
Waktu kembali berjalan.
Siang itu ketika lonceng tanda pulang sekolah dibunyikan, Mario melangkah terlebih dahulu menuju pintu gerbang sekolah.
Sementara Brian dan juga Cavin tengah dipanggil oleh guru, entah untuk urusan apa. Mario berdiri di muka gerbang sambil menunggu kedua temannya itu. Namun kemudian ia tanpa sengaja menoleh, dan bertemu muka dengan seseorang.
"Degh."
Hati Mario bergetar hebat, air mata tiba-tiba merebak di pelupuk matanya. Namun berusaha keras ia tahan.
"Papa." ujarnya perlahan, dengan nada setengah terisak.
"Mario, kamu masih ingat saya?"
Ayah kandungnya berujar lalu tersenyum pada Mario, namun Mario mematung dan terus menatap ayahnya itu.
"Mario?"
"Ah, oh, eh. I, iya pa."
"Masih inget sama papa?” tanya ayahnya sekali lagi.
"I, iya pa. Masa lupa sama papanya Michael."
Mario menarik nafas dan mencoba untuk tidak terhanyut dalam perasaan yang mendalam, ia berusaha agar kesedihannya tak terlihat. Meskipun rasanya, ingin sekali ia menghambur dan memeluk ayahnya itu dengan erat.
"Papa dari mana?" tanya Mario lagi.
"Dari menemui guru kalian, membicarakan soal hukuman Michael."
"Saya juga sudah bicara, pa. Daddy saya juga ikut berdiskusi dengan guru, agar hukuman yang diterima Michael bisa segera berakhir. Supaya Michael bisa sekolah lagi."
Ayahnya menghela nafas.
"Papa nggak nyangka Michael sekasar itu orangnya."
Kali ini Mario menunduk, apa yang dilakukan oleh Michael adalah semata demi membelanya.
"Maafin saya, pa. Michael begitu karena membela saya."
Lagi-lagi ayahnya menghela nafas.
"Papa tidak menyalahkan soal bela-membela, tapi papa menyayangkan sikap kasar Michael. Bisa kan, dia membela temannya tanpa harus berbuat sekasar itu."
Mario diam, tetap saja ia merasa bersalah. Meski ayahnya mengatakan jika ia tak menyalahkan Mario.
"Oh ya, kamu mau pulang sekarang? Ayo bareng aja sama papa."
"Hmm tapi, saya lagi nunggu temen saya pa."
Tiba-tiba handphone Mario berdering, dan itu adalah panggilan telpon dari Brian.
"Kenapa, Bri?"
"Lo pulang duluan aja, bro. Gue ada latihan baseball mendadak siang ini."
"Lo sama team lo?"
"Iya, ada pertandingan mendadak masa."
"Kapan?"
"Minggu ini katanya."
"Oh ya udah kalau gitu, Cav mana?"
"Tadi Cavin minta sampein juga, kalau pelatihnya minta dia sama teamnya latihan siang ini."
"Ada pertandingan mendadak juga?"
"Tau deh, iya kali. Ini jaman penuh dengan peristiwa dadakan, asal jangan nikah mendadak aja."
"Hahaha, itu mah lo doyan."
"Mayan, kalau bini gue bunting bisa ghosting ke masa depan."
"Anjrit, hahaha. Ya udah deh gue balik ya." ujar Mario kemudian.
"Ntar sore kita ke Adril."
"Iya."
Mario menutup sambungan telponnya, sementara sang ayah masih berdiri disisinya.
"Temen kamu nggak pulang?"
"Ada latihan mendadak katanya, pa."
"Ya udah, pulang bareng papa aja. Papa anterin."
"Ok."
__ADS_1
Ayahnya mengarahkan Mario pada sebuah mobil, yang terparkir disisi kiri gerbang sekolah. Mario pun melangkah.
Ketika masuk ke dalam mobil tersebut, hati Mario bergetar. Air mata kembali merebak di pelupuk matanya.
Belum pernah sekalipun ayahnya mengantar, maupun menjemputnya dari sekolah. Pernah ia berfikir jangan-jangan sebenarnya ayahnya itu sudah meninggal. Dan baik Michael ataupun Marcell hanya mengarang cerita, bahwa ayah mereka kini berada di Amerika. Semua hanya untuk menjaga perasaan Mario agar ia tak kehilangan sosok ayah.
Namun pernah suatu kali ayahnya ini menelepon, Mario mendengar suaranya. Baru saja Mario menyebut "ini papa?", Michael langsung merampas telpon dan berbicara pada ayahnya. Seakan Michael tak ingin jika Mario mengenal ayahnya sendiri.
"Mario tinggal dengan siapa?"
Tiba-tiba ayahnya memecah lamunan Mario.
"Sa, sama daddy." jawab Mario lalu menghela nafas, guna menetralkan emosi yang kini berkecamuk dihatinya.
