Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Memulai Persaingan


__ADS_3

Entah mengapa akhir-akhir ini Mario sering merasa panas hati. Ketika dirinya melihat Martin yang selalu tampak cari perhatian di hampir semua mata pelajaran, terutama pelajaran fisika.


Setiap kali guru bertanya, Ia selalu ambil bagian dan tampak serakah untuk mengisi semua soal yang diberikan.


Seolah mendeklarasikan jika dirinya adalah makhluk paling pintar di seantero sekolah. Di samping ketiga teman satu gengnya yang sama menyebalkan itu.


Melihat Martin yang makin lama makin ngelunjak, menurut versi Mario. Mario pun terbakar hatinya dan munculah perasaan tidak mau kalah.


Entah mengapa tiba-tiba saja ia ingin sekali mempelajari dan mendalami fisika. Apa yang membuat pelajaran itu menjadi lambang sebuah kepintaran sekaligus kesombongan, diantara para siswa belakangan ini.


Alhasil kini saat jam istirahat, ia lebih sering menghabiskan waktunya di perpustakaan. Ia mencari dan mempelajari berbagai buku fisika. Alih-alih mencari tau bagaimana caranya agar ia dan kedua temannya bisa kembali ke masa depan. Ia malah asyik menyusun rencana untuk menjatuhkan Martin di kemudian hari.


Lonceng tanda istirahat sekolah pun berbunyi. Brian dan Cavin bersiap untuk ke kantin, mereka kini berjalan ke arah Mario.


"Ayo bro, laper gue." ujar Brian tak sabar.


"Sorry bro, gue mau ke perpustakaan." ucap Mario.


"Perpustakaan lagi?" tanya Cavin tak percaya.


"Iya, emang kenapa?. Ada soal yang mesti gue pecahkan."


"Mario, lo udah beberapa hari ini jadi hantu di perpustakaan. Lo kan makhluk yang paling nggak suka belajar di jaman kita, napa lo jadi menyusahkan diri sekarang?. Lagian kan ini jaman kagak nyata, bukan jaman kita juga." Brian mengoceh panjang lebar.


"Gue harus melakukan sesuatu." ujar Mario lagi.


"Maksud lo?" tanya Cavin heran.


"Udah, mending lo berdua ke kantin sono!"


Mario mendorong kedua temannya keluar kelas.


"Wait, wait Mario. Lo nggak ikut?" tanya Brian memastikan.


"Sana!" Mario kembali mendorong kedua temanya.


"Titip batagor, ok."


Dengan wajah tanpa dosa, Mario lalu berjalan meninggalkan kedua temannya itu dalam keadaan terlolong bengong.


"Tuh anak aneh deh." ujar Cavin seraya masih menatap kepergian Mario.


"Ya, gue juga ngerasa gitu." tukas Brian.


"Dah lah, mending kantin. Laper gue." lanjutnya lagi.


Brian dan Cavin pun lalu pergi ke kantin tanpa Mario.


"Lo liat Adril nggak sih tadi?" tanya Cavin, ketika mereka telah berjalan menuju kantin.


"Tadi kayaknya pas lonceng istirahat, dia keluar duluan. Ke ruang guru kali." jawab Brian.


"Ya udalah, kita berdua aja."


Mereka lalu melanjutkan perjalanan.


***


"No, bukan buku yang ini. Aaah"


Mario menggerutu sendiri ketika ia tak menemukan buku yang ia cari. Celingukan kesana kemari ternyata tak begitu menyelesaikan masalah. Ia harus bertanya pada petugas perpustakaan.


Mario mulai berjalan mendekati petugas, namun tiba-tiba ia melihat Adril melintas. Dan baru saja ia hendak menyapa Adril, tiba-tiba kakak keduanya Michael sudah ada disana. Ia tampak menghadap ke petugas perpustakaan, membuat Mario jadi mengurungkan niatnya untuk mendekat.


"Kesempatan gue nih, buat tau kenapa Michael jauh lebih pinter dari gue. Gue pengen liat dia belajarnya kayak apa."


