
Brian berdiri di muka Mario serta Cavin pada beberapa hari kemudian. Ia telah diperbolehkan untuk kembali ke sekolah, dengan pendampingan psikiater yang masih terus berjalan.
Orang tua lintas jamannya masih takut, jika Brian akan melakukan hal yang sama. Yakni mencoba bunuh diri kembali.
"Udah sehat, bro?" tanya Mario dengan ekspresi wajah gembira.
"Ya, seperti yang lo liat." jawab Brian.
"Awas lo, bunuh diri lagi." ancam Cavin.
"Iya kagak, tenang aja." ujarnya kemudian.
"Pokoknya gue sama Mario akan terus mengawasi gerak-gerik lo." ujar Cavin.
"Iya." jawab Brian lagi.
Tiba-tiba Mario seperti menggeledah tubuh Brian.
"Lu ngapain *****-***** gue, bangsat?. Emang eke apaan cin?"
Brian seakan menyelipkan rambut gaibnya di telinga dan bertingkah seolah ia adalah sejenis mbak Luna.
"Kali aja lo diem-diem bawa senjata tajam, buat melukai diri saat gue sama Cav lagi lengah."
"Betul." Cavin menyetujui. Ia lalu membantu Mario menggeledah tas Brian.
"Kagak, elah nggak percayaan banget jadi orang. Gue bilang kagak ya kagak."
Cavin dan Mario tak peduli dan terus menggeledah.
"Nih sekalian mau periksa di anu gue nggak, kali aja gue simpan disini." ujarnya sewot.
"Sini, buka resleting lo." Cavin bercanda.
Brian lalu menendang kaki temannya itu. Sesaat kemudian mereka pun sama-sama tertawa. Ketiganya lalu berjalan menuju ke sekolah.
"Bro, bareng." Tiba-tiba Heru muncul dengan berjalan kaki.
"Sepeda lo mana, Her?" tanya Mario.
"Rusak, lagi dibenerin." jawabnya kemudian.
"Ratna sama Adril?" tanya Brian. Mario agak berdetak ketika mendengar nama Adril.
"Udah pergi mereka." jawab Heru.
"Lah, Ratna nggak ngeboncengin elo?" tanya Cavin.
"Orang dia boncengan sama Adril, sepeda Adril kan rusak juga. Di rusak orang di samping rumahnya."
"Di rusak siapa?" tanya Mario.
"Nggak tau deh, ulah siapa." jawab Heru lagi.
__ADS_1
Mendadak Mario dan Cavin saling pandang. Mereka sama-sama kepikiran pada Martin. Namun keduanya tak membahas hal tersebut dan memilih melanjutkan langkah.
"Lo udah sehat?" tanya Heru pada Brian.
"Udah." jawab Brian.
***
Mario dan Cavin kembali menemui Martin saat jam istirahat tiba. Kali ini mereka sudah di dampingi oleh Brian.
"Heh, curut. Lo apain sepedanya Adril?" tanya Mario sambil menatap tajam ke mata Martin.
"Gue apain?. Emang kenapa dengan sepeda bututnya itu?" Martin balik bertanya, diikuti tawa mengejek dari para anggota gengnya.
"Nggak usah pura-pura deh lo, gue tau ini kerjaan lo lagi. Biar si Adril ngira kalau itu adalah perbuatan Mario lagi."
Cavin kini mulai bersuara. Sementara Brian melihat, mendengar, dan mencoba mencerna serta mengartikan permasalahan yang tengah terjadi.
"Lo nggak usah nuduh gue macem-macem." ujar Martin.
"Siapa lagi kalau bukan elo pelakunya." Mario kembali mencecar musuhnya itu.
"Emangnya disitu ada kamera, yang bisa memastikan kalau itu semua adalah salah gue?" Kali ini Martin berbicara dengan serius.
"Jangan apa-apa yang terjadi sama dia, lo kait-kaitkan sama gue." lanjutnya lagi.
"Tempo hari aja lo ngurung dia di gudang sampai pingsan." ujar Mario.
"Brengsek lo, bangsat." ujar Brian sambil menahan emosi.
"Telat emosi lo." ujar Martin dengan nada yang sangat mengesalkan.
"Nggak terlalu telat koq, karena pasti elo juga yang ngerusakin sepedanya dia." ucap Mario.