Jika mengingat semua perbuatan Michael terhadapnya di masa depan, rasanya ingin sekali ia membalas dendam pada kakaknya itu.
Namun ia tak memiliki daya apapun. Sampai saat sebelum ia masuk ke jaman ini, ia masih tergantung pada Michael. Ia masih tinggal dirumah Michael dan mendapat uang saku serta bayaran sekolah pun dari kedua kakaknya, terutama Michael.
"Michael, apa kabar pa?”
"Dia baik, ya dia kayaknya malah seneng di skorsing."
"Oh ya?"
"Iya. Pas papa tanya nyesel apa nggak sama perbuatannya, dia bilang nggak sama sekali. Papa nggak habis pikir sama anak itu, beda sekali dengan kakaknya Marcell. Marcell itu supel, banyak temen, prestasinya banyak. Sementara Michael lebih banyak diam orangnya, diam-diam ternyata kasar."
"Kan anak emang beda-beda, pa." Mario membela Michael.
"Iya sih, bener sama apa yang kamu bilang. Cuma papa kesel aja sama sikap Michael."
Lagi-lagi Mario terdiam, ia tak tau harus bicara apa lagi.
"Mario udah makan siang?" tanya ayahnya.
"Mm, belum. Nanti aja dirumah."
"Kita makan siang dulu aja yuk?. Papa juga sambil nunggu Marcell, hari ini papa janji mau temani dia beli buku."
Hati Mario kembali bergetar. Hal yang paling ia inginkan dimasa depan adalah, berjalan bersama dengan ayahnya. Entah sekedar makan bersama, minum kopi di sebuah kafe, atau apapun itu.
Momen seperti inilah yang paling ia tunggu-tunggu dalam hidupnya, maka tak mungkin ia akan melewatkan hal ini begitu saja.
"Mau ya?" pinta ayahnya sekali lagi.
Mario pun mengangguk, ayahnya pergi mengajak Mario ke sebuah restoran cepat saji. Disana mereka berdua makan dan berbincang banyak hal.
"Kalau Michael itu, dia nggak suka makan makanan cepat saji begini." ayahnya memulai lagi topik pembicaraan.
"Iya emang, dia selalu masak sendiri dan paksa Mario buat bawa bekal sendiri ke sekolah. Dia yang masakin pagi-pagi dirumah."
Hal yang tak mungkin bisa diterima oleh nalar ayahnya di masa ini.
"Mm, maksud saya kadang Michael suka bawa bekal dan bawain saya juga. Dia bilang jajan itu nggak baik."
"Oh." Ayahnya tertawa.
"Michael Emang gitu, Marcell aja di masakin pagi-pagi sama dia. Kalau sama papa, papa nggak mau. Dan dia kadang marah, katanya beli makan diluar belum tentu bersih."
Kali ini Mario ikut tertawa, ternyata dari dulu Michael memang sudah begitu adanya. Saat istirahat bekerja saja misalnya, ia akan makan di kantin kantor dengan makanan yang ia bawa sendiri dari rumah.
Michael memang selalu cerewet soal makanan, ia hanya percaya dengan masakannya sendiri. Kemanapun ia berpergian, ia selalu membawa kompor kecil dan beberapa alat masak. Atau lebih suka menyewa apartemen ketimbang hotel, semata agar ia bisa memasak sendiri.
"Mario sama orang tua, hubungannya baik kan?" tanya Ayahnya lagi.
"Iya, daddy adalah orang tua yang baik."
"Degh."
"Daddy."
Mario baru teringat kalau hari ini Deddy pulang cepat, dan mereka berjanji untuk makan siang bersama. Mario lalu meraih handphone dari dalam sakunya dan menemukan banyak sekali panggilan dari Deddy. Pun juga sudah banyak SMS yang laki-laki itu kirimkan. Pesan terakhir yang Mario terima bertuliskan,
"Mario dimana?. Daddy udah dirumah."
"Kenapa?"
Ayahnya yang memperhatikan tingkah Mario pun bertanya.
"Mm, nggak apa-apa."
Mario tersenyum lalu menyimpan kembali handphonenya dan melanjutkan makan. Tidak apa-apa sekali ini saja, tidak menepati janjinya pada Deddy. Pikirnya karena ini adalah momen langka. Dimana ia bisa duduk berdua bersama ayah kandungnya, yang selama ini sangat ia rindukan.
Sementara di rumah, Deddy akhirnya tak jadi makan karena khawatir pada Mario. Ia meraih kunci mobil dan tancap gas menuju sekolah sang anak. Setelah sebelumnya ia bertanya pada Ratna dan juga Heru.
Kedua anak itu mengatakan mungkin Mario saat ini tengah menemani Cavin dan Brian, yang masih harus latihan di sekolah.
