Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Ujian


__ADS_3

"Haaah?"


"Kita mau ujian?"


Mario terburu-buru menyusul Ratna yang tengah berjalan, sambil melontarkan pertanyaan.


"Iya, Mario. Lusa kita ujian kenaikan kelas. Masa iya lo lupa?. Jangan bilang ini perkara penyakit mental dan penyakit otak lo itu?"


Ratna mempercepat langkah, Mario setengah berlarian menyusulnya.


"Emangnya kita udah semester berapa?. perasaan belum lama gue masuk ke jaman ini."


Kali ini Ratna menghentikan langkah dan menatap Mario.


"Lo dari lahir udah disini, dan setiap jaman kita lewatin bareng. Lo ada di jaman ini udah lama, dari kita lahir."


Mario seketika menyadari ucapannya yang keliru. Ratna tidak tahu jika ia berasal dari masa depan. Di jaman ini otak Ratna mungkin disetting bahwa ia mengenal Mario sedari kecil. Ratna kembali melanjutkan langkah.


"Bukan itu, Rat. Maksud gue, koq udah semester dua aja. Kita itu kayak baru kemaren masuk SMP."


"Mario, semester itu apa?" Kali ini Ratna yang bertanya. Mario terlolong bengong persis sapi ompong.


"Ini anak kagak ngerti semester?" gumamnya dalam hati.


"Itu loh Rat, jangka waktu selama 6 bulan untuk ujian dan 6 bulan berikutnya untuk ujian kenaikan kelas."


"Maksud lo?" Ratna tak mengerti.


"Ya kita bagi raport dua kali kan?"


"Tuh kan penyakit kamu, masa lupa lagi?. Kita bagi raport tiga kali, Mario."


"Tiga kali?" tanya Mario tak percaya.


"Iya kan catur wulan ada 3. Jadi kita ujian dan bagi raport itu 3 kali."


Mario tak mengerti, karena dijamannya menggunakan sistem semester. Dimana ujian per tahun diadakan dalam dua semester.


"Jadi kita itu bagi raportnya tiga kali?"


"Mario, dari pada lo nanya mulu, mending lo belajar deh. Emang lo udah siap ngadepin ujian nya?"


Kali ini Mario terpaku ditempatnya, sementara Ratna melanjutkan perjalanan menyusuri koridor sekolah.


***


"Apa?. Ujian?"


Brian dan Cavin berujar, dengan ekspresi yang seolah tak percaya sekaligus kaget. Ketika Mario akhirnya mengatakan perihal ujian kenaikan kelas, yang tadi didapatnya dari Ratna.


"Iya, ujian kenaikan kelas."


Brian berusaha menelan makanan yang kini ia makan. Mendadak tenggorokannya menjadi serat pasca mendengar berita tersebut. Sementara Cavin terlihat minum beberapa kali, untuk menetralkan perasaannya yang terlanjur tegang.


"Gue pikir, karena ini jaman belum pasti beneran atau cuma mimpi, Nggak ada yang begitu-begituan. Ternyata ada."


"Ya berarti ini alam nyata." ujar Cavin kemudian.


"Berarti kita benar-benar terjebak di jaman ini."


lanjutnya lagi.


"Mau beneran atau nggak, kita nggak bisa mengelak dari jeratan tugas di jaman ini. Kita udah terlanjur masuk kesini."


Mario memberikan pendapat yang agaknya disetujui baik oleh Brian maupun Cavin. Kedua remaja tersebut mengangguk-anggukan kepala, meski masih terlihat syok.


"Bisa nggak ya, kita ngisi asal-asalan tapi hasilnya bagus. Siapa tau jaman ini disetting supaya kita juara kelas, walaupun kita ngasal-ngasal."


"Iya, kalau beneran kayak gitu. Lah kalau kagak?" ujar Mario.


"Udah ngisi ngasal, nilai kita jeblok. Balik kerumah digebukin lagi sama orang tua lintas jaman kita. Mau lo pada?" tanya Mario kemudian.


"Iya juga sih." ujar Cavin. Brian kini terlihat sedang berfikir.


"Jalan satu-satunya ya, kita harus belajar." ujar Mario lagi.

__ADS_1


"Ya mau gimana lagi, nggak ada solusi lain." timpal Cavin.


"Ya udalah pake SKS aja, sistem Kebut sehari. Udah mepet juga kan waktunya." tukas Brian.


"Iya, mana sempet lagi kita belajar banyak. Satu-satunya jalan ya SKS."


Mario menyetujui ucapan Brian. Mereka pun lalu terdiam untuk waktu yang cukup lama.


***


"Mario."


Deddy memanggil Mario, ketika dirinya tengah menjemur pakaian di halaman belakang rumah. Hari ini ia agak terlambat mencuci pakaian, karena sibuk membeli buku bersama Brian dan juga Cavin.


Hal yang tak pernah ia lakukan di jamannya, mengingat sudah ada YouTube dan Google yang lebih praktis untuk belajar. Pun ada platform seperti ruang guru dan lain-lain.


"Iya dad, ada apa?"


Mario buru-buru kedalam rumah dan menghampiri Deddy, yang baru saja pulang kerja tersebut. Hari ini ia tidak pulang malam.


"Kamu itu udah didaftarin kumon, kenapa nggak dateng pas jadwalnya kamu?"


"Kumon?. Kumon apaan anjay?" gumamnya kemudian.


"Mario?"


"Mmm, anu dad. Itu...."


"Lupa kan kamu pasti."


Mario tak tau harus menjawab apa. Ia sendiri tak mengerti dengan apa yang tengah dibicarakan oleh Deddy.


"Nih minum dulu...!"