"Eh, Mario. Gue tegaskan ya sama lo. Gue nggak ada ngerusak sepeda dia. Tempo hari gue memang mengurung dia di gudang, tapi soal ini gue nggak tahu menahu."
Martin kemudian berlalu dengan menabrakkan bahunya ke bahu Mario dengan sengaja. Tak lama kemudian teman satu gengnya pun menyusul.
"Ini sebenarnya ada apa sih?" tanya Brian heran. Ia ingin mengetahui permasalahan yang sesungguhnya telah terjadi.
"Jadi, Mario tuh udah tau kalau Adril pengen jadi kandidat di olimpiade nanti." ujar Cavin.
Brian kini memperhatikan Mario. Sedang Mario menarik nafas panjang sambil melempar pandangan jauh ke depan.
"Terus?" tanya Brian lagi.
"Nah si kecoa Martin pengen lebih memecah hubungan antara Mario dan juga Adril. Dia nyuruh orang buat manggil Adril, dibilangnya kalau Adril itu lagi di cari sama Mario."
"Terus?"
"Ya, si Adril percaya kalau gue yang manggil. Dateng lah dia, ternyata di kunciin sama si bangsat." ujar Mario.
"Terus Adril percaya itu perbuatan lo?" tanya Brian lagi.
__ADS_1
"Ya gimana, namanya juga bocil."
"Makanya gue sama Mario langsung cegat Martin pas balik sekolah. Dan ternyata bener kalau itu perbuatan dia." lanjut Cavin.
"Ngadi-ngadi emang tuh bocah ya." Brian makin kesal.
"Makanya ini gue curiga perbuatan dia lagi. Tapi tadi dia ngomong kayak meyakinkan banget." ujar Mario.
"Apa ada orang lain, yang nggak suka sama Adril?" tanya Cavin pada Mario dan juga Brian.
Ketiganya lalu sama-sama terdiam.
"Kayaknya nggak mungkin deh, Cav. Pendiem gitu, masa iya banyak yang nggak suka. Kecuali yang sok dan pecicilan kayak Martin." ujar Mario.
"Eh jangan salah." Brian menimpali.
"Lo liat nggak kalau jaman ini semua serba terbalik. Martin yang kayak sapu ijuk gitu, kelakuan kayak sampah, di puja-puji sama seisi sekolah. Sedangkan Adril yang pendiem, pinter, nggak ada yang menganggap." lanjutnya lagi.
"Iya juga sih." ujar Cavin.
"Kali aja banyak yang nggak suka sama Adril, cuma kita nggak tau aja." lanjut remaja itu.
"Hhhhh." Mario menghela nafas panjang.
"Siapa ya kira-kira?" tanya nya kemudian.
Ketiganya kembali diam dan berpikir. Tak lama bel tanda masuk pun di bunyikan. Mereka lalu berjalan menuju kelas, tanpa menemukan jawaban dari apa yang mereka tengah pikirkan.
***
Di lain pihak Davin tengah berjalan terburu-buru, sambil melirik arloji. Ia datang agak sedikit terlambat hari ini. Sementara dari arah lain, Anindya buru-buru ingin menuju ke ruangan lain yang sama sekali belum dibersihkan.
"Buuuk." Ia dan Davin saling bertabrakan.
Tubuh Anindya yang kurus mungil itu, kini oleng dan nyaris terjatuh. Beruntung Davin yang tinggi kekar berhasil menangkap tubuhnya agar tak jadi terjatuh.
Lalu hening pun menyeruak, seketika angin seolah berhembus. Anindya Terdiam menatap Davin dan begitupun sebaliknya.
"Mmm, pak. Bisa tolong bantu saya berdiri." ujar Anindya kemudian.
"Eh, ok. Sorry."
Davin membantunya untuk berdiri dan kini mereka pun sama-sama salah tingkah.
"Maaf ya pak." ujar Anindya.
"It's ok." jawab Davin.
Pemuda itu hendak melangkah, namun Anindya juga bergerak ke arah yang sama. Keduanya lalu tertawa dan Davin mengambil langkah lain, namun lagi-lagi sama dengan langkah Anindya.
"Ya udah deh, bapak duluan." Anindya berhenti bergerak.
"Thanks ya." ujar Davin lalu melangkah dan menuju lift. Tak lama Anindya pun lanjut menuju tempat yang hendak ia tuju.
__ADS_1