Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Lanjutan


__ADS_3

Dua hari berselang, kini giliran Cavin yang menunjukkan kemampuannya. Hari ini ia telah siap dengan pertandingan yang akan segera dimulai dalam beberapa menit ke depan.


Mario, Brian, Heru, dan Ratna duduk di kursi penonton. Dengan posisi Ratna berada di sebelah Heru. Gadis itu masih saja enggan menegur Mario dan Mario sendiri sedang tak mau ambil pusing.


Ia sudah cukup runyam memikirkan kesehatan ayahnya. Ia tidak ingin ada apapun lagi yang membebani pikirannya.


Para peserta yang mewakili sekolah sudah berkumpul. Baik itu peserta untuk jenis pertandingan Kumite (perkelahian), Kata (jurus), maupun Kihon (peragaan tehnik).


Hanya Cavin saja yang belum terlihat, entah dimana dia kini.


Mata Mario dan juga Brian menjelajah kesana kemari, namun mereka tak jua menemukan Cavin. Sementara disisi lapangan, pelatih Cavin tampak resah dan melihat kesana-kemari.


"Mario."


Tiba-tiba mata Brian tertuju pada sesuatu. Tepatnya pada pergelangan tangan Martin, yang kini berdiri diantara peserta lainnya. Mario pun menyadari sesuatu.


"Cav." ujarnya seraya menatap Brian.


Detik berikutnya mereka pun bergegas meninggalkan kursi penonton. Membuat bingung Heru dan juga Ratna.


Mario dan Brian berlarian dan membuka ruang demi ruang yang ada di sekolah tersebut. Acap kali mereka salah membuka ruangan, dan mendapat teriakan dari orang-orang yang ada didalamnya.


Pasalnya pertandingan itu diadakan bukan disekolah mereka. Sekolah lain lah yang menjadi tuan rumah. Mereka tidak tau ruangan apa saja yang terdapat disana. Yang jelas kini mereka sedang mencari keberadaan Cavin.


"Cav, Caaav."


Keduanya berteriak sambil terus membuka ruangan demi ruangan. Sampai kemudian, mereka menemukan Adril yang tampak tergesa-gesa.


"Ad." ujar mereka serentak.


Adril menatap keduanya dengan tatapan lemas tak berdaya, seolah tenaganya kini habis. Tampaknya ia tau dimana Cavin kini berada, karena sepertinya tadi ia berlari hendak mencari bantuan.


Adril pun mengarahkan mereka ke sebuah ruangan. Tampak Cavin terkulai lemah dengan bibirnya yang biru lebam.


"Cav."


Mario dan Brian menghambur ke arah Cavin.


"Lo kenapa, Cav?" tanya keduanya khawatir.


Cavin menggelengkan kepalanya.


"Gue nggak tau. Tiba-tiba ada orang yang nutup mulut gue dari belakang, abis itu gue nggak inget apa-apa lagi. Gue yakin, gue dipukulin pas gue nggak sadar tadi."


"Gue sama Brian tau siapa pelakunya, kita bisa buktiin. Tapi kita nggak punya saksi."


"Gue saksinya."


Seseorang berbicara di depan pintu ruangan, tempat dimana Cavin ditemukan. Baik Mario, Brian, maupun Adril tak mengenal siswa laki-laki itu. Karena dia adalah anak sekolah sini.


"Lo, beneran ngeliat kejadiannya?" tanya Adril kemudian. Anak itupun mengangguk.


"Gue pikir mereka lagi bercanda, makanya gue tinggalin aja. Gue nggak tau kalo sampe kayak gini kejadiannya."


"Tapi, lo sendiri yang ngeliat?" tanya Mario kemudian.


"Gue juga ngeliat, koq."


"Gue juga."


Dua orang siswa lagi muncul ke hadapan mereka semua.

__ADS_1


Sementara di aula pertandingan, pembina dan pelatih klub karate sekolah Mario masih saja resah. Pasalnya bukan hanya Cavin yang tidak terlihat, Adril yang tadi sudah berada di dalam sana pun ikut menghilang. Sementara kini pertandingan sudah dimulai.


