Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Berkelahi


__ADS_3

Mario dan Cavin menghadang Martin di kompleks perumahan tempat dimana mereka tinggal. Diketahui jika Martin tinggal di kawasan yang sama dengan mereka berdua, hanya berbeda blok saja.


"Mau apa lo?" tanya Martin pada keduanya.


Terlihat jelas Martin yang sok jagoan disekolah, agak sedikit merasa takut ketika sendirian. Sebab tak ada satu anggota geng pun di samping pemuda itu.


"Lo kenapa memfitnah Mario?"


Cavin yang emosi mendekat lalu mendorong bahu Martin.


"Heh, biasa aja dong lo."


Martin balas mendorong bahu Cavin dengan kasar.


"Elo yang biasa aja, songong banget lo jadi bocah."


Mario ikut mendorong anak itu.


"Brengsek lo ya."


Martin hendak memukul Mario, namun Mario memukulnya terlebih dahulu. Perkelahian pun tak dapat dihindari. Cavin membantu Mario menghajar Martin.


"Martin."


"Mario."


"Cavin."


Ayah Martin sang ketua RW tiba-tiba muncul beserta Deddy dan juga Davin. Ayah Martin tengah melintas kebetulan, sedang Deddy memang pulang cepat dari kantor. Davin sendiri sengaja pulang sejenak, untuk mengambil sesuatu yang ia tinggalkan di rumah.


"Brengsek tau nggak lo. Kalau lo berani, lawan gue. Nggak usah licik cara lo."


Mario masih berteriak pada Martin. Deddy yang tinggi besar dan berotot kekar segera menjauhkan anaknya. Sedang Davin menarik Cavin secara paksa. Martin sendiri di intimidasi oleh ayahnya dan tampak anak itu tak berani.


"Ada apa ini?"


Deddy bertanya pada Mario, ketika akhirnya ia berhasil membawa anak itu pulang ke rumah. Sedang Cavin telah dibawa oleh Davin. Martin sendiri sudah kembali ke rumahnya.


"Jawab daddy, Mario!"


"Dia fitnah Mario, dad. Dia jebak Adril, bilang ke Adril kalau Mario panggil Adril dan suruh dia ke gudang. Disana Adril di kunciin sama Martin dan teman-temannya sampai pingsan. Sekarang Adril marah sama Mario dan mengira kalau itu memang perbuatan Mario."


Deddy menghela nafas, ia tidak tahu jika kejadiannya seperti itu. Ia kira Mario hanya sok jago menantang Martin untuk berkelahi. Namun mendengar penjelasan Mario barusan, ia rasa wajar saja jika Mario sampai marah seperti itu.

__ADS_1


"Ya sudah sana ganti baju, abis itu kamu makan."


Deddy meninggalkan Mario untuk menuju ke kamar. Sejatinya pria itu sudah memaafkan Mario saat itu juga, sebab anaknya tengah membela diri. Namun ia sengaja tak bersikap begitu ramah, supaya Mario juga sadar bahwa ia tak boleh menyelesaikan segala sesuatu dengan cara yang barbar.


Karena saat ini dirinya sedang hendak mewakili sekolah dalam ajang olimpiade. Mario harus benar-benar bisa menahan diri terlebih dahulu, supaya tidak terlibat kasus yang membuat namanya menjadi buruk.


Deddy tak masalah jika Mario hendak berkelahi. Tapi Mario juga harus paham tentang situasi dan kondisi. Juga sebab-akibat yang akan ditimbulkan nantinya.


***


"Kenapa sih, Cav?. Kapan kamu akan sadar, bahwa menyelesaikan suatu masalah itu tidak harus dengan berkelahi?"


Cavin menarik nafas panjang dan membuang pandangannya ke suatu sudut. Sebab Davin kini menatapnya dengan tajam.


"Udalah, Dave. Cav nggak mau berdebat. Ini urusan Cav, Mario, sama Martin." lanjutnya kemudian.


"Iya, tapi nggak harus dengan cara berantem kan?. Untuk menyelesaikan masalah yang terjadi."


Kali ini Cavin menatap sang kakak.


