
"Ad lo dicari Mario tuh."
Salah seorang siswi berujar pada Adril.
"Mario?. Dimana emangnya dia?" tanya Adril.
"Di depan gudang, dekat lab yang lama."
"Oh ok." jawab Adril.
Sejatinya remaja itu malas untuk menemui Mario. Namun ia harus pergi ke tempat tersebut, untuk memperjelas apa yang sesungguhnya diinginkan oleh Mario darinya.
Maka Adril pun pergi kesana, namun tak ada Mario di tempat itu. Adril sudah melihat kesana kemari. Bahkan kini ia masuk ke gudang yang ada di dekatnya. Mungkin Mario ada disana, pikirnya.
Adril melangkah agak kedalam. Gudang itu memiliki ruangan-ruangan, sehingga tidak tahu apakah ada orang atau tidak di bagian yang lainnya.
"Braaak."
Tiba-tiba terdengar suara pintu masuk tertutup. Adril yang merasa curiga itu kemudian menoleh. Ia kembali mendekat ke arah pintu dan mendorongnya. Ternyata pintu itu telah terkunci.
"Woi, buka...!"
Adril berteriak, lalu menggedor-gedor pintu tersebut.
"Dor, dor, dor."
"Mario." teriaknya kemudian.
"Mario buka pintunya...!" teriak Adril lagi.
"Maksud lo apa kunci gue disini?" lanjut remaja itu.
Adril terus berteriak-teriak, namun tak ada satupun yang mendengar. Sementara di kelas, Mario tampak mengerjakan beberapa tugas. Ia masih terus belajar guna menyongsong olimpiade.
Tak peduli siswa-siswi di sekitarnya tengah bercanda ataupun bertengkar, Mario tetap tegar. Ia tak gentar sedikitpun menghadapi semua itu. Ia terus berusaha mendapatkan fokusnya dalam memahami soal.
"Mario, lo nggak ke kantin?"
Cavin bertanya pada Mario, karena sejatinya itu sudah masuk jam istirahat.
"Lo aja, Cav. Gue ntar siang aja makannya di rumah." ujar Mario.
"Tumben naga di perut lo kagak berontak?"
"Nggak tau, nggak laper gue." ujar Mario lagi.
"Ntar sakit aja lo. Bukan ikut olimpiade, malah masuk rumah sakit."
"Udah Cav, jangan kayak emak-emak deh."
"Ya udah, gue ke kantin ya." ujar Cavin lagi.
"Iya."
"Mau ada nitip nggak lo?"
"Nggak ada."
"Ok deh."
Cavin pun berlalu meninggalkan Mario. Sementara remaja itu melanjutkan kegiatan. Beberapa saat berlalu, bel tanda masuk kembali dibunyikan. Cavin dan beberapa siswa lain yang ada diluar, kini masuk.
__ADS_1
Tak lama seorang guru pun tiba di kelas tersebut. Sama halnya dengan dikelas Adril. Seorang guru masuk kesana dan mulai mengajar.
Namun kemudian setelah cukup lama pelajaran berlangsung, sang guru menyadari ada sebuah bangku yang tampak kosong.
"Itu, si Adril kemana?" tanya guru tersebut.
"Perasan sudah 15 menit saya disini dan dia belum muncul juga."
Guru tersebut mempertanyakan perihal Adril, sebab ia tau jika remaja itu masuk. Ada tas dan buku di atas tempat duduk Adril. Martin dan yang lainnya saling bersitatap satu sama lain.
"Dipanggil guru kali, bu." celetuk Martin.
"Tadi di ruang guru nggak ada." ujar guru itu lagi.
"Coba Martin, kamu cari Adril!"
"Biar saya aja bu." Ketua kelas tersebut menawarkan diri.
"Ya sudah, tolong dicari."
"Baik bu." jawab si ketua kelas.
Ia kemudian beranjak, dan keluar. Ia mulai mencari Adril kesana-kemari, termasuk di tiap-tiap ruangan dan sudut sekolah. Namun tak ada tanda-tanda keberadaan Adril sama sekali.
Ketua kelas itu pun hendak kembali, dan melaporkan pada guru jika Adril tidak diketemukan. Namun kemudian ia mendengar suara seperti benda jatuh, dari sebuah ruangan yang ada didekatnya.
"Braaak."
Entah mengapa ia mendadak mencurigai tempat itu. Maka segera saja ia mendekat, dan mengintip dari lubang kunci. Dan betapa terkejutnya ia melihat Adril ada disana, dalam posisi jatuh tak sadarkan diri.
"Adril?"
