Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Langkah Pertama Mario


__ADS_3

Sampai ketika pulang ke rumah, Mario masih keliatan sangat gusar. Ia begitu terganggu melihat banyak orang yang begitu memuja Martin.


Sedangkan di era-nya sangat gampang untuk menjadi populer dan dipuja siapa saja. Cukup dengan wajah tampan, rajin membuat video tiktok dan rajin live di instagram. Tak perlu melulu harus pintar Fisika dan sebagainya.


"Hhhh, kenapa sih tuh orang?. Arrgghh."


Mario membenamkan wajahnya diantara tumpukan kertas yang berada di meja. Sudah sejak tadi ia mencoba membahas beberapa soal fisika sendirian, hanya dengan mengandalkan buku.


Tak ada Google ataupun YouTube yang bisa memberikan panduan secara cepat. Seketika ia teringat pada Michael yang dulu sering memarahinya ketika ia malas belajar.


"Lo itu kalau dibilangin, denger kek. Jaman gue dulu belajar itu susah, mesti nyari buku dimana-mana. Lo sekarang enak, butuh tutorial tinggal buka YouTube. Belajar kek lo dari sana yang bener."


Begitulah yang selalu di katakan Michael. Saat itu Mario sangat benci dan gerah pada sang kakak yang ia anggap begitu berisik. Kini di jaman ini, ia merasakan sendiri bagaimana susahnya belajar.


"Mario."


Tiba-tiba terdengar suara seseorang serta tangan yang menyentuh kepalanya.


"Mario."


"Hmm."


Mario menyadari jika Deddy sudah berada di dekatnya.


"Koq kamu tidur disini?"


"Hmm?"


Mario sendiri baru sadar jika dirinya tertidur.


"Ini jam berapa dad?" tanya nya kemudian.


"Ini udah jam 8 malem, Mario."


"Hah?"


Mario teringat ketika terakhir ia belajar saat jam empat sore, ternyata ia sudah tertidur di meja begitu lama.


"Mandi gih sana, abis itu kita makan. Daddy bawain sate ayam."


Mario tersenyum, ia lalu membereskan buku-bukunya dari atas meja dan beranjak menuju kamar mandi. Ia mandi lalu kemudian kembali turun ke bawah, ketempat dimana Deddy tengah sibuk menyiapkan makan malam.


"Dad, sini biar Mario aja."


Mario tampak antusias, Deddy pun membiarkan anak itu untuk membantunya.


"Ambil piring satu lagi, gih."


Deddy memerintahkan Mario untuk mengambil piring, dan Mario pun mengerjakannya dengan senang hati.


Entah mengapa ia begitu gembira meskipun disuruh-suruh. Padahal selama ini di era-nya, ia akan tampak sangat gusar sekali ketika Michael menyuruhnya. Ia tidak pernah mau mengerjakan apapun yang diminta oleh Michael.


Ia tak mau diperlakukan seperti seorang pesuruh dirumahnya sendiri. Biasanya ia akan membantah dan Michael tak terima. Akhirnya terjadilah pertengkaran hebat, yang berujung pada lempar-lemparan barang.


"Nih dad, piringnya."


"Ya udah, kamu duduk."


Deddy hendak mengambil nasi, namun Mario buru-buru merampas piring dari tangan Deddy.


"Sini-sini, Mario ambilin." ujarnya semangat. Deddy menatap anak itu sejenak lalu tersenyum.


"Ya udah, sok atuh."


Mario pun mengambilkan nasi untuk ayah lintas jamannya itu.


"Segini cukup, dad?" tanyanya kemudian.


"Udah cukup, segitu aja."


"Ok."


Mario lalu menyerahkan piring berisi nasi tersebut kepada Deddy, kemudian ia pun mengambil untuk dirinya sendiri. Sementara kini Deddy menuangkan air minum di gelas untuk mereka berdua.


"Nih satenya." ujar Deddy.


"Ini paling enak loh sejagat raya." lanjutnya kemudian.


"Serius?" Mario penasaran, ia lalu mengambil beberapa tusuk sate tersebut dan mencobanya.


"Eh iya beneran, enak loh dad." ujarnya setelah mencicipi.


"Iya kan?. Daddy suka beli disini dulu sama mama kamu."


Tiba-tiba raut wajah Deddy berubah, agaknya ia teringat pada sosok yang menjadi ibu Mario di jaman tersebut. Mario sendiri tak tau siapa wanita yang dimaksud, tapi yang jelas ia tak mau melihat Deddy menjadi ambyar.

__ADS_1


"Udalah dad, ngapain inget orang yang udah mengingkari janji."


"Iya sih, orang ingkar nggak usah diingat." ujar Deddy.


"Nah gitu dong, biar nggak ambyar."


"Maksudnya?"


