Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Basket


__ADS_3

"Nyokapnya Brian selingkuh?"


Mario terkejut mendengar kabar tersebut, jujur tubuhnya kini terasa gemetar. Ia tak menyangka jika masa lalu orang tua Brian akan semiris itu.


"Padahal kayak pasangan serasi ya?" ujar Mario menyayangkan.


"Iya makanya."


"Terus, Brian nggak sekolah hari ini gara-gara itu?" ujar Mario lagi.


"Iya, dia syok berat. Gue juga bingung harus gimana nolongnya."


Mario menghela nafas, begitupula dengan Cavin. Kini mereka terus melangkah menuju ke gerbang sekolah.


"Buuuk."


Tiba-tiba bahu Mario terkena bola basket. Ia terkejut dan menoleh ke arah si pemain, yang ternyata adalah Martin.


Mario mengambil bola basket tersebut dan balas melemparnya ke arah Martin. Namun dengan tenang Martin menangkapnya. Mario dan Cavin kembali berjalan menuju kelas.


"Kalau emang lo ngerasa jago, harusnya lo tanding sama gue sekarang." Martin berseloroh dengan nada sombong.


Mario seketika berbalik, dengan dingin dan pasti ia melangkah ke arah Martin. Dalam sekejap seluruh pasang mata pun sudah tertuju ke arah mereka.


Martin memberi kode pada teman satu gengnya untuk minggir ketengah lapangan. Sedang Cavin berdiri diam sambil menyaksikan, diantara siswa siswi lain yang juga ikut menonton. Martin mulai mendribble bola, dan Mario fokus mencari celah untuk merebutnya.


"Buuuk."


Satu bola berhasil dimasukkan oleh Martin ke dalam ring. Sorak-sorai dari para pemujanya pun seketika menggema. Mereka bertingkah persis seperti cacing kepanasan.


"Martin, yeah, wuuuu."


"I love you, Martin."


Begitulah bunyi puji-pujian yang terdengar, dan Mario terus berkonsentrasi untuk merebut pertahanan.


"Buuuk."


Martin kembali memasukkan bola ke dalam ring, dan lagi-lagi para umat pemuja kesesatan Martin pun kembali bersorak.


"Yeaaah, Martiiiin. I love you."


Mungkin jika hal ini terjadi di masa depan, akan banyak siswi yang berteriak sambil berkata.


"Oppa saranghaeyo."


"Sarang semut."


"Sarang biawak."


Saking cintanya mereka pada Martin.


"Buuuk."


Martin kembali melempar bola, namun sayang hanya mengenai bibir ring saja. Dan bola tersebut berhasil di rebut oleh Mario.


Satu demi satu Mario mulai memasukkan bola tersebut ke dalam ring. Namun kembali di rebut oleh Martin dan Martin kembali memasukkannya.

__ADS_1


"Buuuk."


Skor menjadi 3:1 untuk Martin. Sorak-sorai kembali menggema, bahkan muncul cheerleaders dadakan yang langsung menari-nari di pinggir lapangan.


Mario tak membiarkan Martin menang begitu saja. Dari kecil ia sudah terkenal tambeng dan sangat egois. Meskipun harus terus bertengkar dengan kedua kakaknya, karena kedua kakaknya tak menyukai sikap Mario tersebut.


Namun kali ini Mario benar-benar menggunakan sikap tak mau kalah yang dimilikinya. Mario berhasil kembali merebut bola dan membawanya ke arah ring.


"Buuuk."


"Buuuk."


Dua kali berturut-turut ia berhasil memasukkan bola, hingga kini skor mereka 3 sama.


"Buuuk."


"Buuuk."


"Buuuk."


Mario berhasil mengungguli Martin. Para siswa laki-laki yang notabenenya kurang menyukai geng Martin pun, bersorak sorai dan bertepuk tangan untuk Mario. Sementara para siswi terlihat lesu, karena mereka umumnya adalah hamba aliran Martin.


Mario memenangkan pertandingan tersebut, Ia menatap Martin sejenak lalu berjalan meninggalkan lapangan.


"Mario."


Martin memanggil Mario. Refleks remaja itu menoleh dan,


"Buuuk."


"Buuuk."


Bola tersebut dibalas lempar oleh Michael, dan tepat mengenai kepala Martin. Tak lama ia pun datang dan menonjok wajah remaja itu hingga terjadilah kericuhan.


