
"Sabar ya."
Ratna tampak berbicara pada Adril keesokan harinya, Heru juga ada ditempat itu. Ketika Mario, Brian, dan Cavin mendekat, Adril justru pergi begitu saja.
"Si Adril kenapa?" tanya Cavin pada Ratna dan juga Heru.
Ia merasa ada sesuatu yang ganjil dengan sikap teman lintas jamannya itu. Tak seperti biasanya Adril melengos begitu saja. Selama mengenalnya, Adril merupakan teman yang ramah dan selalu berinteraksi dengan baik pada Mario, Brian, dan juga Cavin. Kini ia bersikap seolah ketiga anak itu memiliki salah terhadapnya.
"Nggak apa-apa." ujar Ratna seolah menutupi.
"Iya kan, Her." ujarnya meminta dukungan Heru, Heru pun mengangguk. Namun tetap saja Mario, Brian, dan Cavin merasa curiga. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh kedua anak itu.
"Beneran?" tanya Cavin lagi.
"Be, beneran." ujar Ratna dengan nada terbata-bata dan kurang meyakinkan. Ia menatap sekilas ke arah Cavin, Mario, dan Brian. Lalu membuang pandangannya kearah lain.
"Gue sama Heru kesana dulu, ya."
Ratna kemudian menarik Heru, untuk segera menjauhi tempat itu. Sementara Mario, Cavin, dan Brian masih terpaku ditempat dan saling menatap satu sama lain.
Ratna boleh pandai berkilah, namun dimasa depan mereka bertiga adalah anak SMA. Mereka bisa dengan mudah menangkap kebohongan di dalam mata dan nada bicara anak SMP seperti Ratna.
***
Dikantor Deddy.
Sudah beberapa hari ini Deddy mendapatkan email aneh di laman surel miliknya. Seperti sebuah sandi namun ia sendiri tak mengerti, sandi tersebut bukanlah sandi yang familiar dan lazim digunakan oleh banyak orang saat ini. Seperti sebuah tanda-tanda yang sengaja diciptakan sendiri, dan menuntut orang yang menerimanya untuk mengerti.
Deddy sudah menceritakan hal ini pada rekan-rekan kerjanya. Namun diantara mereka tak ada yang bisa memecahkan. Bahkan ada yang sudah beberapa hari ini selalu berkutat dengan komputer, demi memecahkan sandi tersebut.
Hari ini ia mendapatkannya lagi, isinya sama persis seperti kemarin. Hanya saja dibagian bawah terdapat sebuah gambar menyerupai gagang pintu. Deddy sendiri bingung, tak jelas siapa yang mengirim email tersebut. Karena tak ada nama yang tertera disana. Padahal seharusnya sebuah email, akan otomatis memperlihatkan nama email pengirimnya.
"Masih belum terpecahkan juga, Ded?" tanya salah seorang rekan kerja Deddy yang duduk didekatnya.
"Belum, nggak tau gue maksudnya apa." jawab Deddy seraya menatap sejenak ke arah rekannya itu, lalu kembali menatap komputer.
"Email dari masa depan kali." celetuk salah seorang rekan kerjanya yang lain.
Deddy pun hanya tertawa kecil. Kadang ia dan temannya memang sering berkhayal, tentang orang-orang yang datang dari masa depan. Atau pesan yang sengaja dikirim orang-orang di masa depan dan lain sebagainya.
"Maybe, coba liat laci meja masing-masing. Siapa tau ada portal didalamnya." seloroh Deddy.
"Itu mah Doraemon, Ded." ujar temannya seraya tertawa.
Tak lama kemudian, sebuah email pun kembali masuk. Tetap masih tanpa nama pengirim, kali ini berisi lebih banyak sandi yang tampak begitu asing.
"Nih, nih, nih. Muncul lagi nih." ujar Deddy seraya menatap ke layar komputer.
Rekan kerjanya kini berkumpul didekatnya. Mereka sama-sama memperhatikan layar komputer tersebut.
"Copy, Ded. Biar coba gue lacak." ujar salah satu dari mereka.
***
"Pak Davin, pak Davin belum punya pacar emangnya?"
Agiska bertanya pada Davin, ketika mereka berdua tengah makan siang bersama.
"Kalau diluar nggak usah panggil pak, Davin aja. Kita seumuran kayaknya."
Agiska tersenyum.
"Aku lebih tua setahun sih, pak. Eh, Davin." ujar Agiska kemudian.
"Oh ya?"
"Iya, aku tau data kamu waktu baru mau masuk ke kantor. Dan aku lebih tua satu tahun dari kamu."
"Berarti dipanggil mbak, dong." ujar Davin.
__ADS_1
"Jangan mbak, atuh. Giska aja."
"Ok deh, Giska." Davin tersenyum lalu Agiska pun membalasnya.
"Huhui, yang tatap-tatapan."
Tiba-tiba Cavin muncul dari suatu arah. Ia berjalan bersama Cavin dan juga Brian. Davin sempat tersentak dengan kehadiran anak itu.
"Mau kemana kamu?" tanya Davin kemudian. Cavin nyengir lebar sampai kuping.
"Mau les lah."
"Tumben sadar sendiri."
"Cie yang mengalihkan topik. Aku kasih tau mami ya, Davin punya cewek."
"Cav."
Davin hendak mendekat, namun Cavin keburu berlari. Disusul Mario dan juga Brian yang tampak sama cengar-cengirnya.
"Jangan mau mbak sama Davin, kalau tidur suka ngigau nama-nama cewek."
"Awas ya, Cav. Ntar selesaikan dirumah." teriak Davin sewot.
"Itu tadi siapa?" tanya Agiska pada Davin.
