Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Kelas Baru


__ADS_3

Ketika kelas dibuka, para siswa berebut masuk dan memilih tempat duduk. Dari jauh Ratna sudah mengambil ancang-ancang, untuk menuju bangku yang ia mau. Ia sudah mengincar bangku tersebut sejak kelas belum dibuka. Ia mengintip dari kaca dan menetapkan, jika itulah tempat yang ia mau. Dan ia harus mendapatkannya.


"Gubraaak."


Ratna melemparkan tasnya ke bangku tersebut. Sebelum seorang siswi lain yang hendak kesana, mampu menggapainya. Ratna tertawa menang, namun tasnya mendarat berbarengan dengan sebuah tas lain.


"Braaak."


Si pemilik tas berlarian kesana. Cukup lama Ratna terdiam, ternyata pemilik tas itu adalah Cavin. Cavin juga tak menyangka jika ia akan sebangku dengan Ratna, karena sejak tadi pun ia sudah mengincar bangku itu.


Mereka menoleh kesana kemari, semua bangku tampaknya sudah ditempati. Akhirnya mereka tertawa lalu duduk bersama-sama. Mario yang baru kembali dari toilet pun berlarian. Ia mendapati kedua sahabatnya sudah memiliki teman sebangku dan dua-duanya perempuan.


Mario melebarkan bibir sampai kuping, matanya mulai menjelajah kesana kemari. Dan ia mendapati sebuah bangku yang masih kosong di pojok belakang. Mario pun lalu duduk dan meletakkan tasnya disana.


"Sendirian aja, bro." ledek Brian. Cavin tertawa melihat wajah sewot Mario.


"Lo boleh seneng hari ini. Coba aja ntar pas cewek di sebelah lo lagi PMS, mampus lo."


Mario makin sewot, Ratna dan Anjani teman sebangku Brian hanya tertawa. Tiba-tiba seorang guru masuk.


"Anak-anak, saya Ardiansyah Taher. Wali kelas kalian."


"Hmmpphh."


"Hmmpphh."


"Hmmpphh."


Mario, Brian, dan Cavin saling pandang dan kompak menahan tawa. Mereka teringat pada sosok artis di jaman mereka yakni Aldi Taher, yang belakangan banyak sekali tingkahnya di sosial media. Mulai dari mengatai artis lain, sampai menciptakan lagu yang nadanya itu-itu saja.


"Nissa Sabyaaan, Ai lop yu somat."


"Deddy Corbuzieeer, Ai lop yu somat."


"Hahaha."


Ketiganya bernyanyi lalu tertawa, tanpa sadar jika kini puluhan pasang mata melihat ke arah mereka. Bahkan guru tersebut pun memperhatikan mereka pula.


"Kalian nyanyi apa?. Siapa itu Nisa?. Deddy itu bukannya pesulap?"


Mario, Brian, dan Cavin diam sambil masih menahan tawa. Sang guru pun tampaknya tak ingin memperpanjang masalah.


"Kalian sudah dapat bangku kan?" tanya guru tersebut.


"Iya, pak." jawab seluruh siswa.


"Hari ini, kita tidak belajar dulu."


"Yeeeee."


"Horeee."


Seisi kelas bersorak kegirangan. Termasuk Mario, Brian, dan Cavin sendiri. Karena pelajaran yang paling mereka sukai adalah pelajaran yang dibatalkan.


"Belajar-mengajar akan dimulai besok, jadi sekarang kalian boleh pulang."


"Horeee."


Para siswa pun berhamburan.


"Eh mau langsung pulang apa gimana nih?" tanya Cavin pada Mario dan Brian, ketika mereka terlah keluar dari kelas.


Sementara kedua anak itu memandang siswa lain yang berlalu, sambil membawa dan memakan sebungkus mie instan. Mie tersebut dimakan didalam plastiknya.


"Apaan tuh mie Sakura?" tanya Mario memperhatikan.


Seumur-umur ia belum pernah memakan mie instan dengan merk tersebut. Jangankan merk tersebut, merk yang sangat terkenal saja jarang ia makan.


Bukan tak mampu membeli, tapi kedua kakaknya sangat bacot jika Mario memakan mie instan. Mereka beralasan jika mie instan tidaklah begitu sehat untuk dikonsumsi.


"Kayaknya enak, bro." ujar Brian sambil menelan ludah. Cavin pun turut memperhatikan.

__ADS_1


Detik berikutnya mereka berlarian menuju ke kantin. Ketiga anak itu mencari kesana kemari, dimana tempat yang menjual mie instan tersebut. Tak butuh waktu lama, mereka pun segera menemukannya.


