Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Tentang Brian


__ADS_3

"Pletak."


Terdengar seperti suara sapu yang terjatuh di depan ruang UKS. Mario yang sudah bersiap untuk keluar tersebut pun, kini benar-benar membuka pintu.


Ia melihat ke arah sapu yang memang terjatuh tersebut, dan melihat juga ke beberapa meter di dekat sana. Tampak Adril telah melangkah menjauh dengan cepat.


"Siapa?" tanya Cavin yang akhirnya menyusul diikuti oleh Michael.


"Nggak." jawab Mario kemudian.


Ia tak ingin cepat menuduh, namun ia sangat yakin Adril baru saja dari sana.


"Lo nggak mau pulang aja?" tanya Cavin pada Mario.


"Nggak Cav, gue baik-baik aja." Mario meyakinkan.


"Gue mau masuk kelas, udah berapa hari juga gue nggak sekolah." lanjutnya lagi.


"Ok." jawab Cavin.


Sementara Michael hanya bisa menghela nafas. Ia membiarkan Mario dengan keinginannya. Tak lama mereka bertiga pun mulai bergerak ke arah kelas.


***


"Ad."


Mario menghentikan langkah Adril, yang tengah hendak berjalan menuju pintu gerbang sekolah. Adril hendak berlalu, namun Mario dengan sigap berdiri di hadapan remaja itu dan menahan langkahnya.


"Lo kenapa sih Ad, gue salah apa sama lo?" tanya nya dengan nada penuh keingintahuan.


Adril menghela nafas, dan mengalihkan sejenak pandangannya ke arah lain. Sebelum akhirnya kembali menatap Mario.


"Lo nggak ada salah dan kita nggak ada masalah apa-apa." jawab Adril.


Kemudian Adril kembali hendak berlalu.


"Tapi lo aneh, lo nggak kayak biasanya. Kalau emang gue ada salah, atau ada tingkah laku gue yang nggak lo suka, lo harusnya ngomong. Lo jangan diemin gue kayak gini. Gue udah mikir panjang, Ad. Mikirin dimana letak salah gue, tapi gue nggak tau."


Adril diam, tak lama beberapa orang guru pun berjalan ke arah mereka. Guru-guru tersebut juga hendak pulang ke rumah masing-masing.


Adril memanfaatkan momen dengan mendekati salah seorang guru dan bertanya tentang sesuatu. Mereka pun kemudian berjalan bersama ke arah gerbang.


Tak lama Cavin yang semula pamit ke toilet, tiba di dekat Mario.


"Buruan, Mario. Kata lo mau ngecek kondisi Brian."


"Oh iya."


Mendadak Mario teringat pada Brian. Lalu mereka pun berjalan meninggalkan halaman sekolah.


***


Di lain tempat.


Anindya tengah mengantri membeli cilok yang mangkal di depan kantor. Ia hari ini di tugaskan membersihkan lobi bagian timur dan sedang dalam waktu istirahat.


"Kayaknya enak nih."


Davin muncul secara serta merta di sisi Anindya, membuat office girl muda itu terkejut. Beberapa rekan Anindya yang melihat dari kejauhan pun tampak terkejut lalu mengintip dari balik pilar.

__ADS_1


"Eh bapak." ujar Anindya kemudian.


Ia terkejut meski loadingnya agak sedikit lama.


"Bang saya mau dong." ujar Davin pada si penjual.


"Mau berapa pak?" si penjual balik bertanya.


"Kamu beli berapa Nin?" tanya Davin pada Anindya.


"Segini 3ribu pak."


"Oh banyak juga ya." ujar Davin.


"Iya, hehe."


"Ya udah bang, saya mau 3 ribu tapi 10 bungkus." ujar Davin.


"Cakep-cakep makannya banyak ternyata." gumam Anindya dalam hati.


"Udah gitu ribet lagi." lanjutnya kemudian.


"Kenapa dia nggak bungkus jadi satu aja."


Anindya terus bertanya dalam hatinya, tak lama semua cilok itu pun jadi.


"Nih, 5 buat kamu sama teman-teman kamu yang lagi ngintip di balik tiang itu." ujar Davin.


Anindya terkejut dan menoleh, begitupula dengan rekan sesama office girl yang mengintip. Mereka tidak tahu jika Davin sadar tengah dilihat oleh mereka.


