Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Sebuah Pengumuman


__ADS_3

Di kantor Deddy.


Laki-laki itu melangkah, membawa segala file yang ia butuhkan. Kemudian ia masuk ke ruangannya dan duduk dihadapan klien yang tengah menunggu.


Namun kemudian, tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Seperti sebuah kebiasaan yang sering ia lakukan, namun entah kapan dan dimana. Duduk berhadapan dengan klien, mikrofon, lampu, kamera, kru dan lain-lain. Deddy seperti masuk ke dalam suasana itu untuk beberapa saat. Namun ia sendiri tak mengerti itu apa, dimana, dan kapan.


"Pak Deddy."


"Pak Deddy."


"Oh, iya pak."


Suara kliennya menyadarkan Deddy, laki-laki itupun kembali fokus pada urusannya.


***


"Kayaknya kita nggak bisa pulang sebelum urusan kita selesai." ujar Mario ketika ia, Cavin, dan Brian duduk di atas atap rumah Cavin. Mereka baru selesai bermain game di ruang permainan.


"Maksud lo, kita kesini itu karena misi?" tanya Brian seraya memasukkan limun berbagai rasa ke dalam sebuah wadah, sementara Cavin menuangkan es batu. Itu adalah idenya Mario.


"Gue rasa sih iya." ujar Cavin.


"Sekarang, apa lo tega ninggalin jaman ini. Tapi lo nggak berbuat apa-apa untuk Adril." lanjutnya kemudian.


"Dia baik sama kita sejak kita pertama kali terlempar ke jaman ini." timpal Mario.


"Mmm, iya juga sih." ujar Brian.


"Kayaknya bukan cuma masalah Adril aja yang jadi misi kita. Ada banyak masalah yang kita sendiri nggak sadar. Mungkin kalau kita bisa mencari dan menyelesaikan masalah itu satu persatu, kita bisa nemuin pintu portal buat balik ke masa depan." lanjutnya kemudian.


"Bisa jadi sih." ujar Mario.


Ia lalu menumpahkan mie lidi pedas pada wadah lain. Tak lupa Brian membawa serta mie gemez, snack berhadiah tazos dan coklat cup mini jadul yosan choyo-choyo, serta coklat lainnya.


"Apaan tuh?" tanya Mario.


"ini coklat, Bambang." ujar Brian.


"Tau gue kalau yang ini mah, tapi yang cup kecil itu apa?"


"Coklat juga." jawab Brian.


"Dari jualan lo, ya Bri?" kali ini Cavin yang bertanya.


"Yoi, ini laris nih di gue, bocil pada demen. Ada tuh satu yang beli mulu sampe batuk, emaknya marah-marah."


"Terus?" tanya Mario.


"Gue biarin aja mami gue ngejawab, akhirnya adu bacot dah tuh dua emak-emak."


"Wah, parah lo Bri." ujar Cavin. Ia dan Mario tertawa-tawa.


"Daripada gue yang adu bacot sama emak-emak."


Mario menuangkan limun yang sudah teroplos tersebut dan membagikannya.


"Hmm, seger." ujar mereka bertiga serentak. Hari menjelang malam, tak lama kemudian Davin muncul.


"Widih, ada yang minum-minun nih."

__ADS_1


ujar Davin seraya memperhatikan mereka.


Ia lalu mendekat dan duduk didekat mereka semua. Davin baru saja pulang dari kantor dan belum berganti baju.


"Baru pulang, kak?" sapa Mario kemudian.


"Iya, lagi nggak banyak kerjaan. Makanya pulang cepet."


Cavin beranjak, tak lama ia kembali dengan membawa gelas satu lagi. Ia lalu menuang limun racikan Mario dan memberikannya pada Davin. Davin pun lalu mereguk minuman tersebut.


"Mmm, rasa apaan nih?" tanya Davin kemudian.


"Oplosan." ujar Cavin sambil nyengir.


"Oplosan, lagu kamu dah kayak anak punk di pengkolan."


"Tapi enak kan?"


"Lumayan sih. Paling juga abis ini batuk, diomelin mami."


"Yang penting enak dulu, kak." celetuk Brian. Mereka pun lalu tertawa.


Davin beranjak, tak lama ia kembali dengan sebuah gitar. Yang bahkan tak pernah dilihat oleh Cavin.


"Gitar siapa tuh?" tanya Cavin heran.


"Punya aku lah, masa punya pak RT." ujar Davin lalu menyalakan sebatang rokok.


Mario, Brian, dan Cavin menelan ludah. Karena di masa depan mereka sudah mulai belajar merokok, meski sembunyi-sembunyi.


