
“Baaak."
"Buuuk."
"Braak."
"Hyaaa."
"Buuuk."
"Buuuk."
Mario fokus pada Galih yang kini tepat berada dihadapannya. Mereka dan siswa lain yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bela diri Kendo, hari ini sedang latihan keras.
"Hyaaa."
"Baaak."
"Buuuk."
“Hyaaa."
"Kretak."
Mario berusaha menghindari Galih yang fokus menyerangnya. Dalam dua minggu ke depan, akan diadakan pertandingan persahabatan. Antara klub Kendo sekolah mereka, dengan berbagai klub dari sekolah lain.
Sejujurnya Mario belum begitu mahir. Namun perwakilan wajib mengirimkan minimal 2 peserta. Dan Mario dinilai cukup layak untuk mendampingi Galih yang sudah berada pada tingkatan yang lebih tinggi.
Mario menurut saja pada pembinanya, toh ini bukan turnamen besar dengan hadiah yang fantastis. Hanya pertarungan yang mempertemukan beberapa sekolah, agar mereka bisa menjalin kerjasama dalam hal olahraga dan juga beladiri.
Keuntungan lainnya yang bisa didapat adalah, para siswa diharapkan bisa menjalin pertemanan dengan siswa sekolah lain. Hingga memperkecil kemungkinan untuk bermusuhan, atau tawuran di kemudian hari.
Lagipula, Mario masih belum tau kapan kutukan jaman ini akan berakhir. Kapan portalnya kembali terbuka dan kapan mereka bisa kembali ke tahun 2021.
Bisa jadi setelah pertandingan ini usai, atau bahkan sebelum pertandingan dimulai. Intinya, Mario hanya mengikuti saja alur skenario jaman ini. Kemana angin membawa, disitu ia mengikuti.
“Buuuk."
Sebuah pukulan mendarat di bahu Mario yang sebelah kiri. Ia terus berkonsentrasi dan sebisa mungkin menghindari pukulan Galih.
Sementara di sebuah ruangan yang sama tertutup dengan tempat di mana Mario sedang latihan, Cavin juga tengah terlihat sangat berkonsentrasi menghadapi lawannya. Yang tak lain dan tak bukan adalah Martin, personel F4 yang menyebalkan itu.
Sedari tadi Cavin selalu mendapat serangan bertubi-tubi dari Martin. Padahal Cavin pun telah berlatih keras selama ini.
"Sialan, hebat banget bedebah satu ini." gerutu Cavin dalam hatinya.
Ia terus berusaha mengimbangi gerakan Martin dan menangkis serangan demi serangan yang ia lancarkan. Namun kemudian,
"Buuuk."
"Braaak."
Satu tendangan membuat Cavin terjatuh, latihan pun akhirnya diselesaikan. Martin mengulurkan tangannya sambil menatap penuh kesombongan ke arah Cavin.
Cavin pun menerima uluran tangan tersebut, karena memang itulah peraturan yang ada di sana. Lagipula pelatih tengah melihat ke arah mereka, tak enak jika terlihat saling bermusuhan. Cavin lalu berdiri dan kini wajahnya sangat dekat dengan wajah Martin.
"Lo nggak usah maksain diri, karena itu akan sia-sia."
Martin berlalu meninggalkan Cavin, dalam kebekuan yang mendalam.
"Lo gimana sih, mukul bola gitu doang nggak bisa."
Christopher berteriak di wajah Brian, membuat Brian sendiri tersulut emosinya.
"Eh biasa aja dong, nggak usah nyolot. Lo juga tadi gagal berapa kali gue liat."
Brian gantian berteriak di muka Christopher, ia menatap pentolan geng F4 itu dengan tajam.
"Gue gagal beberapa kali doang, elo bahkan dari awal tadi sampe sekarang tetep aja gagal. Kalau lo nggak bisa main, nggak usah maksa. Banyak pemain lain yang siap gantiin posisi lo."
"Eh, lo nggak usah gitu juga."
Heru yang ada disitu membela Brian.
"Lo mau team kita kalah cuma gara-gara dia doang?"
Christopher menatap lekat ke wajah Heru. Sesaat kemudian ia pun berlalu, setelah melirik sekilas ke arah Brian.
"Anjrit, belagu banget itu si Martin kecoa timur tengah."
Cavin menggerutu kesal sesaat setelah ia, Mario, dan Brian pulang ke rumah. Kini mereka berada di atas rooftop rumah Cavin, mereka tiduran sambil menatap langit.
"Gue juga sebel tuh sama si Christopher, sok hebat anjir. Cuma karena gue mukul salah, terus dia sok mengintimidasi gue gitu." Brian mengemukakan uneg-unegnya.
