
"Mario."
Cavin memanggil Mario dari depan rumahnya siang itu, namun tak ada jawaban.
"Mario mana sih?" teriak Cavin pada Brian yang sedang mengurus jualan, serta rental gameboy miliknya didepan rumah.
"Tidur kali." ujar Brian dengan nada berteriak pula. Karena jarak mereka kini cukup jauh.
"Kagak mungkin model Mario tidur siang, bocah kayak dia mah pasti ada aja kegiatannya. Benerin genteng lah, nyabut rumput lah, ngawasin perkembang biakan bakteri, bayi tabung dan lain sebagainya."
"Coba lo telpon." ujar Brian lagi.
"Oh iya, ya."
Cavin pun segera menelpon Mario, tadi ia tak kepikiran sampai sana.
"Bambang, dimane lu?" tanya Cavin dengan suara keras.
"Biasa aja Bambang suara lu, lu kira gue budek?" gerutu mario diseberang.
Cavin pun tertawa karena ia sengaja melakukan hal tersebut, ia kini berjalan ke arah Brian.
"Dimana lu?" tanya Cavin lagi.
"Kenapa emangnya?" Mario balik bertanya.
"Ada yang mau gue omongin." ujar Cavin.
"Apaan?" tanha Mario lagi.
"Buruan balik makanya, dimana sih lu?"
"Dibelakang lu sekarang."
Cavin menoleh dan kaget, ternyata Mario memang benar ada disana.
"Ngagetin aje lu, Suyono." Cavin berseloroh.
Mario nyengir bajing, sambil mengacungkan sebuah plastik dengan logo restoran cepat saji.
"Apaan tuh?" tanya Cavin kemudian, Brian pun ikut mendekat.
"Buat lo berdua." ujar Mario.
"Selama di jaman ini belum pernah ke cepat saji kan?" lanjutnya kemudian.
"Wah tau aja lo, gue lagi laper." ucap Brian.
"Tunggu dulu, liat ini...!"
Mario menunjukkan minuman yang ia beli untuk kedua sahabatnya itu.
"Hah, pepsi?" Cavin dan Brian tak percaya.
"Anjrit, kangen gue." ujar mereka lalu mengambil dan menyeruput minuman itu.
__ADS_1
"Eh makan di atas atap Cavin aja yuk...!" ajak Brian kemudian.
"Ok." ujar Cavin.
Mereka pun berlarian ke arah sana.
"Jelita, Mandala, Tirta, Titip ya." teriak Brian pada anak-anak yang tengah menyewa gameboy miliknya.
"Sip, beres." ujar anak-anak itu bersamaan.
Mario, Brian, dan Cavin kini naik ke atas atap. Tempat dimana mereka sering nongkrong. Mario menemani Cavin dan Brian makan sambil bermain game boy, yang tadi sempat ia ambil dari lapak jualan Brian.
"Sumpah, ini enak parah." ujar Cavin seraya melahap fried chicken yang dicocol dengan saos.
"Lo dari mana sih tadi, nggak ngajak-ngajak." lagi-lagi Cavin berujar sambil masih menikmati makanannya.
"Tau lo." timpal Brian lalu menyeruput pepsi nya.
"Ah seger." ujarnya kemudian.
"Tadi gue itu rencana mau beli buku doang, bentar. Terus ketemu lah sama Galih, sama Ratna. Gue ikutin mereka sampe ke resto ini."
"Galih sama Ratna?" tanya Brian heran.
"Iya, jalan bareng mereka tadi." jawab Mario dengan wajah sewot.
"Mau-mauan si Ratna." tukas Cavin tak kalah heran.
"Udah tau si Galih, ada Lia." lanjutnya lagi.
"Kayak nggak tau Ratna aja, Cav. Cikal bakal bucin dimasa depan tuh anak " ujar Mario.
"Ya gitu deh, uwu-uwuan, rayu-rayuan. Pengen banget gue sleding palanya si Ratna. Dia aktif banget ngerayu si Galih."
"Cemburu kali, lo." celetuk brian sambil tersenyum meledek.
"Iya bisa jadi." timpal Cavin.
"Apaan sih, kagak lah. Ngapain gue cemburu." ujar Mario membela diri.
