Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Pertandingan


__ADS_3

"Ini pasti kerjaannya si Galih, nih. Pasti dia yang udah ngerusakin kendogu gue."


"Maksud lo apa?"


Tiba-tiba Galih muncul dari suatu arah. Mario terkejut, karena tak percaya bahwa ia bisa bertemu Galih ditempat itu. Namun rasa marah kini sudah menguasai hatinya.


"Elo kan yang ngerusakin kendogu gue?" Mario menghujamkan tuduhan kepada Galih.


"Ngerusakin?"


"Nggak usah pura-pura nggak tau, gue tau lo pelakunya. Lo nggak terima kan pas latihan terakhir itu, gue bisa ngalahin lo." Mario semakin menuduh Galih.


"Gue biasa aja soal itu." jawab Galih.


"Alah, emang dari awal lo nggak suka kan sama gue. Ditambah gue sekarang deket sama Ratna. Salah lo sendiri kenapa nggak tegas. Kalau lo emang suka sama Ratna, ya lo tinggalin lah si Lia."


"Wait, gue mau tanya soal yang ngerusakin kendogu lo itu."


"Ya, elo kan pelakunya."


"Kenapa lo jadi nuduh gue?"


"Ya siapa lagi pelakunya kalau bukan elo. Lo tau nyari kendogu itu susah, makanya lo rusakin. Dengan cara itulah lo bisa balas sakit hati lo soal Ratna ke gue. Licik tau nggak lo. Tempo hari aja sok-sok an gentle dateng kerumah gue, ngajak latihan bareng. Nggak taunya uler juga lo, brengsek."


"Mario, pelaku yang ngerusakin kendogu lo ternyata Martin."


Sebuah pesan singkat Mario terima, disaat ia dan Galih masih berada di tempat yang sama.


"Brengsek, kenapa bisa gue nuduh Galih?"


Mario mulai menyesali tuduhannya. Namun tiba-tiba kemudian,


"Ooo, ini yang namanya Mario."


Sekelompok siswa yang tampaknya berasal dari sekolah lain muncul dan mengerubungi Mario. Ditangan mereka tergenggam beberapa bilah kayu dan juga tongkat baseball. Agaknya ini bukan hal yang baik untuk Mario.


"Kalian siapa?” Galih tiba-tiba membentengi tubuh Mario. Mario pun tak menyangka jika Galih akan bersikap seperti itu.


"Lo siapa, nggak usah ikut campur." teriak salah seorang siswa tersebut.


"Pokoknya siapa yang nggak disukai Martin, kita juga nggak suka." ujar nya lagi.


Mario pun mengerti jika mereka adalah suruhan Martin. Mungkin teman satu tongkrongannya atau entah apapun itu.


"Udeh, hajar...!"


Mereka menyerang Mario secara serta-merta, termasuk Galih yang mencoba melindungi Mario. Untungnya Mario sendiri pun sudah jago berkelahi sejak dijamannya. Hingga ia bisa menghindar dan membalas serangan meskipun dengan tangan kosong.


Sementara Galih memiliki kecepatan tangan dan kaki yang begitu luar biasa. Ia bisa menghindari serangan dengan sangat cepat. Dan yang lebih istimewanya lagi, ia bisa dengan mudah merebut senjata lawan dan memukul balik mereka hingga kualahan.


"Baaak."


"Buuuk."


"Baaak."


"Buuuk."

__ADS_1


Perkelahian mendadak sengit. Baik dari pihak penyerang maupun Mario dan Galih, sama-sama tidak ada yang mau menyerah begitu saja. Mereka terus saling serang hingga membuat suasana pertokoan di sekitar mereka menjadi berantakan. Para pemilik toko dan pedagang yang ada didekat mereka menghindar sebisa mungkin.


"Baaak."


"Buuuk."


"Aarrgghh."


Tiba-tiba Galih berteriak, disaat Mario baru saja melumpuhkan lawan yang anda hadapannya. Mario pun menoleh dan mendapati Galih terjatuh, dengan tangan yang tampaknya telah patah.


"Galih."


Mario berteriak, pada saat yang bersamaan para pemilik kios sekitar beserta anggota kepolisian tiba. Siswa penyerang itupun berhamburan, ada sebagian yang tertangkap. Namun kini di tempat kejadian perkara, hanya ada Mario dan juga Galih yang tengah berteriak kesakitan.


"Awas itu tangannya patah."


Para warga dan pemilik toko membantu Galih dan juga Mario. Mario sendiri tampak begitu menyesali hal tersebut. Galih harus menjadi korban dari orang-orang yang ingin menyerangnya.


Beberapa saat kemudian, Mario sudah berada di ruang tunggu rumah sakit. Ia mendapat beberapa luka dan sudah di obati oleh pihak yang malam itu berjaga di UGD. Sedangkan Galih sendiri terbaring di sebuah ruang rawat. Tangannya patah dan ia belum sadar hingga detik ini. Mungkin saking banyaknya energi yang ia habiskan untuk berkelahi dan juga menahan rasa sakit.


Mario duduk agak berjauhan di sisi Lia yang terdiam. Tak lama kemudian, Ratna, Brian, Heru dan Adril pun tiba. Mereka sendiri tak banyak bicara karena suasana sekitar sudah terlanjur kaku. Mereka hanya duduk diam dan menunggu kabar selanjutnya dari dokter.


