Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Galih dan Ratna


__ADS_3

Ekstrakurikuler Minggu kedua.


Mario, Brian, dan Cavin kembali lagi dengan rutinitas mingguan mereka disekolah. Yakni mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.


Dalam beberapa hari belakangan mereka bertiga sudah mulai berlatih dirumah. Mario mengajak Ratna latihan, dengan alasan agar mereka cepat jago dalam teknik gerakan kendo.


Padahal sesungguhnya Mario hanya ingin mengetahui tehniknya dari awal, karena memang ia tidak bisa sama sekali. Minggu kemarin ia hanya ikut-ikut saja.


Apa yang dilakukan orang, maka ia pun mengikutinya. Ditambah ia memiliki ingatan pada gerakan Kendo, yang pernah ia tonton di YouTube sewaktu di tahun 2021. Saat ia tengah gabut lantaran tak ada tayangan menarik di platform tersebut.


Tak jauh berbeda dengan Mario, Cavin pun tak mau mengikuti ekstrakurikuler yang ia sendiri buta akan hal tersebut. Karena terlanjur tercebur, maka ia berlatih sekalian. Agar ia mampu menguasai teknik dalam seni beladiri itu.


Ia belajar bersama Deddy, awalnya ia sempat mengatakan pada Mario bahwa ia ingin belajar karate lebih dalam. Ia juga mengutarakan niatnya untuk mencari guru di luar sekolah.


Tiba-tiba Deddy yang mendengar percakapan itu, langsung mengatakan pada Cavin jika ia bisa mengajari Cavin.


Tentu saja Cavin senang karena latihannya tidak perlu pergi jauh-jauh, cukup di depan rumah saja. Lagipula di jamannya, belum tentu ia bisa sedekat itu dengan seorang Deddy yang begitu terkenal.


Sementara Brian memanggil beberapa anak di teamnya untuk berlatih di lapangan kompleks. Ia sengaja tidak mengajak Christopher, karena sudah keburu menabuh genderang perang. Ia pun bersikap sinis terhadap salah satu personel F4 tersebut.


Hari ini mereka kembali ke sekolah untuk melaksanakan kegiatan tambahan itu. Adril, Heru, Cavin, dan Brian sudah ada ditempatnya masing-masing. Begitupula dengan Mario dan juga Ratna.


Namun anehnya, minggu ini justru Ratna yang kelihatan susah berkonsentrasi. Mario memperhatikan gelagat perempuan itu, ia seperti kikuk dan kadang lost control. Hingga gerakannya pun acap kali salah dan gagal, ketika disuruh berhadapan dengan lawan.


"Lo kenapa dah, Rat?" tanya Mario ketika sesi latihan telah usai dan mereka masih berada di aula. Mereka duduk sambil meminum air mineral, yang mereka bawa dari rumah.


"Nggak apa-apa." jawab Ratna.


Namun pandangannya terus tertuju pada pemuda tampan, yang sejak tadi sering lalu lalang di depan mereka. Pemuda itu juga ikut latihan Kendo.


"Gue perhatiin dari awal latihan tadi, elo selalu ngeliatin dia. Emang dia siapa?" tanya Mario seraya menanti jawaban.


Ratna menunduk lalu meminum air mineralnya.


"Cowok yang lo taksir ya?" goda Mario. Kali ini Ratna tersenyum.


"Bener kan gue?" tanya nya lagi.


"Dia pacar orang."


Jawaban Ratna itu cukup membuat Mario mengerti. Bahwasannya gadis itu memanglah menyukai si laki-laki, namun terhalang status karena si laki-laki sudah memiliki pacar.


"Namanya siapa sih, gue juga baru liat dia minggu ini."


"Minggu lalu dia sakit, namanya Galih." ujar Ratna kemudian.


"Galih?"


"Iya."


"Emang Ratna kudu banget pacaran sama Galih?"


"Hah maksudnya?"


"Ya kayak lagu tau nggak, Galih dan Ratna. Nggak bisa gitu Ratnanya sama yang lain aja. Sama Supriadi kek, Bambang kek, Lee Min Ho, Kim Jong Un gitu?"


