
"Maksud lo apa sih, bikin aksi protes kayak gitu tadi?"
Adril berujar dengan nada marah kepada Mario. Tatkala Mario tengah berjalan menuju ke suatu arah. Mario pun seketika menghentikan langkah dan menoleh pada temannya itu.
"Lo mau mempermalukan gue?" ujar Adril lagi.
"Gue cuma mau nolongin lo, untuk bisa diakui disini." jawab mario tegas, namun dengan volume suara yang rendah. Agar tak mengundang perhatian sekitar.
"Gue nggak perlu bantuan ataupun simpati dari lo."
"Ini bukan buat lo doang, tapi buat semua orang yang merasa dirinya sama kayak lo."
Mario menatap Adril lekat-lekat.
"Gue udah buka kesempatan, tinggal lo mau memanfaatkannya dengan baik atau nggak."
Mario kembali berbalik dan meninggalkan Adril. Tinggallah kini Adril terpaku dalam diam.
***
Di suatu sudut.
"Belagu banget itu si Mario. Pengen gue lempar pake batu palanya sampe berdarah-darah."
Martin menggerutu kesal dan bersikap seolah dirinya paling jagoan. Padahal jika di belakang teman-temannya, ia tak begitu berani menghadapi Mario.
"Itu anak makin lama, makin ngelunjak. Mentang-mentang dia juara umum dan jadi kandidat buat ikut olimpiade nanti. Dia tuh harus dikasih pelajaran." Christopher mengompori Martin.
"Bener, Mar. Gue setuju dengan apa yang dibilang sama Christ." Glen menimpali.
"Bawa ketempat sepi terus keroyok aja tuh si Mario. Sekalian balas dendam soal dulu elo yang pernah di pukuli si Michael demi ngebelain dia, waktu kita study tour."
Jimmy mengeluarkan ide jahatnya. Kini semua mata tertuju pada Jimmy.
"Kalau dia ngadu ke temen-temennya gimana?" tanya Glen.
"Lo takut emangnya?" Jimmy balik bertanya.
"Gue sih yakin, mereka kalau nggak keroyokan, nggak bakal sekuat itu ngelawan kita." lanjut remaja itu lagi.
"Iya juga sih." gumam Glen.
"Ya udah, gebukin aja sampe setengah mampus di suatu tempat yang sepi. Gimana?"
Jimmy bertanya pada semuanya. Ia, Christopher, dan Glen kompak menatap Martin. Seakan meminta persetujuan.
"Mar, jangan bilang lo nggak berani." ujar Christopher.
__ADS_1
Martin menatap temannya itu sambil berpikir. Jujur, ia agak sedikit ragu dengan rencana kali ini.
"Kalau lo nggak berani, gue tetap akan bergerak." ujar Jimmy.
"Sama, gue ikut." Glen menimpali.
"Gua juga." ujar Christopher.
Martin pun akhirnya mau tidak mau menyetujui perkara tersebut. Sebab ia. Tak ingin mematahkan semangat teman-temannya. Dan lagi ia juga sudah merasa begitu kesal pada Mario.
***
"Untuk pak Davin."
Davin melihat ada kotak bekal makanan bertuliskan namanya di atas meja kerja. Ia bingung makanan tersebut dari siapa. Namun di bawah catatan bertuliskan namanya tersebut, tertera sebuah nama lagi.
"Dari Anin."
Davin tersenyum lalu membuka kotak bekal itu. Ternyata berisi nasi berikut lauk-pauk untuk makan siang. Davin lalu menutup kembali kotak itu sambil masih tersenyum. Ia berencana untuk memakannya nantinya siang.
***
Sementara itu di kantor Deddy.
"Pak Ded, email misterius itu muncul lagi. Ada tulisan di bawahnya "Please close the door."
Salah satu rekan kerja Deddy memberitahukan hal tersebut, ketika Deddy masih sibuk mengurus berita yang mesti terbit untuk edisi besok.
"Kita semua dapat pak Ded, coba pak Ded cek surel yang masuk di akun pak Ded."
Deddy pun segera mengecek email di akunnya. Ternyata memang ada email seperti yang telah di informasikan.
"Please, we all need close the door."
