
Disebuah gedung perkantoran, seorang office girl tampak mengambil hantaran pertamanya. Setelah kemarin ia hanya ditugaskan untuk bersih-bersih di beberapa titik. Hari ini, ia ditugaskan mengantar minuman pada sebuah ruangan.
"Anindya, antarkan ini ke divisi IT. Keruangan 103. Kepala pantry memerintahkan gadis bernama Anindya tersebut.
" Siap, bu." ujarnya penuh semangat.
Gadis itu memang sangat enerjik sejak pertama masuk kemarin. Meski hanya seorang office girl, namun semangatnya begitu menggebu-gebu. Ia lalu mengambil minuman tersebut dan bermaksud mengantarkannya pada ruangan yang dimaksud. Ia melangkah cepat, namun kemudian.
"Aaaaaa."
Sebuah teriakan terdengar di depan ruangan Davin. Pemuda itu terkejut dan langsung keluar. Ia mendapati sekretarisnya, Agiska tengah mengaduh kesakitan. Betapa tidak, sebagian tubuh dan bajunya tersiram kopi panas.
"Agiska."
Davin panik, lalu membawa wanita itu untuk kemudian diberikan pertolongan. Kebetulan ada klinik di salah satu lantai di gedung itu. Davin membawa Agiska kesana.
Bagian paha wanita itu sedikit melepuh. Karena kopi yang tertumpah padanya sangatlah panas dan lumayan banyak.
"Saya anter kamu pulang ya." ujar Davin setelah wanita itu menerima penanganan.
"Saya nggak apa-apa, pak."
"Jangan, kamu istirahat aja dirumah. Kalau udah sembuh, baru masuk lagi."
Agiska tak dapat menolak permintaan Davin. Akhirnya ia pun menurut saja, ketika Davin mengantarnya pulang. Saat kembali ke kantor, Davin pergi ke pantry dan mengambil segelas air. Disana ia melihat, office girl yang tadi menumpahkan kopi pada sekretarisnya tengah dimarahi habis-habisan.
"Kamu itu baru dua hari kerja disini, harusnya kamu hati-hati."
"Saya nggak sengaja, bu. Mbak-mbak itu tadi yang nabrak saya."
"Kamu nggak usah membela diri, jelas-jelas kamu yang salah. Kalau sampai terjadi apa-apa sama bu Agiska, saya akan terpaksa pecat kamu."
"Jangan, bu. Saya butuh pekerjaan ini, ibu saya sedang sakit."
"Agiska tidak apa-apa."
Davin menyela percakapan yang ada disana. Seketika mereka semua pun terkejut dengan kehadiran Davin.
"Pak Davin."
Kepala Pantry dan Kepala divisi cleaning service menyapa Davin dengan nada penuh ketakutan. Mereka takut Davin akan mempermasalahkan hal ini.
"Agiska tidak apa-apa, dia hanya luka ringan dan sudah saya antar pulang. Mungkin 3 atau 4 hari lagi, dia sudah bisa masuk."
"Syukurlah, pak kalau begitu."
Kepala divisi cleaning service tersebut pun berujar, seraya menarik nafas lega. Sementara si pelaku penyiraman tetap menunduk.
"Siapa nama kamu?" tanya Davin. Gadis itu lalu menjawab.
"Anindya, pak."
Ia lalu mengangkat wajahnya. Davin melihat sebuah wajah sederhana dan cantik disana.
"Berapa usia kamu?" tanya Davin lagi.
"19 tahun, pak."
Davin menghela nafas.
"Lain kali, kamu hati-hati ya."
"I, iya, pak." ujarnya terbata-bata.
Davin lalu berbicara pada kedua kepala divisi tersebut. Intinya, dia tak ingin mempermasalahkan hal ini lebih lanjut. Ia pun lalu meninggalkan tempat itu dan kembali ke ruangannya."
Siang itu, Mario, Brian, dan Cavin tak langsung pulang kerumah. Mereka menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan, membeli buku, makan. Hingga bermain dingdong bersama.
Herannya meski ini tampak menyebalkan, namun Michael mengikuti kemana langkah mereka. Ketika Mario mengajaknya tadi, ia tak menyetujui tetapi tidak juga menolak. Ia mengiring saja, kemana Mario dan yang lainnya berjalan.
"Eh, nonton yuk...!" ajak Mario kemudian.
