
Davin terbaring dirumah sakit. Dokter mendiagnosa pemuda itu mengalami stress serta kelelahan akut. Ia telah ditangani dan dipindahkan ke dalam ruang rawat di sebuah bangsal.
Ia juga telah sadar dan sempat berbicara sejenak dengan Cavin, sebelum akhirnya ia kembali terlelap. Cavin sengaja duduk diluar, begitu pula dengan Mario dan juga Brian. Mereka ingin membiarkan Davin beristirahat dengan tenang.
"Cav, lo masih mikirin nyokap lo ya?" tanya Mario ketika melihat Cavin yang terdiam dan menatap suatu sudut. Cavin pun mengangguk.
"Apa, office boy yang tadi bokap gue ya?" tanya Cavin Kemudian.
Brian dan Mario saling tatap, mereka tak berani menduga-duga.
"Wajar aja nyokap gue miskin, nikahnya sama OB. Coba kalau dia milih dikit, kagak bakalan susah hidup gue."
"Cav, kenapa sih lo selalu nyalahin nyokap lo?" Mario bertanya dengan nada yang serius pada Cavin, sementara Brian kini memperhatikan.
"Lo nggak tau rasanya jadi gue, bro. Walaupun orang tua lo nggak ada, dimasa depan lo punya dua kakak yang pekerja keras. Sejahat-jahatnya Michael menurut versi pandangan lo, dia tetap kakak yang bertanggung jawab. Lo sekolah disekolah yang bagus tanpa harus mikirin biaya, lo punya barang branded, handphone baru tiap tahun, rumah yang nyaman. Sedangkan gue dari kecil udah susah, ibu gue kerjanya gitu-gitu doang."
"Ya tapi, kan."
Brian memberi kode pada Mario, agar tak melanjutkan kata-kata. Mario pun akhirnya diam, tak lama Cavin berjalan meninggalkan tempat itu.
"Heran gue sama tuh anak, kagak ada bersyukur-bersyukurnya." ujar Mario kemudian.
"Udah selama ini kan, Cavin bersikap kayak gitu sama nyokapnya." tukas Brian.
"Tapi kita nggak tau, apa yang sebenarnya dia alami dan dia rasakan selama ini, bro." lanjut Brian lagi.
"Kita nggak tau sedalam apa rasa sakit yang dia rasakan sejak kecil, atas semua sikap orang-orang yang ada disekitar dia. Lo aja deh, mungkin sebagian orang kalau ngeliat sikap lo ke Michael. Pasti mereka akan bilang kalau lo, adalah adek yang kurang ajar. Michael udah segitu baiknya memenuhi kebutuhan lo, tapi lo masih jahat sama dia."
Mario menarik nafas.
"Karena orang nggak tau posisi elo, nggak paham betul apa yang lo rasain terhadap kakak lo itu. Begitu juga dengan gue, kalau mau diliat mah, bokap gue berjasa banget buat gue. Memenuhi semua kebutuhan gue, keinginan gue. Tapi orang nggak tau sebenarnya, apa yang terjadi. Mereka pikir kita baik-baik aja, padahal nggak."
"Iya sih." ujar Mario kemudian.
Perkataan Brian ada benarnya, meski terkesan seperti tidak tahu terima kasih. Tapi ia tak tahu isi hati Cavin yang sebenarnya selama ini. Mengapa ia sampai bersikap seperti itu, trauma apa yang sudah ia rasakan. Mario pun tak jadi marah dengan sikap temannya itu.
***
"Hai, pak Davin di ruangan mana ya?"
Office girl yang tadi mengantar Davin pulang ke rumah, kini muncul di rumah sakit. Mendadak Mario dan Brian pun terkejut.
"Eh, ibu. Hmm, mbak maksud saya." ujar Mario gelagapan.
Dimasa depan wanita ini adalah ibunya Cavin, agak canggung untuk menyebutnya dengan panggilan mbak.
"Iya, pak Davin di ruangan mana ya?" tanya nya kemudian."
Mario melirik sekilas ke arah Brian lalu kembali menatap wanita itu.
