
Luna tengah membereskan lantai atas, sekaligus hendak memberikan selimut yang baru pada Brian. Lalu ia pun akan mengambil selimut yang lama, untuk dibawa ke tempat pencucian atau laundry.
"Den Brian."
"Tok, tok, tok."
Luna mengetuk pintu kamar Brian, namun tak ada jawaban.
"Den Brian."
"Tok, tok, tok."
Luna mengulangi hal yang sama. Tetap tak ada jawaban sama sekali. Mungkin tidur pikir Luna. Lalu ia pun berinisiatif mendorong pintu tersebut, dan ternyata tidak terkunci.
"Den Brian."
Luna terpaku, dan tak lama kemudian ia berteriak histeris.
"Aaaaaaaa."
***
Hujan telah reda sejak tadi, Mario dan Deddy lanjut makan di tempat lain. Mario memelihara naga di dalam perutnya, hingga satu mangkuk mie rebus pun tak cukup untuk remaja itu. Ia ikut makan soto bersama Deddy.
Tak lama setelah itu, mereka memutuskan untuk pulang. Mereka masih berbincang sambil bersenda gurau di sepanjang perjalanan. Namun ketika mereka terlah sedikit lagi sampai, tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh kerusuhan yang terjadi di depan rumah Brian.
"Cav?"
Mario turun dan menghampiri Cavin yang tengah berdiri dengan wajah panik di muka rumah Brian. Sementara Deddy memarkir motor lalu ikut turun.
"Mario, lo dari mana aja?" tanya Cavin cemas.
"Gue teriak manggil lo, telpon elo. Tapi nggak ada jawaban sama sekali." lanjutnya lagi.
"Gue nggak bawa handphone, dari pergi sama daddy." jawab Mario.
"Itu si Brian bunuh diri." ujar Cavin.
"Bu, bunuh diri?"
Mario terkejut sekaligus syok, begitupula dengan Deddy.
"Di, dia?"
__ADS_1
"Kayaknya masih hidup, soalnya masih ada detak jantung. Ini mau dibawa ke rumah sakit."
"Dad?" Mario menoleh ke arah Deddy.
"Ok tunggu, daddy ambil mobil dulu."
Tubuh Brian dibawa masuk oleh petugas ambulans ke dalam mobil tersebut, kemudian orang tuanya ikut masuk. Tak lama ambulans itu berjalan, dan baik Mario maupun Cavin bergegas masuk ke dalam mobil Deddy. Mereka mengiring di belakang dengan kepanikan yang sangat tinggi.
"Cav, kenapa sih Brian bego banget?" tanya Mario dengan suara terisak, ia nyaris menangis karena khawatir.
"Gue juga nggak tau kenapa dia sampe ngelakuin hal bodoh kayak gitu. Gue tadi lagi tidur di kamar, tiba-tiba Davin bangunin gue. Dia bilang orang tua Brian teriak-teriak. Langsung aja gue kesana."
"Brian nggak ada cerita sama kalian, dia lagi ada masalah apa?"
Deddy yang semula diam dan fokus mengemudi, kini bertanya. Mario dan Cavin saling menatap satu sama lain. Tak mungkin mereka mengatakan jika alasannya adalah, karena Brian mengetahui fakta soal orang tua kandungnya yang berselingkuh.
"Nggak ada, dad."
"Nggak ada om."
Mario dan Cavin kompak menjawab dengan pernyataan yang sama.
"Coba ajak bicara nanti, kalau semisal dia udah baikan. Coba cari tau apa masalah yang lagi dia hadapi."
Ia dan Cavin kembali diam, sebab pikiran mereka berdua kini tertuju pada Brian. Jika Brian mati di jaman ini, akan bagaimana jadinya di masa depan nanti. Mereka menyayangi Brian dan tak ingin kehilangan sahabat mereka itu.
Setibanya di rumah sakit, Brian langsung mendapat penanganan di instalasi gawat darurat. Kedua orang tua lintas jamannya terus saja menangis, takut terjadi hal buruk pada Brian.
Mario dan Cavin sendiri tampak begitu stress, mereka benar-benar marah, sedih, sekaligus bingung. Mereka ingin segera mendengar kabar baik mengenai Brian.
