
Hari demi hari berlalu, Mario, Brian, dan Cavin belajar seperti biasanya. Rutinitas mereka seputar bangun pagi, berinteraksi dengan orang rumah, pergi ke sekolah, belajar, jajan menggila dan nakal, lalu pulang ke rumah.
Sesekali mereka jalan-jalan ke suatu tempat. Sekedar untuk mengusir kebosanan yang belakangan ini mulai mengusik.
"Kangen maen PUBG, gue."
Mario berujar sambil memandang rintik hujan yang jatuh dihadapannya. Ia beserta Cavin dan juga Brian, tengah nongkrong di belakang ruang laboratorium sambil memakan cilok dan meminum es limun. Meski hujan, minuman mereka tetap es.
"Gue kangen Mobile Legends." tukas Brian.
"FF, ege. Enak." Cavin merindukan game free fire yang selalu ia mainkan.
"Kapan sih kita bisa balik?" tanya Brian.
"Gue sebenernya nggak terlalu pengen balik, kalau inget orang-orangnya." ujar Mario.
"Yup, yang gue inget itu cuma kemudahan dan teknologinya aja." timpal Cavin.
"Selebihnya mah, gue males." lanjutnya kemudian.
"Tau sendiri emak gue cuma bisa memberikan hal seadanya, sementara gue disini kaya-raya. Disayangi pula." lagi-lagi Cavin berujar.
"Gue juga sebenernya lebih nyaman disini." Kali ini Brian mencoba jujur.
"Apalagi gue bisa ngeliat nyokap gue yang masih akur sama bokap. Sedangkan dimasa depan, semua serba bermasalah. Hubungan gue sama bokap nggak pernah akur, sementara gue nggak tau nyokap gue dimana. Tapi ya itu tadi, gue juga kangen teknologinya." lanjutnya lagi.
"Kangen YouTube ya, bro." ujar Mario.
"Yoi, kangen close the door gue. Mana gue belum sempet lagi nonton Mortal Kombat. Gue kan pengen liat Joe Taslim." lanjutnya kemudian.
"Iya yak. Sama tuh, gue juga belum nonton." tukas Cavin.
"Apalagi podcastnya om Deddy sama pak Prabowo." lanjutnya lagi.
"Gue pengen liat yang trending di tiktok hari ini apaan ya?" timpal Brian.
"Ngomongin apaan sih, lo pada?" tiba-tiba Michael muncul dihadapan mereka. Mario, Brian dan Cavin saling bersitatap.
"Adril noh, pingsan." ujarnya lagi.
"Hah?"
Detik berikutnya mereka pun berhamburan. Mereka berlarian ke ruang UKS dan menyambangi Adril yang kebetulan sudah siuman.
"Lo, kenapa dril?." tanya Mario panik.
__ADS_1
Cavin dan Brian tak kalah paniknya. Adril yang masih pucat itu menggelengkan kepala.
"Nggak apa-apa gue." ujarnya pelan.
"Lo sakit atau gimana tadi?" tanya Cavin masih dengan wajah yang diliputi kekhawatiran.
"Nggak, cuma kecapean aja." jawab Adril.
Heru tampak hendak berbicara sesuatu, namun tatapan mata Adril menghentikannya. Sementara Brian kini menaruh curiga.
"Kita anterin pulang ya." ujar Cavin kemudian.
"Iya mending lo pulang, istirahat." timpal Brian.
"Gue nggak apa-apa koq." jawab Adril lagi.
"Lo pulang aja." Kali ini Heru bersuara.
Adril baru saja hendak menjawab, ketika akhirnya Heru menyela ucapannya.
"Pokoknya lo pulang, istirahat." ujarnya kemudian.
"Ya udah, ayok."
Cavin dan Brian memapah Adril. Sementara Mario memintakan izin dan Heru memanggil taxi.
Mereka bisa leha-leha menghindari kelas dan suasana yang mulai terasa membosankan. Sesaat setelah mengantar Adril, Heru berjalan masuk dari pintu gerbang.
"Jadi lo bakalan diem aja?"
Sebuah suara mengagetkan datang dari arah belakang. Heru menoleh, ternyata Michael yang tengah berdiri seraya menyilangkan tangan di dadanya.
"Lo nggak usah ikut campur, gue cuma ngikutin apa maunya Adril."
"Kalau emang lo peduli sama sahabat lo, harusnya lo nggak gitu."
