Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Batin Cavin


__ADS_3

Mario, Brian, Cavin dan Davin tengah menikmati camping mereka. Ternyata tempat yang di pilihkan Davin itu memanglah oke punya, dan bukan sekedar bualan semata.


Tempat itu berada di kawasan sebuah perbukitan yang indah. Dipenuhi pohon Pinus serta hamparan kebun teh yang membentang, di sepanjang mata memandang


Sedikit demi sedikit kesedihan di hati Brian pun memudar. Meski tak dapat dipungkiri jika itu semua sulit untuk dilupakan secara total. Mengingat selama hidup Brian selalu menyalahkan sang ayah, atas perceraian yang terjadi dalam kehidupan orang tuanya.


Brian selalu mengira ibunya seperti bidadari tak bersayap yang baik hati, kemudian di khianati oleh sang ayah. Namun ternyata ayahnya lah yang berusaha mati-matian mempertahankan rumah tangga mereka.


"Nggak gitu Cav, lu salah."


Mario mengomentari Cavin yang tengah berusaha menghidupkan api di dekat tenda. Sedang Davin tengah pergi ke hutan untuk mencari ranting dan kayu tambahan.


"Ih orang emang begini, bener koq." Cavin ngotot.


Ia berusaha keras menghidupkan api meski tak jua berhasil. Tak lama Brian keluar dari dalam tenda dan menghampiri kedua sahabatnya itu.


"Ada apaan sih?" tanya Brian kemudian.


"Ini sih Cav, masa ngidupin apinya begitu." Mario menjelaskan.


"Ya orang emang begini, mau gimana lagi?" Cavin membela diri.


"Kalau kayak gitu nggak bakalan hidup, Cav."


Brian mendekat lalu membenarkan urutan, mulai dari letak daun kering dan juga ranting yang tersedia. Ia juga coba menghidupkan api tersebut dan akhirnya menyala.


"Apa gue bilang." Mario masih sewot kepada Cavin sementara Cavin hanya nyengir.


Tak lama Davin pun kembali.


"Eh, masak mie aja yuk." ajak Davin.


"Suasananya pas nih, dingin gini." lanjutnya kemudian.


Maka mereka pun mulai menyiapkan peralatan dan memasak mie instan. Kebetulan api telah menyala dengan sempurna.


"Siapa nih yang mau duluan." ujar Davin ketika satu mie instan kuah berikut telur sudah matang.


"Udah itu buat Brian aja." ujar Mario.


"Duluan gih." timpal Cavin seraya menatap Brian.

__ADS_1


Akhirnya Davin memberikan mie instan itu pada Brian. Tak lama ia memasakkan untuk Mario. Terakhir ia memasak untuk dirinya dan juga Cavin, dengan dibantu oleh Cavin sendiri.


Saat tengah coba menumpahkan mie terakhir tersebut ke mangkuk, tiba-tiba tangan Cavin terkena air panas.


"Aww."


Ia meringis kepanasan serta kesakitan. Davin refleks menyiram tangan adiknya itu dengan air dingin. Kemudian secara refleks pula ia meraih dan meniup jari-jemari Cavin.


Hati keduanya berdetak, seakan tersambung kepada sesuatu yang mereka tak tahu itu apa. Mario dan Brian pun ikut heran dibuatnya. Seperti ada sebuah pertalian antara Cavin dan juga Davin. Padahal sejatinya mereka adalah orang asing yang baru kenal di jaman ini.


"Masih sakit?" tanya Davin kemudian.


Cavin yang masih merasakan pertalian itu hanya menggeleng, sambil terus menatap sang kakak.


"Ya udah makan." ujar Davin lagi.


Tak lama keduanya pun akhirnya makan, meski hati mereka kini bertanya-tanya. Perihal perasaan apa yang tengah mereka rasakan.


***


Sementara di rumah Deddy terus mengira-ngira, apa arti dari kode Morse yang telah di terjemahkan oleh karyawannya di kantor.


Deddy membaca penggalan terjemahan dari sandi Morse itu dan mengira-ngira apa artinya. Saat ini ia tengah melihat ke sekitar rumah dan mencari jantung yang tak berhenti berdetak.