Martin telah berdiri pada sebuah arena dengan  lawan yang berada dihadapannya, ia telah siap menghadapi lawannya itu dan berambisi membawa kemenangan. Supaya namanya lebih di elu-elukan lagi di sekolah.


"Namun kemudian terjadi sebuah kericuhan. Pelatih dan pembinanya tampak berbicara dengan panitia penyelenggara. Pertandingan yang harusnya sudah dimulai itu akhirnya tertunda. Tak lama kemudian, terdengar sebuah pengumuman yang menyatakan jika Martin telah didiskualifikasi oleh pihak penyelenggara.


"Apa-apaan, nih?." Martin protes di depan semua orang yang ada di ruangan tersebut.


"Kenapa gue di diskualifikasi?"


"Karena apa yang lo perbuat terhadap Cav."


Mario muncul dengan didampingi Adril, Brian, dan beberapa orang saksi yang tadi sudah mengadu kepada pihak penyelenggara.


"Apaan sih?. Emang si Cavin gue apain?"


"Nggak usah bacot, lo."


Brian nyolot di muka Martin. Secara di jamannya, dia sudah menjadi siswa SMA yang lumayan disegani disekolah. Baginya, bocah SMP seperti Martin tak ada apa-apanya.


"Eh lo jangan sembarangan ya, gue nggak ada tuh mukul-mukul dia."


"Koq lo tau dia dipukul?"


Mario mengajukan pertanyaan yang membuat Martin dan seisi ruangan tersebut menjadi bungkam.


"Gue belum ngasih tau keadaan Cavin, dan Cavin juga nggak ada disini. Kenapa lo bisa tau kalau dia dipukulin?."


Martin makin terdiam, kali ini keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya.


"Elo nyuruh temen geng lo buat membius Cavin, abis itu Cavin lo aniaya. Pengecut lo, tau nggak?. Kalau berani, duel satu lawan satu lo sama dia. Bikin malu nama sekolah aja, lo."


"Udah, udah. Martin ikut saya..!"


"Haduh, siapa ini yang bisa menggantikan Martin." Pelatihnya masih berfikir keras, ia tampak mondar-mandir dibelakang arena.


"Saya tetap akan bertanding, pak."


Seseorang tiba-tiba muncul, membuat pelatih dan juga para peserta yang ada disitu terkejut. Mario, Brian, dan Adril pun ada ditempat itu.


"Cav.?"


Mario tak percaya dengan apa yang ia lihat, ia pikir Cavin sudah dilarikan kerumah sakit. Namun ia berdiri dihadapan mereka semua dengan tubuh yang masih terlihat lemah.


"Cav, lo masih dibawah pengaruh sisa obat bius." ujar Brian kemudian.


"Bahaya, Cav." Adril menambahi.


"Gue udah terlanjur disini dan gue akan tetap bertanding."


"Tapi, Cav."


"Saya baik-baik aja, pak. Percaya sama sama saya."


Pelatihnya pun tak bisa berbuat banyak, karena Cavin sangat bersikeras. Mario dan Brian sebenarnya agak khawatir. Tapi demi melihat tekad Cavin yang begitu kuat, mereka pun hanya bisa mengiyakan saja keinginan teman mereka tersebut.


Cavin berdiri dihadapan lawan yang semula diperuntukkan bagi Martin. Tak lama kemudian, pertandingan pun di mulai.


Satu persatu yang menjadi lawan Cavin pun, tumbang. Cavin seperti memiliki energi lebih, akibat kemarahan dan dendamnya terhadap Martin. Ia terus menguasai kemenangan hingga kini lawannya tinggal tersisa hanya 1 orang saja. Namun Cavin mulai mengeluhkan sakit pada bagian perut dan dadanya.


"Lo yakin, Cav. Mau lanjut?." tanya Mario penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Udah sisa satu ini lagi. Nanggung kalau gue mundur."


"Gue sama Brian tuh khawatir, Cav."


"Gue baik-baik aja, lo berdua nggak usah khawatir."


Tak lama kemudian, pertandingan akhir pun dilangsungkan. Performa Cavin sudah menurun drastis akibat terlalu kelelahan. Ditambah lagi ia habis dianiaya oleh Martin dan teman-temannya.