"Hai pak." ujar mereka semua tak enak hati.


Davin hanya tersenyum tipis. Usai membayar dan membawa yang lima lagi, ia pun beranjak. Davin memberikan lima bungkus lainnya itu kepada Agiska dan beberapa karyawan yang dekat dengan ruangannya.


"Iya, kamu nggak alergi kan sama jajanan kayak gitu?" tanya Davin kemudian.


"Oh nggak koq pak, saya suka." ujar Agiska.


"Ok." jawab Davin sambil tersenyum dan masuk ke dalam ruangannya.


Sementara teman-teman Anindya heboh di bawah.


"Pak Davin ternyata baik ya, walau cuma beliin kita ginian doang."


Salah seorang office girl berujar, sambil makan cilok yang dibelikan oleh Davin.


"Emang lo ngarep apa?" tanya Anindya kemudian.


"Ngarep di nikahi dia sama pak Davin." celetuk yang lainnya lagi.


Anindya dan semua yang ada disitu terkekeh.


"Itu mah namanya mimpi." ujar Anindya.


Lagi-lagi mereka semua tertawa.


"Ya nggak apa-apa sih, mending mimpi daripada nggak sama sekali." Office girl rekan Anindya itu membela diri.


"Kalau nggak bisa nikahin pak Davin di alam nyata, minimal alam khayal nggak ada yang ganggu."

__ADS_1


"Hahaha."


Mereka semua kembali tertawa.


"Eh Nin, kalau misalkan pak Davin suka sama lo, gimana?"


Salah satu rekan Anindya bertanya, membuat Anindya seketika terdiam dan memperlambat makannya.


"Ah ngayal aja lo." ujar Anindya lalu melanjutkan makan.


"Ye siapa tau bener, orang pak Davin tadi mukanya seneng banget pas ketemu elo.


"Emang iya." tanya Anindya pada temannya itu.


"Iya, orang kita semua ngeliat."


Anindya terdiam, apakah memang benar Davin demikian.


"Ah."


Anindya buru-buru dan menepis pikirannya yang terlalu jauh. Tak mungkin Davin menyukai orang seperti dirinya. Ia tidak ingin terlalu percaya diri, karena takut sakit pada akhirnya.


"Gimana Nin?" tanya temannya itu sekali lagi.


Anindya pun hanya tertawa saja, karena tak tau harus berkata apa.


***


"Brian kenapa, apa kalian tau?"


Ibu lintas jaman Brian bertanya pada Mario dan juga Cavin. Ketika kedua remaja itu mengunjungi Brian di kediamannya. Brian sendiri saat ini tengah tertidur lelap, usai di beri obat oleh sang ibu.


"Brian, mmm."


Mario menatap Cavin dan begitupun sebaliknya.


"Mungkin dia lagi kecapean aja tante." Mario melanjutkan perkataan.


Ibu lintas jaman Brian tampak menghela nafas sambil memperhatikan puteranya.


"Iya kali ya, tante aja mungkin yang terlalu khawatir sama dia."


"Iya tante, tante tenang aja. Besok atau lusa, Brian pasti sehat lagi." Cavin mencoba menghibur.


Ibu lintas jaman Brian tersenyum.


"Ya sudah, nggak apa-apa. Kalian mau minum apa?" tanya Ibu Brian pada Mario dan Cavin.


"E, nggak usah repot-repot tante. Kita kesini mau cek keadaan Brian aja." ujar Mario.


"Iya tante, berhubung Brian tidur. Kita balik lagi aja nanti ke sini." timpal Cavin.


"Ya sudah, nanti kesini aja lagi. Siapa tau dengan adanya kalian, Brian jadi terhibur dan cepat sembuh."


"Iya, tante."


Mario dan Cavin menjawab di waktu yang nyaris bersamaan. Tak lama mereka pun pamit pada ibu Brian dan berjalan ke arah rumah masing-masing.


"Semoga Brian nggak apa-apa." ujar Mario ketika telah sampai di muka rumahnya.

__ADS_1


"Iya, gue berharap juga gitu." ujar Cavin.


Tak lama keduanya berpisah. Mario masuk ke dalam rumah dan begitu pula dengan Cavin.


__ADS_2