Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Discman


__ADS_3

Sementara di suatu tempat,


"Aw."


Cavin menyeka pipi serta bibir Ratna yang memerah akibat tamparan Lia. Gadis itu tampak kesakitan, karena Lia menamparnya dengan kasar.


"Sakit?" tanya Cavin khawatir, Ratna pun mengangguk.


"Ini pelan-pelan koq."


"Aww."


Ratna kembali kesakitan.


"Ya udah balik ke penginapan ya." ujar Cavin setelah dirasa cukup. Ratna kembali mengangguk.


Ia mencoba berdiri namun tiba-tiba tubuhnya oleng, dengan sigap Cavin pun menahan laju tubuh gadis itu. Kini keduanya berada dalam jarak yang sangat dekat, bahkan Ratna bisa merasakan hangatnya nafas Cavin. Lama keduanya bersitatap, sampai akhirnya mereka pun menjadi salah tingkah.


"Eh, mmm."


Cavin memberi kode pada Ratna, agar gadis itu segera berjalan. Ratna pun melangkah, Cavin menemaninya kembali ke penginapan.


***


"Lo dicari sama guru-guru."


Michael muncul di belakang Mario, ketika anak itu baru saja mendapatkan ketenangannya. Ia sengaja memojokkan diri di suatu tempat.


"Mereka dimana?" tanya Mario kepada kakak keduanya itu.


"Di teras depan penginapan bu Andini."


"Ok."


Mario beranjak dan meninggalkan Michael. Ia pergi menyusul Brian, Cavin, dan yang lainnya. Yang telah berada di tempat dimana mereka akan disidang dan diadili.


Ia tiba paling akhir setelah Galih, disana mereka ditanyai satu persatu. Masing-masing pihak menyatakan pembelaan diri. Awalnya berlangsung ricuh, karena tidak ada satupun yang mau disalahkan.


Masalah kemudian di kerucutkan. Galih meminta maaf pada Mario, Brian, dan Cavin atas kesalahpahaman yang terjadi. Dan kini hanya tersisa Galih, Ratna dan Lia saja.


Ketiganya diberi nasehat, terutama Lia. Meski ia melakukan dengan dongkol hati dan tidak ikhlas. Toh pada akhirnya dimata para guru, Lia meminta maaf dan masalah dianggap selesai. Walaupun belum tentu untuk ke depannya nanti.


***


Mario kembali ke kamarnya, tak lama setelah itu ia menerima panggilan dari Deddy.


"Dad?"


"Kamu kemana aja, Mario?. Daddy telepon dari tadi di reject terus, kamu kenapa?. Ada apa?"


Suara Deddy terdengar penuh kemarahan, namun memiliki nada yang terkesan penuh kekhawatiran.


Mario bingung, antara takut atau ingin tertawa. Bahkan malah ia menjadi terharu. Pasalnya di masa depan, ia tak pernah sekalipun dikhawatirkan oleh ayahnya. Jangankan di khawatirkan, melihat saja belum pernah.


Dan yang membuat lucu adalah, dimasa depan Mario adalah salah seorang haters Deddy. Yang tidak suka akan kesuksesan laki-laki berusia 40an tahun lebih itu sebagai podcaster dan juga YouTuber. Mario adalah salah satu penganut paham jika podcast itu adalah audio, bukan audio visual.


Ia menganggap jika Deddy telah merusak podcast, dengan style audio visualnya yang terkesan arogan tersebut.


Namun dimasa ini, ia justru merasakan hal yang berbeda. Deddy yang ia benci malah memberikannya sebuah kasih sayang serta perhatian yang sangat besar.


"Mario, kamu denger daddy nggak?"


Suara khas Deddy ketika marah terdengar di telinga Mario. Pasalnya Mario pernah melihat dan mendengar suara Deddy, saat melabrak orang yang menantangnya di media sosial. Dan kini ia mendengar langsung.


"Iya dad, Mario denger."


"Kenapa nggak jawab pertanyaan daddy?. Kamu ini bikin orang tua khawatir aja."


