Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Kandidat


__ADS_3

Mario masih terpaku didepan papan pengumuman. Ia masih syok setelah membaca jika namanya didaulat menjadi kandidat dalam olimpiade sains fisika yang akan diselenggarakan di tahun ini.


"Cav, Bri."


"Haaa."


"Gue kagak mimpi kan?" tanya Mario.


"Buuuk..."


"Buuuk..."


Cavin dan Brian menonjok pipi Mario dikedua sisi.


"Sakit, anjay." ujar Mario kemudian. Cavin dan Brian nyengir.


"Berarti kagak mimpi, bro." ujar Brian dengan wajah cengengesan tanpa dosa.


"Ya, tapi nggak penuh dendam juga nonjoknya." tukas Mario sewot.


"Hehehe." Lagi-lagi Brian nyengir bajing.


"Bisa dibatalin nggak sih, ini?. Serem gue dengernya, olimpiade."


Cavin dan Brian saling pandang.


"Mana kita tau, bro. Bisa apa nggak dibatalin?"


Mario makin bergidik ngeri.


Sementara dari kejauhan, Martin tampak melihat ke arah Mario dengan tatapan penuh dendam. Ia kini didampingi oleh ketiga anggota gengnya.


"Sialan, tuh anak. Berani juga dia ngelawan lo." ujar Jimmy memanas-manasi Martin.


"Lo nggak bisa tinggal diem, sob."


Glen membuat Martin kian berapi-api, remaja itu pun terlihat bertambah geram. Tak lama kemudian, ia berlalu meninggalkan tempat itu diikuti teman-temanya.


***


"Tidak bisa."


Kata-kata tegas yang keluar dari bibir wali kelasnya itu, cukup membuat Mario makin dilanda perasaan horor. Pasalnya ia baru saja mengajukan permohonan pembatalan, atas namanya yang dijadikan kandidat dalam ajang olimpiade sains dan fisika.


"Kenapa bu?. Kan saya berhak menolak."


"Dan saya berhak tidak menyetujui, kamu satu-satunya perwakilan dari kelas kita. Dan kamu harus berjuang demi nama baik kelas kita."


"Tapi bu."


"Nggak ada tapi-tapian, Mario. Ibu sedang tidak menjual tapi."


"Kalau itu tape bu, bukan tapi."


"Iya terserah, pokoknya kamu harus ikut proses seleksi sampai selesai."


Wali kelasnya itu pun menggerakkan tangan, tanda menyuruh Mario pergi. Mario lalu keluar dari ruangan tersebut dan menemui Brian serta Cavin yang menunggu didepan pintu masuk.


"Gimana, bro.?" tanya mereka berdua di waktu yang nyaris bersamaan. Mario menggeleng lesu.


"Gue harus gimana coba?" ujar Mario sambil membuang tatapannya ke bawah.


"Cuma ada dua jalan, bro." ujar Cavin kemudian. Mario pun menatap sahabatnya itu.


"Pertama, lo belajar dan berjuang keras demi nama baik kelas. Kedua, lo ikut aja proses seleksi, kalaupun lo tau jawabannya ya salah-salahin aja. Lo kalah, beres deh." lanjutnya lagi.


"Iya juga sih, kenapa gue nggak kepikiran ya."


"Kan lu, lemot." ujar Brian.


"Sama, lu juga Bambang." seloroh Mario.


"Gue yang ngasih saran, gue dong yang pinter."  Cavin memuji dirinya sendiri, sementara Mario dan Brian kompak melebarkan bibir sampai kuping.


"Udah, ah. Cabut yuk...!" ajak Mario kemudian.


Pemuda itu melangkah, namun terhenti karena Martin dan teman satu gengnya tiba-tiba sudah ada dihadapan Mario.


"Uuu, ada yang dari nemuin wali kelas rupanya. Kenapa?. Lo mohon supaya nama lo di hapus dari daftar kandidat?"


Martin dan yang lainnya bersitatap sejenak sambil tersenyum mengejek.


"Ada yang takut, sob." ujar Martin dengan nada sombong. Mario yang semula diam pun langsung berbicara.

__ADS_1


"Gue nggak takut sama lo."


"Masa?" Wajah Martin benar-benar membangkitkan emosi.


