Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Limun dan Es Krim Cake


__ADS_3

"Anjir, capek banget gua." ujar Mario saat ia dan semuanya sudah selesai mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.


Ia, Cavin, dan juga Brian membeli air mineral dan meminumnya di belakang sebuah ruangan. Ketiganya tampak kelelahan dan bersandar pada dinding.


"Nih jaman bener-bener dah." sambung Cavin seraya mengambil nafas. Ia menyeka sisa keringat yang masih menetes.


"Biru semua badan gue nih. Ternyata gue ikut karate coba, bayangin." lanjutnya lagi.


"Gue tadi gedek banget. Udalah gue nggak bisa mukul bola, diliatin mulu lagi sama salah satu anggota F4."


"Serius?" tanya Mario sambil menatap Brian.


"Iya, yang namanya siapa sih. Christ...."


"Christopher?" tanya Cavin.


"Tau, Christ Mpu Gandring kali." seloroh Brian kemudian.


"Abis ini kira-kira apa lagi nih yang bakal bikin kita syok." Mario sukses membuat Brian dan Cavin kini menatap ke arahnya.


"Bener juga kata lo." sahut Cavin diikuti anggukan Brian.


"Jaman ini penuh misteri dan keliatan banget kayak ngerjain kita." lanjutnya kemudian.


"Woi, ngapain lo pada?"


Adril datang dengan membawa sebuah plastik berisi es berwarna ungu.


"Es apaan tuh?" tanya Mario kepo.


"Limun." jawab Adril singkat.


"Limun?" Mario, Brian, dan Cavin saling bersitatap. Pasalnya kata, "Limun" tidak familiar dengan telinga mereka.


"Kalian kenapa?. Kayak nggak pernah minum limun aja." ujar Adril lalu menyedot minuman nya dan mengambil posisi duduk di dekat mereka semua.


Mario, Brian, dan Cavin saling sikut.


"Limun apaan, bangsat?" bisik Mario pada Brian dan juga Cavin.


"Mana gue tau, badak Jawa. Tanyain sono!" jawab Brian sambil melirik ke arah Adril.


"Lo beli dimana, Dril?" tanya Mario kemudian.


"Tuh disitu?" ujarnya menunjuk sebuah warung diluar sekolah.


Tak butuh waktu lama Mario, Brian, dan Cavin pun segera pergi menuju tempat itu. Mereka penasaran seperti apa penampakan limun tersebut sesungguhnya. Ternyata ketika sampai disana, mereka melihat deretan botol-botol berisi cairan warna-warni.



"Sirup, bray." ujar Cavin kemudian.


"Itu pasti laki yang punya usaha." ujar Mario sotoy.


"Dari mana lo tau?" tanya Brian.


"Itu merk-nya aja Miki Mas. Kalau cewek mah, mestinya Miki Mbak."


"Anjir iya yak" ujar keduanya secara bersamaan.


"Miki Girl, bro." tukas Cavin.


"Miki Milf." ujar Brian.


"Bokep lu dasar." gerutu Mario.


"Tau lu, masih SMP juga." timpal Cavin.


"Kita aslinya SMA, dudul." Brian membela diri.


"Udeh buruan beli, penasaran gua rasanya." ujar Mario lalu memanggil pemilik warung.


"Pak, buuuk, maaas, mbaaak. Beliii." teriak Mario kemudian. Tak lama setelah itu pemilik warung tersebut pun keluar, dan ternyata mas-mas.


"Apa gue bilang?" ujar Mario pada Brian dan juga Cavin.

__ADS_1


"Mas-mas kan yang jual, merknya aja Miki Mas tuh."


"Iya juga ya?" ujar Brian dan Cavin serentak.


"Gimana, bro rasanya?" tanya Brian pada Mario yang sudah terlebih dahulu menyedot minumannya. Ketika mereka semua sudah membayar, namun masih berdiri di depan warung tersebut. Sementara pemilik warung sudah kembali ke dalam.


"Manis kayak bersoda tapi nanggung, terus nggak asem. Gue kira tadi ada asem-asemnya gitu, karena gue pilihnya warna jeruk."


"Iya, ya." Cavin sudah lebih dahulu ketimbang Brian.


"Gue pikir kayak sirup ADC loh, ternyata nggak." lanjutnya lagi.


Karena di dera rasa penasaran, Brian pun menyedot minumannya.


"Iya ya, sodanya kayak ada nggak ada. Lebih ke sirup gula sih ini." ujar remaja itu.


"Ya udalah yang penting nggak haus." lanjutnya kemudian.


Mereka pun lalu kembali pada Adril yang masih duduk di tempatnya.


"Dril, Heru mana?" tanya Cavin lalu duduk di sisi Adril.


"Lagi beli siomay sama Ratna."


"Oh, dimana?" tanya Mario kemudian.


"Tuh udah nongol, panjang umur." ujar Adril.


Heru tampak tersenyum dari kejauhan. Ia dan Ratna membawa satu kantong keresek, berisi enam porsi siomay.


"Nih." ujar Heru memberikan makanan tersebut pada mereka semua.


"Ini buat kita nih?" tanya Mario pada Heru.


"Iya ambil, orang buat bareng-bareng koq."


"Thanks ya." Cavin mencomot duluan, diikuti yang lainnya. Mereka mulai menikmati makanan tersebut dan berbincang disana untuk waktu yang lama.


***


Mario bertanya-tanya ketika ia membuka kulkas dan menemukan sesuatu. Tepat setelah ia dan teman-temannya pulang dari kegiatan ekstrakurikuler.


