
"Dia masih berdiri disitu?"
Salah seorang guru bertanya pada guru lainnya.
"Iya, dia masih disitu dan ngotot untuk terus berdiri sampai tuntutannya dipenuhi. Sekarang seluruh siswa jadi keluar kelas untuk menyaksikan apa yang dia perbuat."
"Hhhhh."
Guru yang membuka pertanyaan itu kini menarik nafas. Tak lama ia pun bergegas menuju lapangan. Tempat dimana kini Mario tengah berdiri, sambil membawa kertas karton putih yang berisi keinginannya.
"Tolong berlaku fair kepada seluruh siswa."
Begitulah bunyi tuntutan Mario tersebut. Dibawahnya ada hashtag #Mario menggugat. Sejatinya ia tadi lupa, jika di jaman ini orang belum menggunakan tanda pagar seperti itu. Sebab sosial media pun belum ada. Kalaupun ada, jelas Mario tak tau namanya apa dan bagaimana cara penggunaannya.
"Kamu mau apa, Mario?"
Sang guru bertanya padanya, diikuti tatapan guru lain dan juga para siswa.
"Saya mau pencarian peserta olimpiade di adakan secara terbuka mulai tahun ini, dan berlaku untuk semua siswa."
Demikian tuntutan Mario disampaikan oleh remaja itu sendiri. Membuat seisi sekolah terkejut, ada Martin and the gang juga yang berdiri di pinggir lapangan, sambil memperhatikannya.
"Itu tidak bisa, keputusannya sudah final. Kandidat terpilih berasal dari rapat yang diadakan dewan guru. Dengan melihat performa nilai kalian selama beberapa catur wulan sebelumnya."
"Itu nggak fair, bu, pak. Yang dapat nilai gede bisa aja nyontek kan?" ujar Mario.
"Iya juga ya."
Celetuk salah seorang siswa yang berdiri di pinggir lapangan. Tepatnya di belakang Martin dan teman-temannya.
"Iya bener, sih." timpal siswa lain.
"Ih, nggak kepikiran gue."
Para siswa mulai ricuh.
__ADS_1
"Tenang semuanya."
Guru yang berbicara tersebut berhasil membungkam seisi sekolah. Hingga kini seluruh siswa kembali fokus memperhatikan.
"Mario, keputusan yang diambil oleh dewan guru adalah keputusan yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Bahkan oleh kamu selaku salah satu kandidat dari peserta olimpiade tersebut. Siswa lain banyak yang mau berada di posisi kamu, seharusnya kamu bersyukur."
"Saya bukan tidak mau bersyukur, bu." jawab Mario.
"Saya hanya ingin segala sesuatu dilakukan secara jujur dan terbuka. Sebab saya merasa ada anak-anak yang benar-benar berpotensi dalam berbagai bidang di sekolah ini. Tetapi terbentur karena mereka kurang populer, sehingga kurang mendapat perhatian serta dukungan dari para guru dan sesama siswa sendiri." lanjutnya kemudian.
Adril menunduk ketika hal tersebut disinggung oleh Mario. Sebab sindiran itu memang ditujukan untuk anak-anak seperti dirinya. Yang pintar dalam beberapa bidang, namun kalah dengan yang populer, bahkan untuk alasan yang tidak jelas.
Seperti Martin misalnya. Awalnya ia populer karena dianggap selalu berpenampilan gaul, dan sering diantar oleh orang tuanya dengan menggunakan mobil mewah. Ditambah otaknya yang cukup lumayan, hingga kesempatan untuk Martin pun lebih gampang terbuka. Ketimbang Adril atau anak berpotensi lainnya yang hanya pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda.
Dewasa ini pintar saja tak cukup. Kita juga mesti bisa mencari panggung dan perhatian. Plus memiliki kemampuan menjilat yang mumpuni. Karena ketika bisa mencari perhatian, jalan akan semakin terbuka lebar.
"Atas dasar apa kamu menilai, bahwa di sekolah ini ada anak-anak pandai yang seolah tersisihkan?"