"Dad, Brian bakalan sembuh nggak ya?" tanya Mario pada Deddy.
"Udah kamu tenang dulu, kita serahkan semuanya sama dokter." ujar Deddy.
Mario lalu duduk disisi Cavin, tepatnya di kursi ruang tunggu. Tentu saja hati mereka tak ada yang tenang satupun. Tak lama kemudian Davin tiba disana, ia agak belakangan menyusul karena tadi harus menerima telpon dari atasannya di kantor. Davin duduk disisi Cavin dan mencoba menghibur adiknya itu.
***
Beberapa saat berlalu, dokter mengkonfirmasi jika Brian dapat tertolong. Lantaran langsung mendapat pasokan darah yang tepat sesuai golongan darahnya. Dan lagi pula Brian tak sampai memutus urat nadinya, karena buru pingsan melihat darah yang bercucuran.
Kedua orang tua lintas jaman Brian bernafas lega. Begitupun dengan Mario, Cavin, Deddy, dan juga Davin. Namun Mario dan Cavin jadi sangat marah sekali kepada teman mereka itu.
Keduanya membiarkan orang tua Brian terlebih dahulu menemui anak mereka. Lalu disusul oleh Deddy dan juga Davin. Setelah semuanya usai, kini giliran Mario dan juga Cavin yang menemui Brian.
__ADS_1
"Mar, Cav." Brian menyebut nama kedua sahabatnya itu dengan nada lirih.
"Nggak usah ngomong lo." Mario sangat marah padanya, begitupula dengan Cavin.
"Kenapa sih lo bego banget." Cavin menimpali ucapan Mario.
"Cav, gue."
"Kalau lo mati gimana, Bri?. Apa jadinya dimasa depan nanti kalau gue sama Cavin cuma balik berdua. Apa yang bakal kita bilang ke bokap lo."
"Mario."
"Lo nggak mikirin gue sama Mario." Lagi-lagi Cavin menimpali.
"Kita berdua ini sayang sama lo." lanjutnya kemudian.
Brian merasa begitu bersalah.
"Iya kalau lo mati di jaman ini, terus lo bisa balik lagi ke masa depan. Tau-tau lo udah ada disana. Lah kalau nggak?. Gue sama Cav bakalan hidup dalam penyesalan seumur hidup, karena nggak bisa mencegah perbuatan lo."
"Maafin gue, bro." ujar Brian masih dengan nada lirih. Ia kehilangan cukup banyak darah dalam peristiwa ini, dan saat ini tengah mendapat transfusi darah.
Mario dan Cavin menghela nafas.
"Gue sama Mario marah banget sama lo." ujar Cavin.
"Lo berhutang itu sama kita." lanjutnya lagi.
"Lo bener-bener bikin jantung gue mau lepas tau nggak rasanya. Lain kali awas kalau lo kayak gini lagi. Sampe lo mati, gue sama Cav nggak akan ikhlas dan nggak akan pernah maafin lo. Biarin aja arwah lo gentayangan."
"Iya Mario gue janji, gue nggak akan melakukan hal bodoh kayak gini lagi. Gue bener-bener belum bisa terima kalau nyokap gue ternyata begitu."
"Kan kita belum tau ke depannya gimana. Lo juga belum lahir. Siapa tau mereka baikan." ujar Cavin.
"Tapi tetep ujungnya cerai kan." Brian kembali berbicara.
"Dan itu pasti dia penyebabnya, gue udah bisa baca semuanya." lanjut remaja itu kemudian.
"Setidaknya lo nggak perlu berencana untuk mati. Sebab kematian lo pun nggak akan merubah segalanya. Tetaplah hidup, siapa tau dimasa depan nanti lo bisa menyatukan mereka lagi." ujar Mario.
"Iya, gue setuju sama omongan Mario." timpal Cavin.
"Setidaknya kalau lo hidup, lo masih punya banyak harapan. Kalau mati semuanya selesai, bro. Don't be stupid." lanjutnya lagi.
__ADS_1
Brian diam, apa yang dikatakan oleh kedua sahabatnya itu ada benarnya. Harusnya ia berfikir panjang dulu sebelum bertindak.