
Brian terdiam sedih di kamar, air mata mengalir di kedua sudut mata remaja itu. Namun ia berusaha tegar dan menerima, meski hatinya begitu luka.
Terlalu rumit urusan orang dewasa baginya. Ia tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Bahkan ibunya yang semula terlihat paling bersalah pun, tak bisa ia sudutkan begitu saja. Sebab ini adalah perihal perasaan.
Siapa yang bisa memaksakan perasaan seseorang. Jika seseorang tersebut tidak memiliki perasaan terhadap kita. Tapi siapa juga yang bisa menyalahkan perasaan, jika ada orang yang begitu cinta mati pada kita.
Brian mengusap air matanya dengan tangan, ketika kemudian terdengar suara ketukan pintu.
"Den Brian, ada mas Mario sama mas Cavin."
Mbak Luna berujar. Brian lalu melangkah ke pintu dan membuka kuncinya. Kemudian ia kembali duduk di atas tempat tidur. Tak lama Mario dan Cavin pun masuk.
"Bro." ujar Mario seraya duduk disisi Brian, diikuti oleh Cavin.
"Ikut camping yuk bareng gue, Cav, sama Davin." lanjutnya kemudian.
"Gue di rumah aja." jawab Brian.
"Ayolah bro. Siapa tau nanti apa yang lo pikirkan bisa sedikit berkurang." Cavin mencoba membujuk Brian.
"Iya, bro. Kita tau lo lagi hancur saat ini, nggak perlu lo pendam sendirian. Kita selalu ada disini buat lo, bahkan sejak pertama kali kita semua tau permasalahan yang terjadi diantara bokap dan nyokap lo." Mario menimpali.
Brian diam, dan menjatuhkan pandangannya ke bawah. Mario dan Cavin kompak merangkul sahabat mereka itu.
"Ya, ya, mau ya." bujuk Cavin lagi.
Brian pun mengangguk, Mario dan Cavin lalu tersenyum.
***
Hari itu mereka pergi berempat. Mario sudah meminta persetujuan pada Deddy, dan Cavin sudah meminta izin pada orang tua Brian. Sedang ia sendiri sudah pasti diperbolehkan. Sebab ia pergi bersama kakaknya, yakni Davin.
Davin lah yang menggagas semua ini. Ketika ia tanpa sengaja mendengar Mario dan Cavin berbicara, perihal orang tua Brian yang bertengkar. Kemudian Brian pun menjadi sedih dan down.
Ia pikir yang bertengkar itu adalah orang tua lintas jaman Brian. Dan ia mencetuskan ide untuk mengajak adiknya, Mario, serta Brian refreshing sejenak selama beberapa hari.
Maka ide itu pun di setujui oleh Mario dan juga Cavin. Hingga disinilah mereka kini berada, di dalam mobil yang mulai melintasi jalan demi jalan.
"Dave, tempatnya emang beneran oke kan tapi?"
Cavin yang duduk di depan bertanya pada sang kakak, yang berada di sisi kemudi.
"Iya, tenang aja. Masa iya aku nawarin ke tempat yang nggak bagus." jawab Davin.
"Kalau nggak bagus denda ya." ujar Cavin lagi.
__ADS_1
"Dih, aturan dari mana?" tanya Davin seraya tertawa.
"Ya aturan sekarang, mulai detik ini." jawab Cavin.
"Mau denda apa coba?" Davin kembali bertanya.
"Dendanya pas pulang, Cav yang nyetir mobil sampai rumah."
"Itu mah emang akal-akalan kamu aja ya kan. Ntar tempatnya bagus juga, pasti bakalan kamu bilang nggak bagus. Demi mendapatkan tuntutan itu. Itu mah bocah SD juga udah bisa kebaca, Cav."
"Emang kak, Cavin udah merencanakan itu sejak tadi." celetuk Mario.
"Eh, sialan lo ya." Cavin menoleh pada Mario sambil tertawa. Brian pun jadi ikut-ikutan tertawa.
"Tanya Brian kak." ujar Mario lagi.
"Bener, Bri?" tanya Davin pada Brian.
Brian yang masih tertawa itu mengangguk.
"Bener koq kak."