Deddy memberikannya obat, Mario menurut saja dan meminum obat tersebut. Sudah tak terhitung jumlahnya, berapa banyak obat yang telah ia minum semenjak masuk ke jaman ini.


Mario tak peduli, toh obat tersebut tak memberikan reaksi apa-apa terhadapnya. Pun tak ada pula efek samping yang ia alami.


"Kumon apaan sih?"


"Lu berdua disuruh kumon juga?" tanya Mario seraya memperhatikan kedua temannya itu. Tampak mereka juga sama membawa tas seperti Mario.


"Lu sendiri, sama?" tanya Cavin.


"Ya sama, tiba-tiba gue disuruh berangkat. Dikasih tas isinya buku. Mang kumon apaan sih?" tanya Mario.


"Disuruh ngelawak kita?. Abdel dan Kumon gitu?" lanjutnya lagi.


"Mana gue tau." ujar Cavin sewot.


"Lu tau, Bri?" tanya Cavin pada Brian.


"Lu lagi nanya ke gue. Gue aja lagi enak tidur siang dibangunin, disuruh kumon. Kumon itu apaan, gue juga kagak ngerti."


"Ayo, buruan. Masuk...!"


Davin menghampiri mereka bertiga dengan sebuah mobil.


"Kita dianterin nih sama Jota sub Zero?" tanya Mario sambil tertawa.


"Davin..." ujar Cavin sewot.


"Mirip Jota, ege." ujar Mario lagi.


"Yang ini kagak bisa Judo, bisanya karate." jawab Cavin.


"Tapi karate juga dia jago, ketimbang elu." Brian menimpali.


"Ngomongin apaan sih?" Kali ini Davin bersuara.


"Ah nggak koq. Hehehe..."


Brian dan Mario menjawab diwaktu yang nyaris bersamaan. Sementara Cavin hanya tertawa kecil.


Mobil pun mulai merayap meninggalkan kompleks perumahan. Disepanjang perjalanan, Mario, Brian, dan Cavin terus bertanya-tanya. Apa sebenarnya kumon itu dan mau dibawa kemana mereka kini. Apa yang harus mereka lakukan jika sudah tiba di lokasi nanti.

__ADS_1


"Nih udah sampe."


Davin menghentikan kendaraan tepat disebuah gedung dengan tulisan, "Kumon". Lengkap dengan emotikon senyum pada bagian O nya. Mario, Brian, dan Cavin pun keluar, seraya memperhatikan gedung tersebut.


"Gue sih pernah liat ini." ujar Mario masih terperangah.


"Gue pikir ini lembaga perkembang-biakan bakteri." lanjutnya lagi.


"Bisa jadi iya sih." ujar Cavin menimpali.


"Kalau gue mikirnya ini tuh sekte."


Brian mengemukakan pendapat, yang membuat suasana seketika menjadi horor.


"Udah buruan masuk, kenapa masih bengong?".


Davin menongolkan kepalanya dari kaca mobil.


"Aku kasih tau papi kalau nggak masuk."


Mereka bertiga pun akhirnya melangkah masuk meski penuh keraguan.


"Oh, jadi ini tuh lembaga kursus?"


Mereka baru mengetahui apa itu kumon setelah masuk kedalam. Mereka juga menemukan banyak siswa sekolah yang masih memakai seragam, keluar dari lembaga itu sambil membicarakan pelajaran.


"Hhhhh."


Ketiganya lalu bernafas lega.


"Gue udah mikir kalau ini tuh sekte sesat." ujar Brian.


Mario dan Cavin pun berusaha mengambil nafas panjang. Pikiran mereka sudah kemana-mana, sama halnya dengan pikiran Brian.


"Seumur-umur gua kagak tau kalau ini tempat kursus, abis namanya aneh. Gue pikir bakteri komponen minuman probiotik."


"Lo berdua nggak pernah kursus ditempat ini waktu kecil. Kan lo berdua anak orang kaya." tanya Cavin.


"Mana pernah gue kursus apa-apaan. Guru kursus gue noh, Michael. Tiap hari gue diajarin sambil dipukul pake penggaris, kalau nggak bisa." ujar Mario.


"Gue juga nggak pernah kursus, bapak gue aja lebih galak dari guru manapun. Tinggal dia satpamin gue, sambil bawa rotan ye kan. Belajar dah gue." ujar Brian kemudian.


"Tunggu-tunggu...!"


Cavin memperhatikan banner yang ada didalam lobi.


"Disini tertera programnya ada tiga. Bahasa ibu, Bahasa asing dan matematika. Serius programnya cuma ini?"


Cavin menatap Mario dan juga Brian.


"Jangan bilang kalau kita les...?"


"Matematika."


Yah, memang begitulah adanya. Tak lama kemudian mereka pun sudah ada di kelas matematika. Mario, Brian, dan Cavin tampak menguap beberapa kali karena bosan melihat angka.


Namun mereka juga tak bisa kemana-mana, karena takut kalau Davin masih menunggu didepan. Akhirnya mereka berpasrah saja pada keadaan tersebut.


Beberapa waktu berlalu, mereka pun akhirnya keluar dari kelas yang membosankan itu. Penuh antusias mereka mendekati mobil Davin yang masih menunggu mereka.


"Buruan...!" ujar Davin.


"Ngapain sih buru-buru banget?" tanya Cavin heran.


"Nggak bisa apa, beli cilok dulu?" lanjutnya lagi.


"Cav, bentar lagi kalian bertiga masuk."


"Kemana?"


Cavin, Mario, dan Brian mengerutkan kening tanda heran.


"Kalian kan masih ada les lagi di Primigimi."


"Haaah?"

__ADS_1


__ADS_2