
Di kediamannya malam itu Ratna Diandra Kirana yang tak bisa tidur, terus teringat pada Galih. Ia memang baru berusia 13 tahun saat ini, namun entah mengapa cinta diantara remaja itu terasa begitu menyenangkan sekaligus menyakitkan.
Ia bahagia saat mengingat Galih, terlebih saat dulu mereka pernah dekat. Namun itu juga menjadi ingatan yang membuat hatinya sakit, apalagi ketika wajah Lia kemudian muncul dalam benaknya. Lia yang cantik, Lia yang populer. Sedang dirinya tak ada seujung kuku pun untuk bisa menandingi Lia.
***
"Mike."
Mario menghampiri Michael yang sedang berjalan ke arah kelasnya, pada keesokan hari disekolah. Michael menghentikan langkah dan menoleh ke arah Mario. Seperti biasa wajahnya dingin, namun mau memperhatikan.
"Gue mau balikin ini."
Mario mengembalikan kotak makanan, yang kemarin dipakai sang ibu untuk memberikan makanan padanya.
"Bilang nyokap, makasih."
Michael mengambil kotak makan tersebut. Mario sudah menghabiskannya tadi pagi, karena Deddy menyimpannya di dalam kulkas. Makanan tersebut tidak basi dan bisa dihangatkan kembali.
"Nyokap gue mau lo kerumah siang nanti."
Michael lalu berlalu meninggalkan Mario. Sementara pemuda itu kini tersenyum penuh haru.
Siang itu ia mengatakan pada Adril dan Juga Heru jika ia masih ada urusan di luar. Sementara Brian dan juga Cavin sudah tau, jika Mario akan kembali bertemu dengan keluarganya.
Mario bertemu dengan ibunya, namun siang itu tak ada Marcell dan juga ayahnya. Menurut sang ibu, Marcell ada les tambahan di sekolah. Sementara ayahnya masih dijalan. Siang itu mereka makan bersama.
"Mario, sering-sering ya main kesini. Tiap hari juga nggak apa-apa."
Perkataan ibunya itu sukses membuat mata Mario berkaca-kaca menahan tangis. Ia bahkan hampir tak mampu menelan makanan saking terharunya.
"Apaan sih, Ma?" tanya Michael gusar. Ia tak suka ibunya bersikap berlebihan.
"Mike, mama tuh seneng kamu punya temen."
"Mama udah napa?" ujarnya lagi.
Mario menunduk lalu tersenyum.
"Iya, ma. Mario akan sering main kesini koq."
jawabnya kemudian.
"Kamu tuh manis banget."
Ibu Mario mencubit pipi anak itu dengan gemas. Mario senang, antara tersenyum dan ingin menangis.
"Lo harus cobain ini." ujar Michael mengambilkan sebuah masakan, yang ada di depannya. Ekspresi wajahnya masih tetap dingin.
"Ini apa?"
"Tumis pare ikan teri buatan mama, rasanya enak."
"Bukannya ini pahit ya?" tanya Mario.
"Lo cobain aja dulu. Kalau mama yang masak, nggak pahit."
Mario mencoba masakan itu perlahan, dan ternyata rasanya memang tidak pahit plus enak.
"Iya ya, nggak pahit. Koq bisa, Ma?" tanya Mario kemudian.
"Ada tehniknya."
"Oh ya?"
"Iya, nanti mama kasih tau kapan-kapan. Kalau Mario mau belajar masak."
"Mau, ma." ujar Mario bersemangat.
Ibunya lalu tersenyum dan mereka pun melanjutkan makan.
"Mike, kamu pergi sama siapa?" ujar ibunya setelah makan siang usai.
__ADS_1
"Kamu harus tepat waktu loh." lanjutnya lagi.
"Iya." ujar Michael dengan nada malas.
"Sama papa aja ya?" ujar ayahnya kemudian. Beberapa menit lalu ayahnya telah tiba dirumah.
"Sama mama aja, pa. Papa kan baru pulang."
ujarnya Michael.
"Lo mau pergi?" tanya Mario pada Michael.
"Ya, gue ada urusan penting."
"Mike, Mario nggak tau?" tanya ibunya seraya melirik Mario, lalu melirik lagi ke arah anaknya.