Kini baik Mario maupun Brian lebih banyak memalingkan wajah ke arah lain. Mereka tak tahan melihat Cavin yang terus terkena serangan. Namun di sisa-sisa waktu pertandingan, Cavin berhasil menumbangkan lawannya.


Mario dan Brian akhirnya bernafas lega. Cavin telah membuktikan pada semua bahwa ia memang layak membawa kemenangan. Namun hanya sebentar kemenangan itu ia nikmati, karena tiba-tiba Cavin jatuh tak sadarkan diri.


"Buuuk."


"Cav."


Mario dan Brian berlarian ke arah Cavin,  begitupula dengan pembina, pelatih, dan pihak penyelenggara acara. Sebuah ambulans tiba dan Cavin langsung dibawa kerumah sakit terdekat, untuk segera mendapatkan pertolongan.


Hari itu, Cavin bangun diantara kedua temannya yakni Mario dan juga Brian. Mereka berdua yang menjaga Cavin sejak tadi. Karena Davin dan kedua orang tua lintas jaman Cavin, masih didalam perjalanan.


"Cav, lo gimana keadaannya?" tanya Brian ketika Cavin sudah membuka mata. Anak itu tersenyum.


"Gue baik, bro. Cuma tadi gue nggak sempet foto, pas gue menang. Kan lumayan kalau portal ke masa depan kebuka, itu foto bisa gue bawa."


"Udah ntar foto lagi aja, kan medalinya diambil sama pihak sekolah. Lo pinjem aja ntar buat foto, yang penting tuh kesehatan lo dulu sekarang." Mario berujar panjang lebar.


"Iya, kalian ada ngehubungin keluarga gue?”


"Ada, mereka lagi dijalan." tukas Mario.


"Mereka gimana reaksinya?"


"Panik, kakak lo apa lagi." timpal Brian.


Cavin hanya tersenyum, jujur ia menang banyak hari ini. Menang pertandingan, menang melawan perasannya yang selalu mengatakan jika ia tidak mampu melakukan hal besar. Dan menang atas kekhawatiran orang tua lintas jaman dan juga kakaknya. Baginya walaupun sakit, balasannya sudah lebih dari cukup.


"Lo jangan gitu lagi ya, Cav. Gue nggak mau lo melakukan hal nekad apapun, yang bisa mengancam keselamatan jiwa lo." Lagi-lagi Mario menceramahinya.


"Iya Mario, gue janji. Lagian gue pikir ini kan jaman nggak tau bener apa halusinasi. Jadinya ya, lakukan aja apa yang mau kita lakuin."


"Iya, tapi kita tetep harus waspada. Siapa tau jaman ini nyata. Kalau lo mau mati di jaman ini, gue ngomong apa nanti ke emak lo. Kalau gue misalkan bisa balik ke masa depan."


"Bilang aja gue udah RIP."


"Lu yang ngomong, enak. Gue sama Brian yang bakal dipenjara."


Kali ini Cavin tersenyum. Tak lama kemudian, kedua orang tua lintas jaman beserta kakaknya tiba. Ibunya menangis histeris, sedang ayahnya berusaha menahan air mata. Davin sendiri tampak begitu marah kepadanya.


"Aku akan cari dan bikin perhitungan dengan anak itu."


Davin berujar beberapa saat setelah ayah dan ibunya dipanggil oleh dokter. Sementara Mario dan Brian duduk di kursi pojok sambil diam menunduk.


"Jangan, Dave. Udalah, Cav juga udah nggak apa-apa."


"Kamu tuh ngegampangin sesuatu, Cav. Ini tuh bahaya tau nggak, ini tindak kriminal. Dia pukul kamu saat kamu dalam posisi nggak sadar, harusnya kita lapor polisi."


Davin berujar masih dengan emosi yang memuncak.


"Dave, udalah. Sekali ini aja, demi Cav. Cav cuma mau lo disini, sama Cav."


Davin menghela nafas, ia lalu duduk disisi Cavin seraya menatap adiknya itu.

__ADS_1


"Tadi Cav, menang." ujar Cavin kemudian.


Davin pun mengangguk, dengan mata berkaca-kaca dan emosi yang mulai mereda


__ADS_2