Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Pindah


__ADS_3

"Emangnya kenapa dengan pekerjaan saya?"


Anindya bertanya pada Cavin. Ketika Cavin akhirnya memberanikan diri untuk menemui dan berbincang dengan ibunya itu.


"Ya sayang aja, kamu kayaknya punya potensi lain kalau aku lihat." ujar Cavin kemudian.


"Emangnya kamu peramal?" tanya Anindya lagi.


"Ya nggak harus jadi peramal juga, untuk mengetahui karakter seseorang. Dari look nya aja udah kelihatan koq. Kamu cantik, komunikatif, kayaknya kamu pinter." ujar Cavin lagi.


Anindya tersenyum.


"Makasih loh, belum ada yang memuji aku segitunya. Apalagi anak bos seperti kamu."


"Dari mana kamu tau anak bos." tanya Cavin heran.


"Kan kamu adiknya pak Davin. Seisi kantor juga tau koq, pak Davin itu anaknya siapa."


"Hehehe." Kali ini Cavin tertawa.


Ada untungnya juga ia menjadi anak orang kaya di jaman ini. Ia bisa dengan mudah berbicara pada orang lain, terutama pada karyawan ayahnya sendiri.


"Mau nggak aku cariin kerjaan lain?" tanya Cavin lagi.


"Mau kerjaan apalagi, ini aja udah syukur." tukas Anindya.


"Ya apa kek." ujar Cavin.


"Aku cuma lulusan SMK loh."


"Lah, kan di SMK juga banyak skill pasti yang di ajarkan."


"Iya tapi nggak membantu banyak. Karena kalau kerja di kita kan yang penting ijasah sekolah tinggi, dan nama universitas. Walau punya skill segudang, kalau ijasahnya cuma SMA sederajat, bakalan susah."


Cavin menghela nafas, benar apa yang dikatakan ibunya itu. Melamar sebuah pekerjaan di negri ini bukanlah sebuah hal yang mudah. Meski banyak skill, namun saingan kita adalah orang yang sekolahnya lebih tinggi. Belum lagi jika orang tersebut memiliki orang dalam.


***


"Sulit, bro."


Cavin berujar pada Mario dan Juga Brian. Ketika mereka bertiga tengah berkumpul di kamar Brian.


Mario rebahan di tempat tidur temannya itu sambil membaca buku. Sedang Brian sendiri duduk sambil memetik gitar. Sementara Cavin ada di sofa.


"Sulit gimana?" tanya Mario tak mengerti.


"Ya dari segi mindset aja nyokap gue udah minderan orangnya."


"Minder karena di orang nggak punya apa gimana?" tanya Brian.


"Ya dia pesimis, kalau lulusan SMK kayak dia nggak bakal dapat kerjaan yang lebih baik." jawab Cavin.


"Wah bahaya tuh mindset kayak gitu." ujar Mario lagi.


"Makanya, semakin dia minder ya semakin jadi doa. Semakin beneran nggak ada kesempatan buat dia." tukas Cavin lagi.


"Tapi nggak bisa nyalahin sepenuhnya juga, bro." Brian kembali menimpali.


"Perusahaan juga nyari karyawannya yang spek dewa. Padahal SDM kita masih makhluk fana."

__ADS_1


lanjutnya lagi.


"Bingung gue, gimana caranya ya?" tanya Cavin.


"Pokoknya yang jelas, kita cari terus lowongan dimana aja. Yang mau menerima lulusan SMA sederajat. Siapa tau kalau kita nanya langsung ke toko atau ke pabrik gitu, mungkin ada.


Cavin dan Brian saling menatap satu sama lain. Ucapan Mario barusan ada benarnya juga.


"Tumben lo punya ide cemerlang." celetuk Brian.


"Ya iyalah, Mario gitu loh. Anak pinter, bentar lagi ikut olimpiade. Ya kan?"


Cavin dan Brian terdiam. Mereka seketika teringat pada Adril, dan kejadian yang menimpa mereka kemarin.


"Ayo terus, terus, maju."


"Maju, maju dikit ambil kanan terus."


Terdengar suara riuh di luar.


"Apaan sih tuh?" tanya Cavin lalu menongolkan kepala ke kaca jendela kamar Brian. Brian dan Mario mengekor dari belakang.


"Orang pindahan ya?" tanya Brian.


Mereka melihat sebuah truk besar yang hendak parkir di halaman depan samping rumah Mario.


"Ya, terus-terus."


"Mario, itu kan Marcell."


