seraya duduk disisi Mario.
"Baik ma." jawab Mario lirih.
Michael duduk di sisi yang lainnya.
"Sebentar bu Maya, saya ambilkan minum." ujar Deddy lalu beranjak.
"Nggak usah repot-repot pak."
__ADS_1
"Nggak apa-apa." ujar Deddy dari kejauhan.
Pria itu kemudian turun dan membuatkan minuman untuk tamunya.
"Mario, ini mama bawain kamu sup ayam. Makan dulu ya."
"Makasih ma." ujar Mario.
Ia tadi sudah makan dan tidak habis. Rasanya begitu mual, namun ia penasaran dengan rasa sup ayam yang di bawa oleh ibunya tersebut.
Michael membantu menyiapkan sup itu, kebetulan sup tersebut ditempatkan pada tempat makan yang memang susah ada sendoknya.
"Makan dulu, pelan-pelan ya."
Ibunya hendak menyuapkan sup tersebut pada Mario, remaja itu tertegun. Seumur hidup bahkan ia belum pernah disuapi oleh ibunya. Michael dan Marcell pun tak pernah melakukan hal tersebut.
Apabila ia sakit, hanya ada makanan yang tersedia di dekatnya. Tapi ia selalu makan sendiri.
"Ayo Mario, Aaa'."
Mario menarik nafas, lalu menerima suapan tersebut. Hampir saja ia menangis, namun berusaha keras ia tahan. Pada saat yang bersamaan, Deddy muncul dengan membawa minuman. Pria itu sempat tertegun dan nyaris menangis. Karena cerita di jaman ini pun, Mario tidak memiliki ibu dan belum pernah diurus oleh ibunya.
"Pak Deddy, ini saya bawakan Mario sup ayam. Nggak apa-apa kan?"
"Oh iya nggak apa-apa bu, terima kasih banyak. Ini minumnya." ujar Deddy lalu meletakkan dua gelas minuman ke sebuah meja sudut, dikamar Mario.
"Ayo Michael di minum...!" ujar Deddy lagi.
"Makasih om." ujar Michael.
"Makasih pak Deddy." tukas Maya.
"Sama-sama, oh ya saya tinggal dulu ya bu maya. Saya harus mengirim email pekerjaan saya yang belum selesai."
Maka Deddy pun lalu meninggalkan tempat itu. Sementara Maya lanjut menyuapi Mario. Mereka kemudian terlibat perbincangan yang cukup panjang.
***
Cavin tengah berjalan di sepanjang pusat pertokoan. Ia dan Brian hendak menuju ke salah satu supermarket, guna membeli buah-buahan untuk Mario. Karena saat ini Mario tengah sakit dan mereka pikir ia butuh asupan vitamin.
"Bro, tunggu bentar ya." ujar Brian terburu-buru.
"Pasti lo mau boker kan?" Cavin mendadak menjadi peramal.
"Yoi, kebelet banget."
"Kebiasaan, ya udah sana buruan...!"
"Iya."
Brian pun lalu bergegas mencari toilet umum. Sementara kini Cavin menunggu sambil melihat-lihat majalah dan buku yang di jual di emperan pertokoan.
"Cav."
Terdengar suara mengejutkan dari arah belakang. Cavin menoleh, ternyata Anindya.
"Ibu, eh mbak." ujarnya sedikit gelagapan.
"Kamu ngapain disini?" tanya Anindya heran.
"Lagi nunggu temen, dia lagi ke toilet umum." jawab Cavin.
__ADS_1
"Jauh ya dari rumah, mampir ke toilet dekat sini."
Cavin terkekeh.
"Kita lagi mau ke supermarket yang disana mbak. Mau beli buah, salah satu teman kami sakit."
"Siapa?"
"Mario, yang rada bule itu mukanya."
"Oh iya, inget saya. Emang dia sakit apa?"
"Demam mbak, kita sih udah jenguk. Tapi mau jenguk lagi, kasian dia soalnya. Kesepian kalau nggak ada aku sama Brian."
"Oh ya udah, salam buat Mario ya. Saya doain cepet sembuh."
"Amin makasih mbak, oh ya mbak Anin mau kemana?"
"Mau jalan sama temen, kita janjian disini."
Tak lama seorang gadis pun tiba.
"Tuh orangnya." ujar Anindya.
"Mbak jalan ya."
"Ok, hati-hati." ujar Cavin.
Anin pun melangkah menjauh, sementara kini Cavin masih tertegun memperhatikan ibunya itu.
***
"Nih bro buat lo. Ada strawberry, pisang, apel, melon sama alpukat dan jeruk."
Cavin membantu Brian mengeluarkan isi barang bawaannya di kamar Mario. Tak lama mereka mengeluarkan sebuah plastik lain berisi makanan cepat saji.
"Itu punya siapa?" tanya Mario kemudian.
"Ini punya gue sama Cav lah." tukas Brian.
"Punya gue nggak ada?" tanya Mario lagi.
"Elu kan sakit, Bambang. Mana boleh makan junk food beginian." timpal Cavin.
"Yoi, lo makan aja tuh sumber vitamin." Brian kembali berujar.
"Nggak mau gue, jahat lo berdua."
Cavin dan Brian tak menghiraukan Mario. Mereka kini membuka makanan tersebut, sambil sesekali menyeruput pepsi.
"Duh seger."
Cavin dan Brian berujar tanpa sengaja di waktu yang nyaris bersamaan. Namun seketika mereka tersadar, jika ada Mario disana.
Mereka pun menoleh, dan mendapati wajah Mario yang memelas penuh harap. Seolah mengatakan, hello it's me. Cavin dan Brian bersitatap, mereka menghela nafas lalu tersenyum.
"Nih punya lo."
Mereka mengeluarkan plastik yang lainnya lagi.
"Jangan kasih tau om Deddy." ujar Cavin.
__ADS_1
Seketika Mario menjadi sumringah. Detik berikutnya mereka pun makan bersama dengan lahap.