
Michael menemukan Mario di halaman belakang rumahnya. Remaja itu duduk diam sambil menangis, hatinya begitu sakit. Bukan karena perlakuan Marcell, namun karena kata-kata yang ia ucapkan sendiri. Mengenai ia yang tak memiliki seorang ibu.
Tidak dimasa depan, maupun di masa ini. Hidup Mario selalu timpang, karena selalu saja ada yang kurang. Ia sama-sama tak memiliki ibu di dua jaman ini.
"Mario."
Michael menghela nafas sambil menatap remaja itu. Ia menurunkan segala ego dan sifatnya yang dingin demi hal ini. Ia benar-benar merasa bersalah, atas kelakuan kakaknya Marcell.
"Atas nama Marcell, gue minta maaf. Gue tau ini berat dan dia emang keterlaluan. Tapi gue harap lo bisa maafin kakak gue."
Mario diam, ia terus membuang pandangan ke suatu arah.
"Gue janji dia nggak akan mengulangi hal ini lagi. Kalaupun masih, gue sendiri yang akan menghajar dia."
Mario menyeka air matanya, sedang Michael kini kembali pada orang tuanya di sebelah.
***
"Parah sih itu si Marcell, masa dia gitu ke Mario."
Brian berujar pada Cavin, mereka kini tengah berada di ruang bermain di rumah Cavin. Remaja itu tak jadi pulang ke rumah, demi membicarakan hal ini.
"Gue yakin Mario pasti sedih banget tuh. Marcell padahal di masa depan, nggak sebegitu menyebalkan kayak Michael. Tapi koq di jaman ini ngeselin ya?" tanya Cavin.
"Nggak tau juga gue. Pengen tau keadaan Mario, tapi tadi dia tadi nyuruh kita pulang dan nutup pintu." jawab Brian.
"Ya lo tau kan, Mario kalau lagi kesel, sedih, nggak ada yang bisa ganggu. Percuma aja kita datang dan mencoba menghibur dia, kagak bakalan mempan. Kita harus nunggu sampe dia sendiri deal sama keadaannya."
"Lagian emak bapaknya ngapain sih pindah kesini segala?" Kali ini Brian yang bertanya.
"Emak bapak lo aja ada di depan rumah lo, Bri. Masa iya emak bapaknya Mario nggak boleh tinggal berdekatan dama dia."
"Gini loh, Cav. Kalau gue ngeliat emak bapak gue, emang rasanya tuh kayak campur aduk. Tapi gue nggak secengeng Mario."
Cavin diam, lalu menatap Brian. Sedang Brian lanjut berbicara.
"Lo tau kan dimasa depan, bokap gue selalu mengajarkan gue untuk nggak nangis. Jadi gue lebih tegar ketimbang Mario. Lah Mario, Lo tau sendiri dia gimana. Nyeritain kelakuan kakaknya aja bisa netes air mata. Apalagi dihadapkan sama kedua orang tuanya secara langsung setiap hari."
Cavin makin diam.
"Dia pengen banget bisa dekat sama orang tuanya, Cav. Tapi disini dia dicurigai sebagai anak selingkuhan bapaknya, oleh Marcell. Otomatis kecurigaan Marcell itu akan berdampak buruk ke dia. Dia akan sulit untuk bisa lebih dekat sama orang tuanya sendiri. Selama ada Marcell, Marcell akan selalu menghalangi. Ketika dihalangi, ya lo tau sendiri apa yang akan terjadi sama Mario. Dengan hatinya yang gampang rapuh itu."
"Iya juga sih." ujar Cavin.
Pemuda itu kini menghela nafas. Mereka bertiga benar-benar di jebak oleh jaman, untuk merasakan kesakitan masing-masing.
***
"Mario."
Deddy memanggil Mario, saat ia baru saja pulang kerja. Deddy ingin mengajak anaknya itu makan malam bersama. Sudah jadi kebiasaan Deddy membawa makan malam setiap hari.
__ADS_1
Biasanya Mario sudah nongol di ruang tamu, sambil membaca buku atau bermain gameboy. Namun sore ini batang hidung remaja itu tak terlihat.
"Mario."
"Mario."
Tak ada jawaban.
Deddy kemudian meletakkan barang bawaannya, dan beranjak ke atas.
"Mario."