"Gue tau koq, kapasitas lo. Walaupun lo menduduki posisi juara umum menggantikan gue, tapi gue yakin lo curang pas ujian. Buktinya aja sekarang lo nggak berani kan ngadepin gue di fisika."


Martin makin congkak, kali ini Mario mendekat.


"Gue justru pengen bikin lo lebih malu lagi. Karena setelah gue merebut posisi lo di juara umum, gue juga akan membawa sekolah menjuarai olimpiade. Juara pertama, bukan kayak lo juara tiga. Pemenang itu satu, bukan dua, apalagi tiga."


Mario menabrak bahu Martin lalu berlalu meninggalkan tempat itu, diikuti Cavin dan juga Brian. Brian sempat berbalik ke belakang dan mengulang gerakan. Ia sengaja menyenggol bahu Christopher, agar terlihat sama keren dengan apa yang dilakukan Mario tadi.


"Mario, lo serius?" tanya Cavin tak percaya.


"Tadi itu keren, bro." ujar Brian bersemangat. Sementara kini kepala Mario penuh dengan beban yang berkecamuk.


"Anjrit, kenapa sih gue harus lakuin itu." gumamnya dalam hati.


"Keren sih keren, bentar lagi keriting otak gue gara-gara itu olimpiade." lanjutnya lagi.


"Pokoknya lo harus berjuang, bro." Cavin menyemangati.


"Yoi, jangan mau kalah." ujar Brian.


***


"Apa?. Nama kamu masuk sebagai kandidat untuk olimpiade sains?"


Deddy bertanya dengan nada tak percaya kepada Mario. Laki-laki berperawakan kekar itu terlihat sangat senang sekaligus haru. Mario sendiri bingung apakah ia harus senang atau sedih.


Sejujurnya, ia ingin curhat pada Deddy, mengenai jika ia ragu dalam mengikuti kompetisi ini. Tetapi ia sendiri telah dengan lantang mengatakan pada Martin, jika ia tak akan mundur sedikitpun.


Namun demi melihat ekspresi Deddy yang penuh kebanggaan tersebut, Mario jadi mengurungkan niatnya untuk curhat.


"Iya, dad." jawabnya kemudian.


"Mario, jadi kandidat." lanjutnya lagi.


"Wah, anak daddy. Daddy seneng banget." Deddy memeluk Mario. Mau tidak mau, Mario pun membalas pelukan tersebut.


"Oh iya, daddy punya sesuatu buat kamu."


"Oh ya, apa dad?" tanya Mario penasaran.


Deddy lalu mendekat kesebuah dinding dan,


Dinding itu ternyata adalah dinding palsu yang terhubung ke sebuah ruangan yang penuh buku.


"Ini?"


Mario mendekat, ia takjub melihat isi dalam ruangan tersebut. Seperti ruang perpustakaan yang sering ia lihat di film-film berlatar abad ke 17 atau 18.


"Ini, boleh kamu pake buat belajar." ujar Deddy.


"Kenapa Mario nggak tau kalau ada ruangan ini?"


"Sekarang kamu, daddy kasih tau. Karena kamu sudah menunjukkan arah, kalau kamu suka belajar hal baru."


Mario masih takjub melihat ruangan tersebut. Disentuhnya beberapa buku yang tersusun rapi dan bersih di beberapa rak.


"Kayak di film Harry Potter, dad." ujarnya kemudian.


Mario tak salah bicara, karena di tahun sebelumnya film Harry Potter pertama telah dirilis. Meski sampai hari ini, Deddy belum sempat menonton. Tetapi dia tahu mengenai film tersebut dari berita dan surat kabar yang sering ia baca.


"Kamu suka?" tanya Deddy.


Mario mengangguk.


"Oh iya, ini."


Deddy menunjuk pada sederet buku-buku dengan ketebalan dan sampul yang sama.


"Itu buku apa, dad?" tanya Mario heran. Ia bingung mengapa Deddy mengumpulkan buku yang sama sebanyak itu.


"Ini ensiklopedia." ujar Deddy.


"Hah?. Siapanya Wikipedia, dad?. Ups."


Mario merasa dirinya salah bicara.


"Di tahun ini kan belum ada Wikipedia." gumamnya dalam hati.


"Ya, Ensiklopedia ini cikal-bakalnya Wikipedia."