Mereka pun dipisah, dan disidang di ruang guru. Sedang Mario di bawa Cavin menuju ke ruang UKS. Beberapa siswa dan siswi lain juga menolong.


***


Davin tiba di kantor agak siang, karena tak terlalu banyak pekerjaan serius yang harus ia kerjakan hari ini. Sesampainya di sana pun, Davin tak langsung menghidupkan komputer. Ia pergi dulu ke pantry untuk membuat kopi.


"Nin, pak Davin itu ganteng banget ya."


Seorang office girl berujar pada Anindya yang saat itu tengah bersih-bersih di area samping pantry. Mereka tidak menyadari jika Davin ada didekat mereka, hanya terhalang sekat tembok saja.


"Iya, tapi lo pada nggak usah sambil mesem-mesem gitu juga. Kagak bakalan orang kayak kita dilirik sama dia."


Anindya berujar sambil tertawa.


"Iya sih, andai gue di posisi yang sama. Atau minimal kayak mbak Agiska deh. Gue embat dah tuh pak Davin. Kalau dia belum nembak, gue yang akan nembak doi duluan."


Salah satu office girl kembali berseloroh. Membuat Anindya dan yang lainnya terkekeh.


"Eh bersihin pantry yuk." ujar Anindya lalu melangkah, teman-temannya mengikuti.


"Jegik."


Anindya pun terdiam, teman-temannya juga sama. Pasalnya di pantry, Davin tengah duduk pada sebuah kursi dan meja sambil menikmati segelas kopi.

__ADS_1


"P, pak Davin?"


Anindya berkata dengan ekspresi melongo. Davin yang tampan dan cool tersebut hanya tersenyum tipis.


"Sejak kapan bapak disini?" tanya nya kemudian.


"Dari tadi." jawab Davin, lalu kembali mereguk kopi yang ia buat.


"Bapak dengar kami tadi ngomong apa?"


"Ya." jawab Davin.


Seketika tubuh Anindya dan teman-temannya pun gemetaran. Sumpah mereka sangat malu sekali rasanya. Jika bukan karena kepentok tugas, mungkin mereka sudah berlari menjauh saking tak ingin memperlihatkan muka.


"Oh ya, siapa tadi yang mau ngembat saya?"


Davin bertanya seraya menatap mereka semua. Sontak tubuh mereka pun kian bergetar hebat.


"Anin pak."


Office girl yang mengatakan akan mengembat Davin itu pun, berusaha mengkambinghitamkan Anindya.


"Ih enak aja, orang elo." ujar Anindya membela diri.


"Anin tau pak."


"Bu, bukan pak."


Anindya masih mencoba meyakinkan Davin. Sejatinya Davin sudah sangat ingin tertawa, namun berusaha keras ia tahan demi menjaga wibawa.


Tak lama ia melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya. Davin pun meminum kopi hingga habis dan beranjak masuk kembali ke ruang kerja. Sementara kini Anindya dan teman-temannya diliputi ketakutan.


"Lu sih, pagi-pagi udah gosipin pak Davin." gerutu Anindya.


"Lo juga ikut-ikutan." Temannya membela diri.


Tak lama kepala divisi cleaning service mengecek pekerjaan mereka. Maka Anindya dan teman-temannya pun memilih diam.


***


Michael tiba di ruang UKS, setelah mendapat wejangan alias nasehat dari guru yang mencoba mendamaikan antara dirinya dan juga Martin.


Michael tak peduli soal itu, ia kini berada di muka Mario yang masih berbaring. Kepala remaja itu menengadah dengan hidung yang ditutup sapu tangan sesekali.


"Hidung lo masih berdarah?" tanya Michael pada Mario.


"Masih dikit." jawab Mario.


Michael menghela nafas.


"Ke rumah sakit aja." ujarnya kemudian.


"Gue tadi juga udah bilang gitu, tapi Mario nggak mau." tukas Cavin.


"Gue nggak apa-apa." ujar Mario berusaha meyakinkan.


Michael dan Cavin pun hanya bisa terdiam, mereka juga tak bisa memaksa Mario lebih lanjut. Dan lagipula, tampaknya ia akan segera membaik.

__ADS_1


__ADS_2