
"Mario."
Deddy membuka pintu kamar Mario, ketika anak itu bersiap untuk tidur.
"Iya dad, ada apa?" tanya Mario kemudian. Deddy lalu duduk di sisi tempat tidur sang anak, sambil membawa sebuah paper bag.
"Daddy punya sesuatu buat kamu." ujar pria itu kemudian.
"Apa, dad?" Mario penasaran.
"Nih."
Deddy mengeluarkan sesuatu dari dalam paper bag tersebut. Ternyata sebuah handphone merk Nokia, dengan nomor seri 3310.
Mario meraih barang tersebut, ia bahkan mempunyai gadget yang jauh lebih baik di jamannya. Tetapi ada satu hal yang membuat hatinya mendadak terasa hangat.
Karena hal itu diberikan oleh Deddy, yang merupakan sosok ayahnya di jaman ini. Sepanjang hidup, Mario belum pernah sekalipun menerima hadiah dari ayahnya. Bahkan 16 kali berlangsung peringatan kelahirannya, tak ada hadiah yang dikirim oleh sang ayah sama sekali. Menampakkan batang hidungnya saja tidak.
"Ini buat Mario, dad?" tanya nya dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
Deddy tersenyum.
"Iya, karena kamu sudah jadi anak baik selama ini. Dari SD sampai sekarang kamu selalu penurut dan berprestasi, daddy bangga sama kamu."
Mario menunduk untuk sejenak, ia memang merupakan anak yang berprestasi sejak kecil. Namun di eranya, hal itu terjadi karena tuntutan Michael terhadap dirinya terlalu tinggi. Ia selalu bisa mencapai hal tersebut meski tak pernah di puji sekalipun oleh Michael.
"Thanks, dad." ujarnya pelan.
Deddy mengusap lembut kepala anak itu, lalu mendaratkan sebuah ciuman hangat di keningnya. Air mata Mario pun mengalir, namun segera ia mengusapnya sebelum Deddy menyadari hal tersebut.
"Istirahat ya."
"Iya dad, daddy juga."
Deddy tersenyum, sebelum akhirnya beranjak dan pergi meninggalkan kamar itu. Tinggallah Mario sendiri, ia mulai penasaran dan menghidupkan lampu utama kamar agar semakin terang.
Ia memperhatikan handphone yang diberikan oleh Deddy, lalu membuka kotaknya. Deddy sudah menyiapkan sebuah kartu perdana, dengan nomor yang mudah diingat.
Mario tertawa, antara haru, dan juga lucu. Ia kemudian membuka handphone tersebut dan memasukkan kartu ke dalamnya. Cukup lama ia berkutat dengan benda tersebut. Hingga akhirnya ia mengantuk, lalu meletakan perangkat tersebut disisi tempat tidur. Tak lama kemudian, ia pun tidur dengan damai hingga pagi menjelang.
"Bro, gue mau bicara sama lo." ujar Mario terburu-buru ketika ia, Brian, dan Cavin sudah tiba disekolah. Sementara Adril, Heru, dan juga Ratna, tengah berada dalam antrian guna memarkir sepeda mereka.
"Sama, bro. Gue juga." ujar Cavin.
"Gue juga." timpal Brian.
Mereka bertiga berjalan cepat menuju area yang paling sepi di belakang sekolah tersebut.
Sambil celingukan ke kanan dan kiri, ketiganya mengeluarkan sesuatu dari dalam saku masing-masing.
"Gue dikasih ini."
Mereka bertiga meletakkan handphone secara serentak di lantai. Ketiganya yang tengah berjongkok itu pun lalu terdiam bengong.
__ADS_1
"So, apa yang harus kita lakukan dengan benda ini?" tanya Cavin pada Mario dan juga Brian.
"I don't know." jawab Mario.
"Nothing to do, bro." ujar Brian menimpali. Ketiganya lalu diam sejenak.
"Minta nomor lo, bro." pinta Cavin kemudian.
"Kali aja salah satu diantara kita, tiba-tiba menemukan portal buat balik ke masa depan. Nggak susah ngabarin kalau ada nomor telpon."
Mario memberikan nomornya, begitupula dengan Brian. Terakhir mereka mendapatkan nomor Cavin secara serentak.
"Bambang Jok."
Tiba-tiba Mario mengirimkan sms dengan tulisan seperti itu, kepada Brian dan Juga Cavin.
"Andi kunci." jawab Cavin di sms. Ia mengirimkannya pada Mario dan juga Brian.
"Mamat Tang." jawab Brian sambil cekikikan.
"Dadang Knalpot." balas Mario lagi.
"Tarno Kampas rem."
"Heri Spakbor."
