Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Together


__ADS_3

Mario masih terpaku menatap kedua orang tuanya itu. Tubuhnya gemetaran, bagaimana bisa skenario Tuhan seindah ini. Ia diberikan liburan oleh Deddy dan sempat kecewa karena Deddy tak bisa menemaninya. Mario membayangkan sebuah liburan solo yang membosankan.


Namun apa yang ada didepan matanya kini sudah lebih dari cukup. Bahkan pemandangan seperti inilah yang diimpikan olehnya sejak kecil. Berjalan bersama anggota keluarga, lengkap dan utuh. Melihat mereka tersenyum, berlarian, tertawa, dan bahagia.


"Loh, Mario?"


Ibunya terlebih dahulu menyadari keberadaan Mario. Disusul kemudian oleh ayah dan kedua kakaknya.


"Kamu disini juga?" tanya ayahnya kemudian. Mario mengangguk.


Seperti biasa Michael menatapnya, namun tak ada tegur sapa maupun senyuman. Ia tetap saja menjadi Michael yang seperti biasa, meski tampangnya kini tak sejudes saat pertama mereka bertemu.


"Heh, sini lo." Marcell menarik Mario.


"Apaan sih?" ujar Mario seakan tau isi kepala kakak pertamanya itu.


"Kenapa lo bisa ada disini juga?" tanya Marcell penuh curiga.


"Ya kan gue lagi liburan. Masa iya, lagi ngaspal jalan."


"Kenapa bisa sama banget tujuannya. Dimana ada bokap gue, disitu ada lo juga. Seakan-akan bokap gue nggak mau terkesan pilih kasih sama lo."


" Cell."


"Gue nggak apa-apa koq, punya saudara tiri yang unik kayak lo. Yang kebanyakan nonton Doraemon, yang selalu ngaku berasal dari masa depan."


"Cell."


"Gue juga nggak apa-apa kalau bokap biayain lo jalan-jalan kemanapun, biayain sekolah lo, hidup lo. Tapi kenapa mesti milih negara yang sama?. Lo nggak kasian sama nyokap gue. Gimana kalau dia tau, lo itu anak selingkuhannya bokap?"


"Cell, berapa kali harus gue bilang. Gue bukan anak bapak lo, gue punya bapak sendiri. Dan gue kesini juga dibiayain sama bapak gue."


"Gue tetep nggak percaya, lo pasti anak selingkuhan bokap gue."


"Apaan sih?"


"Pokoknya, jangan sampe nyokap gue tau."


"Kalian ngomongin apa sih?" Kali ini ibunya bertanya. Marcell berbalik badan sambil merangkul Mario.


"Hmm, nggak sih ma. Rahasia anak muda, hehe." Marcell nyengir garing.


Ayahnya dan Michael tampak menaruh curiga, karena Mario hanya diam. Sesaat kemudian,


"Aaww."


Marcell menginjak kaki Mario dan Mario pun refleks nyengir.


"Hehehe, iya ma." ujar Mario.


"Eh, papa, mama, sama Mike dan Marcell mau makan. Mario ikut yuk...!" ajak ibunya kemudian.


Mario menatap yang lainnya, ayahnya juga keliatan mengajak. Sedangkan baik Marcell maupun Michael terlihat netral.


" Hmm, Mario udah makan ma. Baru aja."


Mario tak mau merusak acara keluarga mereka, meskipun ia sangat ingin ikut.


"Yah, mama kirain kamu mau ikut. Biar makin seru gitu." Ibunya berujar dengan nada sedikit kecewa.


"Ikut aja, Mario." ajak ayahnya kemudian.


"Lain kali deh, pa. Kalau kita ketemu lain waktu."


"Kamu nginep dimana?" tanya ibunya lagi.


"Disini?"

__ADS_1


Mario menunjuk tempat dimana dia menginap.


"Lah dekat, dong." ujar ibunya antusias.


"Mama sekeluarga disana, jalan kaki doang sampe."


"Oh, iya ma." ujar Mario.


"Berapa lama liburannya?." tanya ibunya lagi.


"Belum tau juga, paling sekitar seminggu lebih."


"Sama dong, ya udah gini aja. Besok kita jalan bareng, gimana?"


Mario sebenarnya ingin melompat setinggi mungkin saking senangnya. Namun ia takut reaksinya yang berlebihan, akan mengundang kecurigaan.


"Ok deh, kalau besok Mario mau."


"Ya udah, kita semua jalan dulu ya." ujar ibunya kemudian. Mario mengangguk, mereka semua kini berlalu.


"Inget, ya. Jangan sampe nyokap curiga, kalau lo anak selingkuhan bokap gue."'


Marcell membisikkan kata tersebut ditelinga Mario. Sebenarnya Mario ingin sekali memukul kepala kakak pertamanya itu, namun ia masih menahan diri.


