Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Michael


__ADS_3

"Lo kenapa sih, beberapa hari ini selalu ngikutin gue. Mau lo apa coba?"


Mario nyengir bajing, melebar hingga kuping.


"Sabar, dong. Lo nggak disini, nggak dimasa depan, marah mulu sama gue. Nggak capek apa lo?"


"Lo masih mau bersikeras kalau lo itu adek gue?"


Tampaknya Michael mulai kesal, karena Mario selalu mengatakan hal yang tak masuk akal baginya. Mario berkata seolah-olah ia telah mengenal Michael lebih lama dari yang ia tau.


"Kagak, lo mah sensitif deh kayak testpack."


"Testpack apaan?" tanya Michael seraya mengerutkan kening.


"Oh iya gue lupa." gumam Mario.


"Di jaman ini mungkin cerita tentang menghamili lawan jenis diantara remaja belum begitu marak. Atau bisa jadi emang si Michael masih polos." gumamnya lagi.


"Gini deh, lo maunya apa sih?" tanya Michael seakan hendak memperjelas keinginan Mario terhadapnya.


Sudah beberapa hari belakangan ini, Mario selalu mondar-mandir di sekitarnya. Entah hanya sekedar unjuk kebolehan dalam menyelesaikan soal fisika, atau sekedar mengganggunya dan mengatakan hal yang tidak-tidak. Semisal,


"Gue ini adek lo dari masa depan"


Atau,


"Lo jangan pernah marah lagi sama gue, gue udah lumayan pinter sekarang. Lo boleh koq tes kemampuan gue."


Dan,


"Bla, bla, bla."


"Hehe, gue. Gue mau lo ajarin fisika, biar gue makin pinter."


Michael agak terkejut mendengar pernyataan tersebut, ia menatap Mario seraya mengernyitkan dahi.


"Kan di kelas lo ada Martin, juara olimpiade fisika."


Michael memulai kembali langkahnya, namun Mario mengikuti kakak keduanya itu dengan cepat.


"Tapi gue liat, lo juga pinter fisika. Dimasa depan, lo jadi sarjana fisika dan teknik kimia di tahun yang sama. Lo juga lagi rencana mau menyelesaikan magister, di bidang yang elo sendiri masih bingung."


"Lo masih mau menghubungkan diri gue dengan masa depan?"


"Eh, nggak gitu. Maksud gue, boleh dong gue belajar sama lo."


"Kenapa nggak sama Martin?"


"Martin itu sengak, sombong, sok pinter, benci gue."


"Adril?"


Kali ini Mario terdiam, ia dan Michael berada begitu dekat.


"Adril?"


"Ya, dia kan jago juga fisikanya. Lebih jago dari Martin malah."

__ADS_1


Michael kembali melanjutkan langkah.


"Maksud lo, Adril itu pinter fisika?"


"Hmm."


"Kalau dia pinter, kenapa nggak ikut olimpiade?"


"Lo tanya dong, sama Adril atau Heru. Hampir semua orang juga tau ceritanya."


"Soal apa?"


"Soal nepotisme di sekolah ini. Jadi gue saranin, lo nggak usah capek-capek belajar fisika. Karena selama F4 masih ada, kepintaran lo nggak bakal dianggap."


Mario terdiam, ia tidak tau jika Adril juga pintar di pelajaran fisika. Namun ia lebih tidak tahu lagi perihal nepotisme yang dibicarakan oleh Michael.


"Maksud lo apa dah, soal nepotisme itu?" tanya nya sekali lagi.


"Lo coba aja tanya yang lain."


Michael pun beranjak meninggalkan Mario, dalam ketidaktahuan dan rasa penasaran yang mulai meninggi.


"Kenapa nggak dia aja sih yang jelasin, kenapa mesti nyuruh gue nanya lagi ke yang lain. Michael emang aneh dari dulu ternyata. Udah aneh, judes lagi. Pengen banget gue jitak pala nya."


Mario lalu berbalik arah menuju kelas, dengan segudang pertanyaan yang kini menyesaki rongga kepalanya. Ia harus tau cerita mengenai nepotisme yang dikatakan Michael barusan. Nepotisme soal apa, dalam bidang apa dan siapa saja pelakunya.


"Adril."


Mario mencegah langkah Adril yang tampak terburu-buru menuju ke suatu tempat.


"Apaan?" tanya Adril persis setelah ia menghentikan langkahnya.


Adril menghela nafas. Ia memilih melangkah menjauhi Mario, ketimbang menjawab pertanyaan anak itu.


"Lo kenapa sih?" tanya Mario heran. Ia mengikuti langkah Adril yang tak tahu mau kemana itu.


"Gue nggak mau membahas hal itu, nggak penting juga." ujar Adril..


"Kenapa?"


Kali ini Adril menghentikan langkah dan menatap Mario dalam-dalam.