"Hah?. Lee Min Ho?. Kim Jong Un?"


Ratna mengerutkan kening.


"Eh ditahun ini belum ada yang tau Drakor ya?" gumam Mario dalam hati.


"Kim Jong Un juga belum terkenal banget. Lee Min Ho nih tahun segini, jangan-jangan masih jadi kerja di pabrik samyang." lanjutnya lagi.


"Mario?" Ratna membuyarkan lamunan Mario.


"Hmm, maksud gue. Lo nggak mau sama yang lain apa, kenapa mesti Galih?"


Ratna tersenyum lalu menunduk, seakan menyembunyikan sedikit kegalauan di kedua sudut matanya.


"Gue udah suka dia dari pertama masuk SMP ini."


Ia mulai bercerita.


"Dia pernah beberapa kali nolongin gue, bantu gue ngerjain tugas dan lain-lain. Tapi ternyata dia suka sama kakak kelas."


"Hai, Galih."


Seorang gadis cantik mendekati Galih, Mario dan Ratna sama-sama melihatnya.


"Itu orangnya, anak kelas 3. Namanya kak Lia, anggota OSIS, kapten Cheerleaders, juara umum di angkatannya."


"Cantik ya."


Mario berujar tanpa sadar ketika memperhatikan Lia, Ratna tersenyum kecut lalu menunduk. Seketika Mario akhirnya tersadar dengan ucapannya.


"Lo juga cantik koq, Rat. Tenang aja, lo pepet aja terus si Galih. Hehehe."

__ADS_1


Mario berbasa-basi, karena merasa tak enak hati sudah mengatakan Lia cantik dihadapan Ratna.


"Atau lo mending jangan sama Galih."


"Terus, sama siapa dong?"


"Ya siapa kek, sama Mario gitu."


"Elo dong?"


"Iya."


Mario nyengir bajing, Ratna lalu tersenyum. Ia beranjak dan mengeplak kepala Mario.


"Buuuk."


Gadis itu pun berlalu meninggalkan Mario yang tampak kesakitan. Mario kemudian beranjak, namun ia berpapasan dengan Galih di pintu aula.


Ia melihat Galih dan begitupun sebaliknya. Namun tak ada tegur sapa disana, Galih hanya berlalu begitu juga dengan Mario.


Sementara beberapa saat berikutnya, Cavin tanpa sengaja lewat di depan sebuah ruang musik. Disana ia mendengar alunan musik biola yang cukup sedih. Karena penasaran siapa yang memainkannya, ia pun mengintip dari balik pintu. Ternyata Ratna.


Cavin baru tau jika Ratna pandai bermain musik. Ia tersenyum dan hendak mendekat, namun ia melihat Ratna seperti menyeka air mata. Ya gadis itu tengah menangis, tanpa Cavin tau apa yang jadi penyebabnya.


Ratna keluar dari ruang musik tersebut, Cavin buru-buru bersembunyi. Tak lama Galih serta Lia melintas, mereka bertemu muka dengan Ratna. Tampak Ratna menunjukkan wajah yang begitu sedih. Ia menatap Galih bahkan begitu lama, sampai pemuda itu berlalu.


Agaknya kini Cavin mulai mengerti, ia menduga jika Ratna ada masalah hati dengan laki-laki yang baru saja melintas didekatnya tersebut. Maka Ratna pun berjalan dan Cavin mengikutinya dari belakang.


"Hai, Rat."


Cavin mendekati Ratna, ketika mereka bersiap untuk pulang.


"Kenapa Cav?" tanya Ratna yang tengah menuntun sepedanya. Adril, Heru, Mario dan Brian ada di dekat situ.


"Nih buat lo."


Cavin menyerahkan sebatang coklat pada gadis itu, Ratna terdiam sejenak lalu tersenyum.


"Lo beliin gue?"


"Tadi kembaliannya kurang, orang warungnya nggak ada uang kecil lagi katanya. Gue ambilin aja coklat."


"Oh ya udah makasih ya." ujar Ratna seraya menerima coklat tersebut.