"Lah tadi si Martin juga sok-sok an, kayak pemaen sinetron. Ngomong di deket kuping gue dengan suara sok cool dan menindas. Dia nggak tau apa, kalau mulutnya bau terasi."
Mario dan Brian tertawa geli.
"Hahaha, bangsat."
"Iya, emang bau terasi."
"Hahaha." Mario dan Brian makin terpingkal-pingkal.
"Lo gimana Mario, lancar?” tanya Cavin kemudian.
__ADS_1
"Apaan, berak?"
"Latihan lo, dudul." Brian memperjelas, Mario pun tertawa.
"Lancar sih, tapi sepanjang latihan gue yang di gebuk mulu."
"Ya iyalah, lawan lo pembina lo kan?” ujar Cavin sok tahu.
"Bukan, si Galih."
"Galih gebetannya Ratna?" tanya Brian.
"Menurut lo, Galih yang mana lagi?"
"Emang dia hebat banget?" tanya Cavin penasaran.
"Gue aja kualahan. Gerakannya kayak hayabusa anjir, cepet banget. Dia tuh kalau disuruh maling jemuran, nggak bakal ketahuan."
"Anjir, nanggung ege jemuran. Maling baju branded noh depan SPG nya, baru gue acungin jempol." ujar Brian.
Mereka semua kembali tertawa.
"Eh, gue ketahuan daddy tau. Pas kita bolos."
"Sama." ujar Brian dan Cavin di waktu bersamaan.
"Lo dimarahin nggak?" tanya Cavin kemudian.
"Ya iyalah, mana sebelumnya gue udah bikin dia marah. Gara-gara yang gue jalan sama bokap gue sama Marcell, nggak ngabarin dia. Terus ditambah itu lagi."
"Dia marahnya gimana?"
Brian penasaran.
"Dibentak gue, sampe gue nggak berani jawab. Serem banget kalau dia udah marah."
"Gue juga tuh ketahuan Davin, ternyata dia ngeliat dan ngikutin kita. Mana gue ngomongin soal dia lagi, ke elo berdua."
"Terus dia gimana sama lo?. Lo didiemin?” tanya Mario diikuti tatapan Brian, yang menanti jawaban segera.
"Sumpah, enak kalau di diemin. Dia nyolot, anjir. Di berantemin gue, sampe dia mau keluar lagi dari rumah ini."
"Ah serius lo?" tanya Brian.
"Serius, Davin tuh tau dia salah dan dia ngerasa bersalah. Tapi nggak mau disalahin tau nggak. Jadi dia mau menjadi pihak yang nggak bisa disalahkan."
"Hmm, begimane?" tanya Mario bingung.
"Iya, gue juga nggak ngerti." Brian planga-plongo.
"Gini ya, Iqbal, Ramadhan. Davin tau, kalau gue sedih. Tentang masalah dia yang nolak gue waktu gue kecil."
"Ha’aaaa."
Mario dan Brian mengangguk, tanda masih mengerti ucapan Cavin.
"Terus?" tanya Brian lagi.
"Dia nggak ke pengen gue mengingat hal tersebut. Dia pengen gue ngelupain semua itu dan dia juga mau, gue berbaikan sama dia"
"Ya bagus dong." ujar Mario.
"Iya juga sih." timpal Cavin.
"Nah intinya ini, lo lagi membahas apa?" tanya Mario selanjutnya.
Cavin terdiam, kali ini dia yang planga-plongo.
"Tau ah, bingung gue" ujarnya kemudian.
"Lah, dia yang ngejelasin panjang-lebar, dia juga yang bingung. Lu bingung, apalagi kita." ujar Brian.
"Intinya, Davin nggak suka kalau gue memprotes sikapnya."
"Ooo, intinya Davin itu nggak mau lo menyimpan kemarahan apapun atas sikap dia yang dulu itu?" tanya Mario.
"Maksud gue juga tadi, itu. Mario Cahyadi."
"Apaan lo, orang gue aja kagak ngerti waktu lo ngomong tadi." ujar Brian.
"Bener, gue juga kagak ngerti."
Mario mendukung Brian, Cavin melebarkan bibirnya sampai kuping.
"Udeh, nggak usah dibahas lagi." ujar Cavin sewot.
"Lu sendiri gimana, Bri?”
Kali ini Mario penasaran dengan apa yang terjadi dengan Brian.
"Soal apaan?"
"Lu lagi, pake acara lemot segala." Cavin menoyor kepala Brian.
"Ya apaan?"
__ADS_1
"Ya soal masalah bolos sekolah tadi, Junaedi. Lo tadi kan bilang kalau lo juga dimarahin."
"Iya terus?" tanya Brian masih bingung.
"Ceritanya gimana?" Cavin bertanya sambil mengelus dada.
"Oh, gue kira apaan. Hehehe."