Mario terus memperhatikan Michael dari tempatnya berdiri, sementara Adril telah pergi ke sudut yang lain. Michael sendiri tampak sedang menanti sesuatu.


"Daniel Edward Michael."


Petugas perpustakaan menyebut nama lengkap Michael.

__ADS_1


"Iya." jawab Michael seraya menerima sebuah buku. Ia pun lalu mencari tempat duduk.


"Buuuk."


Mario menjatuhkan bukunya tepat di bawah kolong meja, tempat dimana Michael berada. Padahal dari tempat dimana ia berdiri, mustahil untuk menjatuhkan bukunya hingga ke tempat tersebut.


Mario memang sengaja untuk mencari cara, agar bisa berbicara dengan kakak keduanya itu.


"Sorry, bro. Buku gue jatuh."


Mario mengambil buku yang ada di bawah meja, tempat dimana kakaknya berada. Michael sendiri sempat melirik sekilas ke arah remaja itu. Mario mengambil buku tersebut lalu duduk di sisi Michael, dengan wajah tanpa dosa.


Michael pun kembali melirik ke arahnya lalu pergi ke meja lain, namun bukan Mario namanya jika ia menyerah begitu saja. Ia duduk di meja sebelah Michael dan mencoba mencuri pandang, ketika Michael tengah fokus pada bukunya.


"Fokus."


Gumamnya seraya mencatat pada kertas, ia tengah mempelajari cara Michael dalam belajar. Ia ingin tahu kenapa kedua kakaknya sangat pintar, sedangkan ia sendiri tergolong kurang bisa mencerna pelajaran dengan baik.


Di tahun ini ia berencana mempelajari tata cara kedua kakaknya dalam belajar. Hingga jika kembali ke masa depan nanti, ia bisa membalas dendam terutama kepada Michael. Yang selalu merendahkannya dan mengatakan jika dirinya anak yang bodoh. Atau bahkan ia bisa membalasnya di tahun ini juga.


"Budek."


"Buta."


Mario kembali menulis di kertasnya. Ia melihat Michael yang seakan tidak mendengar maupun melihat, ketika ada seorang gadis cantik melintas di sisinya dan menjatuhkan buku. Bahkan Michael tak membantu gadis itu sedikitpun dalam mengumpulkan bukunya. Ia hanya fokus pada diri sendiri.


"Dingin."


Tambah Mario pada catatannya.


"Bro."


Tiba-tiba Adril mendekat dan mengagetkannya. Michael yang tampaknya tak suka keramaian itu pun menjauh.


"Nggak suka berisik." Tulis Mario lagi seraya berbicara.


"Hah, maksud lo?" tanya Adril yang mengira jika Mario tengah berbicara kepadanya.


"Ah, hehe. Nggak, bukan lo koq." ujarnya kemudian.


"Ini."


Mario menunjukkan buku fisika yang ada dihadapannya.


"Nih, yang punya gue lebih bagus isinya." ujar Adril seraya menyerahkan buku yang ada di tangannya, Mario menerima buku tersebut.


"Pengantar psikologi?"


Adril mengangguk.


"Ini gimana dah?. Koq bisa di perpustakaan SMP ada buku kayak gini."


Mario mempertanyakan perihal buku, yang biasanya hanya terdapat di toko ataupun perguruan tinggi tersebut.


"Disini banyak buku bagus, asal lo mau nyari aja. Biasanya alumni SMP sini yang udah pada kuliah suka mengadakan reuni. Masing-masing dari mereka biasanya menyumbang buku, sesuai jurusan kuliah masing-masing."


"Oh bisa gitu ya?"


Adril kembali mengangguk lalu tersenyum.


"Tuh Mario, ngapain dah?"


Brian dan Cavin yang baru tiba melihat ke arah Mario yang tampak antusias dan fokus berbicara dengan Adril. Tampak mereka pun membahas buku yang kini ada di hadapan mereka.


"Kesambet mic podcast kali. Liat aja gayanya kayak Deddy close the door lagi bikin podcast." seloroh Cavin sambil memakan coklat ayam.


