
Siang itu.l Deddy sama sekali belum mengirimi Mario pesan, maupun meneleponnya. Biasanya ketika tak bisa pulang cepat, Deddy selalu tak lupa menelepon. Sekedar untuk menyuruh Mario makan. Sepertinya memang Deddy benar-benar marah atas sikap Mario kemarin, Mario pun mengirimkan pesan singkat pada pria itu.
"Dad, daddy sibuk banget ya?"
Mario mengirim pesan tersebut, berharap Deddy membalasnya. Ia ingin semua ketegangan antara dirinya dan Deddy segera berakhir dan mereka bisa berbaikan kembali.
Namun tiba-tiba ia menerima sebuah notifikasi.
"Pesan tidak terkirim.”
Mario pun lalu mengirimnya kembali, namun notifikasinya tetap sama. Mario coba menghubungi nomor Deddy, karena khawatir terjadi apa-apa pada ayah lintas jamannya itu.
"Maaf, pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini."
"Bangsat, gue pikir daddy kenapa-kenapa. Ternyata pulsa gue abis.”
Mario pun meraih dompetnya yang terletak di atas meja. Ia lalu keluar rumah dan menyambangi counter handphone, yang ada di ujung jalan dekat gerbang masuk kompleks perumahannya.
Namun ternyata counter tersebut tutup, selain di sana tak ada lagi. Ada juga di tempat yang lumayan jauh dan tidak mungkin ditempuh dengan jalan kaki. Mario mencoba mencari di cluster lain, masih di kawasan kompleks perumahannya. Namun lagi-lagi counter tersebut tutup.
"Nih orang pada kenapa sih, pada nggak mau duit apa?" gerutu Mario kesal.
Ia pun memutar arah, bermaksud mencari jarak terdekat menuju kerumahnya. Namun kemudian ia menemukan sebuah tempat yang bernama,
"Wartel?"
Mario tercengang, apalagi ketika melihat gambar telpon di atasnya.
"Warung telpon?"
"Maksudnya jualan telpon?" gumamnya lagi.
Karena penasaran Mario pun mendekat. Ia melihat banyak orang yang menelepon di dalam sana. Pada sebuah sekat yang berisi perangkat telepon.
"Oh jadi ini tempat nelpon.” ujar Mario. Ia baru tau jika dulu ada tempat seperti ini.
"Please deh, norak banget.”
Ada orang yang tiba-tiba mencibir Mario.
"Ye, emang gue nggak tau kalau ada beginian. Di jaman gue dimasa depan kagak ada beginian.” ujar Mario sengit, ia lalu melangkah ke dalam.
"Mas."
Tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya.
"Iya." Mario menoleh ke arah orang tersebut.
"Ngantri, mas." ujar orang itu lagi.
Mario menoleh ke belakang, ternyata antreannya begitu panjang.
"Buset, panjang bener. Dah kayak ngantri mau beli boba.” ujarnya kemudian.
Mario pun mundur perlahan sebelum dicaci maki. Bahkan ia tak jadi ikut antrean, dan malah kembali melanjutkan langkah ke arah rumahnya.
Pada sebuah telpon umum di dekat taman, Mario pun berhenti dan mencoba menelepon Deddy dengan beberapa koin yang ia bawa.
Telpon pun tersambung.
"Hallo, ini siapa?"
Suara Deddy terdengar di seberang.
"Dad, ini Mario."
Deddy menghela nafas.
"Kenapa?"
Nada bicara Deddy berubah, dari yang biasa menjadi sedikit dingin.
"Daddy kenapa nggak SMS Mario, nggak telpon Mario hari ini?. Pagi tadi juga nggak bangunin Mario, nggak pamit juga.”
"Enak nggak di gituin?. Kemaren kamu biasa aja nggak ngabarin daddy seharian.”
"Dad, Mario udah minta maaf semalem. Tapi daddy nggak terima. Malah masuk ke kamar, banting pintu.”
"Kamu minta maaf itu karena beneran sadar kamu salah, atau cuma sekedar biar daddy nggak marah?"