***


Esok harinya, di tempat dimana pertandingan akan berlangsung. Mario berjalan cepat ke suatu arah. Ia menarik Martin yang tengah berbincang dengan anggota gengnya lalu,


"Buuuk."


"Buuuk."


Mario menghajar Martin dengan penuh kekesalan.


Belum sempat Martin berdiri, Mario sudah memukulnya lagi.


"Buuuk."


"Buuuk."


Teman satu geng Martin mencoba memukul Mario dari belakang. Namun tenaga mario begitu kuat karena sudah terbakar amarah. Teman-teman Martin pun dipukulnya dengan sekuat tenaga.


"Buuuk."


"Buuuk."


"Mario, Mariooo."


Brian, Cavin, Adril dan Heru berlarian ke arah mereka lalu mencoba memisahkan. Tak lama kemudian beberapa guru tampak melintas didekat mereka. Mereka pun bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Tak lama kemudian,


"Kalau lo berani, gue tantang lo one by one." ujar Mario kemudian.


Tak lama setelah itu, sang pembina kendo sekolahnya pun memanggil Mario. Ia dan teman-temannya lalu meninggalkan tempat itu.


"Kenapa pada ngumpul disitu?" tanya pembina nya kemudian. Ia tak begitu melihat jelas jika wajah Martin sudah biru lebam. Karena pembina tersebut matanya minus dan lupa memakai kacamata. Ia pun memanggil Mario dari kejauhan.


"Ah nggak pak, cuma saling mendukung aja buat hari ini."


"Oh baguslah. Kita memang butuh dukungan, karena kita sedang menghadapi masalah."

__ADS_1


"Masalah?. Masalah apa, pak?" tanya Mario kemudian.


"Galih nggak bisa ikut." Salah seorang teman satu club Mario berujar.


"Dan itu gara-gara lo, Mario."


"Sstt, Ardy kamu nggak boleh kayak gitu." Pembina mereka masih berusaha membela Mario.


"Itu kenyataan, pak. Selama satu semester ini, Galih udah dua kali ikut pertandingan antar sekolah dan dia selalu menang. Sekarang kalau nggak ada Galih, kita nggak bisa mempertahankan kemenangan. Lagipula siapa yang bisa diandalkan?."


Pembinanya menarik nafas.


"Bapak akan percayakan ini pada Mario."


Semua yang ada di sana pun terkejut, termasuk Mario sendiri.


"Tapi, pak." ujar Mario.


"Siapa lagi, Mario."


"Pak, saya tidak sebaik Galih. Saya baru aja bisa dan lagipula kendogu saya rusak."


"Lo pake punya gue."


Tiba-tiba Galih muncul ke hadapan mereka semua. Ia sudah tampak lebih sehat meski harus menggunakan kursi roda dan tangannya di gips. Ia didorong oleh Lia yang didampingi oleh dua temannya.


"Nih."


Galih memberikan Kendogu miliknya yang berada di tangan salah satu teman Lia. Mario menatap pembinanya dan pembinanya pun mengangguk.


"Lo pasti bisa." ujar Galih kemudian.


Babak penyisihan pun dimulai. Mario berhasil lolos meski lawan-lawannya dari sekolah lain, bukanlah lawan yang mudah dikalahkan.


Karena kepercayaan yang sudah diberikan baik oleh pembinanya maupun Galih sendiri, entah mengapa Mario merasa seolah kekuatannya kini bertambah.


Ditambah lagi di bangku penonton, ada Cavin, Brian, Adril, Heru dan juga,


"Daddy?" gumamnya kemudian.


Deddy melihat serius ke arahnya, Mario pun tersenyum. Kini ia memiliki energi berlimpah untuk menghadapi siapa saja.


Mario melaju ke babak perempat final. Seusai istirahat mereka pun mulai bertanding kembali. Teman satu klubnya sendiri pun tak menyangka Mario akan sehebat itu. Hingga ketika babak perempat final telah dipertandingkan, mereka semua terdiam. Saat mendapati jika nama Mario masuk ke dalam babak semi final.


Mereka lebih terpukau lagi ketika akhirnya Mario masuk ke babak final. Dan akhirnya, Mario jugalah yang menjadi pemenangnya.


Mario meraih medali, teman-temannya sangat bahagia untuknya. Ia menggenggam medali tersebut lalu pihak sekolah mengambil fotonya. Ia pun berfoto bersama teman-temannya dan juga Deddy. Tak lama kemudian Galih melintas. Tampaknya ia hendak pulang, namun Mario menyusulnya.


"Galih."


"Iya."


Mario melepaskan medali yang semula ia kalungkan, lalu memberikannya pada Galih. Galih terkejut, begitupun dengan semua yang ada ditempat itu.


"Ini punya lo, Mario."


"Itu punya lo, lo yang berhak dapetin."

__ADS_1


Mario lalu tersenyum dan meninggalkan Galih, ia kembali pada Deddy dan teman-temannya. Deddy tersenyum lalu menepuk bahu anak itu Mereka pun akhirnya pulang dengan kemenangan berasa dihati masing-masing.


__ADS_2