Mario pun lanjut mengeksplore keindahan sekitar, ia mulai berjalan sendirian dan kembali mengambil gambar. Setidaknya jaman ini memberikan banyak sekali hal. Yang bahkan belum pernah ia dapat, pada masa dimana ia beranjak dewasa.


***


"Kak, ini berapa?"


Seorang anak kecil bertanya pada Brian yang sengaja berjualan lotere didepan pintu pagar rumahnya. Kedua orang tua lintas jamannya tengah pergi. Hanya Brian saja yang berada dirumah. Luna dan asisten rumah tangganya yang lain kebetulan pulang kampung.


Brian melakukan hal ini karena ia ingin terus berada di depan. Agar bisa melihat kerumah orang tua kandungnya dan memperhatikan mereka dari jarak dekat. Karena posisi rumah Brian agak masuk kedalam.


Jika ia mengintai dari kamar, semua tidak akan terlihat terlalu jelas. Dan lagi ibunya sangat suka duduk di depan pagar rumah, sambil berbincang dengan tetangga disebelahnya.


"Kak budek, ini berapa?"


Brian terhenyak dan menyadari anak kecil yang ada didekatnya.


"500 perak." jawabnya kemudian.


"Mahal amat, didepan sekolah aku cuma 250."


ujar anak itu lagi.


"Ya udah, beli aja sana yang depan sekolah."


"Galak amat, ya udah nih beli satu."


Anak tersebut menyerahkan uang pecahan 500 rupiah. Brian pun membiarkan saja anak itu memilih nomor.


"Tuh kan nggak dapet. Udah mahal, nggak dapet lagi." gerutu anak tersebut. Brian masih fokus menikmati senyum ibunya.


"Kak budek."


"Apaan sih?" ujar Brian sewot.


"Mahal, lu." ujar anak tersebut kemudian berlalu.


"Ye, kecil-kecil udah songong. Gede mau jadi ape lu?" teriak Brian.


"Anggota DPR." ujar anak itu sambil mengacungkan jari tengah. Membuat Brian seketika syok.


"Buset anak siapa sih itu. Jagan-jangan di jaman gue sana, beneran jadi angota DPR lagi. Bahaya juga kalau wakil rakyatnya modelan dia. dikritik dikit, diacungi jari tengah bisa-bisa."


"Kak, nggak sewain gameboy ya?"

__ADS_1


Sekelompok bocah lainnya menghampiri Brian dan lapak jualannya.


"Gameboy apaan?" tanyanya kemudian.


"Anak laki-laki bermain?" lanjutnya lagi.


"Itu loh kak."


Salah seorang bocah menunjuk pada bocah lainnya, yang tengah bermain konsol game tersebut.


"Oh itu." Brian mendekat ke arah anak tersebut dan merampasnya.


"Heeeek." Anak itu seperti ingin menangis.


"Ntar dulu, liat dulu. Main mewek aja, cengeng." gerutu Brian.


Anak tersebut melihat ke suatu arah. Pada ibunya yang kebetulan tengah mengobrol, dengan ibu kandung Brian.


"Lestari, kenapa?"


Ibunya tiba-tiba bertanya pada sang anak yang sudah siap mewek tersebut. Brian kemudian menoleh dan playing victim.


"Tadi saya dilempar pake alat ini tante. Tapi saya jadi tertarik, jadi pengen beli juga."


"Oh, kamu nakal."


Ibu Lestari memarahi anaknya, sementara Lestari menatap dendam ke arah Brian.


"Maaf ya, dek." Ibunya meminta maaf pada Brian.


"Iya nggak apa-apa, tante."


Brian menjulurkan lidahnya pada Lestari, tanpa sepengetahuan ibunya. Lestari pun menangis.


"Kamu ini kenapa sih?. Nggak mama apa-apain juga, kenapa nangis?"


"Huaaaaa."


Lestari makin menangis, Brian joget-joget dibelakang ibu Lestari yang memarahi anaknya.


"Ini tante konsol gamenya."


Brian mengembalikan game boy milik Lestari.


"Tante pulang dulu ya." ujar wanita itu kemudian.


"Iya tante."


Wanita itupun kembali ke rumah, seraya membawa anak cengengnya.


"Kak, aku suka loh kakak bikin Lestari nangis. Aku nggak suka dia."


Seorang bocah yang berada disisi Brian berkata dengan nada keras. Ibu Lestari yang belum jauh pun menoleh. Brian buru-buru menutup mulut bocah itu dan mengarahkannya ke barang dagangan.


"Nih, ini ambil aja. Gratis buat kamu." ujar Brian kemudian.


"Gratis kak?" tanya anak itu tak percaya.


"Iya gratis."


"Woi gratis woy."


Anak itu berteriak, seketika banyak bocah yang muncul dan menjarah dagangan Brian.


"Heh, kenapa di jarah?"


Para bocah itu tak mempedulikan teriakan Brian.

__ADS_1


__ADS_2