Cavin menunjuk ke arah seseorang yang baru saja turun dari truk. Tak lama sebuah mobil tiba, dari dalam mobil tersebut keluar Michael, ayah dan juga ibu Mario.


"Loh Mario?"


Ibu, ayahnya, dan Marcell terkejut. Namun tidak dengan Michael. Kakak keduanya itu sudah pernah menyambangi rumah Mario waktu itu. Saat ia hendak mengirimkan makanan dari ibunya untuk Mario.


"Kamu koq disini?" tanya ibunya kemudian.


"Ya, rumah Mario ini ma." ujarnya menunjuk ke sebelah.


"Oh ya?"


Ibu dan ayahnya tampak sumringah. Sedang Marcell melirik, ingin tau apakah ada ibu Mario yang ia curigai sebagai selingkuhan ayahnya. Michael sendiri cuek sambil membantu team pindahan menurunkan barang.


"Tante pindah disini?" tanya Cavin kemudian.


Ibu Mario melirik ke arah teman Mario.


"Saya Cavin tante, dan ini Brian. Kami teman Mario, teman Mike juga." ujar Cavin lalu tersenyum.


"Oh." Ibu Mario balas tersenyum.


"Iya, ini baru kita beli rumahnya. Yang rumah lama itu kan rumah dinas keluarga tante. Kita udah harus mengosongkan, karena akan dipakai oleh orang lain."


"Oh gitu ya." ujar Mario.


Ia masih tak percaya jika keluarganya akan tinggal sangat berdekatan dengannya. Ia nyaris menangis namun berusaha keras ia tahan.


"Ya udah kita bantuin." ujarnya lagi.

__ADS_1


"Tante ngerepotin deh jadinya."


"Nggak apa-apa tante." jawab Cavin dan Brian di waktu yang nyaris bersamaan.


Mereka bertiga pun lalu membantu menurunkan barang dan mengangkutnya ke dalam.


"Mario."


Marcell mendekati adik bungsunya itu, ketika semuanya telah selesai. Mereka kini tengah meminum minuman dingin di halaman rumah. Team pindahan telah berpamitan sejak beberapa saat yang lalu. Hingga hanya sisa keluarga Mario berserta Brian dan Cavin saja.


"Apaan?" tanya Mario pada Marcell.


"Nyokap lo mana?. Dia kan yang nyuruh bokap pindah kesini, masa iya kebetulan banget kita tetanggaan."


"Cell, berapa kali harus gue bilang gue itu nggak punya ibu."


Mario menjelaskan, namun agaknya Marcell memang sulit percaya. Anggapan jika Mario adalah anak selingkuhan dari sang ayah, sudah melekat di benak pemuda itu.


"Gue pengen ketemu dan pengen bicara sama dia. Sekalian gue mau ingetin dia supaya nggak ganggu keluarga gue lagi."


Marcell masih juga ngeyel, kali ini kemarahan Mario tak bisa di bendung lagi.


"Gue nggak punya ibu." ujarnya dengan nada tegas dan suara cukup keras, hingga mengundang perhatian sekitar. Terutama ayah dan ibunya.


"Marcell, ada apa?" tanya ibunya heran.


Seketika Marcell pun gelagapan.


"Mmm, anu ma.".


Ia menghela nafas karena bingung akan lanjutan dari ucapannya sendiri.


"Braaak."


Michael datang dan menarik Marcell ke tempat sepi.


"Lo apa-apaan sih?"


Michael marah pada kakaknya itu.


"Lo nggak curiga apa, dengan segala gerak-gerik Mario dan sikap papa selama ini?. Sekarang kita juga pindah di dekat rumahnya dia, kayak sengaja banget nggak sih?"


Marcell balas memarahi Michael.


"Dia bukan anak papa dan dia itu nggak punya ibu." Sekali lagi Michael menegaskan.


Mereka kemudian lanjut berdebat panjang lebar, hingga di suatu titik.


"Awas lo ganggu dia lagi. Lo berhadapan sama gue."


Michael berlalu meninggalkan Marcell dan mendekat ke tempat dimana Mario tadi berada. Namun remaja itu sudah hilang.


"Ma, Mario sama anak dua itu mana?" tanya Michael.


"Udah pulang." ujar ibunya.


"Lagian ada apaan sih?" sang ayah tampak mulai curiga.


"Mmm nggak ada apa-apa koq, cuma bercandaan doang." ujar Michael.

__ADS_1


Pemuda itu kemudian keluar pagar, dan menyambangi kediaman Mario.


__ADS_2