Michael hanya menghela nafas dan berlalu, sementara Mario sendiri tidak tahu dengan apa yang dimaksud.
"Kenapa ma?" tanya Mario pada ibunya.
Ia makin tak mengerti dengan sikap kikuk orang-orangnya dirumah itu. Secara serta merta mereka terlihat canggung, seperti ada yang sengaja disembunyikan.
"Hmm, Mario disini aja dulu. Mama mau nemenin Mike, nggak lama banget koq."
Mario mengangguk, ia bahkan tak tau Michael akan pergi kemana. Tapi itu bukanlah urusannya, ia juga tak ingin bertanya lebih lanjut. Ia bukan tipikal manusia yang kepo pada urusan hidup orang lain.
"Pa, mama pergi dulu nemenin Mike."
"Iya, hati-hati ma."
Mereka berdua pun berpelukan, seperti ada sesuatu yang mengganjal dihati masing-masing. Lalu ibunya pun pamit pada Mario.
"Pa, Mario pulang ya." ujar Mario setelah ibunya dan Michael meninggalkan rumah beberapa saat.
Tiba-tiba saja ia merasa tak enak untuk tetap tinggal. Ia bahkan belum mengerti apa maksud ibunya menyuruh ia datang kerumah ini, lalu pergi meninggalkannya begitu saja untuk urusan lain.
"Nanti aja, kamu temenin papa dulu. Papa baru rencana mau bikin kopi, mau ngobrol sama kamu."
Ia pun menuruti keinginan ayahnya itu untuk tetap berada disana. Mereka mengobrol di halaman belakang sambil mengerjakan beberapa soal matematika.
"Jadi, papa dosen matematika?" tanya Mario seraya melihat ayahnya itu, yang tengah sibuk mengerjakan beberapa soal. Mario sendiri mengerjakan dengan jawaban yang amburadul.
"Emangnya Michael nggak pernah cerita?"
Mario menggeleng, bahkan di kehidupan sebenarnya pun tidak. Mario tidak tau apa pekerjaan ayahnya, yang ia tau adalah ayahnya bekerja di Amerika. Jika ia meminta penjelasan lebih lanjut, maka baik Marcell maupun Michael akan mengalihkan pembicaraan. Atau sengaja pergi meninggalkan Mario dengan alasan tertentu.
"Papa dosen iya, pebisnis juga iya. Kalau kamu cita-citanya mau jadi apa?"
Mario tersenyum tipis, ia bahkan tak pernah tau tujuan hidupnya hendak kemana. Hidup bersama kedua kakaknya saja sudah cukup tertekan, terutama bersama Michael. Boro-boro memikirkan cita-cita tujuan hidup, bisa bertahan dari hari ke hari tanpa niat bunuh diri saja sudah syukur.
"Belum tau, pa."
"Iya sih, kamu kan masih SMP. Jalan kamu masih panjang, yang terpenting ikuti kata hati."
Mario kembali tersenyum tipis. Bahkan ia jarang berbicara dengan hatinya sendiri, karena terlampau banyak beban berkecamuk disana.
"Awaaas..!"
"Buuuuk."
Sebuah patahan kayu besar nyaris terkena kepala Mario. Andai saja ayahnya tak sigap memeluk dan membawanya menjauhi tempat itu. Dibelakang rumah itu memang ditumbuhi banyak pepohonan.
Mario terkejut sekaligus syok. Namun yang lebih membuatnya terdiam adalah, ketika ia melihat ekspresi khawatir di wajah ayahnya.
Mario belum pernah sekalipun dipeluk oleh Marcell ataupun Michael, apalagi dilindungi seperti ini. Jika terjadi sesuatu pada Mario, maka Michael hanya akan memarahi dan menyalahkannya. Sementara Marcell lebih banyak diam.
Kedua kakaknya tak pernah tampil untuk memberikan perlindungan, ketika ia berada dalam masalah. Air mata Mario pun menetes dan ayahnya menyadari itu.
"It's ok, Mario. Jangan takut." ujarnya mengusap bahu Mario lalu kembali memeluknya.
Ia mengira Mario menangis karena takut. Lagipula anak itu masih remaja, wajar jika ia dilanda ketakutan. Meskipun sesungguhnya, Mario bukan menangis karena takut pada patahan kayu itu, melainkan karena ayahnya sendiri.