__ADS_1


"Koq daddy tau Wikipedia?" tanya Mario heran. Ia mengira jika Deddy telah ingat asal-usulnya dimasa depan. Namun kemudian Deddy pun menjawab,


"Wikipedia itu dibuat pada tanggal 15 Januari 2001."


"Emang iya, dad?"


Mario sendiri tidak pernah tahu, ia hanyalah pengguna internet di jamannya. Tapi tidak pernah mempelajari sejarah atau perkembangan apapun. Karena yang berhubungan dengan belajar, dianggapnya sebagai sesuatu yang membosankan.


"Iya, tapi sampe saat ini belum ada yang berbahasa Indonesia. Semoga tahun depan ada, biar mempermudah kita juga."


"Ngomong-ngomong kalau daddy tau Wikipedia, berarti daddy tau internet dong?. Apa daddy udah inget kalau daddy berasal dari masa depan?"


Deddy mengerutkan kening, lalu laki-laki itu pun tertawa.


"Kamu kebanyakan nonton Doraemon deh kayaknya. Kan internet emang udah masuk Indonesia dari lama, Mario."


"Hah, masa sih?"


Lagi-lagi Mario terperangah dengan penjelasan ayah lintas jamannya tersebut. Ia benar-benar tidak tahu soal itu.


"Kamu nggak tau?. Eh iya sih wajar kamu nggak tau, kan nggak familiar juga."


"Maksud, daddy?. Ini gimana sih?. Emang internet udah ada jaman sekarang?"


"Nah itu kamu tau-tauan kata internet dari mana?. Berarti kamu tau kan kalau internet ada."


Mario terjebak ucapannya sendiri.


"Mmm, iya sih. Maksud Mario, daddy tau nggak sejarah internet di Indonesia itu kayak apa?. Dan sejauh ini penggunaannya gimana?"


"Internet itu kalau di Amerika, sudah ada sejak tahun 1960an. Pada saat itu dipake untuk keperluan militer."


"Di Indonesia?" tanya Mario.


"Di Indonesia sendiri, sebenarnya sudah mulai diupayakan sejak sekitar tahun 1984."


"Hah, serius dad?"


Mario makin terheran sekaligus kian tak percaya. Karena ia meyakini bahwa segala sesuatu yang canggih itu ada di jamannya.


"Serius, tapi pada saat itu masih terbatas di beberapa universitas ternama. Ya mungkin dipakai untuk berkomunikasi atau mengirim surel, daddy juga nggak tau persis. Tapi kemudian, karena suatu kendala. Akhirnya pengoperasiannya berhenti."


"Karena apa?"


"Daddy kurang tau soal itu."


"Terus?"


"Sekitar tahun 1990an, baru dikembangkan lagi. Tahun 1994, baru muncul IndoNet."


"Indomie-kornet?" tanya Mario polos.


Deddy hampir tersedak mendengar pernyataan anak itu.


"Bukan, namanya IndoNet. Ya mungkin singkatan dari Indonesian Network atau Indonesia Internet atau apalah. Itu merupakan ISP komersial pertama di Indonesia."


"ISP apaan, dad?. Infeksi saluran pernafasan?"


Lagi-lagi Deddy tertawa.


"Internet Service Provider."


"Oooo."


"Paham?" tanya Deddy.


Mario masih melongo.


"Terus, kalau kita mau ngakses dari mana?" tanya Mario lagi.


"Kalau daddy, dikantor sih bisa. Kalau kamu mau, kamu bisa ke warnet."


"Emang ada warnet?"


"Ada dong, tapi ya jauh. Nanti daddy anter kapan-kapan."


"Internet, warnet. Berarti ini jaman nggak kolot-kolot amat ya." gumam Mario.


Detik berikutnya ia pun sumringah.


"Mario, kamu nggak lagi kumat kan?"


Deddy mulai mengkhawatirkan kondisi Mario yang tiba-tiba split. Dari biasa saja, bingung, menjadi ceria tiba-tiba.

__ADS_1


"Ah, nggak koq dad. Hehehe."


Mario pun lalu lanjut mengeksplore ruang buku tersebut, ada banyak sekali buku yang menarik perhatiannya. Meski di masa depan ia merupakan salah satu makhluk yang anti membaca, namun di masa ini buku seolah memiliki daya magis tersendiri baginya.


__ADS_2