Deddy melihat kesana-kemari. Sampai akhirnya ia melihat pantulan dirinya sendiri di dalam cermin.


"Degh."


Ia mulai paham satu hal. Jika jantung yang tak berhenti berdetak, itu artinya berhubungan dengan makhluk hidup. Dan makhluk hidup yang menghuni rumah itu ada dua, yakni dirinya dan juga Mario.


Deddy bergegas menuju ke kamar Mario dan membukanya. Ia mencoba mencari-cari sesuatu disana dan berharap menemukan jawaban lebih lanjut.


"My name is Darriel Elden Mario. Lahir tahun 2005. Terlempar tahun lalu, di tahun 2001."


Deddy membaca catatan Mario yang berada di atas meja. Mungkin Mario lupa menyimpan catatan tersebut. Atau mungkin juga ia mengira tak akan ada orang yang masuk ke kamar.


Deddy membaca tulisan itu sekali lagi, ia ingat menamai anaknya itu Andrew Andreas Mario Cahyadi, bukan Darriel Elden Mario seperti yang kini tertera di buku.


Deddy menatap kaca cermin yang ada di kamar Mario dan mulai mempertanyakan siapa dirinya.


"Ah, mungkin saja Mario hanya sedang membuat karangan fiksi." pikirnya.

__ADS_1


Mengapa ia harus mempermasalahkan hal seperti ini dan pusing sendiri. Lagipula pesan dengan kode Morse itu bisa saja perbuatan orang iseng, seperti apa yang telah ia duga selama ini.


Deddy pun lalu tersenyum bahkan tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tak lama ia bergerak meninggalkan kamar Mario.


***


Hari demi hari berlalu, seleksi gelombang kedua kini di adakan. Ratna dan Adril melihat antusiasme para siswa yang mendaftar. Bahkan siapa saja yang gagal di seleksi gelombang pertama, boleh mendaftar lagi.


Mereka semua berjuang keras demi mendapatkan validasi atas kemampuan yang mereka miliki. Meski sebagian siswa memilih tidak ikut dan skeptis. Mereka yang seperti itu biasanya sudah pesimis duluan dengan diri mereka, yang mereka anggap tak memiliki kemampuan apa-apa.


Ratna dan Adril sama-sama terdiam di kelas masing-masing. Sambil berpegang teguh pada ego. Bahkan ketika hari seleksi itu akhirnya dilaksanakan.


"Heru mana?" tanya Adril pada Ratna, ketika mereka bertemu di sebuah sudut.


"Nggak tau, ke kantin mungkin." jawab Ratna.


Tak lama terdengar riuh canda para siswa yang keluar dari aula tempat dimana seleksi diadakan. Adril dan Ratna melihat Heru dan begitupun sebaliknya. Heru sendiri terkejut, sepertinya ia tak ingin bertemu kedua temanya itu.


Adril menatap Heru penuh kemarahan, kemudian ia bergegas pergi. Ratna yang juga naik pitam itu pun mendekat ke arah Heru.


"Lo gimana sih, Her. Lo bilang mendukung Adril, tapi nyatanya lo malah ikut kompetisi yang di gagas sama Mario."


Heru menghela nafas dan membuang tatapannya ke bawah. Meski kepalanya tak menunduk sama sekali.


"Orang tua gue yang maksa. Kalau gue nggak ikut, mereka mengancam nggak akan peduli lagi sama gue. Dan lagi gue nggak ada masalah sama Mario. Yang bermasalah itu Adril, bukan gue."


"Jadi lo mau mengkhianati persahabatan lo sama Adril gitu aja?" Ratna makin marah pada Heru.


"Gue nggak mengkhianati siapa-siapa. Gue hanya mengikuti kompetisi yang diadakan oleh sekolah."


"Tapi kan tetap aja Mario punya andil dalam hal ini."


"Cuma sekedar babat alas kan, bukan dia yang memiliki."


Heru berkata seraya menatap Ratna, sementara yang ditatap kini kesal dan pergi meninggalkan tempat itu.


Ratna menyusuri koridor demi koridor, hingga kemudian ia menabrak bahu Mario saking terburu-buru dan kesal.


"Braaak."


Mario yang terkejut menatap Ratna, namun gadis itu terus melaju tanpa menoleh sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2