
"Teng, teng, teng."
Terdengar suara lonceng tanda pulang, para siswa berhamburan keluar kelas. Inilah saat yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi pagi.
Saat paling menggembirakan, yang membuat mereka semua terbebas dari segala aktifitas belajar-mengajar. Walaupun acap kali kegembiraan mereka tersebut harus sedikit terbebani, dengan adanya guru rese yang memberi pekerjaan rumah.
Mario, Brian, dan Cavin bersitatap sambil sesekali celingukan melihat sekitar. Para siswa terlihat begitu senang, ada yang berjalan kaki bersama sambil berbincang dan bercanda. Ada pula yang dijemput oleh orang tuanya, sementara sebagian lain menaiki sepeda.
Pemandangan yang sama sekali berbeda dengan apa yang terjadi di jaman Mario, dimana hampir seluruh siswa membawa kendaraan bermotor.
Bahkan ada beberapa yang membawa mobil mewah dengan sombongnya. Meskipun semua tau itu adalah milik orang tua mereka. Hasil kerja keras orang tua mereka, atau mungkin juga hasil korupsi dan penggelapan dana.
Kalaupun tak memiliki kendaraan, banyak yang menggunakan moda transportasi online baik sepeda motor maupun taxi. Tak ada lagi pulang bersama berjalan kaki, kecuali yang rumahnya berada di dekat sekolah.
"Mario, kita mau kemana nih?" tanya Brian bingung.
Wajah Mario mulai terlihat resah. Mereka masih berdiri di dekat gerbang sekolah, sambil terus memperhatikan sekitar.
"Ya mana gue tau, Bri. Kita aja tau-tau terlempar kesini. Bawa baju kagak, handphone kagak, apa-apa kagak. Gue bingung kita mesti balik kemana, kerumahnya siapa."
"Ya kita ke rumah kita aja, gampang kan?" ujar Cavin sotoy.
Mario dan Brian kompak melebarkan bibir sampai kuping.
"Ke rumah yang mana, Bambang?. Ini tuh tahun 2001. Jaman dimana gue, elu, sama Brian belum lahir. Proses wikwik juga belom. Di tahun ini setahu gue, Mike sama Marcell masih tinggal di Bandung. Karena ijasah mereka sekolahnya di Bandung, berarti ini di Bandung."
Mata Cavin dan Brian kompak memperhatikan plank nama sekolah mereka.
"Degghh."
Benar saat ini mereka tengah berada di Bandung, bukan di Jakarta.
"Kalau gitu kita bisa balik ke rumahnya Mike sama Marcell atau rumahnya nyokap gue. Kan nyokap gue di Bandung juga." ujar Cavin bersemangat, diikuti mimik wajah Brian yang tiba-tiba sumringah. Tapi tidak dengan Mario, wajahnya masih saja resah seolah ada hal besar yang ia pikirkan.
"Kita nggak mungkin pulang ke rumah mereka." ujar Mario kemudian.
"Loh kenapa?" tanya Cavin heran.
"Tadi aja gue udah dikatain kebanyakan nonton Doraemon sama Marcell, belum lagi Mike yang kagak percaya kalau gue adeknya. Terus kita mau ke rumah mereka dan mengakui sekali lagi kalau kita ini berasal dari masa depan?. Atau ngaku-ngaku ke emak lo kalau lo itu anaknya dimasa depan dan gue sama Brian adalah temen lo, gitu?. Mana ada orang yang bakal percaya, yang ada kita di masukin rumah sakit jiwa atau kantor polisi. Karena dikira gila dan aneh."
"Huuuh."
Brian dan Cavin menghela nafas, ucapan Mario ada benarnya juga. Mana mungkin orang akan percaya jika mereka berasal dari masa depan.
"Terus kita gimana dong?. Kita bakal tidur dimana malam ini?" rengek Cavin nyaris putus asa.
"Gimana dong, Mario?. Masa kita tidur di SPBU." rengeknya lagi. Mario hanya diam, ia benar-benar tak tau harus berbuat apa.
"Bri."
Cavin menatap Brian, namun pemuda itu juga tak bisa berbuat banyak.
"Woi mau pulang nggak kalian?"
__ADS_1
Tiba-tiba Adril dan Heru muncul, lengkap dengan sepeda masing-masing. Mario memberi kode pada Cavin dan Brian untuk menurut saja.
"Lo yakin kita ikut mereka?" bisik Brian di telinga Mario.
"Dari sejak awal ketemu tadi pagi, mereka keliatan kayak udah terbiasa ngeliat kita. Kayak seolah kita ini emang temen lama mereka. Kali aja mereka tau kita mesti tinggal dimana malam ini."
"Oh, oke-oke."
Brian berjalan terlebih dahulu lalu duduk di boncengan sepeda Adril. Tak lama kemudian Cavin pun menyusul dengan berdiri di belakang sepeda Heru, ada pijakan di kedua sisi ban sepeda tersebut.
Tinggallah kini Mario sendiri. Ia mungkin akan menyuruh mereka jalan pelan-pelan, agar ia bisa mengikuti mereka semua. Karena sepeda disana cuma ada dua.
"Braaak."
"Sorry gue telat."
Waktu seakan berhenti, Mario tercengang melihat seorang gadis yang datang secara tiba-tiba. Gadis itu berparas cantik, Bahkan sangat cantik menurutnya.