Sang guru kembali bertanya pada Mario. Seluruh siswa termasuk Brian dan Cavin fokus menatap ke arah teman mereka itu.
"Tapi Mario, kandidat sudah final. Nama kalian sudah dikirim ke panitia acara itu."
"Kalaupun kandidat sudah tidak bisa di gantikan lagi. Paling tidak sekolah harus mengadakan tes untuk seluruh siswa. Buat seperti acara cerdas-cermat, dan seleksi dimulai per kelas dan dilakukan di masing-masing kelas itu sendiri. Pemenangnya boleh bertanding dengan pemenang dari kelas lain. Kita harus mencari siapa sebenarnya yang terbaik diantara kita, dan memberi apresiasi secara terbuka. Kita harus mengakui kepintaran yang mereka miliki."
"Yakin?. Kalau pemenangnya gue, gimana?" celetuk Martin.
"Gue akan tetap menghargai kepintaran lo, meskipun mungkin gue nggak akan pernah mau berteman dengan orang licik kayak lo." ujar Mario dengan nada tegas.
Para siswa kini mulai bersitatap dan berbisik-bisik.
"Baik, biarkan masalah ini kami bicarakan dulu dengan para guru. Tuntutan kamu kami tampung terlebih dahulu untuk kemudian di bawa ke dalam rapat. Tetapi apapun keputusannya nanti, kamu tidak bisa mengganggu-gugat."
"Baik, yang penting ucapan saya benar-benar di dengarkan pak, bu. Jangan dianggap angin lalu. Sebab ini semua sangat berguna bagi mereka yang saat ini tengah tersisihkan. Supaya mereka percaya pada diri sendiri, bahwa mereka memang memiliki kemampuan di bidang yang mereka kuasai. Sebab untuk meraih masa depan, kita akan sulit kalau tidak memiliki kepercayaan terhadap diri sendiri."
"Baik."
__ADS_1
Mario menyudahi tuntutannya, sang guru menyanggupi untuk mempertimbangkan hal tersebut. Tak lama lonceng tanda istirahat pun berbunyi.
Para siswa bersorak-sorai. Sebab mereka telah melewatkan beberapa pelajaran yang tak mereka sukai. Akibat aksi yang ditampilkan oleh Mario tadi.
***
"Dia bijak banget anjay, sekarang."
Brian menyindir Mario kepada Cavin, saat mereka duduk bertiga di pojok sekolah. Mereka kini tengah memakan siomay yang dibungkus di dalam plastik. Mario hanya tertawa mendengar celoteh kedua temanya itu, dan lanjut makan.
"Lo belajar ngomong dari mana?" tanya Cavin kemudian.
"Ngarang, tapi ok kan?" Mario balik bertanya sambil tersenyum.
"Gue nggak yakin itu ngarang. Soalnya pas gue denger, itu kayak bener-bener keluar dari dalam hati lo." tukas Brian.
Mario diam.
"Gue..." Ia menarik nafas.
"Gue cuma pengen Adril nggak merasa tersisihkan, dengan semua hal yang terjadi belakangan ini."
Mario berujar sambil memperlambat makannya dan ia lalu melempar pandangan ke suatu sudut. Cavin dan Brian kompak menepuk bahu sahabat mereka itu.
"Gue tau apa yang lo rasain, bro. Di tempat ini lo banyak belajar tentang sesuatu. Terutama soal berteman dan belajar menghargai apapun yang lo punya." ujar Cavin.
Mario menarik nafas, lalu menyedot es limun yang ada di tangan kirinya.
"Gue udah banyak nyakitin hati anak-anak di sekolah kita di masa depan. Gue nggak mau membuat hal itu terulang disini. Karena disini gue banyak mendapatkan apa yang nggak pernah gue dapatkan selama ini. Bokap, keluarga, termasuk teman yang baik sama gue."
Kali ini gantian Cavin yang menghela nafas.
"Tapi tindakan lo tadi udah bener koq." ujar remaja itu.
"Iya bro, itu tindakan laki-laki sejati." timpal Brian.
__ADS_1
Mereka kemudian tersenyum satu sama lain, dan lanjut menghabiskan makanan.