"Bu, saya mau tiga." ujar Mario.


Ia memesan sekaligus untuk kedua temannya, agar dibuatkan sekalian. Pada saat menunggu mie tersebut diseduh, mereka bertiga duduk dan makan gorengan yang terdapat di meja-meja. Lalu muncul seorang siswa dan ia duduk disisi Mario, sementara beberapa siswa lainnya duduk disisi Cavin.


Mereka semua makan gorengan dengan lahap. Mario melihat persis, berapa gorengan yang dimakan oleh anak yang berada disebelahnya tersebut. Namun tak lama kemudian, anak itu beranjak.


"Bu, saya tiga."


Ia memberikan uang pada ibu kantin tersebut, berupa harga tiga buah gorengan. Tak lama siswa yang ada di sebelah Cavin pun, melakukan hal yang sama.


" Bu, saya makan empat."


"Ini mie nya."


Mario, Brian dan Cavin tersentak mendengar suara ibu kantin. Pasalnya mereka tengah fokus memperhatikan para siswa yang makan gorengan tadi.


Mario, Brian, dan Cavin lalu menerima mie tersebut kemudian membayar. Mereka makan sambil berjalan meninggalkan kantin.


"Anjrit itu bocah makan lima tau." ujar Mario sambil melahap mie sakuranya.


"Yang disamping gue juga sama." ujar Cavin.


"Dia bayar dua, padahal makan empat." lanjutnya lagi.


"Tadi gue bayar empat, padahal gue makan enam." ujar Brian.


Ia melengos sambil memakan mie instannya. Sementara Mario dan Cavin terpaku ditempat, dengan wajah terlolong bengong. Detik berikutnya mereka pun menyusul Brian.


"Eh, Bri. Dosa loh, Bri." ujar Mario menasehati Brian.


"Tau lo, lo kan jualan juga. Ntar karma aja lo." timpal Cavin.


Sementara Brian hanya tertawa-tawa, Mario dan Cavin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka bertiga pulang dengan berjalan kaki. Karena agaknya Ratna, Adril, dan Heru sudah duluan.


"Eh, nggak asik banget sih. Masa Adril sama Heru nggak sekelas sama kita." ujar Cavin disuatu jalan yang sepi.


"Awas aja sampe tuh geng caper gangguin Adril ataupun Heru, gue hajar." ujar Mario.


"Tuh bocah bener-bener dah." ujar Cavin.


"Kalau mereka hidup di jaman kita, udah abis tuh mereka." lanjutnya lagi.


"Untung sih lo yang juara kemaren, bro." Brian berujar pada Mario.


"Gue demen banget tuh liat mukanya si Martin, pas tau lo juara." timpal Cavin.


"Gue juga nggak nyangka sih. Tapi gue seneng, setidaknya kesombongannya sedikit ternodai." ujar Mario.


Mereka pun tertawa-tawa.


"Eh by the way ini mie instan enak juga." ujar Mario.


"Ho'oh, kurang gue." Cavin menimpali.


"Tau tadi, beli dua gue." lanjutnya lagi.


"Makanya makan gorengannya yang banyak sebelum makan ini mie. Biar mantep." ujar Brian sambil nyengir.


"Gorengan dosa tuh, Bri." gerutu Mario.


"Disumpahin ibu kantin, tau rasa loh." timpal Cavin. Namun tampaknya Brian tak peduli, ia malah makin tertawa-tawa.


"Eh, beneran pada mau pulang kerumah sekarang nih?" tanya Cavin.


"Emangnya mau kemana, Bambang?" tanya Mario. Ia habis membuang sampah bekas mie instannya, ke dalam tong sampah yang ada di pinggir jalan.


"Ngegame kek, kemana gitu?" ujar Cavin lagi.


"Kan dirumah lo, banyak." tukas Brian.

__ADS_1


"Nggak seru, serunya diluar rumah. Lagian udah sering juga kita main dirumah gue, bosen nggak sih?"


"Mau main apaan?" tanya Mario.


"Dingdong yuk?" Cavin nyengir.


"Yang di..."


Mario menunjuk ke suatu arah, namun dengan mata yang masih tertuju pada Cavin. Keduanya pun sama-sama nyengir bajing. Seakan ada kode khusus yang dibicarakan oleh mata mereka.


"Bilang aja lu berdua, mau liat istri bohaynya si pemilik warung minyak tanah kan?" ujar Brian menebak. Ia seakan mengetahui isi kepala kedua temannya itu.


"Iye, emang." ujar Mario dan Cavin serentak.


