Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Penyesalan Mario


__ADS_3

"Kenapa nggak bilang kalau lo sakit?"


Mario bertanya pada Michael sambil berurai air mata. Saat ini kondisi kakak keduanya itu sudah terbilang stabil, meski dokter mengatakan ia tetap harus di rawat inap.


"Lo kenapa sih mesti nangis segala kayak gitu, orang gue nggak apa-apa." Michael berujar dengan wajah datar dan sikap dingin seperti biasa.


"Leukimia lo bilang nggak apa-apa?. Ini masalah serius, Mike. Kenapa lo nggak bilang ke gue selama ini."


"Gue baru kena dua tahun belakangan." jawabnya kemudian.


Mario makin menangis. Michael kemudian menarik nafas lalu meraih tissue yang ada di sisi tempat tidur. Ia memberikan tissue tersebut kepada Mario. Mario menghapus air mata yang mengalir, namun tak dapat menghalau aliran berikutnya yang terus menetes.


Ia menyesali diri dan bertanya mengapa selama ini ia selalu membantah ucapan Michael. Padahal mungkin Michael bersikap kasar, semata agar dirinya tak menjadi anak yang manja dan ketergantungan pada siapapun.


"Harusnya lo bilang ke gue tentang kondisi lo, gue juga berhak tau. Lo kan tau gue ngelawannya kayak apa sama lo."


"Hhhhh."


Michael membuang pandangannya sejenak ke suatu sudut, lalu kembali menatap Mario.


"Lo ini lagi ngomongin soal kita di masa depan?" tanya Michael.


"Iya." jawab Mario.


Lagi-lagi Michael menghela nafas panjang.


"Bisa-bisanya ya, lagi dalam keadaan sedih, terus lo mikirin khayalan Doraemon lo itu. Tentang kita di masa depan sebagai kakak-adek."


Mario kembali mengusap air matanya.


"Terserah, pokoknya gue lagi marah sama lo. Kenapa lo nggak pernah jujur selama ini. Pantes aja gue ngeliat beberapa kali lo mimisan. Gue pikir lo cuma sakit biasa."


Michael diam, namun telinganya masih terus mendengarkan ocehan Mario.


"Pake acara sok hebat segala lagi lo, gebukin anak orang. Kalau ada apa-apa sama lo gimana?. Lo itu nggak sama dengan orang lain, lo sakit."


"Gue baik-baik aja kali." Michael membela diri.


"Nggak separah itu juga." lanjutnya lagi.


"Pokoknya mulai hari ini, gue yang akan ngawasin lo. Awas kalau sampe lo berantem-berantem lagi sama orang. Gue mau ngeliat lo hidup lama, Mike."


"Ya kalau lo bilang kita ketemu di masa depan, berarti gue lama dong hidupnya. Nggak mati di tahun ini."


"Awas lo ngomong mati sekali lagi, lo harus bayar denda sama gue."

__ADS_1


Mario berlalu ke toilet, karena hidungnya sudah sangat meler oleh cairan dan harus di buang. Sementara Michael tetap diam ditempat dengan wajah datarnya. Meski ia agak sedikit seperti hendak tertawa.


***


"Mike leukemia?"


Brian dan Cavin benar-benar kaget mendengar semua itu. Rasa-rasanya tak mungkin seorang Michael yang mereka kenal tampan, gagah, atletis, dan super galak itu adalah seorang survivor kanker.


"Kayaknya nggak mungkin deh, bro. Orang sehat banget begitu." ujar Brian.


"Iya, udah gitu galak lagi." timpal Cavin.


"Salah diagnosa kali?" Brian kembali berujar.


"Bro, namanya kanker itu pemeriksaannya lama dan perlu ada beberapa tahap. Mustahil dokter salah diagnosa. Kecuali untuk pemeriksaan cepat, mungkin bisa keliru." Mario berkata panjang lebar.


Brian dan Cavin kini diam, namun mereka masih tak habis pikir.


"Bisa gitu ya?. Seorang Mike gitu loh, kena kanker darah." Cavin berujar sambil membuang pandangan ke suatu sudut.