Ratna lalu menyerahkan sepedanya pada Mario. Disepanjang perjalanan pulang, Ratna yang biasanya suka berbincang segala hal kini hanya terdiam. Mario pun dapat merasakan perubahan gadis itu.


Tadi saja pada saat pergi ke sekolah, Ratna masih terlihat ceria. Namun setelah kejadian di aula tadi, saat ia bertemu Galih. Ratna berubah menjadi murung.


"Iya." ujar Ratna dengan nada yang tak begitu bersemangat.


Mario pun jadi bingung bagaimana mengubah kembali suasana hati gadis itu. Karena memang Mario juga belum pernah berurusan dengan perasaan perempuan selama hidupnya.


Beberapa kali Mario hendak memulai pembicaraan, namun akhirnya ia urungkan. Karena takut akan menyinggung perasaan Ratna.


Ia mencoba terus mengayuh sepeda, meski sangat mengkhawatirkan keadaan gadis itu. Tiba-tiba Ratna memeluk dan menempelkan kepalanya di bagian belakang tubuh Mario.


Mario terkejut, namun ia hanya diam. Membiarkan Ratna merasa nyaman dengan posisinya.


"Rat, udah sampe."


Ratna tersadar dari lamunannya yang terjadi di sepanjang jalan. Ia celingukan melihat sekitar.


"Koq lo nganter gue sampe depan rumah?"


"Nggak apa-apa. Lo kan selalu nganter gue kedepan rumah, sekarang gantian."


Ratna menatap Mario, sementara yang ditatap hanya tersenyum.


"Gue balik ya, Rat."


"Thanks ya, Mario."


"Sama-sama."


Mario lalu berjalan ke arah rumahnya, tiba-tiba ia melihat Michael ada di depan pintu pagar.


"Mike?"


Mario menatap bingung ke arah Michael. Pasalnya ia tak tau mengapa kakak keduanya itu berada di depan rumahnya.


"Lo ngapain kesini?" tanya Mario heran.


"Nih."


Michael memberikan sebuah bungkusan.


"Ini apa?"

__ADS_1


"Dari nyokap gue. Dia masih ngira lo temen gue dan dia seneng banget liat gue akhirnya berteman."


Seperti biasa Michael berkata dengan ekspresi datar dan wajah yang dingin. Mario tersenyum menerima semua itu, karena ia tau itu pastilah masakan ibunya.


"Bilang sama nyokap. Hmm, maksud gue nyokap lo. Makasih."


Michael berbalik.


"Lo nggak mau mampir dulu?"


"Lain kali aja."


Michael berlalu meninggalkan tempat itu. Sementara kini Mario menatap pemberian ibunya sambil tersenyum.


Saat masuk kerumah, ia segera membuka makanan tersebut dan memakannya. Air mata Mario menetes di sela-sela suapan. Seumur hidup ia belum pernah merasakan masakan sang ibu, ternyata seenak itu. Saat ia makan dirumah Michael tempo hari, ia tak begitu berkonsentrasi dengan rasanya. Ia hanya fokus pada sang ibu. Tapi hari ini, ia benar-benar merasakan setiap gigitan yang berharga.


Mario menangis tersedu, bahkan ia tak mampu lagi untuk melanjutkan makan saking sedihnya. Ia begitu merindukan sosok ibu di dalam hidupnya. Sejak kecil ia dibesarkan oleh kedua kakaknya, tanpa tau rasanya bagaimana memiliki ibu dan juga ayah.


Acap kali ia merasa sedih ketika melihat teman-temannya yang memiliki keluarga utuh, penuh kehangatan dan kasih sayang. Sementara ia sendiri tak pernah merasakannya sekalipun.


"Mario."


Deddy yang baru saja kembali entah dari mana terkejut, tatkala menemukan Mario yang menangis tersedu di meja makan. Mario sendiri tak mampu menghapus air matanya, karena Deddy sudah keburu melihat hal tersebut.


"Mario, kamu kenapa?"


Deddy memeluk Mario secara serta merta dan mencoba menenangkannya.


"Sssttt, it's ok."