Deddy mengerutkan kening, kalimat tersebut agak membingungkan. Antara kita semua butuh untuk menutup pintu. Atau menutup pintu ini adalah sebuah objek, atau sesuatu perkara yang diinginkan oleh suatu kelompok.
"Hhhh." Deddy menghela nafas.
"IT yang kita sewa belum bisa memastikan ini ulah siapa?" tanya nya pada Indra.
"Belum tau pak Ded, bahkan kita lagi cari IT lain juga sekarang. Siapa tau bisa memecahkan." jawab Indra.
"Ini udah pasti orang terdekat yang iseng nih. Bahasa Inggrisnya aja belepotan." ujar Deddy.
Ia benar-benar tak habis pikir pada kejadian seperti ini. Rasanya ia ingin sekali mengamuk apabila telah mengetahui siapa pelakunya.
***
__ADS_1
"Pak, kenapa saya di bawa kesini?"
Anindya bertanya pada Davin. Ketika sore hari sepulang kerja ia mengajak Anindya ke sebuah pusat perbelanjaan.
"Iya, kan tadi kamu udah kasih saya makan siang. Sekarang kamu boleh belanja apa aja yang kamu mau di tempat ini." ujar Davin.
Anindya terkejut.
"Tapi pak, saya kan nggak minta pamrih sama bapak. Saya ikhlas pak ngasih semua itu." ujarnya kemudian.
"Dan saya juga ikhlas ngajak kamu belanja. Ayo, kamu beli keperluan kamu, keperluan rumah kamu, apa aja yang dibutuhkan kamu dan keluarga kamu saat ini. Baik itu kebutuhan pokok atau tambahan. Nggak akan saya batasi, ambil aja."
Davin menyerahkan troli pada Anindya. Anindya sendiri belum pernah belanja menggunakan keranjang besar beroda tersebut. Sebab ia pun tak pernah membeli banyak, lantaran tak memiliki uang yang lebih selama hidupnya.
"Pak saya nggak enak." ujar Anindya lagi.
Ia serius mengenai hal tersebut. Ia merasa benar-benar tak pantas untuk menerima kebaikan Davin.
"Kalau kamu nggak mau menerima pemberian saya, untuk selanjutnya saya juga nggak mau menerima pemberian kamu lagi."
Mendengar semua itu Anindya pun mendorong troli tersebut. Lebih baik belanja daripada nanti setiap pemberiannya di tolak oleh Davin, pikirnya.
***
Siang itu Michael tengah melangkah di koridor sekolah yang cukup lengang. Para siswa telah berhamburan sejak beberapa menit lalu, sebab ini sudah jam pulang.
Michael sendiri pulang agak belakangan, sebab tadi ia harus mencari beberapa buku di perpustakaan.
Remaja itu melangkah perlahan, Namun tiba-tiba penglihatannya berubah gelap dan berbayang. Kepala remaja itu mendadak mengalami pusing yang sangat hebat.
"Tap, tap, tap."
Darah segar mengucur deras dari hidungnya. Sambil mengusap darah itu dengan tangan, ia buru-buru membuka tas dan meraih sebotol obat yang selalu ia bawa kemana-mana.
Namun tiba-tiba obat tersebut terjatuh dan menggelinding, lalu berhenti tepat di depan kaki seseorang. Michael mengenali sepatu orang tersebut sebagai milik Mario.
Waktu pun seolah terhenti. Mario menatap Michael dengan hidung yang masih berdarah tersebut, dengan jantung berdegup kencang. Kemudian ia menunduk untuk meraih obat yang berada di kakinya.
Tubuh Mario seketika bergetar, ia pernah melihat obat itu di bawa oleh salah seorang temannya di masa depan. Yang mana temannya itu menderita sebuah penyakit serius.
"Mike?"
Mario menatap Michael tak percaya. Sebab selama hidup ia melihat Mike sangat sehat dan selalu powerfull saat memarahi dirinya.
"Mike, ini nggak benar kan?" tanya nya kemudian.
Michael yang sudah tidak tahan lagi itu pun akhirnya terjatuh tepat dihadapan Mario. Sebelum kesadarannya hilang, ia sempat melihat Mario berlarian ke arahnya sambil berteriak.
__ADS_1
"Mikeee."
Lalu semua gelap.