"Ayok...!"
Cavin dan Brian berujar di waktu yang nyaris bersamaan. Mereka bertiga menoleh pada Michael, Michael pun diam lalu menarik nafas. Tak ada persetujuan maupun penolakan.
Mereka memesan minuman dan juga popcorn. Ketika pintu teater dibuka dan film telah dimulai, Mario, Brian dan Cavin tampak fokus menikmati cerita film. Sementara Michael biasa saja seraya memakan popcorn perlahan.
Mario, Brian, dan Cavin tertawa ketika ada adegan lucu. Lalu kompak ketakutan ketika ada adegan seram. Bahkan ia sampai menutup wajahnya dengan berpaling ke bahu Michael. Namun Michael menoyor kepala adiknya tersebut.
Kali lain mereka makan bersama, Michael sangat marah ketika ada orang lain yang meminum minumannya. Namun Mario cuek saja dan tidak peduli. Ia meminum minuman Michael tanpa mempedulikan wajah sewot kakak keduanya itu.
"Jalan sama Michael seru juga ya, walau susah ngomong." ujar Brian ketika mereka sudah dijalan dekat rumah.
__ADS_1
"Dia tau tempat-tempat hits." Cavin menambahi.
"Iyalah, kan ini jamannya dia." tukas Mario.
"Di jaman kita aja, dia masih update." lanjutnya lagi.
"Gue balik ya." ujar Mario melambaikan tangan.
Cavin membalas lambaiannya.
"Gue juga." ujar Brian.
Mereka berpisah di depan, kini Mario siap masuk ke halaman rumah.
"Mario."
Deddy yang tampak tengah bersiap, menyapa Mario.
"Mau kemana dad, keren amat." ujar Mario kemudian.
"Nonton konser, yok...!" ajak Deddy.
"Konser, konser apaan?" tanya Mario heran.
"Sheila on 7."
"Sheila on 7, dad?"
"Iya, ayo ikut. Daddy udah beli tiketnya."
Mario pun sumringah.
"Tapi Mario mandi dulu ya."
"Cepet...!"
"Lima menit."
"Ok."
Mario pun bergegas mandi.
***
"Kan saya kerja, bu." ujar ibu Brian seraya mencium tangan wanita tua itu.
"Itu kan, mamanya papa." gumam Brian.
"Kamu itu, cobalah dirumah aja. Ngapain sih perempuan kerja. Mending dirumah aja, biar cepet punya anak."
Ibu Brian memaksakan sebuah senyum, lalu mengajak mertuanya itu untuk masuk kedalam. Sementara Brian kini mengunci pintu pagar. Ia masih berdiri terpaku menatap ke arah rumah orang tua kandungnya. Sebelum akhirnya ibu lintas jamannya berteriak.
"Brian, masuk."
"Iya, mi." Brian pun berlarian masuk ke dalam rumah.
***
Menjelang tengah malam, Davin tiba dirumah. Ia pulang belakangan ketimbang ayahnya. Karena di kantor tadi, ada banyak hal yang mesti ia bereskan.
Ia menghentikan mobilnya tepat di depan rumah. Namun ia tak langsung keluar, ia terpaku dalam diam untuk beberapa saat didalam mobilnya. Sambil mengingat sebuah kejadian.
"Pak, pak Davin."
Seseorang menghentikan Davin, ketika ia hendak menuju mobilnya di halaman parkir. Davin menoleh, ternyata Anindya. Office girl yang tadi menumpahkan kopi ke tubuh dan baju sekretarisnya.
"Iya, ada apa?" tanya Davin.
"Pak, makasih tadi bapak nggak pecat saya." ujar Anindya seraya menunduk.
"Kan saya bukan kepala divisi kamu. Saya nggak berhak memecat kamu."
"Iya, tapi pokoknya terima kasih. Bapak tidak mempermasalahkan hal ini terlalu jauh. Jadi atasan saya juga nggak terlalu marah banget sama saya."
"Iya, lain kali kamu kerja lebih hati-hati."
"Iya, pak. Saya permisi."
Davin menganggukkan kepalanya, Anindya pun berlalu. Segera saja Davin masuk ke dalam mobil dan perlahan meninggalkan halaman parkir tersebut.