Mario terus menangis, bahkan ia belum pernah sekalipun menangis sepanjang hidupnya. Selama ini selalu tertahan rasa kesal yang begitu besar. Ketika ada hal yang seharusnya membuat ia menangis, Mario malah melawan nya dengan rasa kemarahan yang besar. Hingga keinginan menangis itu sendiri akhirnya tertutup.


Namun kali ini semua tak bisa dibendung lagi. Hampir 17 tahun ia mengatakan pada dirinya jika ia harus kuat. Apalagi menghadapi keegoisan kakaknya Michael, yang selalu membuatnya merasa tertekan.


"Mario."


Deddy memeluk anak lintas jamannya itu dengan erat.


"Dad."


"Iya, nak. Daddy disini sayang."


Deddy pun terlihat begitu terpukul, ia mengira penyakit mental Mario mulai memasuki tahap yang parah. Karena anak itu sampai bisa menangis sendiri tanpa sebab yang jelas.


"Ini minum dulu."


Deddy memberikan minum pada Mario, ketika anak itu mulai tenang dan bisa mengontrol emosinya.


"Kamu kenapa, cerita sama daddy?"


Mario menunduk, tidak mungkin ia bercerita pada Deddy perihal orang tua kandungnya yang sengaja ia temui di tahun ini. Lagipula Deddy tampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda, jika dirinya sadar bahwa ia adalah bagian dari masa depan. Bahwa ia juga berasal dari tahun yang sama, dengan tahun dimana Mario mulai beranjak dewasa.


"Mario cuma sedih aja, dad." ujar Mario berkilah.


"Sedih kenapa, ada pikiran yang mengganggu kamu?"


Mario menggeleng, Deddy menghela nafas panjang. Kali ini ia yakin betul penyakit mental Mario memang mulai parah.


"Mario, daddy tau ini pasti akibat penyakit mental yang kamu derita."


Kali ini Mario mulai ketakutan. Pasalnya ia telah membuat Deddy salah persepsi, terhadap apa yang tengah dipikirkannya.


"Dad, Mario baik-baik aja. Cuma tadi Mario..."


Mario tak bisa melanjutkan kata-kata, ia tidak mungkin memberitahu Deddy masalah yang sebenarnya.


"Kamu aja nggak bisa bilang kan sebabnya kenapa?"


"Dad. Ta, tapi, Mario baik-baik aja."


Deddy kini malah kembali memeluk Mario. Air mata merebak di pelupuk mata lelaki bertubuh kekar itu.


"Daddy disini, jangan takut. Daddy akan selalu jagain kamu."


Mario benar-benar tak bisa mengubah keadaan. Ia ingin Deddy sadar jika persepsinya soal penyakit mental itu salah besar. Namun ia juga tak tau bagaimana caranya, untuk menyadarkan Deddy akan hal itu.


Sementara kini Deddy meraih sesuatu dari dalam tas kecil yang ia bawa. Sambil terus memeluk Mario, ia mengeluarkan satu ampoule obat, yang memang dikhususkan untuk orang yang menderita gangguan mental tertentu.


Mario sendiri mengira Deddy hanya memeluknya. Sampai kemudian ia merasakan sebuah sensasi dingin di tangannya dan......


"Aaakkhh."


Ia mengeluh sakit, ketika sebuah suntikan dengan cepat memasuki bagian tangannya tersebut.


"Dad, itu apa?"


Mario bertanya pada Deddy. Namun belum sempat ia mendapat jawaban yang ia inginkan, ia pun perlahan mulai kehilangan kesadaran.

__ADS_1


Deddy membaringkan Mario di dalam kamar, lalu menyelimutinya. Ia memandang anak Litas jamannya itu untuk beberapa saat. Hatinya begitu terpukul melihat Mario yang mulai tak bisa mengontrol penyakit mental, yang dideritanya.


Deddy kembali ke ruang makan, membereskan makanan yang tak jadi dimakan Mario. Sekaligus membereskan barang yang ia bawa, termasuk obat yang tadi ia pakai untuk membuat Mario tertidur.


__ADS_2