"Tok, tok, tok."
"Mario."
Tetap tak ada jawaban. Deddy mencoba membuka pintu kamar Mario, dan ternyata tak dikunci. Kemudian sebuah pemandangan hadir disana, membuat Deddy tertegun sejenak. Pasalnya Mario tertidur dengan sangat lelap.
Deddy mendekat, bermaksud membangunkan anak lintas jamannya itu. Namun ternyata, ia menyadari sesuatu. Ya, tubuh Mario terasa begitu panas.
Seketika Deddy pun panik, buru-buru ia turun ke bawah dan mengambil sapu tangan serta sebuah baskom stainles yang diisi air dingin.
Dalam beberapa saat ia terlihat sudah berada di sisi Mario dan mengompres kening anak itu. Lambat laun Mario pun terbangun. Setelah tadi suara panggilan ayahnya, tak berhasil membawa ia kembali ke alam sadar.
"Dad." Mario berujar lirih.
"Kamu kenapa bisa sampai sakit begini, Mario?. Tadi pagi baik-baik aja." ujar Deddy seraya memperhatikan puteranya itu.
"Makan dulu ya, abis itu minum obat." ujar Deddy pada Mario.
Remaja itu mengangguk lemah, Deddy lalu pergi ke bawah dan menyiapkan makan malam untuk anak lintas jamannya itu.
Tak lama ia kembali, lalu membantu Mario untuk duduk dan bersandar di bantal. Deddy kemudian menyuapi Mario.
"Dikit-dikit, dad. Mario nggak bisa nelen banyak." ujar remaja itu.
"Sakit ya tenggorokan kamu?" tanya Deddy.
Mario mengangguk.
"Ya udah, pelan-pelan ya. Nanti daddy beli pereda nyeri tenggorokan buat kamu."
"Iya dad."
Mario terus makan secara perlahan, dan Deddy menyuapinya dengan sabar. Setelah dirasa cukup, Mario minta berhenti. Deddy lalu memberi obat pada anaknya itu, selang setengah jam kemudian. Mario kembali tidur, Deddy lalu meninggalkannya dan pergi makan sendirian.
***
"Mario."
"Mario."
__ADS_1
Terdengar suara Cavin dan Brian di depan rumah, pada keesokan harinya. Deddy buru-buru keluar dan menghampiri kedua anak itu.
"Om, Mario mana?" tanya Cavin.
"Mario sakit, dia nggak sekolah dulu hari ini."
"Sakit?. Sakit apa om?" Brian menimpali pertanyaan Cavin.
"Demam, dari kemaren sore panasnya tinggi. Ini udah mendingan sih, tapi mau om bawa ke dokter dulu biar lega."
"Aduh kita pengen liat, tapi udah mepet waktunya." ujar Cavin.
"Ya udah nanti siang aja, sepulang sekolah." ujar Deddy.
"Ya udah om, kita berangkat dulu ya." Brian berpamitan.
"Hati-hati di jalan kalian."
"Iya om."
Cavin dan Brian lalu berangkat. Deddy berbalik, namun ia dikejutkan oleh tetangga baru yang kini bertatap muka dengannya tanpa sengaja.
"Selamat pagi pak." ujar tetangga baru yang laki-laki.
"Pagi." ujar Deddy seraya tersenyum.
"Papanya Mario?" tanya si tetangga lagi.
"Kenal sama anak saya?" Deddy balik bertanya.
"Mario teman anak kami." ujar pria itu.
"Saya Maya dan ini suami saya, Marvin. Kami baru pindah kemarin." Perempuan yang ada di si laki-laki ikut nyeletuk.
"Pa, pergi."
Marcell dan Michael muncul lalu berpamitan. Kedua anak itu sempat menatap ke arah Deddy, sebelum akhirnya mereka keluar pagar dan menjauh.
"Itu kedua anak kami." ujar si tetangga laki-laki yang bernama Marvin tersebut.
"Yang nomor dua itu, teman Mario." lanjutnya kemudian.
Deddy mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Kalau begitu semoga betah disini." ujar Deddy.
"Terima kasih pak, oh ya Mario sakit?" tanya Marvin lagi.
"Iya, badannya agak panas. Biasalah kebanyakan main." ujar Deddy.
Mereka pun lanjut berbincang untuk beberapa saat.
__ADS_1