Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Silent Treatment


__ADS_3

Mario pulang sekitar pukul 8 malam, saat itu lampu sudah dimatikan. Ia pun membuka pintu dan menyalakan lampu. Namun ia terkejut ketika mendapati Deddy yang tengah duduk di meja makan, ia pikir Deddy sudah tidur.


"Dari mana kamu Mario?"


Dingin suara Deddy terdengar, seperti orang tua yang sedang sangat marah pada anaknya.


"Da, dari pergi sama temen, dad."


"Kamu tau ini jam berapa?"


"Jam 8, dad."


"Kamu udah nggak pulang dari tadi siang dan nggak ngabarin juga. SMS nggak di bales, telpon nggak diangkat. Mau kamu apa?"


Mario terkejut mendengar hal itu, bukan perkataannya tapi nadanya. Ia tak menyangka Deddy akan semarah itu padanya.


"Dad, Mario cuma pergi sama temen. Nggak usah marah dengan nada tinggi kayak gitu."


"Pergi sama temen pun ada adabnya Mario, kamu itu masih anak-anak. Baru juga SMP kelas satu. Minimal izin sama orang tua, biar orang tua nggak khawatir dan pikiran orang tua nggak kemana-mana. Daddy nyariin kamu seharian ini."


Mario menunduk, ia mengira Deddy disini hanyalah pelengkap hidupnya. Namun ternyata, Deddy juga berperan penuh sebagai orang tuanya.


"Maafin Mario, dad. Mario janji nggak kayak gini lagi."


Deddy beranjak dari meja makan, ia masuk ke kamar dan sedikit membanting pintu. Membuat Mario terkejut sekaligus kaku.


Esok paginya ketika hendak ke sekolah, Mario tidak menemukan Deddy sama sekali. Hanya ada segelas susu hangat dan roti di atas meja makan.


Deddy telah pergi ke kantornya tanpa membangunkan Mario, Mario pun merasa begitu bersalah dan tak enak hati. Pasalnya beberapa waktu belakangan ini, biasanya mereka menghabiskan waktu berkualitas di pagi hari secara bersama-sama. Entah sekedar olahraga bersama atau berbincang di meja makan. Tapi hari ini, Mario membuat semua itu menjadi tidak ada lagi.


"Mario, buruan...!"


Cavin berteriak pada Mario dari depan rumah, remaja itupun lalu keluar dan mengunci pintu. Sesaat kemudian, mereka berangkat menuju sekolah bersama-sama.


***


"Lo kenapa sih, sama om Deddy?" tanya Cavin ketika ia, Mario, dan Brian keluar gerbang sekolah saat jam istirahat.


Mereka mendekati pedagang dadakan yang tengah dikerumuni siswa SMP maupun siswa SD dari sekolah dasar, yang berasal dari seberang sekolah mereka.


"Daddy marah gara-gara kemaren gue nggak ngabarin, kalau gue jalan sama Marcell dan bokap kandung gue.”


"Lagian elo sih, kan bapak lo disini om Deddy. Ya, lo hargain lah dia.” ujar Cavin lagi.


"Dia khawatir banget sama lo, bro.” Brian menimpali.


"Sampe nyari lo kesini, kemana-mana.” lanjutnya kemudian.


Mario diam, ia tau jika ia salah. Namun yang saat ini masih mengganggu pikirannya adalah, Deddy tak mengirimkan SMS maupun menelepon. Seperti yang sering ia lakukan di hari-hari sebelumnya. Mario merasa tak enak hati jika di silent treatment seperti ini, ia ingin baik-baik saja bersama Deddy.


"Ini apaan sih?" tanya Brian penasaran.


Ia melihat anak SD yang bermain cabut tali. Pada sebuat ikatan tali besar, yang dibawahnya menggantung banyak mainan dan juga makanan ringan.


"Ini kan cabutan kak, masa nggak tau.” Salah satu anak SD tersebut berujar.


"Cabutan apaan?" tanya Brian lagi.

__ADS_1


Seumur-umur ia tidak pernah melihat permainan seperti itu. Apalagi dimasa depan, sekolahnya adalah sekolah semi internasional, begitupula dengan Mario dan juga Cavin. Di era mereka, permainan ini sudah sangat jarang ditemukan.