Kali ini Mario terdiam, sejujurnya keduanya benar. Ia tau jika ia salah, namun ia juga meminta maaf bermaksud agar Deddy tak lagi marah kepadanya.
__ADS_1
"Udah ya, daddy mau kerja dulu.”
"Dad, ntar dulu. Kelarin dulu perkara kita.”
"Mario, daddy sibuk.”
"Mario nggak mau kalau daddy masih marah. Mario cuma mau,....”
"Braaaak."
Sebuah benturan keras terdengar, tiba-tiba Mario tak lagi bersuara.
"Mario.?"
Tak ada jawaban.
"Mariooo?. Hallo, Mario kamu denger daddy nggak?"
Tetap tak ada jawaban.
"Mario, jawab...!"
Seketika Deddy pun panik, membuat seisi kantornya bertanya-tanya.
"Ada apa pak Deddy?" tanya salah seorang rekan kerjanya.
"Anak saya, pak.”
"Mario?. Kenapa dia?"
"Saya nggak tau, barusan saya denger suara tabrakan dan dia nggak bicara lagi ditelpon. Saya harus pulang.”
"Ya udah, hati-hati pak.” ujar rekan kerjanya yang lain lagi.
Deddy mengangguk lalu meraih kunci mobilnya, ia buru-buru menuju halaman parkir. Setelah menemukan mobilnya, ia pun langsung menuju ke arah rumah. Karena ia sendiri tak tau dimana posisi Mario saat ini.
Tapi di jam seperti ini, pastilah Mario menelepon dari telpon umum yang tak jauh dari rumah mereka. Sebab anak itu dipastikan telah pulang dari sekolah.
Deddy mengemudikan mobil dalam keadaan panik, hatinya begitu risau. Ia takut terjadi apa-apa dengan Mario. Ia menyusuri jalan demi jalan, untung saja jalanan tersebut terbilang sepi. Sehingga ia bisa dengan leluasa mengemudi, dengan kecepatan tinggi.
Ketika melintasi telpon umum terdekat dari rumahnya, Deddy pun langsung menghentikan mobil. Pasalnya memang telah terjadi kecelakaan ditempat itu.
Deddy langsung berfikir, jangan-jangan Mario lah yang menelepon pada perangkat tersebut. Deddy pun semakin panik, apalagi banyak polisi yang kini berada di tempat itu.
"Pak permisi pak.”
Deddy mendekati salah seorang anggota polisi, yang tengah sibuk memasang garis polisi di TKP.
"Iya pak.”
"Ini korban kecelakaannya gimana?"
"Sudah di bawa ke rumah sakit, pak.”
"Rumah sakit yang di sana?"
Suara Deddy makin terdengar panik.
"Iya pak.”
"Ok makasih pak."
Deddy kembali kedalam mobil dan menghidupkan mesin. Jantungnya berdegup kencang, serta pikirannya kini runyam.
Ia pun buru-buru meninggalkan tempat tersebut. Bermaksud menyambangi rumah sakit, tempat dimana korban kecelakaan itu dibawa.
Ia bahkan tidak sadar jika dirinya kini mengemudi dengan kecepatan tinggi. Saking inginnya ia cepat sampai ke rumah sakit tersebut, dan menanyakan perihal kondisi korban.
Mobilnya terus melaju, sampai kemudian ia bertemu seseorang yang tengah berjalan terburu-buru. Deddy terkejut, ia menghentikan mobilnya dan keluar. Lalu ia menghampiri orang tersebut.
"Mariooo."
Teriaknya penuh emosional, Mario menyadari kehadiran Deddy.
"Dad?"
Deddy memeluk Mario secara serta merta, diperhatikannya sekujur tubuh anak itu dengan seksama.
"Kamu nggak apa-apa kan?. Kamu nggak ketabrak kan?"
"A, nggak Dad. Itu tadi tabrakan memang, tapi Mario udah menghindar duluan. Jadi nggak kena.”
__ADS_1
"Hhhhh."
