
Mario, Brian, dan Cavin bertekad untuk latihan lebih keras lagi. Esok harinya seusai sekolah, mereka sengaja tak langsung pulang. Mereka berlatih keras bersama teman satu team mereka.
Namun bedanya kali ini mereka berlatih dengan beberapa orang saja, bukan team secara keseluruhan. Mengingat Mario yang kualahan menghadapi Galih, Cavin dan Brian yang tak tahan dengan bacot Martin serta Christopher.
Maka mereka memilih untuk tidak berlatih dengan ketiga orang tersebut. Mario mencari teman latihan lain, begitupula dengan Cavin dan juga Brian.
"Hyaaa."
"Buuuk."
Mario berhasil menyelesaikan pukulan terakhir terhadap lawan mainnya. Mereka pun menyelesaikan latihan hari itu, dengan kemenangan berada di tangan Mario.
"Tadi latihannya bagus juga."
Ratna memuji Mario, ketika mereka sudah keluar dari aula tempat latihan. Mereka tampak berjalan menuju pintu gerbang, dengan Ratna yang tampak menggandeng sepedanya.
"Buruan, sayang."
Lia menunggu di depan gerbang. Tepatnya didalam sebuah mobil, yang dikemudikan entah oleh siapa. Sementara Galih kini menuju ke arahnya, mempercepat langkah melewati Ratna dan juga Mario.
Ratna memperlambat langkahnya. seolah ia tidak ingin cepat-cepat sampai di muka gerbang tersebut, karena malas berdekatan dengan Lia.
"Kamu udah latihannya?" tanya Lia pada Galih, ketika Galih memasuki mobil.
"Udah, capek banget aku."
"Nih minum dulu...!"
Lia memberi Galih air minum, sambil melirik ke arah Ratna yang wajahnya kini berubah merah padam. Mario masih bisa melihat dengan jelas, kecemburuan yang ada di wajah temannya itu."
Sementara Galih yang beberapa hari ini selalu melihat kedekatan diantara Ratna dan juga Mario, mengira bahwa Ratna dan Mario memanglah sedang terlibat hubungan yang serius.
Hatinya terbakar, setiap kali melihat Ratna berada di dekat Mario. Karena sejatinya Galih memanglah memiliki perasaan terhadap Ratna sejak dulu. Hanya saja terlalu sayang untuk meninggalkan Lia yang populer.
Karena rasa cemburu itulah, ia membiarkan saja Lia bersikap sangat manis kepadanya. Bahkan ia pun membalas dengan sikap yang manis pula, guna membuat Ratna menjadi tak enak hati.
"Rat, aku laper. Mau makan nggak?."
Mario bertanya pada Ratna seraya menghentikan langkahnya. Ratna pun memanfaatkan momen tersebut, supaya ia tak jadi mendekat ke arah Galih dan juga Lia.
"Ya udah, kita ke kantin aja yuk. Kebetulan aku juga kayaknya pengen makan."
Ratna kemudian memarkir sepedanya di muka gerbang, lalu menggamit lengan Mario. Mario yang memang sengaja mengaku lapar tersebut pun, balas menggandeng tangan Ratna. Tujuannya adalah agar Ratna memiliki harga diri di depan Lia. Dan lagi ia ingin membalas Galih, yang menurutnya sudah cukup melukai hati Ratna.
__ADS_1
Mereka berjalan sambil berbincang dan bercanda. Tak lama kemudian, mereka terlihat saling berkejar-kejaran hingga Galih tampak begitu gusar.
"Udah ah buruan, jalan." Tiba-tiba saja Galih menjadi galak pada Lia.
Lia sebenarnya mengerti akan hal tersebut, sungguh hatinya tiba-tiba menjadi sakit. Karena ia tau tujuan Galih bersikap manis terhadapnya selama beberapa waktu belakangan ini, hanyalah untuk kepentingan mencemburui Ratna.
"Ya udah pak, jalan." ujar Lia kemudian.
Tak lama berselang, supirnya pun menghidupkan mesin mobil. Lalu kemudian mereka meninggalkan tempat tersebut.
"Bro, hari ini gue puas banget." ujar Cavin pada Brian, ketika mereka akhirnya keluar dari aula latihan masing-masing.