"Nggak semua hal harus gue ceritain kan?. Lagipula lo siswa sekolah ini, mustahil lo nggak tau apa permasalahan terbesar yang terjadi disini."


Adril kembali melangkah. Mario benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh temannya itu.


Ia hendak menyusul, namun Adril keburu menghilang. Kini ia pun kembali lagi ke kelas, tapi ia tak kehabisan akal. Tak bisa Adril, Heru pun jadi. Karena mustahil jika Heru tidak mengetahui apa masalahnya.


"Jadi, di sekolah ini masih banyak nepotisme?" tanya Mario pada Heru, ketika akhirnya semua pertanyaan yang ia lontarkan mulai terjawab.


"Menurut lo, kenapa bisa F4 KW itu ikut berbagai olimpiade?. Lo pikir Martin dan temen-temennya itu pinter-pinter semua, mereka itu biasa aja. Cuma karena Martin adalah keponakannya ketua yayasan, jadi dia dapat hak istimewa. Ditambah dia juga nggak bodoh-bodoh banget soal pelajaran, makanya jalannya mulus. Kandidat pertamanya kan Adril. Tapi akhirnya Adril digeser, karena Martin yang masuk."


"Pantes. Setiap kali ngeliat Martin, Adril kayak punya kemarahan tersendiri." Mario mulai mengerti.


"Ada lagi yang mau lo tanyain?"


"Hmm, nggak ada sih. Cukup."

__ADS_1


"Ok, lo jangan kasih tau Adril kalau gue cerita banyak soal ini. Anak lain juga nggak semuanya tau, karena waktu itu seleksi diadakan tertutup."


"Ok, tenang aja. Gue nggak ember koq orangnya."


"Ya udah, gue mau cari Adril dulu." ujar Heru.


"Dia tadi ke arah belakang."


"Ok."


Heru berlalu meninggalkan Mario, sementara kini pemuda itu terdiam. Ia tak menyangka di jaman dulu pun ada kebusukan seperti ini. Jujur ia prihatin pada Adril. Jika anak itu memanglah berprestasi, sangat disayangkan jika harus kalah oleh sistem nepotisme.


Adril seharusnya mendapatkan haknya, hak untuk diberi kesempatan yang sama dengan yang lain. Bukan malah di padamkan dan dihilangkan begitu saja, tanpa ada yang tau soal kepintarannya.


***


"Mario, lo nggak ikut kita pulang?" tanya Cavin diikuti tatapan Brian dan yang lainnya.


Tiba-tiba saja Mario mengatakan jika ia memiliki sebuah keperluan mendadak, dan tak bisa pulang bersama teman-temannya siang itu.


"Lo mau kemana sih?" tanya Brian seraya mendekat.


"Lo udah ketemu portal dan mau balik sendirian ya?" Brian curiga pada Mario, begitupula dengan Cavin.


"Kagak, Bambang. Gue itu mau ke rumah Michael. Gue mau ngeliat nyokap sama bokap gue, pengen tau bentukannya kayak apa."


"Koq lo nggak ngajak gue sama Brian?" tanya Cavin heran.


"Cav, percaya sama gue. Kapan sih gue pernah ninggalin lo berdua?. Lo berdua pacaran aja gue tungguin. Walaupun gue dinyamukin, di gajahin. Lo berdua minta temenin kemanapun, gue anterin. Meskipun lo berdua sering banget bikin gue capek. Mana ada gue niat ninggalin kalian dimana pun. Portal mana yang kebuka, kagak ada."


"Ya, tapi kan gue sama Brian juga pengen ikut. Pengen liat gitu nyokap-bokap lo."


"Gue akan ajak lo berdua kapan-kapan, hari ini gue harus sendiri dulu."


Tiba-tiba Mario melihat Michael melintas.


"Tuh, tuh Michael. Gue jalan dulu ya."


Mario buru-buru menjauhi Cavin dan Brian untuk menyusul Michael.


"Mariooo."


Cavin masih berusaha memanggil Mario, sementara anak itu hanya melambaikan tangannya.


"Dia mau kemana?" tanya Adril pada Cavin dan juga Brian.


"Tau tuh, biarin aja." ujar Brian seraya naik ke sepeda Adril, Cavin naik ke sepeda Heru. Tak lama kemudian Ratna pun datang.


"Loh, Mario mana?" tanya nya sambil melihat kesana kemari.


"Udah tinggalin aja, dia lagi ada urusan." ujar Cavin.


"Urusan?"


"Iya, dia lagi pergi." tukas Cavin lagi.


"Kemana?" tanya Ratna heran.

__ADS_1


"Udah, ayok jalan aja. Ntar juga dia pulang sendiri."


Ratna pun akhirnya menuruti, mereka lalu berjalan pulang meninggalkan halaman sekolah yang mulai sepi.


__ADS_2