Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Masalah Brian Di Mulai


__ADS_3

"Buruan Mario, ntar ketahuan om Deddy. Disulap lagi gue sama Cav jadi kepiting."


Brian berseloroh ketika Mario agak memperlambat makannya.


"Tenang aja, dia nggak bakal naik koq. Lagi banyak kerjaan." ujar Mario.


"Mario."


Terdengar suara Deddy naik tangga.


"Gubrak."


"Gubrak."


"Gubrak."


Mario langsung berlari ke kamar mandi dan mencuci tangan. Sementara makannya diambil alih sejenak oleh Brian dan Cavin.


"Mario mana?" tanya Deddy ketika ia telah tiba di kamar anaknya itu.


"Di kamar mandi, om." ujar Cavin.


"Oh ya udah, udah agak mendingan kan dia?"


"Udah dad."


Mario menongolkan sedikit kepalanya di pintu."


"Ya udah, daddy tinggal sebentar nggak apa-apa ya. Ada beberapa keperluan yang habis dan daddy harus beli. Sekalian mau beli obat buat kamu."


"Ok dad." ujar Mario.


"Hati-hati di jalan, om." ujar Cavin dan Brian serentak.


"Iya."


Deddy pun kembali turun ke bawah, Mario keluar dari kamar mandi.


"Ayam gue nggak lo makan kan, Bri?" tanya Mario seraya mengecek kondisi ayamnya.


"Dikit, hehe."


Mario memasang muka datar, lalu dengan secepat kilat tangannya mencomot sebagian kulit ayam milik Brian.


"Mario jangan, itu kulit sengaja gue tinggalin buat makan di akhir."


"Kriuk." Mario memakan kulit ayam itu dengan penuh kemenangan di depan Brian.


"Babi lo emang." ujar Brian sewot.


Cavin kemudian membelah kulit ayam miliknya dan memberikan pada Brian dan juga Mario. Seketika keduanya pun sumringah.


"Lo kenapa sih, nggak suka sama kulit ayam?" tanya Brian.


"Nggak enak, geli." jawab Cavin.


"Lo sate aja, nggak pernah beli yang ada kulitnya ya." ujar Mario.


Cavin mengangguk.


"Padahal enak tau Cav." timpal Brian.


"Iya, apalagi kalau gosong." ujar Mario.


"Beh." Ia dan Brian sama-sama berujar.


"Itu rasanya emejing." ujar Brian.


"Ya gimana, orang gue nggak suka." ujar Cavin.


"Tok, tok, tok."


Terdengar suara orang mengetuk pintu kamar. Mario bersembunyi di bawah meja, takut kalau itu Deddy lagi.


"Kreeek."

__ADS_1


Pintu terbuka, ternyata Ratna.


"Rat?"


Mario kembali menongolkan kepalanya dan kembali duduk.


"Makan, Rat." ujar mereka bertiga serentak.


"Katanya lo sakit, Mario. Koq lo makan itu, bukan makan bubur?" tanya Ratna heran.


"Gue itu udah nggak apa-apa, Rat. Cuma kalau daddy tau gue makan beginian, mampuslah gue. Makanya gue tadi agak ngumpet pas Lo datang."


"Gue kirain lo kenapa. Nih gue bawain jus organik, semoga lo suka."


"Makasih ya Rat." ujar Mario.


"Sama-sama."


"Oh ya Adril sama Heru mana?"


Mario melontarkan pertanyaan yang membuat Ratna, Cavin dan Brian terdiam. Masalahnya sampai saat ini, Mario masih mengira jika ia tak ada masalah dengan Adril.


"Adril, mm. Dia..." Ratna menarik nafas.


"Dia nggak bisa dateng, lagi ada masalah sama nyokapnya. Tapi dia titip salam buat lo dan Heru akan kesini nanti, sorean." Lanjutnya kemudian.


"Ok deh." ujar Mario.


Untuk selanjutnya, mereka pun terlibat perbincangan yang cukup panjang.