"Kita nggak bisa, bro." bisik Cavin pada Mario dan Brian.


"Disini kita masih bocah, cari mati kalau kita memberanikan diri minta sama Davin." ujarnya lagi.


"Koq kalian, nggak pernah ngajak Adril, Heru, atau Ratna kalau nongkrong disini. Kan temenan." ujar Davin seraya memberi petikan-petikan kecil pada gitar. Mario, Brian dan Cavin saling melempar pandangan.


"Heru mah mana mau diajak keluar begini, nyokap-bokapnya bisa marah. Kan dia disuruh belajar tiap hari, biar bisa jadi jendral kayak bapaknya. Terus Adril kan sakit." ujar Cavin.


"Adril sakit?"


"Iya, tadi pingsan disekolah."


"Kecapean mungkin." ujar Davin.


"Iya, terus Ratna kan emang lebih doyan nonton sinetron. Apalagi yang ada Marshanda sama Nia Ramadhani, katanya." timpal Mario.


"Nia Ramadhani nggak nyangka ya bakalan jadi menantu Aburizal Bakrie." tiba-tiba Brian nyeletuk dan membuat Davin bingung. Sementara Cavin dan Mario memberi kode padanya.


"Nia Ramadhani jadi menantu Aburizal Bakrie?" Davin bertanya dengan nada bingung sekaligus heran. Seketika Brian pun tersadar, apalagi setelah melihat Cavin dan Mario yang sibuk berkedip-kedip dengan bibir mencong ke kanan dan kiri.


"Eh, anu. Maksud Brian, ya semoga Nia Ramadhani jadi menantu orang kaya gitu. Ya, kayak semacam Aburizal Bakrie atau Abu-Abu lainnya yang kaya-raya, hehehe. Masa iya secakep Nia Ramadhani nikah sama orang yang biasa aja. Ntar nggak bisa ngehire pembantu buat ngupasin salak."


Davin makin mengerutkan kening. Seketika Cavin mengambil segenggam mie lidi dan memasukannya ke mulut Brian.


"Huh, hah. Hedeees." ujar Brian namun masih mengunyah terpaksa.


Pasalnya Cavin mendorong mie lidi tersebut supaya tak dibuang olehnya.


Beberapa saat berlalu, mereka pun larut dalam nyanyian. Awalnya mereka tak begitu hafal dengan lagu tersebut. Namun kemudian, Davin menuliskan liriknya pada secarik kertas. Lagu tersebut adalah lagu milik Dewa 19 yang berjudul, "Risalah Hati." yang dirilis pada tahun 2000.

__ADS_1


Hidupku tanpa cintamu


Bagai malam tanpa bintang


Cintaku tanpa sambutmu


Bagai panas tanpa hujan


Jiwaku berbisik lirih


'Ku harus milikimu


Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku


Meski kau tak cinta kepadaku


Beri sedikit waktu


Biar cinta datang karena telah terbiasa


Malam itu, kebosanan mereka sedikit terusir. Apalagi ketika Cavin menatap wajah teduh kakak lintas jamannya itu, seakan ia enggan kembali ke jamannya. Karena di sana, ia sudah terlalu banyak dikecewakan.


"Eh ada kang sate noh." ujar Davin, ketika seorang tukang sate melintas didepan rumah mereka.


"Belum pada makan kan?" tanya nya kemudian.


"Belum, hehehe." jawab mereka semua.


"Bang, sate." teriak Davin kemudian.


"Mau berapa, dek?"


Mereka pun lalu memesan sesuai keinginan dan selera masing-masing.


***


Esok harinya disekolah, ketika Mario, Brian dan Cavin baru saja tiba disekolah. Mereka melihat banyak siswa dan siswi berlarian ke arah papan pengumuman.


"Ada apaan sih?" tanya Mario lalu menguap.


"Hoahm." Ia tampak masih mengantuk sekali.


"Buuuk."


"Buuuk."


Beberapa anak bahkan menabrak bahunya.


"Apaan sih, heboh banget?" tanya Brian.


"Udeh samperin." ajak Cavin.


Mereka pun berjalan, namun Mario tampak malas-malasan. Ia melangkah sambil menguap beberapa kali.


"Mariooo." teriak Cavin dan Brian kemudian. Mario pun mendekat.


"Apaan sih?" tanya nya gusar.


"Nama lo, ada didalam daftar kandidat yang bakal ikut olimpiade fisika tahun ini."

__ADS_1


"Hah?"


Mario terbelalak dengan mulut menganga dan jantung yang berdegup kencang. Keringat dingin pun kini mengalir membasahi tubuhnya.


__ADS_2