Mario tersenyum, dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.


"Maaf ya dad, Mario...."


Suara Mario tercekat di tenggorokan, ia berusaha keras menahan tangis harunya.


"Mario terlalu seneng bisa dateng kesini, dad."


Yang dimaksud Mario kali ini adalah, ia terlalu senang bisa datang ke jaman ini dan menemukan bahwa Deddy adalah ayahnya.


Sementara Deddy mengartikan jika Mario terlalu gembira bisa datang ke Borobudur, sampai-sampai lupa meneleponnya untuk memberi kabar.


"Ya udah, daddy tuh cuma khawatir aja sama kamu. Takut kamu tidurnya nggak nyaman, sakit, atau gangguan mental kamu kambuh."


"Em, nggak sih dad. Sejauh ini Mario baik-baik aja."


"Ya udah, obatnya diminum. Daddy udah tarok di tas kamu."


Mario berjalan ke arah tasnya, ia menemukan obat di bagian depan. Air matanya merebak di pelupuk mata, betapa pun sesungguhnya ia tidaklah sakit. Tetapi cara Deddy memperlakukannya, membuat ia merasa begitu dicintai sebagai anak.


"Mario, kenapa kamu diem?"


Mario menyeka air matanya. Dari kejauhan, Deddy bisa mendengar suara tangis yang berusaha ditahan.


"Mario, mending sekarang kamu ambil obatnya dan minum. Sebelum kamu jadi nangis nggak jelas, karena gangguan mental kamu itu."


"Dad."


Lagi-lagi Mario tersenyum.


"I just want to say, thank you so much."


"For What?"


"For being my dad."


Kali ini Deddy yang tersenyum, ia menarik nafas dan menurunkan sedikit nada bicaranya.


"Daddy sayang Mario."


"Thanks, dad. Mario juga sayang daddy."


"Jangan lupa telepon daddy. Kalau nggak, daddy bakal marah lagi sama kamu."

__ADS_1


"Iya dad."


Deddy pun menyudahi panggilan telepon tersebut, sementara kini Mario masih dengan sisa tangis harunya. Ia meletakkan handphone di atas meja disisi tempat tidur, sambil duduk di pinggiran tempat tidur itu sendiri.


Dan ketika ia mulai rebahan,


"Hik, jegik."


Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang mengganjal, ia lalu menoleh. Tiba-tiba saja kini wajah dan bibirnya, sudah berada sangat dekat dengan wajah serta bibir Michael.


"Hih, apaan sih lo Mike?"


Mario bergidik ngeri sambil menjauhkan wajah serta tubuhnya, sementara ekspresi Michael datar seperti biasanya.


"Lagian siapa suruh nggak liat. Bagus gue, kalau uler cobra dicaplok lo dari tadi."


ujar Michael seraya membuang mukanya ke arah lain.


"Ya gue mampus, Mike. Kalau dicaplok cobra. Apalagi cobra ya segede elo, kagak bakal gue berantem sama lo di masa depan."


Mario beralih ke sisi Michael dan merebahkan diri disana, sementara Michael menghadap ke arah lain.


"Lagian ngapain sih, lo masih disini?"


"Siapa yang nyuruh supaya gue tinggal disini?" Michael balik bertanya.


"Gu, gue sih. Tapi kan nggak selama nya juga."


"Emang kita selamanya disini?"


"Ya, nggak juga sih. Nanti kan balik ke Bandung."


"Terus masalah nya apa?" tanya Michael lagi.


"Ya, nggak ada sih."


"Ya udah."


"Tadi lo ngeliat gue mau nangis?"


"Iya."


"Itu bokap gue yang nelpon, bukan om-om yang memelihara gue."


"Itu urusan lo."


"Gue normal koq, Mike."


"Bodo."


Lalu hening.


"Mike."


Michael tak menjawab.


"Lo masih sakit nggak?. Tadi gue liat lo minum obat."


"Mike, gue nanya."


