
Siang itu Mario mencuci dan menjemur pakaian di belakang. Sejak masuk ke jaman ini, ia mendadak jadi bisa mencuci pakaian sendiri meski dengan menggunakan mesin.
Deddy membiasakan dirinya untuk mandiri dan bertanggung jawab atas apapun itu. Termasuk pada pakaian dan kebersihan kamar tidur.
"Kamu rajin juga ya ternyata."
Terdengar suara dari sebelah, dan itu adalah suara ibu Mario. Seketika Mario pun menoleh dengan jantung yang berdegup kencang.
"Mama." ucapnya kemudian.
"Mau mama bantuin jemurnya?" tanya sang ibu dengan nada ramah.
"Ja, jangan ma. Mario malu, ada underware soalnya."
"Oh, ok." Ibunya menjawab sambil tersenyum, sementara Mario lanjut menjemur.
"Kamu sudah makan?" tanya ibunya lagi.
"Belum." jawab Mario.
"Masih bingung mau makan apa." lanjutnya kemudian.
Ibunya lalu masuk ke dalam rumah, tak lama wanita itu keluar.
"Nih Mario, buat makan siang."
Sang ibu memberikan pada Mario semangkuk masakan. Mario tidak tau itu apa."
"Makasih ma." ujarnya kemudian.
"Ini ayam suir bumbu kuning, semoga kamu suka."
"Pasti suka koq ma."
Mario tersenyum sambil berusaha menahan perasaan haru. Ia selalu terharu pada apapun yang berhubungan dengan orang tuanya, terutama sang ibu.
"Ya udah makan gih, udah selesai kan jemur pakaiannya?"
Mario mengangguk.
"Tapi ada nasi kan?" tanya ibunya kemudian.
"Ada koq ma." jawab Mario.
"Ya udah sana, makan. Nggak baik menunda makan, nanti kamu bisa kena sakit maag."
"Iya ma."
Mario kemudian masuk ke dalam sambil membawa masakan tersebut. Tak lama remaja itu pun sudah terlihat di meja makan.
Mario makan dengan lahap. Setiap kesempatan dalam merasakan pemberian ibunya, tak pernah ia lewatkan begitu saja. Mario benar-benar ingin memanfaatkan jaman ini, sebagai momentum untuk membangun kenangan bersama orang tuanya.
Sebab dunia begitu kejam, telah membuat dirinya kehilangan sang ibu. Ia juga tak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sejak kecil.
"Mario sudah makan?"
Tiba-tiba Deddy mengirim SMS pada Mario.
"Ini lagi makan, dad." jawab Mario.
"Makan apa kamu?" tanya Deddy lagi.
"Ada ayam di kasih mamanya Michael."
__ADS_1
"Oh, kirain daddy kamu masak."
"Hehehe, nggak. Tadi tuh malah mikir mau makan mie instan pake nasi. Eh dikasih sama tetangga."
"Ya udah, daddy cuma mau memastikan kalau kamu baik-baik aja."
"Iya dad, daddy makan juga dong."
"Udah barusan." jawab Deddy.
"Daddy pulang malem?"
"Nggak terlalu, baik-baik di rumah."
"Ok, dad."
Deddy pun menyudahi SMS nya kepada sang anak, sementara Mario lanjut makan.
***
Waktu berlalu.
Davin tengah memilah-milah bunga di salah satu toko florist sore itu. Secara tak sengaja ia bertabrakan bahu dengan seseorang.
"Pak Davin?"
"Hey, Anin. Kamu ngapain disini?" tanya Davin pada Anindya.
"Di hari-hari tertentu, saya juga bantuin kerja disini pak." jawab Anindya kemudian.
"Wah kamu bener-bener pekerja keras ya Nin, dimana-mana ada kamu." ujar Davin, diikuti tawa Anindya.
"Bapak bisa aja, namanya juga orang susah pak. Kalau nggak berusaha, nggak ada duit datang sendiri."
Davin tertawa mendengar pernyataan tersebut. Tapi meski begitu ia sangat salut pada jiwa pekerja keras yang dimiliki Anindya.
"Hehehe, iya pak. Oh ya pak, bapak beli bunga buat siapa?. Buat pacarnya ya?" tanya Anin sok tau.
"Nggak, bukan. Mami minta beliin, buat ganti bunga-bunga yang ada di rumah. Udah pada layu. Mami suka banget sama mawar."
"Oh gitu, kirain buat pacarnya pak Davin."