Davin mampir kesebuah warung makan, yang tak begitu jauh dari kantor. Semasa SMA, tempat itu adalah tempat makan favoritnya bersama teman-teman sekolah. Ia mampir karena sebuah kerinduan. Rindu pada teman-temannya yang kini sudah entah dimana, dan rindu pada masakan warung tersebut.
Ia masuk dan menyapa si pemilik warung. Sempat terjadi sebuah keharuan, karena ternyata si pemilik warung masih mengenalinya. Davin memesan pecel lele yang di goreng crispy dengan sambal yang tidak terlalu pedas. Seperti favoritnya dulu. Saat ia tengah menikmati makanan tersebut, tiba-tiba seseorang muncul.
__ADS_1
"Bude, maaf Anin telat datengnya. Soalnya kerjaan Anin sampe malem."
Davin terkejut dengan kehadiran Anindya. Begitupun sebaliknya, Anin kaget melihat Davin ada di tempat itu.
"Loh, pak Davin makan disini?" ujar Anindya tak percaya. Ia heran mengapa orang seperti Davin mau makan ditempat yang begitu sederhana ini.
"Kalian kenal?" tanya si pemilik warung.
"Pak Davin ini kerja di kantor tempat saya kerja, bude."
"Oh, gitu."
Davin tertawa kecil.
"Kamu sendiri ngapain disini?" tanyanya kemudian.
"Saya juga kerja disini, pak. Bude ini tetangga saya."
Davin terkejut mendengar penjelasan itu.
"Kamu pekerja keras juga, ya." ujar Davin lalu mereguk teh hangat yang ada dihadapannya.
Sementara Anin menjawab sambil membungkus sambal, agar lebih mudah jika ada pembeli yang ingin membawa pulang.
"Mau gimana, pak. Nggak kerja, nggak makan. Bapak saya cuma pedagang mainan anak, ibu saya sakit, adik dan kakak saya banyak."
Davin menatap Anindya, gadis itu hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Davin mengingat hal tersebut, bahkan sampai kini ketika ia tiba di halaman parkir rumahnya.
"Dave."
Tiba-tiba Cavin datang dan mengejutkannya.
"Cav?"
"Kamu ngapain disini?"
"Hmm, nggak." jawab Davin.
"Mikirin sesuatu, ya?" tanya Cavin kepo.
"Atau mikirin seseorang." Senyum Cavin melebar sampai kuping.
"Nggak, nggak ada." Davin keluar dari mobil, sementara kini Cavin mengikutinya.
"Ah, ada juga nggak apa-apa."
"Apa sih kamu." Davin masih menyangkal.
"Siapa Dave, orangnya."
"Cav."
Kali ini Davin menghentikan langkah dan menatap Cavin.
"Iya deh, nggak nanya lagi."
"Tuing..."
Cavin pun kabur dari hadapan kakaknya itu, Sementara sang kakak hanya tersenyum.
***
Jauh didepan sebuah panggung yang meriah, Deddy dan Mario tengah berjingkrak-jingkrak. Sambil menyanyikan lagu dari grup musik Sheila on 7 yang tengah manggung.
Awalnya Mario mengira ini akan sangat membosankan, karena ia sendiri pun tak begitu kenal dengan grup band tersebut. Jangankan hafal liriknya, mendengarkan lagunya saja Mario jarang. Paling jika tidak sengaja mendengar di sebuah mall atau counter handphone.
Namun semua itu mengalir begitu saja, awalnya ia tampak diam, namun ia mengingat-ingat lirik yang sudah diucapkan vokalis dan ikut bernyanyi.
Suasana malam itu sangat meriah, ia sendiri tak menyangka banyak anak muda yang datang ke sana. Rata-rata dari mereka ditemani gebetan, sedang Mario bersama Deddy.
Mario sendiri tak tahu jika Deddy di jaman ini sangat menyukai musik. Karena setahunya, Deddy cukup kaku di jamannya. Yang ia senangi hanyalah fitness dan mengundang narasumber untuk program podcastnya.
"Dad, Mario laper." ujar Mario menjelang akhir konser.
"Hah, lemper?" Deddy tak begitu mendengar karena banyaknya orang bernyanyi dan bersorak-sorai.
"Koq daddy tau ada istilah baper?" Mario pun tak kalah budeknya.
"Oh laper, iya udah nanti kita makan."
Mario tak begitu mendengar ucapan Deddy yang terakhir. Dan ia pun menyudahi saja percakapan tersebut.
__ADS_1