"Anto ban dalem."
"Hahaha."
Mereka meneruskan percakapan unfaedah tersebut, sambil terus tertawa-tawa. Sampai kemudian, lonceng tanda masuk pun berbunyi. Ketiganya lalu bergegas kembali ke kelas.
Saat pelajaran mulai berlangsung, Mario dan kedua temannya tak lantas menghentikan percakapan mereka di sms. Mereka terus saja mengirim sms satu sama lain dengan mode silent tentunya.
"Wawan Jari-jari."
"Tio Velg."
"Rudi Oli."
"Hihihihi."
Ketiganya cekikikan dengan suara yang sangat ditahan, agar tak ketahuan guru yang sedang mengajar. Mereka terus saja bercanda, hingga hal tersebut mengundang perhatian Adril dan juga Heru.
"Lo pada kenapa sih, ketawa mulu?" tanya Adril pada Mario, suaranya sengaja ia pelankan agar tak di dengar oleh siapapun.
"Ini."
Mario memperlihatkan sms yang terdapat di handphonenya. Adril melihatnya lalu memperlihatkan sejenak pada Heru yang duduk di belakang. Keduanya pun lalu tertawa.
"Nomor lo berapa?" tanya Adril.
Mario lalu memberikannya. Tak lama kemudian, Adril dan Heru pun mengirimkan sms padanya.
__ADS_1
"Iyan panci." ujar Adril dalam sms nya.
"Cecep sapu." Heru tak mau kalah.
Dalam sekejap keduanya sudah bertukar nomor dengan Brian dan juga Cavin. Obrolan mereka pun makin panjang.
"Aceng Kuali."
"Reza centong."
"Amir lakban."
"Hihihihi."
Mereka semua makin terkekeh.
"Kalian kenapa?" tanya guru tiba-tiba.
Ia mengarahkan tatapan pada Mario, meskipun ia melihat tak hanya Mario yang tertawa-tawa.
"Mmm, nggak bu. Nggak apa-apa."
Mario berusaha keras menahan tawa. Nama-nama itu masih saja bersarang di kepalanya dan menghadirkan kegelian tersendiri. Jika tidak sedang berada dikelas, sudah pasti ia tertawa dengan suara lantang sejak tadi.
"Kamu kerjakan yang ini, Mario."
Tiba-tiba Cavin dan Brian tersentak. Seumur hidup, Mario belum pernah bisa mengerjakan soal fisika. Kalaupun nilainya bagus, itu adalah hasil dari mencontek milik anak yang pintar fisika di kelas mereka. Itupun harus melalui paksaan. Jika tidak memberi, Mario akan mengancam untuk mencelakai anak itu.
Namun kali ini ia tampak santai saja. Remaja itu maju ke depan karena sejak tadi walaupun sms-an, ia sempat memperhatikan gurunya dan mencoba memecahkan soal tersebut.
Kini ia pun melangkah maju ke arah papan tulis, membuat Brian dan Cavin saling tatap. Sambil masih sesekali tersenyum lantaran mengingat isi sms dari teman-temannya. Namun Mario berhasil menyelesaikan soal tersebut.
"Baik Mario, jawaban kamu benar."
Mario kembali ketempat duduk. Sedangkan baik Cavin maupun Brian, masih tak percaya dengan apa yang barusan mereka lihat.
"Bro, koq lo bisa fisika sih?" tanya Brian kemudian. Ia dan Cavin masih tak percaya.
"I, iya ya?"
Mario malah balik bertanya. Ia sendiri tak percaya, jika ia baru saja menyelesaikan satu soal tanpa bantuan siapapun.
"Tapi ini gampang sih." ujar Mario lagi.
"Nih, lo tinggal ikuti rumus nya aja."
Ia memperlihatkan rumus yang tertulis di buku cetak pada Cavin dan juga Brian. Tetap saja otak keduanya bebal, bahkan melihat rumus tersebut seperti melihat gumpalan benang kusut yang carut-marut.
"Au ah, aneh lu." ujar Brian lalu kembali ke tempat duduknya. Mario yang masih merasa takjub dengan dirinya tersebut pun, kini tampak senyum-senyum sendiri.
"Ternyata fisika itu gampang ya." gumamnya dalam hati.
"Kayak gini mah, gue bisa jago nih lama-lama. Kagak perlu nyontek lagi sama si ikan sapu-sapu." lanjutnya lagi.
__ADS_1
Ikan sapu-sapu adalah sebutan yang ia berikan, untuk si anak yang pintar fisika di kelasnya. Karena anak itu sangat suka bersih-bersih dikelas, akibat gangguan obsesif kompulsif yang ia miliki.