***


Deddy tengah melangkah di sebuah pusat pertokoan. Ia berencana mendatangi sebuah apotik, dan akan membeli obat untuk Mario. Deddy melangkah sambil melihat-lihat ke sekitar.


"5, 4, 3, 2, 1. And close the door."


Deddy mendadak terdiam. Ia berhenti di depan sebuah pertokoan yang tengah mengalami renovasi. Toko tersebut juga sedang menguji rolling door terbaru mereka.


"Tarik lagi."


"5, 4, 3, 2, 1. And Close the door."


Deddy mendengar kata-kata itu sekali lagi. Terasa begitu familiar, namun dimana?. Kapan?. Kapan ia mendengar kata-kata itu sebelumnya?.


Cukup lama pria berbadan kekar itu terpaku, sampai kemudian.


"Tatap mata saya...!"


Seorang pesulap dengan riasan eyeliner mata panda, yang waktu itu ditonton oleh Deddy dan Mario kini mendadak muncul.


Deddy pun seketika tersadar dari lamunannya dan kembali melanjutkan langkah. Deddy kemudian menyambangi sebuah apotik dan membeli beberapa obat untuk Mario. Sesaat setelah itu ia pun pulang ke rumah.


***


Panas di tubuh Mario sudah turun, Cavin dan Brian serta Ratna juga sudah pulang ke rumah masing-masing.


Meski masih sedikit lemah, remaja itu melangkah menuruni anak tangga dan duduk di teras halaman belakang.


Dari sana, Mario bisa melihat aktivitas di rumah keluarganya. Dimana sang ibu tengah menjemur pakaian, sementara mungkin ayahnya tengah bekerja. Sedang Michael dan Marcell tampak berbincang dengan ibu mereka tersebut.


Antar rumah di sekat pagar tembok setinggi dada orang dewasa, hingga Mario pun masih bisa melihat mereka semua walau tak seluruh badan. Hati remaja itu kemudian terusik, andai di masa depan ibunya masih hidup. Pastilah keluarga mereka akan terasa sebegitu hangatnya.


Bercengkrama bersama, berbicara banyak hal. Saling memperhatikan, mencintai dan menjaga satu sama lain.


Mario terus melihat ke arah sana, tanpa ia sadari jika Deddy telah kembali dan saat ini sedang memperhatikan dirinya.


Hati Deddy ikut terenyuh, ia tau betapa Mario merindukan sosok ibu di rumah ini. Maka ia pun membiarkan saja Mario berada di sana, bahkan sampai Mario akhirnya tertidur di kursi.


Deddy mengangkat tubuh remaja itu dan membawanya kembali ke kamar. Deddy diam sejenak usai menyelimuti anak lintas jamannya itu. Hatinya semakin iba, namun tak banyak hal yang bisa ia lakukan saat ini.


***


Siang bolong, pada keesokan harinya. Brian tampak mengitari pasar bersama Cavin, sesaat setelah pulang sekolah. Ia berencana membeli berbagai dagangannya yang telah habis. Ia tetap akan berdagang di depan rumah sampai kapanpun.


Karena itu adalah cara Brian untuk bisa terus kepo pada kehidupan kedua orang tua kandungnya, yang menghuni rumah depan.

__ADS_1


Mereka hanya berdua saja, karena Mario sendiri masih belum diperbolehkan keluar. Sejatinya ia sudah cukup sehat untuk masuk ke sekolah. Namun Deddy memintanya beristirahat untuk satu atau dua hari lagi, sampai ia benar-benar pulih.


"Jadi kamu tertarik sama hal kayak gitu?"


Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang dikenali oleh Brian. Sontak Brian pun menoleh ke arah sumber suara itu.


"Mama?" gumamnya kemudian.


Cavin turut mengikuti arah pandangan mata Brian. Tampak ibu Brian tengah berjalan mesra dengan seorang laki-laki, yang bukan suaminya.


"Bri, itu kan nyokap lo?" tanya Cavin kemudian.