"Mmm, mari saya antar." ujar Mario mempersilahkan.
Mario pun membawa Anindya kedalam ruangan, tempat dimana Davin tengah terbaring.
Anindya menyapa Davin, dan Davin pun tersenyum. Mereka lalu berbincang bersama, sementara Mario ke toilet. Tak lama Cavin tiba entah dari mana, remaja itu seketika terdiam menatap Anindya.
"Cav, dari mana?" tanya Davin kemudian.
__ADS_1
Cavin masih terpaku menatap ibunya.
"Cav."
"Mmm, dari depan tadi." ujar Cavin seraya masih menatap Anindya, namun akhirnya ia beralih menatap Davin.
Davin dan Anindya pun kembali berbincang, sementara Cavin setia terpaku diantara keduanya.
Mario dan Brian masuk untuk memberikan air minum pada Anindya, mereka lalu duduk di pojokan seraya mendengar isi percakapan. Tak lama pintu pun diketuk, Brian membukakan pintu tersebut. Seorang wanita cantik terlihat masuk seraya tersenyum.
"Agiska?"
Davin tampak sumringah, Anindya beranjak dari duduknya lalu menunduk. Agiska pun duduk ditempat yang tadi digunakan Anindya.
"Deegghh." Hati Cavin bergemuruh.
Ia tak begitu nyaman melihat ibunya seperti rendah sekali di mata orang lain.
"Gue nggak suka deh, sama si Agiska itu." ujar Cavin ketika ia, Mario, dan Brian akhirnya keluar ruangan.
"Agiska itu, yang waktu itu kita ketemu kan. Pas mau les." tanya Mario kemudian.
"Iya, waktu itu sih gue biasa aja. Tapi tadi gue nggak suka aja liat sikap dia yang sok bossy, sok cantik. Nyokap gue juga tundak-tunduk, apaan sih. Kayak rendah banget gitu loh."
Tak lama kemudian, Anindya tampak keluar dari dalam ruangan itu. Ia berjalan menuju ke sisi kiri lorong koridor, tanpa menoleh pada Cavin, Brian, dan juga Mario yang ada disisi kanan ruangan.
Cavin kini mengikuti ibunya, sementara Mario dan Brian mengekor dari belakang. Anindya terus berjalan hingga ke lobi depan rumah sakit. Di sana ia menemui office boy yang tadi juga sempat mengantar Cavin.
"Tuh kan, apa gue bilang. Nyokap gue ada hubungan sama si OB ini." ujar Cavin dengan nada penuh penekanan.
Mario dan Brian mengangguk.
"Ngapain coba dia pacaran sama OB." lanjutnya lagi.
"Tapi OB nya ganteng, bro. Mirip pacarnya Milea." ujar Brian
"Dilan maksud lo?"
"Lah iya, liat aja tuh motor sama jaketnya." ujar Brian lagi.
"Ini mah Dahlan." gerutu Cavin seraya memperhatikan.
Anindya berbincang sejenak dengan OB tersebut, lalu naik ke atas motornya.
"Bro, bro, bro. Ikutin, bro...!"
Cavin dan kedua temannya bergegas, mereka buru-buru masuk ke dalam mobil lalu menyusul pergerakan Anindya dan si laki-laki terduga pacarnya itu.
"Buru, Cav." ujar Mario seraya masih mengamati motor yang dikemudian OB tersebut.
"Duh, untung belum semacet di era kita ya, bro."
ujar Brian.
"Ini aja sebenernya udah termasuk macet, Bri." ujar Mario.
"Ya tapi nggak semacet di era kita."
__ADS_1
"Tetep aja."
"Ya nggak bisa disamain, dong."
"Gaes, please." Cavin meminta pengertian kedua teman kecoa-nya itu.
"Gue mesti konsentrasi nih." lanjutnya kemudian.
Mario dan Brian pun akhirnya bungkam, Cavin menginjak pedal gasnya lebih dalam lagi. Untung saja Anindya dan laki-lakinya itu berjalan perlahan, layaknya Dilan dan Juleha yang tengah menikmati perjalanan sepulang sekolah. Hingga Cavin pun kini bisa menyusul mereka.