Ia hendak membuka pintu, namun ternyata pintu tersebut digembok dan kuncinya tidak ada disana. Penuh rasa panik ia pun segera mencari penjaga sekolah dan mengatakan jika ada seorang anak yang terkunci di gudang.
"Ada apaan sih?" ujarnya sambil menatap ketua kelas Adril.
"Itu si Adril di dalam dan pingsan." ujarnya.
"Apa?" Cavin benar-benar kaget.
Keadaan pun seketika berubah menjadi heboh. Para siswa dan guru yang kebetulan melintas, kini ikut mendekat ke lokasi.
Adril di keluarkan dalam keadaan pingsan dan segera di bawa ke UKS. Beberapa saat berlalu, ia pun siuman. Cavin mendekat dan bertanya pada remaja itu.
"Lo kenapa bisa sampe terkunci di situ, Ad?"
"Mario." jawab Adril.
"Mario?" tanya Cavin tak percaya.
"Iya, dia minta gue temui di tempat itu. Pas gue sampai sana, dia nggak ada dan tau-tau pintu dikunci dari luar."
Cavin menghela nafas, ia benar-benar tak habis pikir pada Mario. Mengapa temannya itu sampai tega melakukan hal tersebut kepada Adril.
"Lo tunggu disini." ujar Cavin.
Remaja itu segera bertolak meninggalkan UKS dan menuju ke kelas.
"Mario."
Cavin menghampiri Mario lalu menarik temannya itu untuk keluar dari kelas. Kebetulan guru yang tadi mengajar, saat ini tengah melihat kondisi Adril. Sebab tadi guru tersebut ada ke toilet dan melihat gaduh dari kejauhan. Maka ia mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi.
__ADS_1
"Apaan sih?" tanya Mario heran. Mereka kini sudah berada di belakang kelas.
"Lo apain Adril?" tanya Cavin penuh kemarahan.
Mario tak mengerti.
"Gue apain emangnya dia?" tanya nya kemudian.
"Koq lo malah balik nanya ke gue sih?. Jelas-jelas Adril bilang itu perbuatan lo."
"Perbuatan apa, emang gue ngapain dia?"
"Lo kunciin dia di gudang sampe pingsan begitu."
"What?" Mario menatap Cavin.
"Adril pingsan di gudang?"
"Nggak usah belagak sok polos lo, gue tau lo bisa ngelakuin hal kayak gitu. Inget dulu lo sering ngebully anak sekolah kita dengan ngunciin mereka di toilet, gudang, lab dan lain-lain."
"Ya tapi bukan berarti disini gue ngelakuin itu juga. Dulu gue begitu cuma supaya guru marahin gue dan manggil Michael atau Marcell ke sekolah. Supaya gue di perhatikan sama mereka."
"Dan sekarang nggak menutup kemungkinan lo melakukan hal yang sama."
"Buat apa?"
Mario bertanya dengan nada lantang pada Cavin. Ia sudah sangat emosi dengan tuduhan temanya itu.
"Gue disini disayang dan dapat perhatian lebih dari bapak gue. Ngapain gue caper-caper dengan mengurung anak orang di gudang, biar apa coba?"
"Ya kali aja lo ngerasa tersaingi. Karena Adril yang sebenarnya mau berada di posisi lo, sebagai kandidat untuk olimpiade."
Mario terdiam, begitupula dengan Cavin. Ia tanpa sengaja telah mengatakan hal tersebut pada Mario. Padahal Mario belum mengetahuinya.
"Tunggu, maksud lo?" Mario memperhatikan Cavin.
Cavin kini merasa seperti terjebak ucapannya sendiri.
"Adril mau ada di posisi gue?" tanya nya lagi.
Cavin menghela nafas dan mengalihkan pandangan ke suatu sudut.
"Cav, jawab gue...!"
Cavin memilih diam.
"Jadi gara-gara itu Adril ngediemin gue selama ini?"
Cavin akhirnya mengangguk, karena sudah tak memiliki pilihan lain.
"Kenapa lo nggak bilang ke gue?"
"Apa lo bisa terima, dan bisa mengalah gitu aja demi Adril?"
Kali ini Mario yang terdiam.
"Sekarang gue tanya, kenapa lo tadi kayak gitu ke Adril."
"Gue nggak melakukan hal itu."
Mario berkata sambil menatap mata Cavin. Cavin tak menemukan dusta di mata Mario.
__ADS_1
"Ok." jawabnya kemudian.
Cavin kini mengerti bahwa itu perbuatan seseorang yang ingin memfitnah Mario. Dan ia juga sudah tau siapa orangnya.