Mario mendekat dan melihat ke wajah Michael, ternyata Michael sudah terlelap. Mario pun kembali lagi ke posisinya, tanpa Mario sadari bahwa sebenarnya Michael hanya berpura-pura tidur. Agar Mario tak banyak bertanya kepadanya.


Malam itu, Suasana begitu hening, karena semua siswa telah kembali ke penginapan masing-masing. Mario pun tidur dengan nyenyak sampai kemudian tanpa sengaja ia mendengar rintihan.


Awalnya terdengar sepintas, namun lama kelamaan membuat Mario terpaksa membuka mata. Lalu ia pun mendapati Michael yang tampak kedinginan padahal ia berselimut.


"Mike?"


Michael terus saja merintih, padahal saat itu suhu sedang tidak terlalu dingin. Mario pun meraba kening Michael.


"Ya ampun, Mike. Panas banget badan lo."


Mario bergegas, ia segera menambah selimut untuk menutupi tubuh kakaknya itu. Ia pun lalu pergi mencari segelas air putih, tak lupa ia  membasahi sebuah saputangan. Ia bermaksud mengompres kening Michael, ia lalu bergegas menuju ke arah kakak keduanya itu. Namun ketika ia hampir sampai, tiba-tiba langkahnya terhenti.


Seketika saja ia teringat pada peristiwa ketika ia masih SMP. Saat itu ia mengalami demam tinggi, ia juga sama menggigilnya seperti Michael saat ini. Ia berharap mendapat perawatan dari kedua kakaknya, namun yang ada ia malah dimarahi habis-habiskan oleh Michael.


"Udah gue bilang berkali-kali, jangan maen terus. Kemaren aja sok hebat lo, maen sepakbola sampe baju kering di badan. Udah tau hujan bukannya berhenti, giliran sakit gini nyusahin orang."


Saat itu Mario hanya merintih kedinginan, ditengah suhu tubuhnya yang tinggi.


"Nih minum obatnya..!"


"Braaak."


Michael meletakkan gelas dan obat ke atas meja di sisi tempat tidur, dengan penekanan yang penuh emosi. Tanpa terasa air mata Mario menetes mengingat hal tersebut, ia jadi ragu untuk menolong Michael. Kenangan itu membentuk semacam dendam tersendiri di hatinya.


Mario berbalik, namun ia mendengar lagi rintihan dari Michael. Sambil menghela nafas dan mengusap air matanya, segera saja Mario berbalik arah kembali ke pada Michael. Ia mengesampingkan segala ego dan dendam yang dimilikinya selama ini. Mario mendekat lalu memberi Michael minum.


"Mike, minum dulu."


Michael berusaha untuk bangun dan meminum air tersebut.


"Muka lo pucat banget, Mike. Lo kenapa sih?"


Michael tak menjawab, tubuhnya terlalu lemah. Hampir saja ia terjatuh ke sisi tempat tidur, jika saja Mario tak menyanggah tubuhnya dengan cepat.


Untuk pertama kali pula lah, Mario memeluk kakak keduanya itu. Rasa haru sekaligus sedih bercampur jadi satu. Selama hidupnya Mario selalu ingin untuk dekat dengan kedua kakaknya, namun kedua kakaknya tak pernah menyadari hal tersebut. Mereka malah menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing. Bahkan Michael bersikap seolah Mario adalah musuh baginya.


"Mario."


Michael melihat ke arah tasnya dengan tatapan yang begitu lemah.


"A, apa, Mike?" tanya Mario seraya turut menoleh ke arah tas tersebut. Namun kemudian ia tak lagi bertanya, ia mendekat ke arah tas tersebut lalu membukanya. Ternyata ada beberapa jenis obat-obatan disana.


Tak diketahui jenis obat apa itu, hanya tertulis nama Michael. Mario pun segera membawa obat itu pada Michael dan membantu kakak keduanya itu untuk meminumnya.


Usai meminum obat tersebut, Mario pergi keluar. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa bubur hangat. Kebetulan ada di sekitar penginapan tersebut ada yang berjualan.