"Eh, nggak ada gue ngomong kayak gitu." Cavin membela diri.
"Alah Cav, ngaku aja. Emang lo pengen bawa mobil sambil ugal-ugalan kan." ujar Mario lagi.
"Nggak gitu, Dave. Lagian percaya aja sama mulutnya mereka. Mereka itu uler kepala sembilan."
"Nggak beneran koq kak. Emang Cav ngomong kayak gitu tadi." ujar Mario lagi.
"Iya beneran." timpal Brian.
"Kagak ada." Cavin terus membela diri.
Seisi mobil itu menjadi riuh dan penuh canda tawa. Sejenak Brian pun melupakan permasalahan yang terjadi pada kedua orang tuanya.
***
Sementara itu di sebuah danau buatan, masih di sekitaran area kompleks perumahan. Adril terdiam pada sebuah kursi panjang yang menghadap ke perairan.
Benaknya masih berpikir dan berperang, soal keputusan yang akan diambil mengenai lomba di sekolah. Akan ia ikuti atau tidak kompetisi tersebut.
Batinnya masih berat sebelah. Ia belum bisa menerima dengan ikhlas jika Mario tetap akan menjadi kandidat, dalam olimpiade yang akan segera di laksanakan.
Hatinya terus bertanya-tanya, mengapa lagi-lagi Mario. Mengapa harus Mario juga yang membukakan jalan baginya untuk meraih apa yang ia mau.
__ADS_1
"Lo masih aja berperang dengan perasaan, disaat kesempatan sedang terbuka lebar di depan mata."
Sebuah suara diikuti langkah terdengar mendekat. Adril tak bergeming sama sekali, sebab ia tau itu adalah suara milik Michael. Kini remaja itu duduk disisi Adril dengan pandangan mata yang tertuju ke arah danau.
"Mario nggak perlu lo balas kebaikannya. Gue yakin dia nggak berpikir ke arah situ. Lo nggak usah terlalu percaya diri bahwa dia akan mengharap terima kasih, dari orang-orang yang sudah dia bukakan jalannya."
"Lo nggak kenal Mario, lo baru-baru ini aja dekat sama dia."
Adril menjawab perkataan Michael dengan nada dingin, dan tanpa menoleh sedikitpun. Pandangan matanya masih tetap tertuju ke arah depan.
"Dan lo yang merasa udah kenal lama sama dia, tapi lo sendiri bahkan nggak tau sifat dia kayak apa. Temen macam apa lo?."
Michael kembali beranjak, usai mengatakan hal tersebut.
"Hidup itu cuma dua pilihan." ujar remaja itu kemudian.
"Ambil kesempatan, atau hidup selamanya dalam penyesalan."
Adril terdiam mendengar semua itu, sementara Michael melangkah menjauh.
***
Di kantor Deddy.
"Gimana?"
Deddy bertanya pada salah seorang bawahannya.
"Ini pak, sudah saya terjemahkan sandinya." ujar karyawan itu.
Deddy menerima secarik kertas yang diberikan untuknya. Berisi salinan kode yang telah di terjemahkan. Sebelumnya ia kembali menerima email misterius di akun miliknya. Tetapi kali ini menggunakan kode Morse. Deddy yang tak terlalu hafal kode tersebut, meminta bawahannya untuk menerjemahkan.
"Mulailah dari dalam rumah, sebab di dalam rumah ada jantung yang tak henti berdetak. Dialah yang berasal dari sini, dan dialah yang akan membawamu kembali ke sini. Kau hanya lupa, sebab memori mu tersangkut perkara. Kau akan segera ke bibir jurang dan mengingat. Lalu saat itu kalian akan pulang."
Deddy mengerutkan kening saat membaca terjemahan itu.
"Ini serius terjemahannya?" tanya nya pada si karyawan.
"Iya pak, ini terjemahannya." jawab karyawan itu.
Deddy menggaruk belakang kepalanya yang tak berambut.
"Ini sih nggak usah pake kode Morse, begini aja udah ribet." ujarnya kemudian.
"Iya sih pak." jawab karyawan itu lagi.
__ADS_1
Lalu keduanya kini sama-sama terlihat bingung.