"Iya, gue juga puas sama kemajuan gue sendiri." timpal Brian.
"Gue yakin kalau gue tekun berlatih, gue bisa membungkam itu mulut si Christopher."
"Dan gue bisa membungkam si mulut bau terasi, Martin."
Brian tertawa demi melihat ekspresi Cavin.
"Eh, soal bau mulut itu, lo serius?" tanya Brian lagi.
"Serius gue, Bri. Lo coba deh sekali-kali ke depan congornya si Martin. Bau comberan, anjir."
"Ya namanya juga udah ketutup rasa suka, bau tikus mati pun berubah jadi parfum laundry."
"Iya juga sih. Ah tapi kalau pun gue cewek, gue bisa bedain kali. Mana comberan, mana parfum laundry."
"Itu kan kalau elu, orang lain belum tentu. Apalagi cewek-cewek, mereka mah yang penting good looking bukan good jigong."
"Iya juga sih, eh by the way Mario mana ya?” Brian memperhatikan sekitar.
"Iya, tadi katanya mau nunggu di gerbang. Gerbang mana coba?"
"Gerbang dunia ghoib kali."
"Eh tapi itu sepeda Ratna." ujar Cavin.
"Iya ya. Hmm, mojok kali mereka."
Brian berspekulasi sambil senyum-senyum sendiri. Namun berbeda dengan Cavin, ia malah justru memberikan reaksi yang membingungkan. Antara menahan cemburu dan juga tak percaya.
***
__ADS_1
Hari-hari menjelang pertandingan dihabiskan Mario, Brian, dan juga Cavin dengan berlatih keras. Hampir tak ada waktu lagi bagi mereka untuk bermain.
Seusai pulang sekolah, jika tidak latihan di sekolah itu sendiri. Maka mereka bertiga akan mengajak teman-temannya berlatih di rumah maupun di lapangan kompleks perumahan, yang memang kadang sepi dan tidak terpakai.
Hari ini saja, Mario lebih memilih berlatih bersama Ratna dan beberapa temannya yang lain di rumah. Tentu saja Deddy pun mengizinkan, ia lebih suka Mario berdiam di rumah dan melakukan hal bermanfaat. Ketimbang anak itu kelayapan kesana kemari dan membuat keonaran.
Sementara dirumahnya, Cavin tampak berlatih dengan seorang pelatih karate yang di sewa oleh orang tuanya. Sudah beberapa hari ini ia bahkan tak lagi latihan di sekolah.
Semua karena sikap Martin yang selalu membuatnya gerah. Martin acap kali memamerkan kehebatannya dalam mengalahkan lawan.
Cavin yang tak menyukai sikap Martin pun berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia bisa lebih hebat dari Martin. Ia bertekad untuk membuktikan pada pihak sekolah, bahwa dirinya lebih layak mewakili sekolah tersebut ketimbang Martin.
Sementara Brian membentuk team baseballnya sendiri tanpa Christopher. Baginya Christopher itu berisik dan terlalu over akting, hingga ia tidak memerlukan orang seperti itu. Karena hanya akan menghambat kemajuannya saja.
"Mario, sekarang lo sama gue."
Ratna meminta Mario untuk menjadi lawannya dalam latihan.
"Ok." jawab Mario singkat.
Ia lalu mengambil air mineral dan meminumnya hingga habis.
"Lo nggak minum dulu, Rat?" tanya Mario.
"Udah abis dua botol gue."
Ratna melirik botol bekas minumnya. Mario terkejut, karena botol yang dimaksud ternyata berukuran 1,5 liter. Padahal mereka belum lama latihan.
"Tanki aer lo?" ujarnya kemudian.
Keduanya pun lalu sama-sama tertawa, Mario memasang bogu, begitupula dengan Ratna. Bogu merupakan pelindung area wajah dan juga kepala, yang biasanya dikenakan saat pertandingan Kendo.
Tak lama kemudian keduanya sudah berada di tengah arena latihan, dengan posisi yang saling berhadapan. Usai sama-sama memberi hormat, Ratna dan Mario pun memasang kuda-kuda.
"Hap, hiaaa."
"Tak, Tak."
"Buuuuk."
"Hap, hiaaa."
Vibes rumah Mario mendadak seperti suasana di Jepang.
__ADS_1