"Napa jadi pada lemot-lemot banget dah." ujar Mario heran.
"Lo juga sama, kampret."
Cavin dan Brian kompak menyerang Mario, namun Mario malah nyengir bajing.
"Lanjut." ujarnya kemudian.
"Sebenernya sih, bapak-emak lintas jaman gue nggak ada yang tau kalau gue bolos hari itu."
"Terus yang ngasih tau siapa, lambe turah?." tanya Mario penasaran.
"Emak sama bapak kandung gue, yang sekarang jadi tetangga gue. Mereka lah lambe turahnya."
"Hah, serius lo?" Mario dan Cavin tak percaya.
"Iya karena kita tawuran itu ternyata di depan mobilnya mereka, yang kejebak dan nggak bisa jalan ditengah-tengah kerumunan. Dia ngeliat gue dan lo berdua, terus dilaporin deh."
"Lo dimarahin kayak gimana, sama orang tua lo?” tanya Mario kian penasaran.
"Iya, gue liat selama ini kayaknya orang tua lintas jaman lo nggak angry able." timpal Cavin.
Mario dan Brian mendadak tertawa.
"Angry able istilah lo, belagu lo. Sok enggres." ujar Brian seraya masih tertawa.
"Iya yang gue liat kan, orang tua lo kayak lembut gitu. Gimana mau marah coba?" ujar Cavin lagi.
"Justru yang lembut kayak gitu, kalau marah nggak enak."
"Lo digebuk?" tanya Mario.
"Pala lo dilempar batu?" timpal Cavin penuh rasa penasaran.
"Lebih parah."
Mario dan Cavin memperhatikan Brian.
"Gue di ghosting."
"Di ghosting?"
"Di ghosting gimana?" tanya Mario tak mengerti.
"Gue nggak ketemu mereka selama beberapa hari ini. Bener-bener pas gue bangun, mereka kagak ada. Gue pulang sekolah pun, mereka tetep kagak ada. Malem gue sengaja bangun, mereka kunci pintu kamar. Pagi gue cepetin bangun, eh mereka berangkat subuh kata mbak Luna."
"Buset niat banget emak-bapak lo, nge-ghostingin elo." ujar Cavin diikuti tawa Mario.
"Kayak daddy tempo hari." tukas Mario kemudian.
"Tapi daddy lo masih ketemu kan sama lo?" Brian balik bertanya.
"Iya, gue cuma kayak di silent treatment gitu doang."
"Nah gue kagak, anjir. Bener-bener di diemin dan di ghosting, sampe gue nangis di tengah rumah."
"Lo nangis, Bri?" tanya Mario diikuti tatapan tak percaya dari Cavin.
Pasalnya selama mengenal Brian, ia adalah sosok paling tegar diantara mereka semua. Belum pernah sekalipun baik Mario maupun Cavin, melihat Brian menitikkan air mata.
Baginya, pantang menangis karena ia adalah laki-laki. Berbeda dengan Mario dan juga Cavin yang lebih membebaskan diri mereka untuk berekspresi. Mereka berdua menganggap jika menangis itu tak memiliki gender. Laki-laki pun boleh menangis jika diperlukan.
"Sumpah gue nangis, bro. Ini jaman tuh bener-bener ya. Lo ngerasa nggak sih, perasaan kita kayak diatur oleh waktu. Seolah kita emang berusia 12 / 13 tahun, kita tuh masih baper."
"Bener sih, gue juga ngerasain." tukas Cavin.
"Gue juga iya sih." tambah Mario.
"Nangis lah gue, sampe mbak Luna dan mbak-mbak gue yang lain jadi diem semua. Sesek banget dada gue, udalah di masa depan emak-bapak gue pisah. Bapak gue jarang banget berinteraksi sama gue, emak gue nggak tau kemana. Eh disini lagi, orang tua gue ikutan ngilang."
"Terus akhirnya gimana?" tanya Mario penasaran.
"Akhirnya entah kebetulan atau apa, mereka tuh balik. Udeh tuh gue dipeluk, damai banget rasanya hati gue."
"Di jaman ini, kita lebih ngerasain banyak hal luar biasa. Setuju nggak sih lo pada." tanya Mario pada kedua temannya.
"Banget." ujar Cavin dengan nada pasti.
"Gue lebih nyaman di jaman ini." lanjutnya lagi.
"Sama." Brian menimpali.
"Cuma ya, itu masalahnya. Kita harus berhadapan sama si genk kecoa primitif itu." lanjut Brian lagi.
"Pokoknya kita harus latihan keras." ujar Mario memberi semangat.
"Yoi, biar kita lunasin tuh bacot Martin sama temen-temen soknya itu." Cavin berujar dengan nada yang berapi-api.
__ADS_1