"Adek aku, namanya Cavin."
"Cavin?"
Agiska menatap ke arah anak itu, Cavin punĀ kembali menoleh dan masih tersenyum. Entah mengapa seolah ada tali yang terhubung di hati mereka kini. Seperti sesuatu yang asing, namun terasa begitu dekat.
"Dia, usianya?"
"Beda jauh sama aku. Dia itu masih SMP kelas dua."
"Berarti kamu mantan anak tunggal dong?" Agiska meledek sambil tertawa.
Lagi-lagi Agiska tertawa, memperlihatkan barisan giginya yang rapi. Entah mengapa Davin sangat menyukai cara wanita itu tertawa.
"Tapi hubungan kamu sama dia gimana?"
"Baik, ya relatif lah. Kayak hubungan antar sadara pada umumnya. Cuma kadang, karena saking sibuknya orang tua kita, dia jadi apa-apa itu ngadu ke aku. Kadang aku malah kayak bapaknya dia."
"Oh ya?" Agiska bertanya seraya menahan tawa.
"Iya, ngurus dia. Nganter kesekolah, nganter les, nemenin buat PR, nemenin dia main game, kadang sakit aja aku yang urus."
"Tapi kalau dia ke kamu?"
"Ya sama aja. Dia orangnya perhatian, kadang nyebelin juga."
"Pernah berantem nggak sih kalian?"
"Hmm, jarang. Paling ya gitu-gitu doang. Beda pendapat, debat. Abis itu main bareng, makan bareng lagi."
"Seru ya, aku malah nggak deket sama saudara-saudara ku."
"Oh ya?"
"Iya, pada masing-masing soalnya."
"Kalian tinggal serumah?"
"Iya serumah, tapi pada hidup di kamar masing-masing. Suka asyik sendiri."
"Siang pak, bu. Ini pesanannya." Seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka.
"Kita makan dulu, bentar lagi jam istirahat berakhir loh." ujar Davin. Keduanya pun lalu makan bersama.
__ADS_1
***
Sementara di jalan.
"Buruan, Mario. Ntar ketabrak lo, ngeliat buku mulu." teriak Cavin.
"Iya, bentar."
Mario masih berkutat dengan bukunya, walaupun itu sangat berbahaya. Sama saja dengan kebiasaan di jamannya, yang suka berjalan seraya memperhatikan handphone.
"Buruan, Bambang...!"
"Iyaaa." Mario masih saja fokus, sampai akhirnya Cavin berbalik lalu menyeret anak itu.
"Ntar dulu, Cav. Ini nanggung, gue mau pahami dulu."
"Iya, ntar kan bisa. Ngapain mesti dijalan, sih." gerutu Cavin kemudian.
"Iya, ntar dulu."
Tiba-tiba Brian merampas buku yang ada di tangan sahabatnya itu. Mario kini menatap Brian.
"Jalan atau gue robek nih buku." ujar Brian mengancam.
"Iya, iya."
Mario melangkah seraya ngedumel, sedang buku tersebut kini disimpan oleh Brian didalam tasnya.
***
Malam itu Deddy lembur di kantor, tak ada orang lain kecuali dirinya. Saat ia tengah menyeduh segelas kopi, tiba-tiba sebuah email kembali masuk.
Deddy membuka email tersebut, namun isinya tak lagi berupa sandi. Namun sebuah perkataan yang di ulang hingga satu halaman.
"Comeback, comeback, comeback."
Begitulah seterusnya hingga sampai email tersebut selesai dibaca. Tak ada kata-kata lain yang tertulis.
"Hey, who are you."
Deddy mengetik pesan tersebut dan mencoba mengirimnya meski tak ada alamat email pengirim.
Pesan tersebut tentu saja gagal, karena tak tau harus dikirim kemana, sementara alamat emailnya tidak tersedia. Namun Deddy tak menyerah begitu saja. Meski dirasa mustahil, ia tetap mengirimkan balasan. Sampai kemudian, tiba-tiba saja pesannya berhasil. Deddy terkejut melihat itu semua, kini ia berharap orang tersebut membalas.
Sementara di rumah, Mario terus-menerus kecanduan belajar. Ia kini telponan dengan Deddy sambil terus membaca, namun ia memiliki kegiatan lain yakni menunggu air mendidih guna memasak mie instan.
"Jadi menurut daddy, itu beneran orang dari masa depan atau iseng doang?" tanya Mario.
"Ya pasti orang iseng lah, Mario. Gimana bisa seseorang dari masa depan mengirim pesan, atau masuk ke dimensi ini."
Mario diam, Deddy tak mengetahui jika Mario berasal dari masa itu. Dan sepertinya Deddy juga sama, bukan sekedar di buat mirip oleh jaman untuk keperluan pelengkap hidup Mario. Namun agaknya Deddy memang tak memiliki ingatan tentang itu.
"Pokoknya Deddy kumpulin aja email dari orang itu, siapa tau dia sebenarnya mau kasih tau sesuatu."
"Soal apa?"
"Ya bisa jadi rahasia perusahaan atau apa. Bisa aja kan itu email dari orang yang ada di jaman ini, mungkin mau minta tolong atau apa."
"Iya sih, kamu udah makan?" tanya Deddy.
"Ini lagi mau ceburin mie ke pan...."
"Blooop."
"Yaaaah." Mario terdengar rusuh diseberang.
"Kenapa?" tanya Deddy kemudian.
"Bukunya yang kecelup, dad. Bukan mie."
__ADS_1
"Hahahaha."
Deddy pun terpingkal-pingkal mendengar itu semua. Ia membayangkan. adegan itu didepan matanya. Sementara Mario kini tampak sewot dan menggerutu.