Deddy bingung dengan istilah yang digunakan Mario. Seketika Mario pun sadar jika fenomena sobat Ambyar yakni penggemar Lord Didi Kempot ada di jamannya, bukan di jaman ini.


"Maksud Mario, biar hati daddy nggak hancur. Udalah nggak usah inget lagi."


Kali ini Deddy tertawa.


"Udah, lanjut makannya." ujar Deddy kemudian.


Mario pun melanjutkan makan, seumur hidup ia belum pernah merasa sebahagia ini. Berada di dekat orang yang ia sebut sebagai, "Ayah." lalu menjalani segala kegiatan bersama. Benar-benar nikmat yang tak kan pernah bisa ditukar dengan uang sebanyak apapun.


Malam itu, Mario lanjut mengisi malamnya dengan belajar. Entah mengapa mimik wajah serta sikap Martin selalu menghantui benak remaja itu.


Ia ingin segera menguasai fisika dan membuat malu Martin. Agar ia tak melulu menganggap dirinya sebagai dewa fisika yang bisa mengatur kecepatan, gravitasi, bahkan perhatian para perempuan di semesta ini.


"Mario, lo nggak mau ke rumah gue?"


Cavin menelpon pada saat Mario tengah khusyuk belajar.


"Ngapain ke rumah lo, deket ini."


"Ya justru karena deket, elo kesini Bambang. Kita main bareng, dirumah gue banyak game nih. Masa gue main sendirian mulu."


"Kagak ah, ntar aja. Besok kek, lusa kek. Gue lagi nyelesain soal ini." jawab Mario.


"Soal apaan?. Fisika?"


"Iya."


"Astaga Mario, lo mau jadi Albert Einstein?. Ngapain sih?"


"Heh, apa salahnya kalau gue kepengen pinter. Gue sebel sama si Martin Alaihum Gambreng itu, pengen banget gue ratain mukanya."


"Oh, jadi ceritanya lo mau menyaingi Martin nih?"


"Gue akan buktikan kalau pintarnya dia itu semu. Dia harus tau kalau orang lain juga bisa lebih pinter dari dia."


"Makanya, lo jangan ngajak gue main mulu."


"Iye, Bambang."


Cavin pun mengakhiri panggilan telponnya. Sementara Mario melanjutkan kegemaran barunya, yakni memecahkan soal fisika.


***


Esok harinya disekolah, guru fisika memberikan sebuah soal. Lagi dan lagi Martin mendominasi dengan mengangkat tangan, agar ia ditunjuk untuk menyelesaikan soal tersebut. Namun hari ini Mario tak terima begitu saja.


Ia pun turut mengangkat tangan dengan tatapan sinis ke arah Martin. Sontak hal ini mengundang perhatian seisi kelas terutama Cavin dan Brian.


"Martin, ayo jawab ke depan." guru tersebut sumringah terhadap Martin. Hal itu tentu saja membuat Mario tak terima.


"Eh, nggak bisa gitu dong bu. Kasih kesempatan ke yang lain, dia mulu perasaan. Nggak sekalian aja, ulangan kita-kita dia yang ngerjain."


Seisi kelas pun kini tertawa.


"Sudah diam yang lain." Sang guru Fisika mengingatkan seisi kelas, mereka semua pun akhirnya menahan tawa.


"Saya yang menentukan." lanjutnya lagi.


"Martin kamu yang jawab."


Guru tersebut masih memilih Martin sebagai siswa favoritnya. Ia mengizinkan anak itu untuk menjawab soal dan menyombongkan dirinya lagi dan lagi. Sementara kini Mario terlihat dongkol ditempatnya.


"Bu, udah selesai." ujar Martin dengan penuh percaya diri.


Sang guru terlihat begitu senang dan antusias. Namun itu semua tak berlangsung lama, entah mengapa raut wajahnya tiba-tiba berubah. Terlihat seperti orang yang khawatir akan sesuatu.


"Hahaha."


Tiba-tiba Mario tertawa, sontak seisi kelas pun kembali menatapnya. Ia tampak berjalan ke arah papan tulis dan mengambil kapur.


"Ini salah, Bambang." ujarnya kemudian.


"Bambang?"


Seisi kelas tampak bingung, sementara Brian dan Cavin menepuk dahi. Mario pun sadar apa yang sudah dikatakannya.


"Maksud gue Martin, gue lupa kalau nama lo bukan Bambang."

__ADS_1


Mario berkilah. Ia tak ingin istilah "Bambang" muncul sebelum waktunya. Ia lalu membenarkan jawaban Martin.


"Nih kayak gini nih, ini baru bener."


Guru fisika yang ada di dekatnya terlihat sedikit menunduk lantaran merasa malu pada yang lain. Ia sudah sangat mempercayai Martin, namun ternyata jawaban Martin keliru. Mario lah yang benar.