Mario membangunkan Michael dan menyuruhnya untuk makan, namun Michael menolak. Di masa depan pun ketika sakit, Michael memang susah disuruh makan. Biasanya Marcell, kakak pertama mereka yang akan memaksanya.


Berhubung kali ini tidak ada Marcell, maka Mario lah yang akan memaksa Michael. Michael menolak beberapa kali, sampai akhirnya luluh juga dengan bujukan Mario.

__ADS_1


Brian dan Cavin yang tidak tau keadaan didalam, tiba-tiba saja masuk ke kamar Mario dan mendapati Mario tengah merawat kakaknya tersebut. Mereka pun heran dengan sikap Mario yang berubah 180 derajat dari aslinya.


Padahal ia adalah orang yang tidak mau peduli pada segala keadaan Michael. Brian dan Cavin pun bersitatap cukup lama, sampai akhirnya mereka meninggalkan kamar Mario.


Tadinya mereka bermaksud menginap di kamar Mario dan ingin bercerita banyak hal mengenai hari ini. Namun dengan adanya kejadian tersebut, mereka pun mengurungkan niatnya.


Michael kembali tertidur, usai disuapi oleh Mario. Dan kini Mario pun mulai merasa mengantuk. Namun ia masih ingin mengawasi Michael, ia takut kalau-kalau Michael butuh bantuan. Akhirnya Mario pun tertidur di kursi dengan kepala tertidur di pinggiran ranjang. Tepat disisi tangan Michael.


Keesokan harinya, Michael terkejut saat mendapati Mario tertidur lelap disisinya. Namun tak berada di tempat tidur melainkan di kursi. Ia lalu mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Mario. Sesaat kemudian ia pun pergi meninggalkan kamar itu.


Mario terbangun oleh riuh suara siswa yang keluar dari penginapan mereka. Ia mendapati tak ada lagi Michael di dalam kamarnya.


"Mario."


"Tok, tok, tok, tok."


Terdengar suara Cavin dari luar sana diikuti oleh ketukan pintu. Segera saja Mario membuka pintu tersebut.


"Apaan?"


"Buruan, Bambang. Kita udah mau berangkat lagi. Bus pertama aja udah jalan duluan."


"Jalan sekarang?"


"Ya iya, menurut lo?. Mau kapan lagi?. Kita masih panjang loh perjalanannya. Terakhir di Bali."


"Berapa lama lagi sih berangkatnya?"


"Paling 10 menit lagi."


"Ya udah deh, gue nggak usah mandi."


"Ya udah, gue aja kagak mandi. Siap-siap sono."


"Brian mana?"


"Udah duluan."


"Ya udah, gue beres-beres dulu."


"Gue tunggu di bus ya." ujar Cavin.


"Ok."


Cavin berlalu meninggalkan kamar Mario. Sementara pemuda itu kini bergegas membereskan barangnya.


Ketika semua telah siap, dan ia pun telah selesai memakai sepatu. Tiba-tiba saja ia mendapati sebuah Discman terletak di atas meja.


Mario mengambil alat pemutar music yang sempat hits di era 1995 sampai awal 2000 an tersebut. Belum sempat ia mengira-ngira alat tersebut milik siapa, tiba-tiba ia menerima sebuah SMS.


"Gue nggak mau hutang budi. But, thanks udah ngerawat gue semalem."


Mario sudah tau ini jika ini adalah milik Michael. Mario mengutak-atik discman tersebut, karena ia sendiri tak pernah melihat alat seperti itu secara langsung. Hanya pernah melihatnya di internet. Namun akhirnya ia mulai paham jika itu adalah alat pemutar music, karena Mario menemukan CD di dalamnya.


Selama ini ia hanya familiar dengan MP3 player yang dulu juga pernah dimiliki oleh Michael dan juga Marcell ketika Mario masih kecil.


"Mariooo."