Belum pernah Ia melihat gadis secantik itu, bahkan di masa depan sana. Gadis itu menaiki sebuah sepeda dan kini berhenti tepat dihadapannya seraya tersenyum.
Brian dan Cavin juga tak kalah tercengangnya, wajah manis dan lucu itu begitu alami serta belum tersentuh makeup. Tak seperti gadis-gadis di era mereka yang sudah mabok makeup tebal, bahkan kadang ada yang melakukan prosedur filler di sana-sini.
Hingga menghilangkan identitas asli mereka sebagai orang lokal, yang memiliki kecantikan khas. Brian dan Cavin terpukau pada gadis itu, dengan pandangan mata yang tak terlepas.
"Ayo naik, koq malah bengong."
Tiba-tiba Mario tersadar dari lamunannya, gadis itu tampak bicara sambil tersenyum.
Mario gelagapan. Tanpa membuang banyak waktu ia pun akhirnya menuruti ucapan gadis itu. Ia meraih sepeda tersebut dan si gadis pindah ke boncengan belakang. Sebelum mengayuh sepedanya, Mario sempat memperhatikan nama yang terdapat di dada kiri gadis itu.
"Ratna Diandra Kirana."
Mereka semua akhirnya mengayuh sepeda. Mario sengaja melambat dan membiarkan Adril serta Heru yang berjalan di depan, karena ia sendiri tak tahu tujuan mereka hendak kemana.
"Mario."
Tiba-tiba gadis itu menyebut namanya. Hati Mario seketika dag, dig, dug, duar. Entah mengapa tiba-tiba saja dirinya menjadi gugup. Padahal di eranya, ia merupakan salah satu cowok yang paling galak terhadap perempuan.
Karena menurutnya perempuan itu adalah makhluk paling berisik dan tukang drama. Tapi untuk kali ini, entahlah. Semacam ada perasaan yang tak dapat dimengerti.
"Mario." panggil gadis itu lagi.
"Apa Rat?" tanya Mario sok akrab.
Padahal hatinya kini sangat gugup, baru kali ini ia sedekat ini dengan perempuan. Bahkan salah satu tangan Ratna berpegang di pinggangnya. Membuat nafas pemuda itu sedikit memburu serta tubuhnya gemetaran.
"Koq lo nggak ngoceh kayak biasanya sih?"
tanya Ratna lagi.
"Ngo, ngoceh?" tanya Mario heran.
"Emang gue tukang ngoceh di jaman ini?" gumamnya dalam hati.
__ADS_1
"Iya, biasanya kan lo marah mulu kalau gue telat nyamperin lo kayak tadi."
"Biasanya?" gumam Mario lagi.
"Ini sebenernya di jaman ini emang ada orang namanya Mario, Brian, dan Cavin atau gimana sih?" ujarnya dalam hati.
"Kalau iya, mereka yang asli itu dimana sekarang?. Koq mereka-mereka ini pada kayak udah kenal lama sama gue, Brian dan Cavin juga." lanjutnya kemudian.
"Mario."
Lagi-lagi Ratna memanggil, kali ini suaranya lebih tegas. Ia merasa Mario bersikap acuh tak acuh padanya.
"Iya Rat, lo mau gue ngoceh kayak gimana Hah?" tanya Mario kemudian. Ia sudah bingung mesti menjawab apa lagi.
"Perempuan nggak di jaman apapun sama ya, kalau merasa di cuekin langsung ngegas." ujarnya dalam hati.
"Lo sakit ya?" Ratna menanyakan sesuatu, yang justru membuat Mario makin bingung.
"Sakit?. Nggak koq, biasa aja." jawab Mario masih dengan perasaan bingung.
"Tapi lo kayak linglung deh, Mario. Gue khawatir penyakit gangguan kecemasan lo kambuh. Jadinya lo banyakan diem, karena terlalu cemas akan sesuatu."
Kali ini Mario tertawa
"Apaan sih lo, orang gue baik-baik aja." ujarnya kemudian.
"Serius?" tanya Ratna.
"Serius Rat, nih gue aja masih bisa gowes sepeda di jalan yang benar. Kalau gue linglung, udah nyungsep ke got kali kita."
Kali ini dua-duanya tertawa, mengundang perhatian Brian dan Cavin yang ada di depannya.
"Mulai betah tuh anak di jaman ini." celetuk Brian sambil melirik ke arah Mario.
"Gue mah ogah." ujar Cavin.
"Kagak ada HP, Google, sosmed. Walau di deket 100 cewek cakep kayak gitu juga, gue ogah hidup di jaman ini. Primitif." lanjutnya kemudian.
"Kalian tuh ngomong apa sih?"
"Jegiiik."
Tiba-tiba Adril bersuara. Brian dan Cavin pun lagi-lagi tersadar, mereka sedang berada dimana dan di tahun berapa.
"Mmm, nggak koq. Gue cuma, mmm. Anu, hehe." ujar Cavin ngeles namun berantakan.
"I, iya kita cuma. Biasa itu mah, hahaha."
Brian menimpali dengan tak kalah berantakannya, kedua remaja itu tampak cengengesan dan salah tingkah.
Adril dan juga Heru sempat bingung, namun mereka memilih melanjutkan perjalanan ketimbang mempermasalahkan hal tersebut.
Mereka terus berjalan, sementara Mario, Brian dan Cavin masih menerka-nerka. Mereka akan dibawa kemana dan ke rumah siapa.
__ADS_1