"Ehm baik, Martin memang keliru. Tapi sedikit, baru kali ini Martin keliru."


Guru tersebut tampak masih membela Martin, sedangkan Martin sendiri terlihat begitu dongkol. Apalagi setelah Mario menatapnya dengan jumawa.


"Well, seberapapun kalian pintar. Tetap tidak boleh mengejek teman yang salah." ujar guru fisika itu lagi.


"Heh, sok bijaksana si Romlah. Puja-puji terus tuh si Martin, jadiin berhala bila perlu." gerutu Mario pada gurunya. Namun dengan suara yang pelan dan nyaris tak terdengar tentunya.


Brian dan Cavin saling tatap lalu tersenyum, sementara yang lain kini mulai menaruh perhatian pada Mario. Mereka tak menyangka jika Mario juga tidak kalah pintar dari Martin.


"Bro, tadi itu hebat. Lo liat nggak tadi mukanya Martin gimana?" Cavin berujar pada Brian dan Mario ketika jam istirahat tiba.


"Yoi, bro. Mukanya asem banget dah."


"Hahaha."


Brian membuat semuanya kini tertawa.


"Rasain tuh anak, makanya jangan sok pinter." ujar Mario.


"Sebel banget gua sama bu Ervina." timpal Cavin lagi.


"Kayak mendewakan si Martin banget." lanjutnya lagi.


"Sebel kan lo?. Gue udah bilang si Martin itu semu, pinternya itu standar. Semua orang aja yang kegilaan menghormati dan menyanjung dia, bocah tengik model gitu doang." ujar Mario lagi.


"Pokoknya tadi gue seneng parah, liat tuh bocah mukanya sewot." ujar Cavin.


"Hahaha." Ketiganya kembali tertawa.


"Gue mau ke kantin nih." ujar Cavin lagi.


"Sama, gue juga." tukas Brian.


Tiba-tiba Michael melintas.


"Lo duluan aja." ujar Mario.


Cavin dan Brian melihat ke arah Michael. Mereka lalu membiarkan Mario menyusul kakaknya itu. Keduanya lalu pergi ke kantin.


Sementara kini Mario berjalan menyusul Michael.


"Mike."


Mario menghentikan langkah Michael seketika. Pemuda itupun lalu terdiam dan menunggu sampai Mario tiba di dekatnya.


"Gue udah belajar dengan baik, gue berhasil mendekatkan diri dengan fisika. Jadi di masa depan, lo nggak perlu marah lagi ke gue atau ngatain gue bodoh."


Kali ini Michael menatapnya.


"Lo masih teguh, dengan alasan saat pertama lo ketemu gue di lapangan?" tanya Michael seraya menatapnya.


"Ya, gue adek lo dari masa depan." jawab Mario.


Michael menghela nafas, ia benar-benar merasa telah membuang waktu berharganya.


"Gue nggak minta lo jawab apa-apa. Gue cuma mau bilang, kalau gue nggak sebodoh yang lo kira. Di masa depan lo selalu bilang gue bodoh, tapi disini gue bisa buktiin. Kapan lo mau belajar bareng gue?"


Lagi-lagi Michael menghela nafas, ia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu pergi meninggalkan tempat itu. Ia menganggap jika Mario aneh, entah apa maksud dan tujuannya berkata seperti itu. Sementara di tempatnya berdiri, Mario bisa tersenyum dengan lega.


Ia bangga pada dirinya sendiri. Ia teringat betapa di jamannya, selalu saja Michael menyebut dirinya dengan sebutan "Bodoh." Ketika ia melihat nilai Mario jeblok atau tidak memenuhi standarnya.


Seringkali hal itu membuat Mario marah besar, bahkan ia pernah hampir ingin pergi dari rumah. Namun lagi-lagi ia jadi sasaran kemarahan Michael.


Ketika Mario berniat meninggalkan rumah, Michael bukannya sadar tetapi malah makin marah dan juga kasar terhadapnya. Bahkan Mario pernah ia kurung di kamar selama berhari-hari.


Kadang Mario merasa apakah dirinya bukanlah adik kandung dari Michael dan juga Marcell. Mengingat perlakuan Michael yang begitu membekas dihatinya.


Kini di jaman ini, ia bisa membuktikan bahwa ia juga bisa menjadi pintar seperti Michael. Ia bisa bernafas lega dan tak lagi merasa rendah diri, apabila berhadapan dengan kedua kakaknya itu.


"Hallo." Tiba-tiba Cavin menelpon.


"Iya, bro." jawab Mario.


"Lo dimana, Bambang?"


"Iya-iya, ini gue ke kantin. Gue jalan sekarang."


Mario pun meninggalkan tempat itu, untuk menghampiri kedua sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2