"Iya juga nggak apa-apa." ujar Brian seraya memberi lirikan sambil tersenyum.
Mario berusaha cuek ditengah godaan menyebalkan dari kedua temannya itu. ia terus saja bermain gameboy, Sementara Cavin dan Brian melahap makanan mereka dengan binal.
Tak lama kemudian, mereka pun sudah terlihat duduk sambil menikmati minuman. Makanan mereka telah habis sejak tadi. Lalu, sebuah mobil tampak masuk ke pekarangan.
"Tumben, Davin jam segini udah pulang." ujar Cavin heran. Ia dan kedua temannya memperhatikan dari atas atap.
Mobil tersebut berhenti, namun yang keluar dari dalam sisi kemudi bukanlah Davin. melainkan sesosok laki-laki berseragam office boy.
"Itu siapa?" tanya Brian pada Cavin.
"Nggak tau." jawab Cavin sambil terus memperhatikan.
Tak lama kemudian ia membuka pintu belakang. Tampak seorang wanita keluar dari sana dan membantu Davin, namun wajah wanita itu tak begitu terlihat jelas. Wanita itu juga mengenakan seragam cleaning service.
__ADS_1
"Kakak lo kenapa tuh?" tanya Mario
Mereka bertiga pun panik dan berlarian ke bawah. Davin tampak sudah di papah ke sofa ruang tamu, namun wanita itu tadi tak kelihatan.
"Dave kenapa?" tanya Cavin panik. Wajah Mario dan Brian pun tak kalah paniknya.
"Pak Davin tadi mimisan dikantor, dan dia pingsan. Dia nggak mau dibawa kerumah sakit." ujar si office boy menjelaskan.
"Kenapa nggak kerumah sakit sih?. tanya Cavin masih dengan mimik khawatir.
"Nggak apa-apa, Cav. Cuma perlu sedikit istirahat aja." ujar Davin.
"Ya udah, istirahat dulu." Cavin membaringkan tubuh kakaknya tersebut.
Tak lama kemudian, si office girl yang tadi memapah Davin pun datang. Agaknya ia dari dapur, karena kini ia tampak membawa segelas air putih."
"Pak Davin, ini minumnya." Ia memberikan air itu pada Davin, Davin pun menerimanya.
"Kita pulang ya, pak." ujarnya kemudian.
Seketika hati Cavin pun bergemuruh. Ia terkejut sekaligus syok, begitu juga dengan Mario serta Brian. Tadi wajah perempuan itu tak begitu jelas dilihat dari atas, namun kini semuanya terlihat nyata.
"I, ibu." ujar Cavin tak percaya. Davin dan office girl itu bingung.
"Cav, ini Anindya. Dia umurnya baru 19 tahun, belum ibu-ibu." ujar Davin menjelaskan.
Anindya tersenyum pada Cavin dan kedua temannya yang masih terpaku bisu. Lalu gadis itu pun pamit dan menghilang dibalik pintu.
Cavin hendak menyusulnya, namun.
"Buuuk."
Davin kembali terjatuh. Cavin, Mario, dan Brian yang terkejut pun menoleh. Kini mereka kembali fokus pada Davin dan mengguncang-guncang tubuh lelaki itu.
"Dave bangun Dave." ujar Cavin dengan suara yang begitu resah.
"Dave."
Tak ada jawaban.
"Dave."
Tetap tak ada jawaban.
"Cav, kita bawa aja kakak lo kerumah sakit." Mario memberi saran.
Cavin sudah berurai air mata, sementara orang tuanya masih bekerja.
Mario menyiapkan mobil, lalu mereka bertiga dengan susah payah mengangkat tubuh Davin. Mereka bingung mau menelpon ambulans kemana, taka ada nomor telpon darurat apapun yang disimpan dirumah itu.
Mario menyetir didampingi Brian, sementara Cavin berada di belakang bersama kakaknya yang bahkan belum sadar sedikitpun.
"Mario, buruan. Gue takut Davin kenapa-napa." ujarnya masih berurai air mata.
"Lo tenang dulu, Cav. Dia nggak bakal kenapa-kenapa." Brian mencoba menghibur temannya itu.
__ADS_1
"Gue takut kehilangan dia, Bri. Gue takut."
"Iya sabar, semua akan baik-baik aja." ujar Brian.