Michael berlalu meninggalkan Heru, yang kini terpaku dalam diam. Sesampainya di kediaman Adril, Mario, Brian, dan Cavin memapah anak itu sampai ke pintu rumah. Tiba-tiba seseorang membuka pintu.
"Ngapain kamu pulang jam segini?"
Wanita itu berkata dengan nada setengah marah. Mario menatap Cavin dan juga Brian, sementara kedua anak itu kompak menggelengkan kepala.
"Itu, nyokap gue." ujar Adril pelan.
"Mmm, tante. Adril sakit." ujar Mario perlahan.
__ADS_1
"Sakit?. Sakit apa lagi kamu?"
Tiba-tiba seorang laki-laki berpakaian rapi, muncul. Tampaknya ia akan segera berangkat kerja, sementara Adril hanya tertunduk diam.
"Tau nih, Yon. Anak lu sakit mulu. Makanya kalau dibilangin orang tua tuh, nurut."
Tiba-tiba ibunya mengeplak kepala Adril dengan kuat. Hingga Mario, Brian, dan Cavin pun terkejut. Detik berikutnya Adril dipaksa masuk kedalam rumah oleh kedua orang itu.
"Braaak..."
Pintu pun ditutup, tanpa ada basa-basi dan terima kasih. Mario, Brian, dan Cavin kembali terkejut. Mereka tak menyangka perlakuan orang tuanya terhadap Adril akan sekasar itu.
"Emang orang tuanya gitu?" tanya Mario pada Brian dan Cavin.
"Nggak tau, gue aja baru ketemu ini." ujar Cavin.
"Waktu itu pas dia sakit?" tanya Mario lagi.
"Waktu itu kita jenguk, nggak ada siapa-siapa kecuali Adril sendiri." ujar Brian.
"Iya, bener." timpal Cavin.
"Gue takut Adril di apa-apain sama orang tuanya." ujar Mario khawatir.
"Sama gue juga." timpal Cavin.
Mereka berjaga-jaga diluar, takut kalau mendengat Adril diperlakukan kasar. Namun sampai mereka lelah berdiri pun, tak ada suara Adril yang terdengar.
Hari sudah menjelang siang, mereka bertiga akhirnya pulang ke rumah masing-masing dan tak jadi kembali ke sekolah. Siang itu, Ratna dan Heru membawakan tas mereka bertiga. Usai mengantarkan tas, Heru pamit pulang. Sementara Ratna terpaksa ditahan oleh mereka, lantaran mereka ingin mengorek keterangan soal Adril.
"Aduh, gue nggak berani deh ngomongin orang. Takut salah." ujar Ratna seakan menghindar.
"Kenapa lo nggak mau ngomong?. Ini hal besar, Rat. Adril itu temen lo, temen kita. Masa cuma karena takut salah ngomong, lo malah menghilangkan kepedulian. Kalau dia sampe mendapat perlakuan kasar selama bertahun-tahun dan berakibat terhadap kesehatan mentalnya, gimana?"
"Bukan gitu, Mario."
"Terus apa?"
Kali ini Ratna menunduk.
"Dulu, Adril sering cerita sama gue soal orang tuanya yang begitu. Gue akhirnya bilang ke nyokap gue, dan nyokap gue coba nasehatin orang tuanya Adril. Tapi Adril malah tambah digebukin, dikira ngejelekin keluarganya di depan orang lain. Makanya gue nggak berani lagi ikut campur."
Ratna menatap ketiga temannya itu.
"Orang tuanya Adril itu pemabuk, mereka masih pengen seneng-seneng tanpa direcokin anak. Mereka bilang ke Adril kalau Adril itu kesalahan, karena mereka tuh nggak mau punya anak. Makanya Adril juga sering sendirian dirumah, orang tuanya have fun mulu. Ke diskotik lah, party temen lah. Ya gitu-gitu deh pokoknya."
__ADS_1
Mario, Brian, dan Cavin terdiam mendengar pernyataan tersebut. Ternyata tidak di jaman manapun, anak-anak yang menjadi korban keegoisan orang dewasa itu selalu ada. Air mata Brian mengalir tanpa terasa. Ia ingat betapa ayahnya juga sering kasar padanya, meski tak pernah sampai memukul.
Mario pun teringat pada perlakuan kasar Michael, sedang Cavin yang teringat perlakuan kasar keluarga ibunya. Ratna melangkah pulang dengan menuntun sepedanya. Sebelum Mario, Brian, dan Cavin mampu bergeming dan berkata-kata.