Detik berikutnya Brian pun ikut nyengir. Lalu mereka berlarian menuju tempat itu. Mereka bermain dingdong sampai puas.


***


Esok harinya, Cavin bangun pagi-pagi sekali. Ini hari pertamanya masuk sekolah di tahun kedua. Entah mengapa sejak mengetahui jika Ratna duduk bersamanya kemarin, semangat Cavin hari ini tampak berbeda dari biasanya. Ia jadi lebih antusias untuk berangkat kesekolah.


"Pagi, mi, pi."


Cavin menyapa kedua orang tuanya yang kebetulan telah siap dimeja makan. Namun ada pemandangan lain pagi itu, Cavin melihat Davin yang duduk dimeja makan, lengkap dengan setelan jas yang rapi.


"Mau kemana, Dave?. Rapi Ahmad, eh rapi amat." ujar Cavin seraya memperhatikan kakaknya.


"Hari ini, Davin mulai kerja di perusahaan papi." Ibunya memberi penjelasan. Ayahnya dan Davin hanya tersenyum.


"Seriusan?" ujar Cavin. Matanya masih menatap Davin tak percaya.


"Ganteng loh, dia." ujar Cavin kemudian.


Davin tampak tersedak, ia tersenyum lalu meminum air putih.


"Apa mami bilang, Vin. Adek kamu aja bilang kamu ganteng." Lagi-lagi Davin hanya tertawa.


Selang beberapa menit kemudian, Cavin menjemput Mario dan juga Brian. Mereka lalu berangkat ke sekolah bersama Adril, Heru, dan juga Ratna yang sudah menunggu di ujung jalan.


Ketika tiba disekolah.


"Braaakkk..."


Sebuah sapu dilemparkan ke hadapan Adril. Ia dan Heru yang baru masuk ke kelas tersebut pun terkejut. Pelaku pelemparan itu adalah Martin. Pemuda itu tampak tengah berdiri di dekat meja guru, dengan didampingi tiga personel F4 lainnya.


"Hari ini lo piket kelas." ujar Martin dengan nada sengak. Seolah dirinya adalah penguasa kelas itu.


"Eh, ini kan giliran elo." ujar Heru membela Adril. Ia tak suka melihat sikap Martin yang semena-mena.


"Lo nggak usah ikut-ikutan, yang gue suruh adalah Adril."


Martin kemudian berlalu meninggalkan kelas. Heru hendak menyusul dan memarahi Martin, namun Adril menghentikannya.


"Dril, lo nggak bisa diem gitu aja. Ini jadwalnya dia yang piket kelas. Model kayak Martin sama temen-temennya itu, makin lo diemin ya makin ngelunjak."


Adril diam.


"Gue kasih tau Mario dan yang lainnya."


Heru kembali bergerak, namun lagi-lagi Adril menghentikan Heru. Hingga Heru pun terpaksa menyerah dengan, kedongkolan hati yang memuncak.


Sementara dikelasnya, Cavin mulai bercanda dan berbincang dengan Ratna. Begitupula dengan Brian dan juga Anjani. Mereka malah terlihat makan coklat payung berdua, sambil membicarakan grup musik Westlife yang Brian sendiri pun tak begitu mengerti.


Di pojok kelas, Mario hanya merebahkan kepalanya diatas meja. Ia tidak tahu apa yang harus di lakukan. Semua siswa tampak berbincang dengan teman sebangku masing-masing, sementara dirinya hanya duduk sendiri. Tak lama kemudian wali kelasnya masuk.


"Anak-anak, ini ada satu lagi teman kalian. Namanya Michael."


Mario terkejut dan mengangkat kepalanya, ia tak menyangka jika Michael akan sekelas dengannya. kemarin ia tak melihat Michael pada saat pembagian kelas, pun namanya tak ada didalam daftar. Kini Michael melangkah menuju ke arah satu-satunya bangku yang masih kosong, yakni disebelah Mario. Mario pun tampak antusias, ini merupakan kejutan baginya. Sekelas dengan kakak sendiri.


"Braaakk." Michael meletakkan tasnya ke atas meja, lalu duduk disisi Mario.


"Koq lo bisa masuk kesini?" tanya Mario kemudian.

__ADS_1


Seperti biasa Michael tak banyak bicara, bahkan ia tak menjawab sama sekali. Mario sudah terbiasa dengan sikap es batu kakaknya itu, ia hanya tersenyum lalu mengeluarkan buku serta pulpen. Ketika akhirnya guru pelajaran pertama masuk ke kelas mereka, mereka pun belajar dengan tertib.


__ADS_2