"Ini cara mainnya, pilih, terus cabut." Anak itu mempraktekkan namun,


"Yah nggak dapet.” ujarnya kemudian.


Mario dan Cavin ikut memperhatikan.


"Coba sini gue yang cabut.” Brian panas hati melihat anak-anak kecil itu tak pernah berhasil, bahkan untuk kesekian kalinya.


"Anjir kagak dapet.” Brian pun sama tak berhasil, namun ia berusaha mencabut lagi.


"Anjir gagal lagi.”


Brian belum kapok.


"Bangsat."


Mario dan Cavin membungkam mulut Brian. Seketika Brian pun tersadar, jika kini ia berada di sekitaran anak kecil. Ia lalu nyengir bajing dan kembali mencabut benang.


"Satu, dua, tiga, lima belas, enam belas.”


Enam belas benang tercabut tanpa keberhasilan.


"Teng-teng-teng."


Tiba-tiba lonceng tanda berakhirnya istirahat pun berbunyi.


"Anjrit."


"Eh dek, bayar dulu.”


Tiba-tiba abang penjual yang menyediakan cabutan tersebut pun menagih mereka.


"Lah emang bayar?" Mario, Brian, dan Cavin berujar nyaris di waktu yang bersamaan.


"Ya iya, emang dipikir nyabutnya gratis?"


"Lah kan kagak dapet hadiahnya?"


"Ya tetep bayar.”


"Ye, ngapain mesti bayar?. Lagian juga saya yakin koq ini pasti curang. Pasti itu yang ada hadiahnya, benangnya nggak sampe atas. Dan benang yang di atas itu semuanya nggak ada yang berhadiah."


"Itu urusan kamu mau dapat atau nggak, yang jelas bayar."


"Nggak mau." ujar Brian sengit.


"Oh ya udah, saya laporkan ke guru kalian."


Brian, Mario dan Cavin pun bertatapan. Mereka sedang tak ingin terlibat masalah apapun lagi dengan guru, setelah masalah dengan F4 kemarin belum juga usai.


"Ya udah Bri, bayar aja lah.” ujar Mario kemudian.


Brian menghela nafas.


"Ya udah berapa?"

__ADS_1


"Hitung aja, 24 kali 1000.”


"Mahal amat, benang hampa doang.”


"Mau bayar atau saya laporin?”


"Lah tadi itu anak SD bayarnya 500 perak.”


"Kan sesuai kantong mereka. Kalian kan udah SMP, mana sekolahnya bagus lagi.”


"Jadi maksudnya ini permainan harganya tergantung siapa yang nyabut?"


"Oh iya dong, kalau yang nyabut pejabat, beda lagi harganya. Kan sesuai pendapatan.”


Brian, Mario, dan Cavin saling tatap dan kompak melebarkan bibir.


"Ya udah nih."


Brian mengeluarkan uang dari sakunya. Untungnya di jaman ini ia juga merupakan anak dari keluarga yang cukup kaya, jadi 24ribu pun tak masalah baginya. Walau jajan anak lain masih 5000-10.000 rata-rata, ia sudah memegang uang 50-100ribu perharinya.


"Heran gue, pemerasan banget itu orang.”


Brian tetap menggerutu, ketika mereka semua sudah masuk ke gerbang sekolah.


"Apa jualan begitu aja nih kita besok.” ujar Mario.


"Ide bagus tuh.” tukas Cavin.


"Yang nggak bayar kita ancam pake golok.”


"Hahaha."


Mereka bertiga pun tertawa.


"Eh, lo Kemaren nggak jenguk Adril?"


Tiba-tiba Mario melontarkan pertanyaan, yang membuat Brian dan Cavin berbalik dan memberinya tatapan. Lebih tepatnya semi hujatan.


"Elu, yang kagak dateng.” ujar mereka berdua.


"Lo pada dateng?"


"Ya iyalah orang sejengkal doang, kepleset nyampe. Lo sih sibuk sama bapak dan kakak lo, sama temen nggak inget.”


"Ntar sore deh, gue kesana.”


"Jangan janji doang lo.” ujar Brian.


"Iya, kasian dia kena typus.” timpal Cavin.


"Typus?"


"Iya, makanya lo jenguk sana.” ujar Cavin lagi.


"Iya."


Mereka pun lalu masuk kedalam kelas.

__ADS_1


__ADS_2