Setelah makan, Mario mengikuti langkah ayahnya. Berjalan menuju ke sebuah store yang ada di mall tempat dimana mereka makan tadi. Ia menuju ke counter yang menjual jam tangan, di sana ayahnya memilah-milah. Sementara Mario hanya memperhatikan dari belakang.
"Mario, menurut kamu yang bagus yang mana?. Papa mau beliin buat Marcell dan juga Michael."
"Mm, kalau menurut Mario yang ini pa."
__ADS_1
Mario menunjuk jam tangan, yang berada di tangan kanan ayahnya.
"Kamu yakin mereka suka?"
"Mungkin."
"Ya udah, saya mau tiga." ayahnya membeli tiga buah jam tangan. Mario sendiri sudah melangkah mendekati pintu keluar counter.
"Mario."
"Ya."
"Ini buat kamu."
"Bu, buat saya pa?”
Mario tak menyangka jika sang ayah juga membelikannya. Ia pikir membeli tiga tadi adalah untuk ayahnya, Michael dan juga Marcell.
"Tapi ini kan mahal, pa?”
"Ini yang harga standar koq, ambil aja. Karena kamu udah mau jadi temannya Michael, dia itu susah punya temen."
"Ini beneran?"
"Iya, buat kamu."
Mario terdiam, rasa haru kini kembali menyelimuti hatinya. Seumur-umur tak pernah mendapat hadiah dari ayah kandungnya sendiri. Kini di jaman ini, semua serba terbalik. Bahkan hadiah barang mahal seperti ini pun ia dapat dari ayahnya.
"Paaa."
Seseorang berteriak dari kejauhan.
"Nah itu Marcell." Ayahnya berujar, Marcell mendekat lalu tersenyum.
"Papa pasti beliin Marcell jam tangan, ya?" tanya Marcell seraya memperhatikan paper bag berisi jam tangan, yang ada di tangan ayahnya.
"Iya sayang, ini buat anak papa yang selalu berprestasi dan jadi kebanggaan orang tua."
Ayahnya menyerahkan jam tangan itu pada Marcell, dan Marcell pun tampak senang menerimanya. Namun tiba-tiba Marcell menyadari, jika paper bag itu juga ada di tangan Mario. Marcell kemudian menarik Mario.
"Lo anak selingkuhan bokap gue kan?"
"Nggak, bukan."
"Kalau bukan, kenapa lo juga di beliin. Ini kan mahal." ujarnya kemudian.
"Orang gue dikasih."
"Terserah deh, kalau lo adalah anak bokap gue dari cewek lain. Itu hak lo buat di kasih apa-apa sama bokap gue. Tapi bilang ke nyokap lo, jangan hancurin keluarga gue."
"Gue bukan anak selingkuhan bokap lo."
"Gue tetep curiga."
"Mario tadi mau papa antar pulang, ketemu sama papa di gerbang sekolah."
"Oh iya, pa." Marcell berbalik sambil nyengir kepada ayahnya.
"Ya udah, lo ikut kita aja." ujar Marcell sok beramah tamah, padahal ia masih curiga soal siapa sebenarnya Mario.
"Papa mau nemenin gue beli buku." lanjutnya lagi.
"Ayo Mario ikut aja, sekalian kalau kamu juga mau beli buku." ujar ayahnya.
Mario pun akhirnya mengangguk, ia mengikuti kedua orang itu kemanapun. Walau di sepanjang hari ia selalu dicurigai oleh Marcell.
Sementara di sisi lain, Deddy terlihat cemas saat tiba di sekolah anaknya. Pasalnya sampai detik ini pun, Mario belum juga membalas SMS dan tidak kunjung mengangkat telpon darinya. Padahal pesannya terkirim dan telponnya tersambung.
"Kemana sih anak itu?" ujarnya gusar.
"Mungkin lagi ke toko buku atau nongkrong bareng temen sekelas kali om." Cavin mencoba menenangkan hati Deddy.
"Iya, Mario juga nggak pernah main jauh koq." timpal Brian.
"Mario tuh nggak pernah kayak gini, biasanya dia langsung pulang ke rumah. Atau kalau pulang telat juga dia pasti izin."
"Iya om, Cav ngerti. Nanti Cav coba bantu telpon atau tanya ke temen lain, ya."
"Ok, makasih ya Cav, Bri."
"Iya, om."
"Om coba cari dulu, kali aja ketemu dijalan."
"Baik om. Tapi om nggak perlu khawatir, Mario pasti pulang koq." ujar Cavin lagi.
"Iya, om pamit ya. Kalian udah mau pulang belum?. Kalau iya, bareng aja."
"Kita masih ada latihan, om." ujar Brian.
"Oh ya udah kalau gitu, om pulang ya."
__ADS_1
"Iya om."
Deddy pun masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan halaman sekolah. Ia melintasi jalan demi jalan dan berharap bertemu dengan Mario. Namun setelah beberapa jam berlalu, ia tidak menemukan siapa-siapa.