"Hei."


Tiba-tiba Deddy muncul di hadapannya.


"Hai dad."


"Are you ok?" tanya Deddy kemudian.


"Ya, I am ok." jawab Mario.


"Do you want to eat that together?"


Deddy memperhatikan sesuatu yang di pegang oleh Mario, Mario sendiri tak tau apa isi dari kotak itu. Namun disitu tertulis jika itu adalah es krim, Mario sempat bingung karena bentuk gambarnya seperti cake.


"Ok." jawabnya kemudian.


Dalam sekejap mereka sudah ada di meja belakang. Mario lalu membuka kotak tersebut dan ia pun cukup terkejut melihat penampakan es krim, yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya.


Bentuknya sama persis dengan gambar yang ada pada kemasan. Mario segera mengambil handphone dan berniat mengabadikan momen tersebut. Namun seketika ia sadar tengah berada di tahun berapa dan sadar jika handphonenya belum ada kamera.


Seketika ia pun mengurungkan niatnya. Padahal jika ini ada di tahun dimana kini ia sudah tumbuh besar, pastilah ia sudah memfoto dan memposting es krim unik tersebut di instagram.


Betapa tidak, bentuknya yang menyerupai layer cake serta tebal dan dilapisi coklat. Membuatnya terlihat begitu menggoda dan akan tampak sangat aesthethic jika di foto.



"Nih, buat kamu."


Deddy memotong layer es krim tersebut dan memindahkannya ke piring kue, lalu ia pun memberikan itu pada Mario. Lagi-lagi Mario mengambil handphone, berniat ingin mengambil foto. Namun dengan cepat, ia kembali sadar.


"Bro, gue makan es krim. Bentuknya kayak kue."


Ia mengirim pesan singkat tersebut pada Cavin dan juga Brian. Tak lama kemudian Cavin pun menjawab.

__ADS_1


"Gue juga sama, bro. Ini lagi makan es krim nya." jawab Cavin.


"Kayaknya kita nggak pernah nemu beginian deh, iya nggak sih?" tanya Cavin kemudian.


"Yoi, gue aja baru liat." jawab Mario.


"Rasa pengen gue foto tau nggak." ujar Cavin lagi.


"Sama, wkwkwkwk."


Tak lama kemudian Brian ikut menjawab.


"Gue juga bro, di beliin nyokap lintas jaman gue. Awalnya gue kira cake. Kayak ginian doang, gue heboh anjir."


"Hahaha, gue tadi juga gitu." ujar Mario.


Mario pun menikmati es krim tersebut sambil membicarakan banyak hal bersama Deddy. Sejatinya saat ini di masa depan, es krim ini sudah kembali viral. Namun saat es krim tersebut viral, mereka sudah terlempar ke jaman ini.


"Dad."


"Hmm?"


"Daddy beli dimana es krim ini?"


"Di supermarket tadi pagi."


"A, apa semua es krim bentuknya kayak gini?" tanya Mario penasaran, tanpa di duga Deddy pun tertawa.


"Bukannya kamu sering ya, belanja sama daddy. Kamu juga doyan es krim sejak lama dan kamu tau kalau es krim itu banyak bentuknya."


"Aaaa, mmm."


Tiba-tiba raut wajah Deddy berubah, agaknya ia menyimpulkan sesuatu.


"Kamu pasti lupa, iya kan?" tanyanya kemudian.


"Aduh." ujar Mario dalam hati.


"Salah ngomong lagi kan gue."


"Nggak dad. Maksud Mario, apa semua jenis es krim cake begini bentuknya sama?. Apa ada bentuk lain yang round atau segitiga, trapesium, jajaran genjang gitu."


Kali ini Deddy kembali tertawa.


"Setahu daddy sih begini semua, nggak tau deh kalau ada seri baru."


Mario pun lalu mengangguk dan memakan kembali es krim yang ada di hadapannya.


"Tadi ekstrakurikulernya gimana?" tanya Deddy lagi.


"Baik, semua lancar koq." jawab Mario.


"Good."


"Daddy masak nggak tadi?" tanya Mario lagi.


"Kamu laper kan pasti?" Deddy balik bertanya. Mario pun mengangguk.


"Rasa pengen makan ini es krim pake nasi tau nggak." ujarnya.


"Hahaha."


Lagi-lagi Deddy tertawa. Mario sendiri tak pernah tertawa bersama ayahnya, belum pernah sekalipun.


"Iya, daddy masak koq. Mau makan sekarang?" tanya Deddy kemudian.


"Bentar lagi dad, abisin ini dulu. Sayang loh."


"Ok."


Hari itu, adalah hari baru untuk Mario. Selain baru dalam kegiatan ekstrakurikuler, hari itu juga baru baginya untuk merasa lebih dekat. Bersama sosok yang ia panggil dengan sebutan "Daddy" atau yang berarti ayah."


Ia mulai menyadari dan menikmati kebersamaan dengan sosok yang begitu diinginkannya tersebut.


Meskipun ia masih belum mengerti apakah ini semua nyata, atau ia sedang tenggelam dalam keinginannya sendiri. Sehingga membentuk sebuah ilusi yang seolah-olah memang bisa dirasakan.

__ADS_1


Tapi itu semua tidak penting, tidak penting apakah ini memang ilusi atau sebuah kenyataan. Ia hanya percaya kepada rasa yang diterimanya. Ia merasa damai dan bahagia berada di dekat Deddy, dan perasaan tidak akan pernah berbohong.


__ADS_2