Brian diam, tubuhnya kini mulai gemetaran. Jika ia tidak salah lihat, mereka tengah bergandengan tangan.


"Siapa cowok yang disebelahnya itu?" tanya Cavin lagi.


Brian masih tak menjawab, refleks remaja itu mengikuti langkah sang ibu sambil terus memperhatikan. Sementara Cavin kini mengikuti langkah Brian.


"Maafin aku ya, akhir-akhir ini aku jarang ngangkat telpon kamu. Karena sekarang lagi ada mertuaku di rumah."


Ibu Brian kembali berujar. Membuat Brian dan Cavin yang mendengar, jadi bergemuruh hatinya. Kecurigaan kedua remaja itu menjurus ke arah yang sama.


"Tapi, bagaimana mungkin?" Keduanya sama-sama bergumam dalam hati.


"Kapan."


Pria itu menatap ibu Brian dengan serius, di sebuah jalanan yang cukup sepi.


"Kapan kamu akan meminta cerai dari suami kamu?"


Petir menggelegar di hati Brian. Ingin rasanya ia segera mendekat, namun ditahan oleh Cavin.


"Aku belum tau, tapi akan aku usahakan secepatnya. Sebelum aku hamil anak dia."


"Tapi kamu selalu minum obat kan, supaya nggak hamil?"


"Iya."


Emosi Brian makin memuncak, lagi-lagi Cavin menahan sahabatnya itu untuk tidak bertindak gegabah.


"Cav, ini udah nggak bener."


"Iya tapi nggak ada urusannya sama kita, disini kita orang lain Bri. Kita nggak bisa ikut campur."


Ibu Brian dan pria itu lanjut melangkah.


"Nyokap gue selingkuh Cav, masa gue diem aja."


"Ok kalau lo bersuara dan memarahi mereka. Mereka pasti bakalan balik marah, dan bilang ke elo jangan ikut campur. Kalau misalkan lo ngadu sekalipun ke bokap kandung lo, bisa-bisa nyokap lo langsung di cerai dan lo nggak akan lahir. Lo nggak akan ada di masa depan, Bri."


Brian terdiam, apa yang dikatakan Cavin benar adanya.


"Kita tunggu dan kita liat dulu perkembangannya gimana. Sampe nyokap lo bisa hamil dan melahirkan elo itu gimana ceritanya. Mungkin aja nyokap lo nantinya berubah cinta ke bokap lo atau gimana."


"Emang mereka nikah nggak saling mencintai?"


"Mana gue tau." jawab Cavin.


Brian hendak kembali mengikuti ibunya itu, namun kemudian Cavin menahannya.


"Udah cukup, Bri...!"


"Tapi, Cav."


"Nanti lo malah makin sakit hati." ujar Cavin.


Brian pun akhirnya mengalah, ia tak jadi berbelanja dan memilih pulang ke rumah. Ia benar-benar tak menyangka kejadiannya akan seperti ini.


Ibu yang selama ini ia idam-idamkan kehadirannya. Ia khayalkan berkumpul bersama dirinya, kini malah membuat kecewa. Bahkan sebelum ia melihat perempuan itu melahirkan dirinya.


Brian benar-benar tak mengerti. Mengapa orang dengan mudah berkomitmen, dengan orang yang tidak mereka cintai. Lalu di belakang orang tersebut, mereka dengan mudahnya pula berselingkuh. Berselingkuh dengan orang yang konon katanya mereka cintai.


Konsep hubungan macam apa ini, mengapa manusia sedemikian rumit. Mengapa tidak diperjuangkan saja dari awal, siapa yang sebenarnya dicintai. Mengapa malah membohongi perasaan sendiri dan perasaan orang lain.


"Hhhh."

__ADS_1


Brian menghela nafas di bawah shower kamar mandi. Tak lama ia pun menghidupkan shower tersebut dan membiarkan air dingin membasahi kepalanya yang penat.


__ADS_2