"Gue juga nggak abis pikir, kenapa mesti dia yang kena. Dan gue nakal banget lagi selama ini. Gue pernah mukul dia, waktu dia maksa gue pulang dari balapan liar. Ngebantah dia mulu, nggak pernah akur."


Mario seperti menyesali perbuatannya terhadap Michael selama ini. Karena biarpun Michael selalu bersikap galak terhadapnya, dan Mario takut pada kakaknya itu. Ada kalanya Mario melawan, dan menyakiti Michael baik secara ucapan maupun fisik.


Meski pada akhirnya Mario tetap kalah dalam pertengkaran tersebut. Tetap saja Mario pernah menyakiti Michael.


Air mata Mario kembali mengalir. Untuk yang kesekian kalinya ia menangis dan menyesali semuanya.


"Yang sabar, bro."


Cavin menepuk bahu sahabatnya itu. Sementara Mario kini menyeka air matanya dengan tangan.


"Tenang aja, bro. Di masa depan dia masih ketemu kita, itu artinya Mike bisa sembuh." ujar Brian.


"Gue cuma takut, hidupnya cuma berbatas disitu. Gue nggak mau kehilangan Michael."


Mario kembali terisak. Lalu Cavin pun memeluknya dengan erat.


***


"Michael?"


Deddy bertanya pada Mario, perihal mengapa anak itu baru tiba di rumah malam hari. Dan ia masih mengenakan seragam sekolah. Mario sendiri jujur jika ia menemani Michael selama setengah hari ini di rumah sakit. Sebab Michael mengalami sakit yang serius.


"Dia kanker darah?" tanya Deddy lagi.

__ADS_1


Pria itu benar-benar terkejut sekaligus tak percaya.


"Iya dad, jawabnya kemudian.


"Baru atau gimana?" Lagi-lagi Deddy bertanya.


"Katanya udah dua tahun, dad. Dan Mario baru tau sekarang."


Deddy menghela nafas dan terdiam. Ia kini membuang pandangannya ke suatu sudut, sebab berita ini sangat mengagetkan. Mana mungkin Michael yang terlihat begitu sehat dan fresh tersebut menderita sebuah penyakit yang serius.


"Bisa sembuh nggak sih dad?" tanya Mario.


Jika saja ia berada di masa depan saat ini, sudah barang tentu bisa bertanya pada google. Namun di tahun ini gak banyak yang bisa ia lakukan.


"Daddy nggak tau. Tapi segera daddy cari tau untuk kamu. Kamu yang tenang ya, jangan mikir macem-macem." ujar Deddy.


Mario mengangguk, ia berusaha berpikir positif meskipun itu sangatlah sulit.


***


"Duh yang semangat banget masak."


Orang tua Anindya menyinggung puterinya yang masih sibuk di dapur, padahal sudah dekat tengah malam.


"Mentang-mentang masakannya di sukai pak Davin." lanjutnya kemudian.


Anin tersipu malu.


"Ah ibu, ini juga kan buat bekal Anin besok. Sama ibu dan bapak juga bisa makan."


"Tapi tetap tujuannya kesitu kan?" sindir ibunya lagi. Pipi Anindya bersemu merah, bahkan kini lebih mirip udang rebus.


"Kamu teh suka sama pak Davin?"


Sang ibu melontarkan pertanyaan yang membuat Anindya terdiam.


"Ibu apaan sih?" ujarnya kemudian.


"Suka juga nggak apa-apa, Nin. Kan kamu perempuan, pak Davin laki-laki."


"Ih si ibu mah. Anin tuh tau diri bu, Anin cuma office girl. Sedang pak Davin itu jabatannya tinggi, anaknya bos pula. Mana mau dia mah sama Anin." jawab perempuan itu.


"Tapi kalau dia mau, kamu mau kan?"


Lagi-lagi Anin tersenyum.

__ADS_1


"Anin mah, diterima dan di makan aja masakan yang Anin buat udah seneng. Apalagi di taksir."


"Tuh kan." Sang ibu kembali menggoda Anindya. Kini wajah gadis itu kian bersemu merah.


__ADS_2