Kedua sejoli itu tampak begitu mesra, mereka lalu mampir ke sebuah tempat makan dan makan di sana. Cavin, Mario, dan Brian pun menyelinap di bangku lain. Mereka ikut makan seraya terus mengawasi.
"Yang baju merah jangan sampe lolos, gaes." ujar Cavin kemudian.
"Tenang aja, gue ngeliat kearah sana mulu, koq." tukas Mario.
"Lu jangan liat cewek mulu, Bri." ujar Mario pada Brian.
"Apaan sih?" tanya Brian kemudian, ia memang sedang melihat ke arah beberapa gadis yang baru masuk.
"Lu denger nggak omongan gue?" tanya Mario.
"Kagak." Brian berkata sambil planga-plongo.
"Udeh, ikutin aja kode dari Cav." ujar Mario.
"Kode apaan sih?" tanya Brian bingung.
"Bri, intinya kita ini lagi mata-matain emak-bapaknya Cavin. Jadi lo fokus." ujar Mario lagi.
"Iya, iya." jawab Brian kemudian.
Anindya dan terduga pacarnya itu akhirnya beranjak, setelah hampir setengah jam berada ditempat makan tersebut. Cavin, Mario, dan Brian pun mengikuti.
Tak lama, si terduga pacar ibunya itu stop disebuah pedagang buah. Mereka membeli buah yang banyak, seperti untuk dibawa pulang oleh Anindya.
"Cav, lo kenapa sih sentimen banget sama pekerjaan bokap-nyokap lo. Bokap lo baik tau, tuh lo liat aja." ujar Mario.
"Iya, Cav. Walau dia kerjanya jadi OB, tapi dia nggak biarin nyokap lo kelaparan. Dia anterin nyokap lo pulang." timpal Brian.
"Mario, Bri. Apa salah kalau gue ngarep mereka melakukan hal lebih, dari sekedar apa yang mereka kerjakan sekarang. Itu dampaknya juga buat mereka loh, buat masa depan mereka. Kalau mereka hidupnya lebih baik, masa tua mereka juga bakal lebih baik. Bukan semata gue mementingkan diri gue sendiri, supaya gue jadi anak orang kaya. Ini tuh buat mereka, mereka muda, sehat semua, kenapa nggak cari pekerjaan lebih baik?"
Mario dan Brian saling menatap, sementara Cavin terus mengemudikan mobilnya. Anindya dan terduga pacarnya itu masuk ke sebuah perkampungan, untung saja jalanan masuk kesana cukup besar. Hingga mobil Cavin pun tetap bisa berjalan meski perlahan. Lantaran banyak sekali anak-anak kecil yang tengah bermain.
Mereka mengikuti Anindya hingga ke sebuah rumah yang amat sederhana. Anindya masuk kedalam rumah itu, sementara kini Cavin terpaku. Disitulah tempat ibunya berasal, tempat segala kemiskinan dan ketidaknyamanan hidup mereka dimulai. Tanpa terasa air mata Cavin pun mengalir. Mario dan Brian berusaha menenangkan hati pemuda itu.
"Udah, bro." ujar Brian kemudian.
Tak lama setelahnya, si OB yang terduga ayah Cavin tersebut pun pamit pulang. Cavin kini mengikutinya.
Sama halnya dengan sang ibu, terduga ayahnya itu pun berasal dari tempat yang tak lebih baik. Ia juga sama memiliki rumah yang amat sederhana. Lagi-lagi Cavin terdiam, lalu baik Mario maupun Brian sama-sama menguatkan hatinya.
"Kita pulang, bro." ujar Mario.
Cavin mengangguk lemah, lalu kembali menginjak pedal gas mobilnya. Mereka kembali ke rumah sakit, disaat Agiska bahkan sudah pulang.
Davin bertanya pada Cavin dari mana dirinya. Cavin bilang, ia baru saja pulang ke rumah untuk menyelesaikan tugas sekolah. Tak lama kemudian, kedua orang tua mereka pun datang.
__ADS_1