Deddy menghela nafas lega, ia sudah sangat khawatir sekali.
"Ya udah, ayok pulang.”
Deddy menyuruh anaknya masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, mobil tersebut pun kembali berjalan menuju rumah.
Sesampainya di rumah, Deddy masih tak percaya jika Mario baik-baik saja. Ia terus menanyakan kondisi anaknya itu.
"Mario beneran kamu nggak apa-apa?" tanya nya lagi ketika mereka hendak masuk ke dalam rumah.
"Nggak dad, ini Mario masih bisa jalan. Nggak ada luka juga orang nggak kena."
"Ya udah masuk sana...!"
Mario pun melangkah masuk ke dalam rumah. Ia meletakkan dompet dan juga handphonenya di atas meja makan.
"Mario udah angkat jemuran belum, mendung soalnya."
"Belum dad, ini mau di angkat.”
Mario pergi ke halaman belakang dan mengangkat jemuran. Tiba-tiba Brian menelepon, ia pun buru-buru masuk ke dalam untuk mengangkat telpon tersebut.
"Hallo."
"Mario."
Suara Brian terdengar gemetaran.
"Bri, lo kenapa?" tanya Mario heran.
"Mario."
"Ya, kenapa Bri?. Lo kenapa?"
Brian tak menjawab, segera saja Mario berlarian keluar. Pada saat yang bersamaan, Cavin pun tengah berada di depan rumahnya.
"Kenapa?" tanya Cavin yang heran melihat ekspresi panik di wajah Mario.
"Ga tau Brian, dia nelpon gue tapi cuma manggil nama gue aja."
"Ayo buruan...!" ujarnya kemudian.
Cavin ikut berlarian menuju rumah Brian, saat itu mereka melihat Brian terpaku. Menatap ke arah beberapa orang, yang tampaknya baru saja pindah ke seberang rumahnya.
"Bri?"
Brian masih diam dan terus menatap kesana, Mario dan Cavin pun lalu ikut menatap ke arah tersebut. Seketika mereka terdiam, sama seperti Brian.
"Bri, itu kan nyokap-bokap lo waktu masih muda." ujar Mario dengan wajah tertegun. Ia hampir tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Iya, gue pernah liat fotonya di album foto rumah lo." timpal Cavin.
Kedua orang tua Brian yang masih muda itu tampak sibuk memindahkan barang. Mata Brian berkaca-kaca, bahkan perlahan air matanya pun jatuh membasahi kedua sudut matanya.
Kedua orang tuanya tiba-tiba menoleh, mereka lalu saling menatap satu sama lain untuk sejenak. Kemudian mereka melangkah ke arah Brian, Mario, dan juga Cavin yang tengah berdiri mematung.
Tak lama setelah itu, kedua orang tua lintas jaman Brian pun keluar dari rumah. Brian buru-buru menghapus air matanya.
"Selamat siang."
Kedua orang tua kandung Brian menyapa, sementara kedua orang tua lintas jaman Brian menyambut dengan ramah.
"Selamat siang."
"Kami tetangga baru. Saya Brandon, dan ini istri saya Laras."
"Selamat siang."
Kedua orang itu menyalami orang tua lintas jaman Brian. Brian sendiri tak henti-hentinya memperhatikan sang ibu kandung.
Sudah lama sekali ia tak bertemu wanita itu, terakhir saat ia berusia tiga tahun. Itupun ibunya hanya melihatnya dari kejauhan, karena sang ayah melarang Brian berdekatan dengan ibunya.
"Oh ya, ini anak kami. Dan ini kedua temannya."
Orang tua lintas jaman Brian memperkenalkan anak mereka, pun demikian dengan Mario dan juga Cavin.
"Hallo."
Brian memaksakan sebuah senyuman, rasanya ingin sekali ia menghambur dan memeluk ibunya. Namun semua itu ia tahan, karena disini statusnya hanyalah seorang anak tetangga. Ia tak ingin menimbulkan kesalahpahaman.
__ADS_1