"Jangan makan di perpus, nggak ada akhlak nih anak."


Brian menegur kelakuan Cavin, pemuda itupun menghentikan aktivitasnya. Mereka lalu mendekat ke arah Mario dan juga Adril.


"Bro, nih batagor lo." ujar Cavin seraya menyerahkan batagor pesanan Mario.

__ADS_1


"Thanks, bro." ujar Mario sambil menerima makanan tersebut.


"Makan gih sana, ntar keburu masuk loh." ucap Adril kemudian.


"Lo mau nggak?" tanya Mario pada Adril.


"Gue puasa."


"Oh, sorry."


Mario lalu beranjak keluar dari perpustakaan, untuk memakan batagornya.


"Martin, Martin."


Tiba-tiba Mario menemukan pemandangan yang membuatnya ingin melempar Martin pakai gas 3kg. Pasalnya ia melihat Ratna berlarian mengejar-ngejar Martin, seraya membawa sebuah buku dan pulpen.


"Ada apa?" tanya Martin lalu tersenyum. Sementara kini Mario memiringkan bibirnya dengan sinis.


"Apaan sih Ratna?" gerutunya kemudian. Tampak ia bersembunyi di balik tembok dan mengintip dengan mata super julid.


"Ajarin yang ini dong."


Ratna menunjukkan sesuatu di bukunya pada Martin.


"Oh ini, ini mah gampang." Martin lalu mencari posisi duduk.


"Dih, sok banget sih tuh orang."


Mario makin menggerutu kesal, melihat sikap Martin yang dinilainya sangat sombong.


"Nih, ini kesini. Terus ini dibagi ini, ini kesini dan coba deh lanjutkan."


Martin memberikan kembali buku tersebut kepada Ratna. Kini Ratna duduk di sisinya dengan posisi yang sangat dekat.


Entah mengapa hati Mario menjadi begitu terbakar. Ingin rasanya ia meminta bantuan Dr Strange untuk membuka portal dan mengirim Martin ke dimensi lain.


"Ini bener nggak?" tanya Ratna lagi.


"Ini kesini, dan ya hasilnya itu."


"Oh jadi gini aja?. Gampang ya ternyata." Ratna begitu antusias.


"Makasih ya?" ujar Ratna sumringah.


"Oh iya, nama kamu siapa?"


Tiba-tiba Martin memegang tangan Ratna.


"Heh, songong banget tuh bocah." Mario makin geram melihat tingkah Martin yang sok ganteng menurutnya.


"Ratna."


Ratna menjawab lalu tersenyum, dan senyuman itu dibalas oleh Martin. Sementara Mario sudah siap mengirim anak itu ke planet lain.


"Aku balik ke kelas ya." ujar Ratna kemudian.


Martin pun mengangguk, masih dengan gaya sok gantengnya.


***


"Berani banget tuh ubur-ubur Bikini Bottom."


Mario masih menggerutu ketika dirinya sudah masuk ke kelas, teman-temannya sampai heran karena ia terus-terusan sewot. Termasuk ketika Martin melintas dihadapannya, Mario makin menjadi-jadi. Ia terus melirik ke arah Martin dengan tatapan dan bibir yang sinis.


"Lo kenapa sih?" tanya Brian heran. Sementara Cavin memperhatikan secara seksama.


"Sok ganteng tuh anak, lama-lama nyebelin tau nggak."


Brian dan Cavin saling tatap lalu kompak melihat ke arah Martin, yang tampak duduk tenang di bangkunya. Mereka berdua pun bingung pada apa yang dimaksud oleh Mario.


"Gue sih setuju sama apa yang dibilang Mario, soal Martin yang nyebelin. Tapi kayaknya saat ini tuh anak lagi diem aja deh." ujar Brian pada Cavin.

__ADS_1


"Iya, sakti si Mario. Bisa liat orang sok ganteng, meskipun orangnya lagi diem."


Kali ini Cavin nyengir. Namun mereka lalu duduk di bangku masing-masing, ketika akhirnya guru masuk ke kelas.


__ADS_2