"Saya nggak punya pacar koq." ujar Davin.
Entah mengapa Anindya begitu senang mendengar hal tersebut. Ingin rasanya ia berjingkrak-jingkrak karena kegirangan, namun dirinya malu untuk melakukan. Takut dikira aneh oleh Davin.
"Oh ya Nin, disini sampai jam berapa?" tanya Davin pada Anindya.
"Ya sampai toko tutup pak, jam 10 malam nanti."
"Oh, bisa keluar bentar nggak kamu?"
"Kenapa emangnya pak?"
"Mm, kita minum yuk di kafe seberang."
Davin menunjuk sebuah tempat ngopi yang ada di seberang toko bunga. Anindya sebenarnya sangat ingin pergi kesana bersama pria itu, namun ia takut dimarahi oleh bosnya.
"Lain kali deh pak, kalau saya lagi nggak kerja di mana-mana. Nggak enak saya sama yang lain."
Anindya melirik pada sesama karyawan ditempat itu.
"Ok deh, tapi janji ya lain kali mau." ujar Davin.
__ADS_1
"Ok pak." jawab Anindya seraya tersenyum.
"Oh ya bapak jadi mau beli bunga nya?" tanya Anindya.
"Oh iya, sampe lupa." jawab Davin seraya tertawa. Tak lama pria itu kembali memilih bunga, dan setelah dapat ia pun langsung membayar.
***
"Itu muka kamu kenapa Mario?"
Deddy bertanya pada Mario, setelah melihat ada tanda lebam di area sekitar hidung, pipi dan mata Mario.
Sejak kepulangan pria berbadan kekar itu, Mario lebih memilih berdiam diri di kamar. Kalaupun harus keluar, ia pasti berusaha sedikit berpaling. Agar tak ketahuan jika ia terkena lemparan bola basket oleh Martin di sekolah tadi.
"I, ini."
"Kenapa, berantem?" tanya Deddy curiga.
"Tadi main basket, dad. Temen nggak sengaja ngelempar dan kena." Mario berkilah.
Deddy memperhatikan Mario lebih dalam. Ia mengamati lebam tersebut secara seksama.
"Lain kali hati-hati, bisa patah loh hidung kamu kalau nggak bener."
"I, iya dad." jawab Mario.
"Ya sudah, mau makan apa kamu?. Nanti daddy beli, sekalian daddy mau beli pulsa keluar."
"Daddy mau ke depan?"
"Iya naik motor, mau ikut?"
"Mau."
Tak lama Mario dan ayah lintas jamannya itu, sudah terlihat meninggalkan rumah dengan menaiki sepeda motor. Keduanya tampak mengobrol sambil bercanda.
Mereka mampir di sebuah counter handphone untuk membeli pulsa. Tak lama mereka pun berkeliling untuk mencari makan malam.
"Yah dad, gerimis." ujar Mario pada Deddy.
Memang saat itu tiba-tiba saja gerimis. Cuaca sebelumnya memang tak terlalu cerah, dan cenderung sedikit mendung. Namun mereka berdua tak pernah berekspektasi jika akan turun hujan secepat itu.
"Kita mampir di depan situ ya." ujar Deddy.
"Ok, sebelum deras." timpal Mario.
Deddy memberhentikan motornya tepat di sebuah warung tenda, ternyata warung tersebut adalah warkop.
"Yah, daddy kira tadi jual soto ayam." ujar Deddy menyayangkan.
"Nggak apa-apa dad, kita mampir sini aja dulu. Soalnya udah mulai deras juga ini gerimisnya."
"Ya udah, nanti kalau reda kita keliling lagi."
Mario mengangguk, tak lama mereka pun masuk ke dalam warkop tersebut. Deddy memesan kopi, sedang Mario memesan mie rebus dan segelas es teh manis.
"Dingin minum es kamu, Mario."
"Nggak apa-apa dad, kan mie rebusnya anget. Seanget hati Mario kalau di dekat Daddy."
Deddy melirik remaja itu dengan tatapan julid, lalu menoyor kepalanya. Mario pun jadi tertawa-tawa, lalu...
"Uhuk, uhuk." Ia tersedak kuah mie yang ia hirup, namun ia tertawa.
__ADS_1
"Minum, minum." ujar Deddy kemudian.
Tak lama Mario pun minum, hingga rasa di tenggorokannya mulai mereda. Mereka kemudian lanjut makan sambil berbincang dan bercanda.