__ADS_1
Hari itu Mario pulang ke kediaman Deddy dengan perasaan yang campur aduk. Ia lebih banyak merenung, hingga Deddy pun harus memberikan suntikan berikutnya agar ia tenang dan bisa beristirahat.
Pasalnya sepanjang malam anak itu hanya diam, ketika mencoba tidur ia hanya gelisah. Karena ia bermimpi dirinya kembali ke masa depan dan harus berpisah dengan kedua orang tuanya.
"Si Mario enak ya, udah ketemu keluarganya." ujar Brian pada Cavin keesokan paginya.
"Iya, padahal yang bawa ke tahun ini kan gue. Gara-gara gue." ujar Cavin.
"Eh, dia yang beruntung." lanjutnya lagi.
"Lo juga pengen ya, ketemu bokap lo?" tanya Brian pada Cavin.
"Pengen tau aja sih, dia siapa dan kenapa cerai sama nyokap."
"Gue juga pengen tau banget kenapa nyokap gue sampe pergi dari bokap, jangan-jangan bokap gue KDRT demi cewek." timpal Brian.
***
Esoknya di sekolah.
"Awas ya lo kalau deketin Galih lagi."
Lia melabrak Ratna di belakang sekolah. Cavin yang tengah mengobrol dengan Brian itupun mencium bau-bau pembullyan, meski ia berada jauh dari Ratna dan juga Lia.
"Gue mau ke kantin, mau ikut nggak?" tanya Brian.
"Lo duluan aja." ujar Cavin seraya terus fokus pada Ratna. Brian yang tak tau menahu dan tak melihat ke arah Ratna itu pun, akhirnya bergerak menuju kantin. Sementara kini Cavin berlarian ke arah Ratna.
"Apaan sih?" tanya Cavin pada Lia dan teman-temannya yang tengah membully Ratna.
"Nggak usah ikut-ikutan lo ya..!" ujar Lia ketus.
"Gue laporin guru, lo." ancam Cavin.
"Nggak usah ngancem gue deh. Ajarin aja nih temen lo, nggak usah kegatelan deketin Galih. Galih itu cowok gue."
Lia berlalu meninggalkan tempat itu diikuti teman-temannya.
"Ye, yang gatel itu elo bego. Masih SMP aja udah pacaran, nggak ada akhlak lo."
Cavin lalu menatap Ratna, gadis itu hanya tertunduk.
"Rat, lo nggak apa-apa kan?" tanya nya kemudian. Ratna hanya menggeleng, namun kemudian ia menangis.
"Koq lo nangis?" tanya Cavin heran.
Ratna tak menjawab dan malah terus menangis. Cavin lalu mengusap air mata gadis itu dengan sapu tangan yang ada di sakunya. Ratna pun terkejut dengan perlakuan Cavin.
Karena memang di jamannya Cavin sudah biasa menghadapi perempuan. Diantara Brian dan Mario, ialah yang paling sering pacaran.
"Makasih, ujar Ratna kemudian.
"Dia itu pacar cowok yang lo taksir kan?" tanya Cavin pada Ratna, gadis itu terkejut Cavin tau.
"Mario kasih tau elo ya, Cav?"
"Mario?. Nggak, gue liat kemaren lo ngeliatin cowok itu mulu."
Ratna menunduk, sikapnya lah yang ternyata membuat orang lain tau soal perasaannya.
"Sorry, gue nggak maksud supaya lo tau masalah gue."
"Gue juga nggak pengen tau banyak sih, tapi yang jelas lo jangan nangis lagi. Ntar kalau Adril dan yang lain liat, mereka akan nanya lo kenapa. Lo bakalan bingung mau jawab apa, iya kan?"
Ratna mengangguk.
"Ya udah sana, balik ke kelas lo Rat. Bentar lagi masuk."
Ratna kembali mengangguk.
"Makasih ya, Cav." ujar Ratna sekali lagi.
__ADS_1
Cavin mengangguk, lalu Ratna pun kembali ke kelasnya. Cavin sendiri tak jadi ke kantin karena akhirnya Brian muncul dan membawakan makanan. Mereka kemudian berjalan masuk ke kelas, sambil menunggu jam pelajaran pertama di mulai.