Tiba-tiba terdengar suara Cavin dan Brian dari luar penginapan. Segera saja Mario memasukkan discman tersebut ke dalam tas nya lalu berlarian keluar ke arah Bus.


Mario duduk sendiri, karena Brian sudah lebih dulu duduk bersama Cavin. Ia juga melihat Ratna yang duduk disisi Heru. Sedang Adril ada di belakang dengan seorang siswa lainnya.


Mario tidak menemukan Michael. Menurut informasi yang beredar, bahwa setengah jam yang lalu sudah ada bus yang berangkat duluan. Bisa jadi Michael ada di dalam bus tersebut.


Mario lalu teringat pada Discman yang tadi ditinggalkan Michael untuk /nya. Ia pun lalu mengambil pemutar CD portable tersebut dan mulai mendengarkan lagu dari sana.


Mario teringat ketika di jamannya, ia seringkali ingin meminjam gadget milik Michael, namun Michael selalu memarahinya. Dengan mengatakan kalau Mario harus menggunakan barangnya sendiri.


Saat itu ia mengatakan jika Michael adalah kakak terpelit dan terburuk di dunia. Namun di jaman ini, ia hanya bisa tersenyum tipis mengingat semua kejadian itu. Sifat Michael berbanding terbalik jika bersama orang lain.


Entah mengapa ia begitu keras pada adiknya sendiri. Sedang disini Mario berperan sebagai orang lain. Dan sikap Michael tak seburuk pandangannya, ketika ia menjadi adik dari laki-laki tersebut.


Perjalanan pun dilanjutkan dari kota ke kota. Hingga akhirnya mereka tiba di destinasi terakhir yakni pulau dewata. Di pulau tersebut mereka kembali terbagi dalam beberapa penginapan yang saling berdekatan.


Namun bedanya kali ini, kamar Mario ada persis disisi kamar Ratna. Hingga ia pun memiliki akses bersama lebih banyak dengan teman perempuannya itu.


"Mario, buruan...!"


Ratna berteriak pada Mario karena gadis itu ingin buru-buru pergi ke bibir pantai. Mario bergegas keluar dari penginapannya. Ia menurunkan anak tangga dan.....


"Buuuuk."


Kaki Mario tak berhasil menapaki anak tangga, ia terjatuh tepat di atas Ratna yang refleks menyanggah tubuhnya.


Ratna menahan tubuh Mario sekuat tenaga. Namun meskipun begitu, kini tubuh mereka saling bersentuhan. Cukup lama keduanya bersitatap, sampai kemudian.


"Aaaaaa."


Keduanya lalu sama-sama berteriak dan kembali berdiri.


"Ih, Mario sengaja ya?"


"Iya, eh. Nggak, gue nggak sengaja Rat."


Keduanya senyum-senyum dan salah tingkah. Mario sendiri pun tak memiliki pacar di jaman nya. Ia terkenal sebagai laki-laki yang suka membuat baper banyak gadis, namun ia sendiri belum pernah jatuh cinta.


Tapi entah mengapa kali ini jantungnya berdetak sangat cepat, seperti sebuah rasa mulai tumbuh. Namun Mario cepat-cepat menetralkan perasaannya. Karena biar bagaimanapun ia telah berusia anak SMA, sedangkan Ratna ini masih SMP.


"Hmm, ya udah yuk kita jalan sekarang." ujar Ratna kemudian. Mario pun mengangguk lalu mempersilahkan Ratna untuk mengambil langkah terlebih dahulu.


Sore itu langit cerah, mereka semua menghabiskan waktu di pantai sambil menunggu sunset.


"Mario."


"Iya."


"Makasih ya selalu ada buat gue."


Ratna berujar sambil memandang ke lepas pantai, sementara Mario hanya tersenyum.


"Lo juga selalu belain gue kalau di depan Galih ataupun kak Lia"

__ADS_1


Kali ini Ratna menoleh dan menatap Mario. Lagi-lagi Mario tak menjawab, ia hanya mengangguk dan tersenyum.


__ADS_2