"Dave, lo nggak tau Martin itu kayak apa. Dia itu licik dan brengsek. Di umur segitu udah brengsek, gimana gedenya nanti coba?"


"Kamu seumuran dengan dia, Cav."


"Kamu juga menyelesaikan masalah dengan berkelahi. Di umur segini aja kamu doyan berkelahi, gimana udah dewasa nanti?"


Davin mengembalikan ucapan Cavin tadi.


"Tapi dia fitnah Mario sampai Cav berantem sama Mario." Cavin bersikukuh enggan di salahkan oleh Davin.


"Iya tapi kan..."


"Mario itu teman Cav."


Cavin menjawab perkataan Davin, sebelum kakaknya itu berhasil melanjutkan kata-kata.


"Apapun yang terjadi sama Mario atau Brian, Cav nggak akan tinggal diam."


Cavin memberanikan diri menatap kembali mata kakaknya itu, lalu ia berlalu menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.


***


"Brian, sampai hari ini kamu belum cerita apapun ke papi sama mami. Apa yang menjadi penyebab kamu mau bunuh diri?"

__ADS_1


Ayah lintas jaman Brian kembali mempertanyakan hal tersebut pada Brian. Setelah beberapa kali ia mencoba mengorek keterangan dari anak itu, namun tak pernah berhasil.


"Brian, cuma lagi nggak mikir panjang aja pi, mi."


Brian berkata demikian. Sebab ia tak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya.


"Iya, tapi pasti ada alasan yang melatarbelakanginya kan?"


Kali ini ibu lintas jaman Brian ikut menimpali, perempuan itu masih tampak emosional dan nyaris menangis. Ia sangat takut kehilangan Brian, dan hal tersebut membuat Brian merasa begitu bersalah.


"Apa mami dan papi kurang memenuhi kebutuhan kamu?" tanya ibunya seraya menatap Brian.


"Atau karena kami tidak punya waktu banyak untuk kamu?" lanjut wanita itu lagi.


Brian tetap bungkam.


"Kita harus membicarakan hal ini secara baik-baik, Brian. Kita ini keluarga."


Kata-kata ayah lintas jamannya itu berhasil membuat seluruh tubuh Brian seakan membeku. Ia merasa telah benar-benar jahat pada keluarganya itu.


"Papi sama mami cuma punya kamu. Tolong sampaikan sama kami, kalau ada perkataan atau perbuatan kami yang membuat kamu marah."


"Benar kata mami kamu, Brian. Sampaikan semuanya pada kami, kami akan coba perbaiki. Jangan sekali-kali kamu melakukan tindakan bodoh seperti ini lagi."


Brian menunduk dalam.


"Iya, pi. Brian janji." jawabnya kemudian.


Ayah lintas jamannya memeluk Brian, lalu di susul sang ibu. Mereka bertiga sama-sama memejamkan mata dan coba memberikan kehangatan terhadap satu sama lain.


***


Di rumah Martin.


"Papi harus buat perhitungan sama si pak Deddy dan kedua orang tuanya Cavin, pi. Ini sudah keterlaluan."


Ibu dari martin terlihat sangat berapi-api. Ia marah mendengar Martin mendapat pukulan, oleh anak sesama warga komplek perumahannya tersebut.


"Dari waktu itu sudah sok jagoan sekali si Mario dan Cavin itu. Lama-lama ngelunjak mereka." ujar ibu Martin lagi.


Tampak disini ia sangat membela Martin, walau apapun yang terjadi. Sikap kedua orang tua Martin itulah, yang sejatinya membuat Martin tumbuh menjadi anak yang egois dan tak bertanggungjawab atas apapun yang telah ia perbuat.


Kedua orang tuanya terutama sang ibu, selalu memaklumi tingkah Martin sedari kecil. Ia tak pernah memberitahu atau memarahi Martin, sekalipun anaknya itu terbukti berbuat salah.

__ADS_1


Sedari kecil Martin selalu merasa semua tindakannya adalah benar. Sebab sang ibu yang selalu berada di garda terdepan untuk membelanya mati-matian.


__ADS_2